13 Daftar Nama Calon Pengganti Paus Fransiskus, Ada yang Dari Indonesia!

profile picture MarthenAngga
Humaniora - Seni dan Budaya

Wafatnya Paus Fransiskus meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat dunia, khusunya umat Katolik. Dikenal dengan gaya hidup sederhana dan kudus, tentu semakin membuat nama Paus Fransiskus dikenang secara harum. 

Meninggal 1 hari setelah perayaan Paskah, rupanya beliau sudah menulis surat wasiat sejak 2022. Beliau meyakini bahwa hidupnya di dunia fana sudah tidak lama. Carmelinggo menyatakan penyebab meninggalnya adalah stroke yang menyebabkan koma dan gagal jantung. Pengumuman disiarkan setelah Carmelinggo melakukan berbagai ritual agama.

Daftar Nama Calon Paus 2025

Nama-nama Romo pengganti Paus mulai bermunculan, dan diantaranya ada yang dari Indonesia. Berikut 13 daftar nama calon Paus yang baru:

  1. Kardinal Pietro Parolin (Italia)

           

Saat ini memiliki jabatan sebagai sekretaris Negara Vatikan, dikenal  juga sebagai diplomat ulung dan tokoh moderat yang dapat menjembatani berbagai kubu dalam Gereja.

Kelebihan beliau adalah 

  • Seorang senior dalam diplomat Vatikan.

  • Memiliki hubungan internasional yang luas.

  • Disegani oleh berbagai fraksi dalam Gereja karena pendekatannya yang moderat dan inklusif.
  • Dekat dengan Paus Fransiskus dan sering menjadi juru bicara diplomatik Vatikan.
  1. Kardinal Luis Antonio Tagle (Filipina)

 

Mantan Uskup Agung Manila dan kini memimpin Kongregasi untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa. Dikenal sebagai sosok progresif dan dekat dengan kaum miskin.

Kelebihan beliau adalah 

  • Memiliki julukan “Fransiskus dari Asia” karena semangat pastoralnya yang melayani rakyat.

  • Dekat dengan rakyat dengan kondisi ekonomi menengah kebawah.

  • Ahli dalam komunikasi

  1. Kardinal Péter Erdő (Hungaria)

 

Uskup Agung Esztergom-Budapest, dikenal sebagai teolog konservatif dengan pengalaman luas dalam hubungan antaragama.

Kelebihan beliau adalah

  • Merupakan sarjana hukum kanonik.

  • Memiliki pengalaman sebagai Presiden Konferensi Waligereja Eropa.

  • Mampu mewakili suara Gereja Katolik konservatif Eropa Timur.

  1. Kardinal Matteo Zuppi (Italia)

 

Uskup Agung Bologna, aktif dalam isu-isu sosial dan perdamaian, serta dikenal sebagai tokoh moderat yang mampu melanjutkan semangat reformasi Paus Fransiskus.

Kelebihan beliau adalah

  • Dikenal masyarakat sebagai paus Fransiskus versi muda.

  • Aktif dalam isu-isu sosial, perdamaian, dan imigrasi.

  • Mampu menjembatani antara tradisi Katolik dan isu kontemporer.

  1. Kardinal Jean-Marc Aveline (Prancis)

 

 

Uskup Agung Marseille, dikenal karena keterlibatannya dalam dialog antaragama dan integrasi sosial.

Kelebihan beliau adalah

  • Fokus dan terbuka pada dialog antar agama

  • Latar belakangnya sebagai imigran mencerminkan keanekaragaman umat Katolik modern.

  • Pendukung integrasi dan kohesi sosial di tengah kemajemukan.

  1. Kardinal Peter Turkson (Ghana)

 

Mantan Prefek Dikasteri untuk Promosi Pembangunan Manusia Integral, dikenal karena advokasinya terhadap keadilan sosial dan lingkungan hidup.

Kelebihan beliau adalah

  • Pelayannya berfokus pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.

  • Merupakan Figur kuat dari Gereja Afrika yang berkembang pesat.

  • Pendukung ensiklik Laudato Si’ dan keadilan sosial.

  1. Kardinal Fridolin Ambongo (Republik Demokratik Kongo)

 

Uskup Agung Kinshasa, dikenal karena advokasinya terhadap keadilan sosial dan lingkungan hidup.

Kelebihan beliau adalah

  • Pemimpin vokal dalam masalah perubahan iklim dan eksploitasi ekonomi.

  • Turut bersuara akan pentingnya suara Afrika dalam Gereja global.

  • Populer karena ketegasan dan integritasnya.

  1. Kardinal Robert Sarah (Guinea)

 

Mantan Prefek Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, dikenal sebagai sosok konservatif yang vokal dalam mempertahankan tradisi Gereja.

Kelebihan beliau adalah

  • Seorang tokoh yang memperjuangkan liturgi tradisional.

  • Disukai oleh umat Katolik yang ingin arah Gereja kembali ke akarnya.

  • Tegas dalam mempertahankan ajaran moral tradisional.

  1. Kardinal Mario Grech (Malta)

 

Patriark Latin Yerusalem, dikenal karena keterlibatannya dalam dialog antaragama dan isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah. Saat ini menempati jabatan sebaai Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup

Kelebihan beliau adalah

  • Turut mendukung reformasi dalam sinode Gereja dan partisipasi umat awam.

  • Disegani karena pendekatan pastoral dan gaya kepemimpinan kolegial.

  • Fokus pada dialog dalam struktur sinodal.

  1. Kardinal Pierbattista Pizzaballa (Italia)

 

Patriark Latin Yerusalem, dikenal karena keterlibatannya dalam dialog antaragama dan isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah.

Kelebihan beliau adalah

  • Merupakan ahli dalam dialog antaragama, khususnya Kristen, Yahudi, dan Islam.

  • Mewakili Gereja di Timur Tengah dengan penuh keberanian.

  • Terlibat dalam isu kemanusiaan dan perdamaian di wilayah konflik.

  1. Kardinal Joseph Tobin (Amerika Serikat)

 

Uskup Agung Newark, dikenal karena keterbukaannya dan kepemimpinannya selama skandal pelecehan seksual di Gereja. 

Kelebihan beliau adalah

  • Terlibat dalam mendukung transparansi dan tanggung jawab dalam menangani kasus pelecehan.

  • Progresif dalam isu LGBTQ dan inklusi.

  • Terlibat aktif dalam dialog sosial di AS.

  1. Kardinal José Tolentino Calaça de Mendonça (Portugal)

 

Prefek Dikasteri untuk Budaya dan Pendidikan, dikenal karena pandangannya yang progresif dan keterlibatannya dalam dialog budaya.

Kelebihan beliau adalah

  • Intelektual Katolik yang dikenal luas di dunia sastra dan filsafat.

  • Mendorong Gereja untuk lebih hadir dalam dunia kebudayaan dan seni.

  • Memiliki suara spiritual yang lembut namun kuat.

  1. Kardinal Ignatius Suharyo (Indonesia)

 

Uskup Agung Jakarta dan Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, dikenal karena komitmennya pada dialog lintas agama dan keberagaman.

Kelebihan beliau adalah

  • Promotor dialog lintas agama dan perdamaian di negara berpenduduk Muslim terbesar

  • Mampu memimpin Gereja Katolik Indonesia dengan pendekatan budaya lokal.

  • Simbol pluralisme, toleransi, dan harmoni antar umat beragama.

Masa konklaf untuk memilih Paus baru akan dilaksanakan pada Mei 2025. Masing-masing kandidat tentu memiliki kelebihan masing-masing, namun siapa pemenangnya tidak bisa diprediksi. Pemilihan Paus tidak dipengaruhi oleh politik, semuanya teregantung kebijakan internal dan pertimbangan spiritual. 

Namun berikut tabel prediksi eletabilitas

 

Siapa Peserta Pemilih Paus?

Peserta pemilihan Paus baru bukan oleh sembarang orang. Pemilihan ini dilakukan secara internal, tanpa campur tangan pihak luar, atau seperti unsur politik dan bisnis. Pemilih merupakan Kolegium Kardinal, yaitu mereka yang secara resmi oleh Paus yang sedang atau telah menjabat (melalui Konsistori).

Di dalam Kolegium Kardinal, hanya Kardinal Elektoral (Cardinal Electors) yang bisa menjadi peserta, yaitu yang berusia di bawah 80 tahun pada hari wafatnya Paus yang boleh ikut memilih Paus baru. Jumlah maksimal kardinal elektoral adalah 120 orang, meskipun Paus dapat memberikan dispensasi. Peraturan ini berdasarkan tradisi sejak Paus Paulus VI. 

Semua ini sesuai aturan dalam Motu Proprio Ingravescentem Aetatem (1970) oleh Paus Paulus VI dan ditegaskan kembali oleh Paus Yohanes Paulus II:

"Kardinal yang telah mencapai usia 80 tahun sebelum hari kosongnya Takhta Apostolik tidak memiliki hak memilih Paus dalam konklaf."

Nantinya, Kardinal harus hadir secara langsung di Vatikan saat konklaf dilangsungkan. Mereka biasanya diberi waktu 15 hari sejak kekosongan takhta untuk berkumpul. Bila berhalangan hadir dengan alasan apapun, hak suara akan dinyatakan gugur.

Pemilihan dilakukan dalam konklaf, biasanya dimulai 15 hingga 20 hari setelah wafat atau pengunduran diri Paus. Lokasi pemilihan adalah Kapel Sistina di Vatikan, yang dikunci dari dunia luar sampai pemilihan selesai.

 

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By MarthenAngga

This statement referred from