Daging Merah vs Daging Putih: Mana yang Lebih Sehat Untuk Tubuh?

profile picture Jacline
Kesehatan - Penyakit

Definisi daging merah menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dan WHO adalah semua daging dari mamalia yang berwarna merah sebelum dimasak.

Definisi daging putih adalah daging dari unggas dan hewan tertentu yang memiliki kadar mioglobin rendah dan berwarna putih atau pucat saat mentah maupun setelah dimasak.

Dalam penelitiannya yang dipublikasikan dalam Journal of Pediatric Gastroenterological Nutrition (2013), Dr. Moshe menemukan bahwa penurunan konsumsi daging merah dan peningkatan konsumsi unggas di negara maju dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi pada masyarakat.

Jadi apakah daging merah selalu yang terbaik?

Perbandingan kandungan nutrisi antara daging merah dan daging putih 

Berikut tabel perbandingan kandungan gizi yang terdapat pada daging sapi, daging ayam, dan ikan.

  1. Kandungan Lemak dan Kalori

Definisi lemak dalam daging adalah salah satu komponen utama selain protein dan air. Lemak berfungsi sebagai sumber energi cadangan, pemberi rasa dan tekstur pada daging, serta sebagai pelarut vitamin (A, D, E, K).

Definisi kalori adalah satuan yang digunakan untuk mengukur jumlah energi yang diberikan oleh makanan saat dikonsumsi. Kalori berasal dari tiga komponen utama, yaitu lemak, protein, dan karbohidrat.

Kandungan kalori dan lemak tertinggi ada pada daging merah. Lemak yang terdapat pada daging merah adalah lemak jenuh, jika  dikonsumsi berlebihan dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi dan penyakit jantung.

Sebaliknya, kalori dan lemak yang paling rendah adalah ayam, terutama di bagian dada. Ini membuat dada ayam menjadi salah satu bahan makanan favorit bagi para pelaku diet.

Kalori ikan berada ditengah keduanya, sedangkan lemak pada ikan jauh lebih sehat daripada daging merah dan daging ayam, karena di dominasi oleh lemak tak jenuh.

 

  1. Kandungan Protein

Definisi protein adalah makronutrien penting yang terdiri dari rantai panjang asam amino dan berperan vital dalam hampir semua fungsi biologis tubuh. Protein disebut juga sebagai "zat pembangun" karena bertanggung jawab atas pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh, termasuk otot, kulit, rambut, dan organ.

Dada ayam tanpa kulit menempati posisi teratas sebagai sumber protein paling tinggi, yakni sekitar 31 gram protein. Kandungan ini menjadikannya pilihan ideal untuk mereka yang sedang membangun otot, menjalani diet tinggi protein, atau ingin menurunkan berat badan karena juga rendah lemak.

Sementara itu, daging merah seperti daging sapi tanpa lemak mengandung sekitar 26 hingga 28 gram protein per 100 gram. Selain tinggi protein, daging merah juga unggul dalam kandungan zat besi heme dan vitamin B12, yang berperan penting dalam produksi sel darah merah dan metabolisme energi. Oleh karena itu, daging merah sering direkomendasikan untuk individu dengan kebutuhan zat besi lebih tinggi, seperti wanita hamil, atlet, dan penderita anemia.

Di sisi lain, ikan salmon, meskipun mengandung protein yang sedikit lebih rendah (sekitar 20–22 gram per 100 gram), menawarkan kelebihan berupa lemak sehat omega-3 yang tidak dimiliki oleh daging ayam maupun sapi. Omega-3 ini sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung, otak, dan sistem imun.

Secara keseluruhan, semua jenis daging tersebut dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, asalkan dipilih dan dikombinasikan dengan bijak. Ayam sangat unggul dari sisi kandungan protein dan rendah lemak, daging merah kaya zat gizi mikro penting, dan ikan memberikan keseimbangan antara protein dan lemak sehat. Kombinasi ketiganya secara bergantian dapat memberi manfaat maksimal bagi tubuh.

 

  1. Vitamin dan Mineral

Definisi vitamin adalah senyawa organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sangat kecil namun esensial untuk pertumbuhan, sistem imun, produksi energi, dan fungsi metabolisme.

Definisi mineral adalah zat anorganik (tidak mengandung karbon) yang juga diperlukan dalam jumlah kecil untuk mendukung berbagai fungsi tubuh, terutama pembentukan tulang dan gigi, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta ktivitas enzim dan kontraksi otot.

Daging merah, seperti daging sapi, kambing, atau domba, dikenal sebagai sumber yang kaya akan beberapa vitamin dan mineral penting. Salah satu keunggulan utamanya adalah kandungan vitamin B12 yang sangat tinggi. Vitamin ini berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan menjaga fungsi sistem saraf, dan hanya bisa diperoleh dari sumber hewani. Daging merah juga mengandung vitamin B6 dan niacin (vitamin B3) dalam jumlah sedang hingga tinggi, yang membantu proses metabolisme dan menjaga kesehatan kulit serta sistem pencernaan. Di sisi mineral, daging merah merupakan sumber zat besi heme yang sangat efektif diserap oleh tubuh dan penting untuk mencegah anemia. Selain itu, daging merah juga kaya akan zinc (seng) yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka, serta mengandung fosfor dan selenium dalam jumlah cukup yang membantu pembentukan tulang dan melindungi sel dari kerusakan.

Sementara itu, daging putih, seperti ayam, kalkun, dan bebek tanpa kulit, juga mengandung berbagai vitamin dan mineral, meskipun dalam profil yang sedikit berbeda. Daging putih cenderung lebih tinggi kandungan niacin (vitamin B3) dan vitamin B6, yang berperan dalam produksi energi, sintesis hormon, dan fungsi otak. Kandungan vitamin B12 dalam daging putih masih ada, namun umumnya lebih rendah dibandingkan daging merah. Dari segi mineral, daging putih sangat baik dalam menyediakan fosfor dan selenium. Fosfor membantu menjaga kepadatan tulang dan gigi, sementara selenium bertindak sebagai antioksidan alami yang mendukung fungsi kekebalan tubuh. Namun, kandungan zat besi pada daging putih lebih rendah, dan bentuknya adalah non-heme yang tidak seefisien zat besi heme dalam hal penyerapannya oleh tubuh. Kandungan zinc juga ada dalam jumlah sedang, cukup untuk mendukung metabolisme namun tetap lebih rendah dibandingkan daging merah.

  1. Kolesterol

Definisi kolestrol adalah zat lemak (lipid) yang secara alami diproduksi oleh hati dan juga ditemukan dalam makanan hewani seperti daging, telur, dan produk susu. Meskipun sering dianggap buruk, kolesterol sebenarnya diperlukan tubuh dalam jumlah tertentu untuk membentuk sel-sel tubuh (membran sel), hormon-hormon penting (estrogen, testosteron, dan kortisol) vitamin D dan empedu yang membantu mencerna lemak.

Daging merah seperti daging sapi, kambing, dan babi, umumnya memiliki kandungan kolesterol dan lemak jenuh yang lebih tinggi dibandingkan daging putih. Kandungan lemak jenuh ini dapat memicu peningkatan kadar kolesterol LDL (Low-Density Lipoprotein), yang dikenal sebagai "kolesterol jahat". Dalam 100 gram daging sapi berlemak, kadar kolesterol bisa mencapai sekitar 80–90 mg, sementara pada daging kambing sekitar 75–80 mg, tergantung pada bagian daging dan cara memasaknya. Jeroan seperti hati atau otak dari hewan juga mengandung kolesterol yang sangat tinggi, bahkan bisa melebihi 300 mg per 100 gram.

Di sisi lain, daging putih seperti ayam (terutama bagian dada tanpa kulit) dan kalkun memiliki kadar kolesterol yang lebih rendah dan kandungan lemak jenuh yang minimal. Dada ayam tanpa kulit hanya mengandung sekitar 60–70 mg kolesterol per 100 gram, dan bahkan lebih rendah pada kalkun. Selain itu, daging putih cenderung memiliki lebih banyak lemak tak jenuh, yang lebih bersahabat bagi jantung dan membantu meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL).

Namun, penting untuk dicatat bahwa kadar kolesterol dalam daging tidak hanya dipengaruhi oleh jenis hewan, tetapi juga oleh bagian daging yang dikonsumsi (misalnya daging tanpa lemak vs. daging berlemak), keberadaan kulit, dan metode memasak. Menggoreng dengan minyak jenuh atau menambahkan saus berlemak bisa meningkatkan total kandungan kolesterol dalam sajian.

Secara umum, untuk orang dengan risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi, daging putih tanpa kulit adalah pilihan yang lebih aman dan sehat dibandingkan daging merah, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan dimasak dengan cara yang sehat seperti dipanggang, dikukus, atau direbus. Sementara itu, daging merah tetap dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang selama dipilih bagian yang rendah lemak dan dikonsumsi tidak berlebihan.

  1. Kandungan Zat Besi

Definisi zat besi adalah mineral esensial yang sangat penting bagi tubuh manusia, terutama untuk membentuk hemoglobin, yaitu komponen utama dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Dalam hal kandungan zat besi, daging merah secara signifikan lebih unggul dibandingkan daging putih. Daging merah, seperti sapi dan kambing, mengandung sekitar 2.6 mg zat besi heme per 100 gram, yang merupakan bentuk zat besi yang paling mudah diserap tubuh (bioavailabilitas tinggi). Karena kandungan mioglobin yang tinggi, daging merah tidak hanya terlihat lebih gelap, tetapi juga lebih kaya zat besi.

Sebaliknya, daging putih seperti ayam, khususnya bagian dada tanpa kulit, hanya mengandung sekitar 0.9–1.3 mg zat besi per 100 gram, dengan bentuk zat besi heme yang lebih rendah. Ikan juga termasuk dalam kategori daging putih, dan rata-rata mengandung 0.5–1.0 mg zat besi, tergantung jenisnya. Meskipun kandungannya cukup untuk kebutuhan harian, penyerapan zat besi dari daging putih relatif lebih rendah dibanding daging merah.

Manfaat dan Risiko Daging Merah

Penelitian yang dilakukan oleh David Klurfeld dari Department of Agriculture Research Service pada tahun 2015 menyatakan bahwa, daging adalah salah satu makanan padat nutrisi, mengandung protein berkualitas tinggi, sumber heme, zat besi, seng, dan vitamin B6 dan B12 yang sangat baik untuk tubuh. 

Jadi manfaat daging merah secara antara lain:

  1. Sumber Protein Berkualitas Tinggi

Daging merah mengandung semua asam amino esensial, menjadikannya protein lengkap yang sangat baik untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, dan kekuatan otot.

  1. Kaya Zat Besi (Heme Iron)

Zat besi dalam daging merah adalah tipe heme, yang lebih mudah diserap oleh tubuh dibanding zat besi dari tumbuhan. Ini sangat bermanfaat untuk mencegah anemia, terutama pada wanita, ibu hamil, dan anak-anak.

  1. Sumber Vitamin B12

Daging merah adalah salah satu sumber terbaik vitamin B12, yang penting untuk kesehatan saraf, produksi sel darah merah, dan metabolisme energi.

  1. Mengandung Zinc (Seng)

Zinc membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh, menyembuhkan luka, dan mendukung fungsi enzim tubuh.

  1. Memberikan Energi

Karena tinggi kalori dan lemak, daging merah menyediakan energi cepat, terutama berguna untuk orang dengan kebutuhan kalori tinggi seperti atlet atau pekerja fisik.

Sedangkan risiko daging merah jika dikonsumsi berlebihan adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung

Kandungan lemak jenuh dan kolesterol dalam daging merah dapat meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat), yang berkaitan dengan penyakit jantung koroner dan stroke. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) telah mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogenik (penyebab kanker) bagi manusia, dan daging merah sebagai "kemungkinan karsinogenik". Penelitian terbaru dari Huaqiao University dan Shandong University di China bertujuan untuk mengkaji hubungan antara konsumsi daging merah dan olahan dengan risiko kanker, seperti kanker kolorektal, pankreas, dan payudara.    

  1. Risiko Kanker Usus Besar

Konsumsi daging merah yang tinggi, terutama yang diproses (sosis, ham, bacon), telah dikaitkan oleh WHO dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, karena pembentukan senyawa karsinogenik saat dimasak pada suhu tinggi.

  1. Peningkatan Risiko Diabetes Tipe 2

Studi menunjukkan konsumsi berlebih daging merah olahan dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terhadap diabetes tipe 2, kemungkinan karena efek inflamasi dan resistensi insulin.

Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine menunjukkan bahwa peningkatan asupan daging merah lebih dari 0,50 porsi per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sebesar 48% dalam periode empat tahun berikutnya.

  1. Masalah Pencernaan

Daging merah tidak mengandung serat. Jika dikonsumsi tanpa cukup serat dari sayur dan buah, dapat menyebabkan sembelit atau gangguan pencernaan.

Menurut Adrienne Benjamin, ahli gizi dari ProVen Biotics, daging merah dapat bertahan di dalam sistem pencernaan hingga 72 jam. Proses pencernaan yang lambat ini berpotensi menyebabkan kembung, ketidaknyamanan, dan gangguan pencernaan, terutama jika dikonsumsi terlalu sering atau pada individu dengan produksi enzim pencernaan yang rendah.

  1. Kontribusi terhadap Radikal Bebas

Daging merah memang dikenal sebagai sumber gizi yang baik, tapi jika dikonsumsi secara berlebihan, bisa memberikan efek negatif, salah satunya adalah meningkatkan pembentukan radikal bebas dalam tubuh. Hal ini terjadi karena zat besi heme yang terkandung dalam daging merah. Meskipun zat besi penting untuk mencegah anemia dan membawa oksigen ke seluruh tubuh, zat besi heme dapat bereaksi secara kimia dan menghasilkan radikal bebas, yaitu molekul tidak stabil yang bisa merusak sel-sel tubuh.

Selain itu, proses metabolisme lemak dan protein hewani dalam jumlah besar juga bisa meningkatkan produksi radikal bebas. Ketika tubuh mencerna daging merah, terutama yang tinggi lemak jenuh, hal ini bisa memicu peradangan dan stres oksidatif. Jika radikal bebas terus menumpuk dan tidak dinetralkan, mereka dapat merusak DNA, protein, dan membran sel. Dalam jangka panjang, kerusakan ini bisa memicu berbagai penyakit seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan mempercepat proses penuaan.

Manfaat dan Resiko Daging Putih

Penelitian  yang dilakukan oleh Harvard dalam jurnalnya berjudul "Red meat vs. white meat" (2019) menyatakan bahwa konsumsi daging putih (seperti ayam tanpa kulit) tidak meningkatkan kadar kolesterol LDL seburuk daging merah. Jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan tanpa kulit, daging putih bisa menjadi bagian dari diet jantung sehat.

Secara singkat, manfaat daging putih adalah:

  1. Sumber Protein Berkualitas Tinggi

Daging putih (khususnya dada ayam tanpa kulit) mengandung 31 gram protein per 100 gram, sehingga baik untuk mendukung pembentukan otot, pemulihan jaringan, dan menjaga massa otot saat diet.

  1. Rendah Lemak Jenuh dan Kalori

Lemak jenuh yang tinggi dapat meningkatkan kolesterol jahat (LDL), tetapi daging putih mengandung jauh lebih sedikit lemak jenuh dibanding daging merah.

  1. Ikan Berlemak Kaya Omega-3

Ikan putih dan berlemak seperti salmon, tuna, dan sarden mengandung lemak tak jenuh rantai panjang (EPA & DHA) yang sangat baik untuk kesehatan jantung, fungsi otak dan saraf, serta dapat mengurangi peradangan kronis.

  1. Kandungan Mikronutrien

Daging putih kaya vitamin B3 (niasin), B6, selenium, dan fosfor. Pada daging ikan juga mengandung vitamin D, yang mendukung kekuatan tulang dan sistem imun.

​Meskipun daging putih seperti ayam dan ikan sering dianggap lebih sehat dibandingkan daging merah, cara pengolahan yang tidak tepat dapat mengurangi manfaat kesehatannya dan bahkan menimbulkan risiko.

Hasil penelitian Dr. Rashmi Sinha dan Dr. Amanda Cross dalam jurnal studi yang berjudul "Meat intake and mortality: a prospective study of over half a million people" mendapat kesimpulan bahwa metode memasak seperti memanggang langsung atau membakar daging (termasuk ayam) dapat menghasilkan senyawa karsinogenik yang meningkatkan risiko kanker kolorektal dan pankreas.

Oleh karena itu, daging putih pun tidak lepas dari dampak buruk jika tidak diolah dengan tepat, dan risiko-risiko tersebut adalah

  1. Risiko Kontaminasi Bakteri

Daging ayam mentah rentan terhadap Salmonella dan Campylobacter jika tidak dimasak dengan baik. Ikan mentah (seperti dalam sushi) berisiko membawa parasit atau bakteri jika kualitas tidak terjamin.

Penelitian yang dilakukan oleh tim Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga pada tahun 2021 menunjukan dari 60 sampel daging ayam yang dikumpulkan dari pasar tradisional di Surabaya, 58,3% terkontaminasi Staphylococcus aureus, 48,3% terkontaminasi Salmonella spp, dan 40% terkontaminasi Escherichia coli.

  1. Cara Memasak yang Tidak Sehat

    Menggoreng ayam atau ikan dengan minyak banyak atau metode deep-fry meningkatkan asupan lemak jenuh dan kalori. Ayam tepung krispi dan ikan goreng yang terlalu matang bisa kehilangan nilai gizinya.

    Studi oleh Dr. Janet L. Stanford dan Rekan-rekan (2013) dengan judul penelitian
    "Consumption of deep-fried foods and risk of prostate cancer." Menemukan bahwa konsumsi rutin makanan yang digoreng dalam, seperti ayam goreng, dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker prostat.​ Metode memasak dengan suhu tinggi, seperti deep frying, dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti amina heterosiklik (HCA) dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang berpotensi karsinogenik. ​

  2. Produk Olahan Daging Putih

Meskipun sosis dan nugget ayam terbuat dari daging putih yang secara alami lebih rendah lemak jenuh dibanding daging merah, proses pengolahan intensif yang dilakukan pada produk-produk ini justru dapat menghilangkan manfaat alami dari daging ayam itu sendiri. Dalam banyak kasus, produk olahan seperti sosis dan nugget mengandung bahan tambahan seperti garam tinggi, pengawet kimia (seperti nitrit), perisa buatan, dan tepung pengisi, yang tidak dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar.

Jika dikonsumsi terlalu sering, makanan seperti ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Kandungan garam yang tinggi bisa meningkatkan tekanan darah. Lemak trans yang terbentuk dari penggorengan minyak berulang atau pemanggangan suhu tinggi bisa menambah risiko penyakit jantung. Belum lagi, jika produk tersebut tidak disimpan atau dimasak dengan benar, ada kemungkinan terkontaminasi bakteri seperti Salmonella dan E. coli, yang bisa menyebabkan gangguan pencernaan hingga infeksi serius.

Kapan sebaiknya memilih daging merah atau daging putih?

Memilih antara daging merah atau daging putih sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, dan tujuan pola makan pribadi. Masing-masing jenis daging memiliki keunggulan dan waktu konsumsi yang lebih tepat.

  • Kapan Saatnya Memilih Daging Merah?

Pemilihan antara daging merah dan daging putih sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan gizi, kondisi kesehatan, dan tujuan diet seseorang. Daging merah, seperti sapi dan kambing, lebih tepat dikonsumsi ketika tubuh membutuhkan asupan zat besi dan vitamin B12 yang tinggi. Ini sangat penting untuk orang dengan anemia, wanita hamil, wanita menstruasi, serta anak-anak dalam masa pertumbuhan. Selain itu, daging merah juga cocok dikonsumsi oleh atlet atau pekerja fisik berat yang membutuhkan energi dan kalori lebih tinggi. Namun, untuk menjaga kesehatan jantung dan mencegah lonjakan kolesterol, sebaiknya daging merah dikonsumsi hanya 1 - 2 kali per minggu, dan dipilih dari potongan yang rendah lemak seperti sirloin atau tenderloin.

  • Kapan Saatnya Memilih Daging Putih?

Daging putih yang mencakup ayam tanpa kulit dan ikan, lebih cocok untuk konsumsi harian karena lebih rendah lemak jenuh dan kalori. Dada ayam merupakan sumber protein tinggi yang sangat baik untuk mendukung pembentukan otot dan program penurunan berat badan. Di sisi lain, ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan sarden kaya akan lemak sehat omega-3 yang terbukti mendukung kesehatan jantung, otak, dan mengurangi peradangan. Oleh karena itu, daging putih lebih dianjurkan bagi mereka yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular, kelebihan berat badan, atau kolesterol tinggi.

Kesimpulannya, yang terbaik bukanlah memilih salah satu secara mutlak, melainkan mengombinasikan keduanya secara seimbang. Gunakan daging merah sebagai sumber zat besi dan B12 beberapa kali seminggu, dan lengkapi dengan daging putih sebagai sumber protein harian rendah lemak. Paling penting adalah memilih bagian daging yang sehat, menghindari olahan, dan memasaknya dengan metode yang rendah risiko seperti dikukus, direbus, atau dipanggang tanpa banyak minyak.

Dr. Angela Dalimarta, Sp.GK - Ahli Gizi Klinik juga berpendapat, mengonsumsi berbagai jenis protein hewani dan nabati secara seimbang, serta memperhatikan metode memasak yang sehat, dapat membantu menjaga kesehatan secara keseluruhan. 

Berikut rekaman live streaming para ahli dari RSUD Dr. Moewardi mengenai daging merah vs daging putih:

Apakah Daging Merah Aman Untuk Ibu Hamil?

Daging merah aman dikonsumsi oleh ibu hamil selama dalam jumlah yang wajar, dimasak dengan benar, dan berasal dari sumber yang bersih dan terpercaya. Bahkan, daging merah dapat memberikan banyak manfaat penting bagi ibu hamil, karena mengandung zat gizi yang mendukung pertumbuhan janin dan kesehatan ibu, sebagai berikut:

  • Sumber Zat Besi Heme

Daging merah kaya akan zat besi heme, bentuk zat besi yang paling mudah diserap tubuh. Zat besi penting untuk mencegah anemia selama kehamilan, yang dapat menyebabkan kelelahan dan meningkatkan risiko komplikasi saat melahirkan.

  • Vitamin B12 dan B6

Nutrien ini berperan dalam pembentukan sel darah merah dan mendukung fungsi saraf janin, termasuk pembentukan otak dan sumsum tulang belakang.

  • Protein Berkualitas Tinggi

Daging merah merupakan sumber protein lengkap, yang penting untuk membangun jaringan tubuh ibu dan perkembangan organ janin.

  • Zinc (Seng)

Zinc penting untuk sistem imun dan pembelahan sel yang sehat selama kehamilan.

Sekalipun daging merah baik untuk ibu hamil, tetap perhatikan cara konsumsinya. Hindari daging yang mentah atau setengah matang, jangan konsumsi berlebihan, dan batasi daging merah olahan.

Berikut tips konsumsi daging merah yang aman untuk ibu hamil:

  • Pilih potongan tanpa lemak atau rendah lemak.

  • Pastikan daging dimasak matang sempurna (tidak ada bagian merah muda atau darah).

  • Simpan daging dengan cara higienis untuk menghindari kontaminasi bakteri.

  • Konsumsi secara seimbang bersama sayuran dan buah-buahan untuk memperkaya serat dan vitamin lainnya.

Apakah Daging Merah Baik Untuk MPASI?

Banyak sekali mitos daging merah yang beredar, khususnya untuk mpasi. Namun, rekomendasi dari WHO & UNICEF dalam jurnalnya berjudul "Guiding Principles for Complementary Feeding" (2003) adalah daging, unggas, ikan, atau hati harus diberikan secara teratur sebagai bagian dari MPASI untuk memenuhi kebutuhan zat besi bayi, sebab zat besi dari sumber hewani (zat besi heme) lebih mudah diserap tubuh bayi dibanding dari sumber nabati.

Daging merah (seperti sapi, domba, dan kambing) merupakan sumber zat besi heme, bentuk zat besi yang paling mudah diserap tubuh. Zat besi penting untuk mencegah anemia, mendukung pertumbuhan otak, dan fungsi kekebalan tubuh bayi. Setelah usia 6 bulan, cadangan zat besi bayi mulai menurun, dan ASI saja tidak cukup untuk memenuhinya.

Daging merah mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi, serta vitamin B12 untuk  mendukung fungsi otak dan sistem saraf bayi. Terdapat pula mineral Zinc penting untuk pertumbuhan sel dan sistem imun.

Tips Pemberian Daging Merah Untuk Mpasi

Supaya bisa menjaga kualitas daging merah pada anak, perhatikan beberapa tips berikut:

  1. Pilih daging sapi giling halus, daging bagian tanpa lemak, atau hati sapi yang sudah diolah higienis.

  2. Masak hingga matang sempurna, tidak boleh setengah matang.

  3. Sesuaikan tekstur daging dengan usia anak

  4. Kombinasikan dengan sumber vitamin C (seperti tomat, jeruk, wortel) untuk meningkatkan penyerapan zat besi.

Hindari memberikan daging olahan seperti sosis, kornet, dan nugget (kecuali homemade). 

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Jacline

This statement referred from