Dari AS hingga Arab Saudi: 6 Pasien Ini Bertahan dalam Koma Terlama di Dunia
Dalam dunia medis, koma adalah kondisi yang menggugah rasa ingin tahu sekaligus ketakutan. Koma bukan sekadar tidur panjang—ini adalah keadaan hilangnya kesadaran yang dalam, yang bisa berlangsung selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Beberapa pasien mencatatkan rekor dunia karena lamanya waktu mereka dalam kondisi ini—dan kisah-kisah mereka menyimpan pelajaran luar biasa tentang harapan, teknologi, serta misteri otak manusia.
Dalam artikel ini, kita akan membahas 5 kisah pasien koma terlama di dunia, termasuk yang paling terkenal: Pangeran Khalid bin Talal Al Saud dari Arab Saudi. Kisah mereka menjadi jendela untuk memahami batas kemampuan tubuh manusia dan bagaimana cinta, ketekunan, dan ilmu pengetahuan bisa menjadi penopang harapan.
1. Edwarda O'Bara – Koma Selama 42 Tahun
Durasi: 1970–2012
Asal: Miami, Florida, AS
Edwarda mengalami koma diabetik saat berusia 16 tahun karena insulin oral yang dikonsumsinya tidak terserap ke dalam aliran darah. Ia mengalami kejang hebat dan kehilangan kesadaran saat subuh. Sebelum koma, ia berpesan kepada ibunya:
“Mama, tolong jangan tinggalkan aku.”
Kalimat ini menjadi sumpah hidup bagi ibunya, Kaye O’Bara, yang memutuskan merawat Edwarda di rumah selama 38 tahun, sampai Kaye meninggal dunia pada 2008. Setelah itu, perawatan dilanjutkan oleh adiknya, Colleen.
Selama koma, Edwarda tidak pernah membuka mata, tidak berbicara, tapi keluarga tetap mempercayai bahwa ia “bisa mendengar” dan merasakan cinta mereka.
Edwarda O'Bara mengalami kondisi koma vegetatif non-responsif, di mana tubuhnya tetap hidup namun tanpa adanya tanda-tanda kesadaran. Selama lebih dari empat dekade, ia tidak menunjukkan respons sadar terhadap rangsangan eksternal—tidak berbicara, tidak bergerak secara sadar, dan tidak menunjukkan interaksi kognitif. Meski demikian, tubuhnya tetap bertahan dalam kondisi stabil tanpa bantuan ventilator, hanya melalui perawatan manual intensif yang dilakukan keluarganya di rumah setiap hari.
Menurut studi dalam Archives of Internal Medicine (2007), perawatan jangka panjang yang konsisten seperti yang dilakukan keluarga Edwarda dapat membantu mempertahankan fungsi vegetatif dalam jangka waktu ekstrem. Studi tersebut menekankan bahwa meskipun kesadaran pasien tidak pulih, dukungan nutrisi, kebersihan, dan stimulasi dasar tetap krusial dalam menjaga kualitas fisiologis tubuh untuk bertahan hidup dalam kondisi koma yang sangat lama.
Baca juga : Mengenal Koma: Definisi Medis, Penyebab, Jenis, dan Peluang Sembuh Menurut Ilmu Kedokteran
2. Elaine Esposito – 37 Tahun dalam Koma
Durasi: 1941–1978
Asal: Florida, AS
Elaine, berusia 6 tahun, menjalani operasi usus buntu dan tak pernah sadar lagi setelah pemberian anestesi. Dalam operasi, ia mengalami kejang, suhu tubuh naik hingga 42°C, dan tekanan darah turun drastis. Dokter menyatakan ia mungkin tidak akan bertahan malam itu—namun Elaine bertahan selama 37 tahun dalam koma.
Kondisinya disebut sebagai “sleeping with eyes open.” Selama koma, ia mengalami berbagai penyakit termasuk campak, paru-paru kolaps, dan pneumonia.
Orangtua Elaine kemudian membawanya pulang karena keterbatasan biaya. Ibunya merawatnya di rumah selama puluhan tahun.

3. Terry Wallis – Kembali Sadar Setelah 19 Tahun
Durasi: 1984–2003
Asal: Arkansas, AS
Terry mengalami kecelakaan mobil dan ditemukan dalam keadaan terguling di jurang. Ia mengalami kerusakan otak parah dan fraktur tulang belakang. Sejak itu, ia tak lagi responsif. Selama 19 tahun, keluarganya tetap berharap meski dokter menyatakan kemungkinannya sangat kecil.
Pada tahun 2003, secara mengejutkan, ia tiba-tiba sadar dan berbicara: “Mom.” Ia mengira masih berusia 20 tahun dan hidup di tahun 1984.
Selama periode "kesadaran awal" 3 hari, ia menunjukkan pemulihan motorik dan bicara terbatas. Meski tetap mengalami disabilitas parah, termasuk gangguan bicara, kehadirannya mengguncang komunitas neurologi.
Terry wafat pada 2022 akibat komplikasi pneumonia. Sebuah studi oleh Schiff et al. dalam Journal of Clinical Investigation (2005) menggunakan neuroimaging dan menemukan aktivitas metabolik yang masih aktif di bagian otaknya, menjelaskan kemungkinan pemulihan lambat ini.

4. Pangeran Khalid bin Talal Al Saud – Koma Sejak 2005
Durasi: 2005–Sekarang (lebih dari 19 tahun)
Asal: Arab Saudi
Pangeran Khalid mengalami kecelakaan lalu lintas dan mengalami cedera otak berat. Ia dirawat dengan ventilator dan peralatan medis canggih selama hampir dua dekade.
Dalam beberapa video viral, sang ayah menyentuh tangan Pangeran Khalid dan terlihat gerakan respons halus, memicu harapan bahwa kesadarannya mungkin mulai pulih.
Pangeran Khalid bin Talal Al Saud, yang telah mengalami koma sejak 2005 akibat cedera otak traumatis, tetap dirawat secara penuh oleh keluarganya hingga kini. Keluarga kerajaan Arab Saudi menolak menghentikan perawatan, berpegang pada keyakinan religius dan harapan akan mukjizat. Dalam masyarakat Arab, ia dijuluki “Sleeping Prince”, menjadi simbol pengharapan dan keteguhan keluarga dalam menghadapi ketidakpastian medis jangka panjang.
Kondisi Pangeran Khalid dikaitkan dengan Prolonged Disorders of Consciousness (PDOC), sebuah spektrum kondisi neurologis yang mencakup vegetative state dan minimally conscious state. Studi dalam The Lancet Neurology (2017) mengungkap bahwa meskipun pasien tampak tidak sadar, aktivitas otak mikro yang terdeteksi melalui teknologi neuroimaging dapat mengubah pendekatan medis dan etika—termasuk dalam pengambilan keputusan terkait penghentian alat bantu hidup atau rehabilitasi jangka panjang. Ini menegaskan pentingnya evaluasi yang cermat sebelum menetapkan prognosis akhir pasien koma.
5. Jan Grzebski – Bangun Setelah 19 Tahun
Durasi: 1988–2007
Asal: Polandia
Jan mengalami kecelakaan kereta api saat bekerja. Ia dinyatakan dalam kondisi vegetatif. Namun istrinya, Gertruda, merawatnya penuh cinta setiap hari.
Yang mengejutkan, saat sadar di tahun 2007, Jan berkata bahwa ia bisa mendengar semuanya selama 19 tahun, tapi tidak bisa memberi respon.
Para dokter kemudian menyatakan bahwa ia kemungkinan bukan koma total, tetapi mengalami locked-in syndrome ringan atau MCS (minimally conscious state). BMJ Case Reports dan Neurology Today mencatat bahwa kesalahan diagnosis antara keadaan vegetatif dan minimal conscious state bisa terjadi hingga 40%.

6. Aruna Shanbaug – 42 Tahun dalam Keadaan Vegetatif Setelah Kekerasan Seksual
Asal: Mumbai, India
Koma Dimulai: 27 November 1973
Sadar/Meninggal: 18 Mei 2015
Aruna adalah perawat berusia 25 tahun yang mengalami serangan brutal di rumah sakit tempat ia bekerja. Pelaku mencekik Aruna dengan rantai anjing hingga kehabisan oksigen, lalu memperkosanya. Akibatnya, Aruna mengalami cedera otak parah dan kelumpuhan total.
Sejak itu, ia hidup dalam keadaan vegetatif. Rumah Sakit King Edward Memorial (KEM) menolak untuk menyerah. Mereka merawat Aruna selama 42 tahun, menjadikannya kasus perawatan rumah sakit terlama di dunia. Kasus Aruna Shanbaug tidak hanya mengguncang dunia medis, tetapi juga memicu perdebatan nasional di India mengenai legalitas eutanasia. Permohonan untuk mengakhiri hidupnya melalui euthanasia pasif diajukan ke pengadilan, namun pada tahun 2011, Mahkamah Agung India menolak permohonan tersebut, dengan alasan bahwa tidak ada kerangka hukum yang mendukung praktik tersebut saat itu. Aruna akhirnya meninggal dunia pada tahun 2015 akibat komplikasi pneumonia, setelah menjalani 42 tahun dalam kondisi vegetatif yang menjadi sorotan publik dan hukum di India.
Baca juga : Mengenal Keluarga Al Saud: Garis Keturunan, Peran Politik, dan Tokoh Terkenal
Analisis Ilmiah dan Medis: Apakah Koma Selalu “Tanpa Harapan”?
Di mata awam, koma sering dianggap sebagai keadaan tanpa harapan—sebuah “tidur panjang” yang kemungkinan pulihnya sangat kecil. Namun, dari sudut pandang medis dan neurologi, koma memiliki spektrum tingkatan yang berbeda, masing-masing dengan potensi pemulihan yang bervariasi tergantung pada respons neurologis, usia pasien, dan penyebab cedera otak.
1. Coma
Ini adalah tahap paling awal dan paling dalam. Dalam kondisi ini, tidak ada kesadaran sama sekali, dan pasien tidak merespons rangsangan eksternal, baik berupa suara, sentuhan, maupun rasa sakit. Tidak ada pergerakan mata, tidak ada pola tidur-bangun, dan aktivitas kortikal otak sangat minim. Kondisi ini biasanya berlangsung dalam hitungan hari atau minggu, sebelum berkembang ke salah satu dari dua arah: pulih secara bertahap atau berlanjut ke fase vegetatif.
2. Vegetative State (VS)
Pasien tampak “bangun” karena memiliki siklus tidur dan bangun, dan kadang membuka mata, namun tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran diri atau lingkungan sekitar. Refleks dasar seperti batuk, menggertakkan gigi, atau bahkan tangisan spontan mungkin muncul, tapi semuanya bersifat otonom dan tidak bermakna. Banyak kasus koma jangka panjang seperti Aruna Shanbaug dan Pangeran Khalid berada dalam kondisi ini. Meski kelihatannya “kosong”, studi fMRI terkini menunjukkan bahwa aktivitas otak tertentu tetap bertahan di sebagian pasien, memberi harapan pada potensi kesadaran tersembunyi.
3. Minimally Conscious State (MCS)
MCS adalah tahap yang lebih tinggi dari VS, di mana pasien mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran terbatas dan fluktuatif. Misalnya, pasien mungkin bisa menggerakkan mata mengikuti suara, merespons nama mereka, atau bahkan menggerakkan tangan atas perintah—meski tidak konsisten. Ini yang terjadi pada kasus Munira Abdulla dan Terry Wallis, yang secara bertahap menunjukkan kemampuan berkomunikasi dan pemahaman dasar, meskipun sangat terbatas.
Teknologi fMRI dan EEG mutakhir telah memungkinkan para ilmuwan mendeteksi kesadaran tersembunyi, membuka kemungkinan komunikasi bahkan pada pasien yang tampak tidak sadar. “Consciousness is not always what we see—it might be hiding,” tulis Adrian Owen dalam Into the Grey Zone: A Neuroscientist Explores the Border Between Life and Death (2017).
Salah satu studi paling terkenal dilakukan oleh Prof. Adrian Owen dari University of Cambridge. Dalam eksperimen tahun 2006, ia menggunakan fMRI untuk memindai otak seorang pasien berusia 23 tahun yang telah koma akibat kecelakaan mobil dan didiagnosis vegetative state (VS).

Instruksi Mental dan Temuan Mengejutkan: Membaca Kesadaran Lewat Imajinasi
Salah satu studi paling berpengaruh dalam dekade terakhir mengenai kesadaran pada pasien koma dilakukan oleh Prof. Adrian Owen dan timnya di University of Cambridge. Mereka menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) untuk mendeteksi aktivitas otak pasien yang didiagnosis dalam kondisi vegetative state—yakni, tanpa kesadaran atau komunikasi yang tampak secara fisik.
Metode Eksperimen: Komunikasi Melalui Imajinasi
Dalam eksperimen ini, pasien tidak diminta berbicara atau bergerak—melainkan hanya berimajinasi dua skenario yang sangat spesifik:
- Membayangkan Bermain Tenis
- Tujuan: Mengaktifkan premotor cortex dan supplementary motor area
- Ini adalah wilayah otak yang aktif ketika seseorang merencanakan atau membayangkan gerakan tubuh.
- Membayangkan Berjalan Keliling Rumah
- Tujuan: Mengaktifkan parahippocampal gyrus, posterior parietal lobe, dan lateral premotor cortex
- Area ini berhubungan dengan orientasi spasial dan navigasi.
Pasien diminta membayangkan setiap skenario selama beberapa menit, sambil dipindai menggunakan fMRI.
Hasil Mengejutkan: Respons Sejajar dengan Otak Orang Sehat
Yang membuat dunia medis terkejut adalah bahwa aktivitas otak pasien yang vegetatif ternyata identik dengan aktivitas kontrol sehat (orang sadar) saat menjalankan tugas mental yang sama. Otak pasien menyalakan area-area spesifik sesuai imajinasi yang diminta, seperti orang yang sadar sepenuhnya.
Studi ini, yang diterbitkan dalam Science (2006), menunjukkan bahwa pasien tersebut sebenarnya:
- Memiliki kesadaran internal yang utuh
- Mampu memahami perintah verbal
- Mampu mengikuti instruksi mental secara konsisten
Ini bukan hanya aktivitas otak acak—tetapi respons terarah dan berulang, yang berarti pasien tidak hanya hidup secara biologis, tetapi juga sadar secara kognitif, walau tubuhnya tampak "tidak hidup."
Dampak Revolusioner terhadap Dunia Medis
Penemuan ini mengubah paradigma dunia medis dan neurologi dalam melihat pasien koma atau vegetatif. Sebelumnya, diagnosis vegetative state dianggap setara dengan "tidak sadar total". Namun kini, kita tahu bahwa beberapa pasien memiliki kesadaran tersembunyi, yang disebut sebagai covert consciousness.
Hal ini berdampak pada:
- Etika pengambilan keputusan medis (seperti penghentian alat bantu hidup)
- Kebutuhan evaluasi ulang diagnosis pasien vegetatif
- Pengembangan metode komunikasi non-verbal berbasis imajinasi mental
- Harapan baru bagi keluarga pasien untuk tidak menyerah terlalu dini
Statistik Mengejutkan: Salah Diagnosa Kesadaran
Menurut Andrews et al. (1996, BMJ) dan Laureys et al. (2005, Lancet):
- Hingga 43% pasien yang didiagnosis vegetatif ternyata memiliki aktivitas sadar saat diperiksa dengan teknik neuroimaging seperti fMRI atau EEG.
- Ini disebut “covert consciousness” – kesadaran tersembunyi yang tidak dapat dikenali lewat observasi fisik biasa.
Apa yang Terjadi di Otak Pasien Koma atau Vegetatif?
- Otak manusia memiliki jaringan kesadaran yang melibatkan:
- Cortex prefrontal
- Thalamus
- Precuneus
- Jaringan Default Mode Network (DMN)
- Dalam kondisi vegetatif:
- Banyak bagian terputus hubungan atau memiliki aktivitas metabolik sangat rendah.
- Namun, beberapa pasien tetap menunjukkan "island of activity"—bagian kecil otak yang aktif dan memberi peluang kesadaran.
Aplikasi Klinis fMRI untuk Pasien Koma
1. Diagnosis Akurat
fMRI memungkinkan reklasifikasi pasien:
- Dari vegetative state menjadi minimally conscious state
- Dari non-responsive menjadi aware but locked-in
2. Komunikasi Non-verbal
Melalui fMRI, pasien dapat menjawab pertanyaan “ya/tidak” dengan aktivasi area motorik atau spasial:
- Contoh: “Bayangkan bermain tenis jika jawabannya ya”
3. Prediksi Pemulihan
Aktivitas fMRI tertentu (terutama di thalamus dan DMN) sering dikaitkan dengan peluang pemulihan kesadaran lebih tinggi.
Baca juga : Dari AS hingga Arab Saudi: 6 Pasien Ini Bertahan dalam Koma Terlama di Dunia
Implikasi Etika dan Sosial
- Eutanasia & Life Support: Jika pasien masih sadar secara kognitif, apakah boleh kita cabut alat bantu hidup?
- Kualitas Hidup: Apakah pasien yang sadar tapi tidak bisa bergerak mengalami penderitaan yang bisa dideteksi?
- Hak Pasien Tak Responsif: Studi ini memberi legitimasi bahwa mereka tetap punya hak untuk didengar dan dihormati.
Studi fMRI telah membuktikan bahwa kesadaran tidak selalu terlihat. Banyak pasien koma menyimpan potensi sadar yang selama ini tidak dikenali oleh metode klinis konvensional. Dengan teknologi seperti fMRI, kita bukan hanya membuka peluang hidup baru bagi mereka—tetapi juga membangun landasan etika yang lebih manusiawi dalam menangani pasien non-responsif.
Dari Miami hingga Riyadh, kisah pasien koma ini menunjukkan bahwa kehidupan bisa bertahan dalam kondisi yang tak kita pahami sepenuhnya. Meskipun sains belum mampu menjawab semua misteri tentang kesadaran, kisah mereka mengingatkan kita bahwa keajaiban bisa datang dalam bentuk yang paling tak terduga—baik dari teknologi, cinta keluarga, atau keyakinan yang tak tergoyahkan.
Bagi dunia medis, mereka adalah kasus langka yang memperluas pemahaman tentang kesadaran dan otak. Bagi kita semua, mereka adalah pengingat bahwa selama masih ada napas, harapan belum benar-benar padam.
Referensi Jurnal & Studi Ilmiah
- Schiff, N. D. et al. (2005). "Residual cerebral activity and behavioural fragments in a man who recovered after a 19-year minimally conscious state." Journal of Clinical Investigation, 115(7), 2005.
- Owen, A. M. et al. (2006). "Detecting awareness in the vegetative state." Science, 313(5792), 1402.
- Laureys, S. et al. (2017). "Coma science: clinical and ethical implications." The Lancet Neurology, 16(6), 451–464.
- Andrews, K. et al. (1996). "Misdiagnosis of the vegetative state: retrospective study in a rehabilitation unit." BMJ, 313(7048), 13–16.
- Owen, A. M. (2017). Into the Grey Zone. Scribner Publishing.