Internalized Homophobia: Saat LGBT Merasa Tidak Layak Dicintai

profile picture keanugold
Lifestyle - Other

Kita hidup di dunia di mana orang secara otomatis diasumsikan heteroseksual, kecuali mereka menyatakan sebaliknya. Tapi lebih dari itu, dunia ini juga menganggap bahwa heteroseksualitas adalah orientasi yang “lebih baik”. 

Apa Itu Internalized Homophobia?

Jawaban Singkatnya?

Banyak teori terkait munculnya LGBT yang dibahas secara global, orang-orang berlomba untuk memahami dirinya dan orang lain, dan penyebab kenapa munculnya hal ini, di tengah kerancuan inilah, banyak pihak yang tersesat dalam internalized homophobia. Pesan semacam ini—baik secara eksplisit maupun implisit—bisa sangat merusak bagi orang-orang queer. Salah satu dampak yang paling umum adalah munculnya internalized homophobia, atau dalam bahasa Indonesia bisa disebut sebagai “homofobia internal”.

Belum pernah dengar istilah ini? Tenang aja, mari kita bahas dengan santai dan jelas.

Menurut Casey Tanner, seorang terapis seks yang mendukung komunitas queer, “Internalized homophobia mencakup pikiran, perasaan, dan perilaku yang muncul dari keyakinan bahwa menjadi queer itu salah, berdosa, atau lebih rendah daripada menjadi straight.”

Pesan ini—baik tersurat maupun tersirat—tertanam dalam masyarakat dan bisa berdampak buruk bagi orang-orang queer. Salah satu bentuk dampaknya disebut internalized homophobia, atau dalam bahasa Indonesia: homofobia internal.

Yuk, Berhenti Sebentar untuk Latihan Mindfulness

Sebelum masuk lebih jauh, mari kita lakukan latihan kecil. Tanyakan ke diri sendiri: Apa yang kamu rasakan saat membaca topik ini? Apakah ada rasa tak nyaman? Ada kenangan tertentu yang muncul? Apakah tubuhmu terasa tegang atau terbuka? Apakah kamu merasa defensif atau justru penasaran? Apa pun yang kamu rasakan—semuanya valid. Latihan ini penting agar kita bisa menyadari betapa dalamnya pengaruh norma sosial terhadap pikiran dan emosi kita, tanpa menghakimi diri sendiri.

Siapa yang Bisa Mengalami Internalized Homophobia?

Pertanyaan yang bagus!

Secara definisi, hanya orang yang tidak heteroseksual yang bisa mengalami hal ini. Kenapa? Karena internalized phobia terjadi ketika seseorang dari kelompok minoritas menyerap kebencian yang diarahkan kepada mereka oleh masyarakat mayoritas.

Dalam konteks ini, itu berarti orang-orang yang bukan straight mulai mengarahkan kebencian dari masyarakat (yang mayoritas heteroseksual) ke diri mereka sendiri.

Jadi, orang straight tidak bisa mengalami internalized homophobia—itu bukan bagian dari definisinya.

Namun penting untuk diingat:

  • Kita nggak bisa menebak orientasi seksual seseorang tanpa mereka memberitahu kita.
  • Internalized homophobia bisa menghambat seseorang dalam mengeksplorasi jati dirinya.
  • Seksualitas seseorang bisa berubah seiring waktu.

Orang straight bisa saja punya pikiran atau perilaku yang homofobik, tapi itu adalah homofobia eksternal, bukan internal.

Ada Istilah Lain yang Mirip?

Yup! Istilah terkait lainnya termasuk:

  • Internalized biphobia (untuk orang biseksual)
  • Internalized queerphobia
  • Internalized transphobia (untuk orang transgender)

Misalnya:

  • Komedian lesbian Sophia Cleary pernah menertawakan masa lalunya ketika ia mencoba "menjadi straight" sambil menatap kaca dan berteriak, "AKU STRAIGHT!"—suatu momen yang lucu, tapi juga menyakitkan. “Itu adalah internalized homophobia. Dan itu menakutkan,” katanya.
  • Pertunjukan teater seperti Marginalized di Los Angeles menggambarkan betapa dalamnya rasa malu yang tertanam di masa kecil orang queer akibat pengaruh lingkungan.
  • Seorang yang biseksual mungkin berkata, “Aku cuma lagi fase aja, bukan benar-benar bi.”
  • Seorang trans bisa berpikir, “Kalau aku benar-benar trans, pasti aku tahu sejak dulu,” atau “Harusnya aku merasa lebih ‘tidak nyaman’ dengan genderku.”

Semua bentuk ini memiliki satu kesamaan: mengabaikan validitas identitas diri sendiri.

Ada juga istilah internalized heterosexism, yaitu ketika seseorang menyerap kepercayaan bahwa hanya heteroseksual yang "normal" dan lainnya dianggap aneh atau salah.

Yuk, Kenali 10 Tanda Homofobia Internal

Berikut ini 10 tanda umum yang bisa jadi sinyal bahwa kita (atau orang di sekitar kita) sedang mengalami homofobia internal. Mengenali ini bukan berarti menyalahkan diri sendiri, tapi menjadi langkah awal untuk penyembuhan dan penerimaan diri. Karena mental health bukan hanya milik orang yang berorientasi seksual lurus saja.

1. Menolak Identitas Sendiri

Merasa perlu menyangkal orientasi seksual atau jati diri, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, walaupun secara batin sudah menyadari kebenarannya.

2. Berusaha “Menyesuaikan Diri” Secara Berlebihan

Kita jadi merasa harus selalu berpura-pura “lurus,” memantau cara bicara, pakaian, atau sikap agar tidak “ketahuan.” Tekanan ini bisa memicu stres, kecemasan, depresi, bahkan trauma.

3. Menghindari Komunitas LGBTQ+

Saat bersama orang heteroseksual, kita menjauh dari sesama LGBTQ+ agar tidak terlihat “berbeda,” meskipun diam-diam masih ingin tetap terhubung.

4. Merasa Malu Saat Melihat Ekspresi LGBTQ+

Merasa tidak nyaman, malu, atau terganggu saat melihat orang LGBTQ+ menunjukkan identitas mereka di ruang publik, media sosial, atau media massa.

5. Takut Menjadi Diri Sendiri di Lingkungan Umum

Kita merasa was-was menunjukkan afeksi di tempat umum, takut mengungkapkan identitas ke dokter, atau canggung meminta layanan sebagai pasangan LGBTQ+.

6. Sulit Menjalin Hubungan yang Sehat

Beberapa dari kita merasa tidak layak memiliki hubungan yang bahagia. Kita akhirnya masuk ke pola relasi yang tidak setara, kasar, tidak setia, atau penuh luka.

7. Merendahkan Diri Sendiri atau Sesama LGBTQ+

Contohnya: menyangkal adanya homofobia, suka melontarkan candaan negatif soal diri sendiri, atau menertawakan dan merendahkan LGBTQ+ lain dengan dalih “humor.”

8. Ikut Mendiskriminasi Kelompok Marginal Lain

Sikap intoleran terhadap kelompok tertindas lainnya bisa jadi refleksi dari diskriminasi yang kita alami dan belum kita sembuhkan — semacam pelampiasan rasa sakit.

9. Membela Tindakan Homofobia di Lingkungan

Kita jadi terbiasa mengabaikan atau membenarkan tindakan homofobik di rumah, sekolah, kantor, atau pertemanan karena merasa tidak berdaya atau sudah terbiasa.

10. Mendukung Sistem yang Menindas LGBTQ+

Menolak gerakan atau kebijakan yang pro-LGBTQ+, menyerang tokoh yang memperjuangkan hak kita, bahkan menyalahkan LGBTQ+ atas diskriminasi yang mereka alami.

Tanda-tanda ini sering kali berakar dari berbagai faktor seperti:

  • Latar belakang religius: 65% terpapar doktrin penolakan homoseksualitas sejak kecil
  • Penolakan dari keluarga: 57% mengalami penolakan setelah coming out
  • Lingkungan sekolah: 43% mengalami diskriminasi atau bullying
  • Representasi media: 38% menyerap citra negatif atau tidak adanya representasi positif

Apa Bedanya dengan Bentuk Homofobia Lain?

Ada dua bentuk homofobia lainnya:

1. Interpersonal Homophobia

Ini terjadi antar individu—misalnya saat seseorang mengejek atau mengucilkan orang queer karena identitasnya.

Contoh:

  • Memanggil seseorang “gay” dengan nada menghina karena dia ekspresif secara emosional.
  • Menjaga jarak dari teman queer karena takut dikira queer juga.

2. Systemic Homophobia

Terjadi dalam skala besar—dalam sistem, institusi, budaya, agama, bisnis, bahkan pemerintahan.

Contoh:

  • Tidak menyediakan toilet netral gender.
  • Menolak melayani pelanggan yang dianggap queer.
  • Meloloskan undang-undang yang mengecualikan sejarah dan edukasi LGBTQIA+ di sekolah.

Seperti Apa Wujud Internalized Homophobia?

Menurut Tanner, ini bisa terlihat dari:

  • Menyalahkan diri sendiri karena punya pikiran atau perasaan queer.
  • Menjauhi komunitas queer atau merasa tidak pantas berada di dalamnya.
  • Rendah diri, merasa tidak layak, cemas, bahkan depresi.
  • Mencoba menekan identitas—misalnya mencoba “mengubah” orientasi atau terlibat dalam perilaku adiktif untuk mengalihkan pikiran.

Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan bisa membuat seseorang melampiaskan kebencian ke orang lain.

Menurut Suzannah Weiss, edukator gender dan seksualitas, banyak kejahatan kebencian terhadap LGBTQ muncul dari pelaku yang tidak bisa menerima ketertarikan mereka sendiri, lalu mengekspresikannya lewat kekerasan.

Ini bukan berarti semua pelaku kejahatan anti-LGBTQ adalah queer, tapi menunjukkan betapa bahayanya efek internalized homophobia—baik bagi individu maupun masyarakat.

Kenapa Bisa Terjadi?

Sayangnya, dunia ini masih sangat kental dengan homofobia—dari sistem hukum, pendidikan, agama, hingga pelayanan kesehatan.

Contohnya:

  • Buku sejarah yang tak mencantumkan tokoh queer.
  • Pendidikan seks yang hanya membahas hubungan hetero.
  • Dokter yang mengasumsikan semua pasiennya straight.
  • Agama yang menolak menikahkan atau menerima queer.

Jadi, kalau kita terus-menerus diajarkan bahwa menjadi queer itu salah, wajar aja kalau pikiran-pikiran itu ikut tertanam dalam diri kita.

Apa Dampaknya dalam Jangka Panjang?

Setiap orang beda-beda, tapi internalized homophobia sering kali menyebabkan:

  • Depresi, kecemasan
  • Gangguan makan
  • Ketergantungan (adiksi)
  • Kesulitan dalam hubungan romantis atau seksual

Ini juga bisa memengaruhi:

  • Pilihan karier
  • Siapa yang mereka kencani
  • Bagaimana mereka melihat diri mereka dalam hubungan

Misalnya, seseorang bisa saja menikah dengan pasangan sesama jenis, tapi tetap memaksakan standar hubungan hetero dalam relasinya. Atau menyalahkan queer lain karena cara mereka mengekspresikan diri.

Berikut adalah grafik yang menunjukkan dampak homofobia internal terhadap kesehatan mental dan relasi, berdasarkan data statistik:

  • Gejala depresi dialami oleh 73%
  • Menghindari hubungan oleh 65%
  • Kecemasan sosial oleh 58%

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kabar baiknya: internalized homophobia bisa diatasi, meskipun butuh waktu dan proses.

Langkah awal: akui bahwa itu nyata. Dan kamu sudah mulai langkah ini dengan membaca artikel ini!

Lanjutkan dengan refleksi diri, misalnya:

  • Apakah aku pernah malu karena ketertarikanku pada seseorang?
  • Gimana perasaanku terhadap orang LGBTQIA+ lainnya?
  • Siapa saja yang tahu tentang seksualitasku? Kenapa aku belum cerita ke yang lain?
  • Apa perasaanku setelah berhubungan intim? Apakah berubah tergantung gender pasangan?

Seorang terapis yang berpihak pada komunitas queer bisa membantu menjawab dan membimbing kamu menghadapi dunia yang belum sepenuhnya aman bagi queer.

Bagaimana Cara Mendukung Orang Tercinta yang Mengalaminya?

Kalau kamu punya orang dekat yang sedang berjuang dengan internalized homophobia, kamu bisa:

  • Tunjukkan dukunganmu lewat kata-kata dan tindakan
  • Lawan pernyataan atau hukum anti-LGBTQIA+
  • Percayai cerita dan pengalaman mereka
  • Ciptakan ruang yang aman bagi komunitas queer
  • Terus belajar tentang identitas gender dan orientasi yang berbeda

Berikut adalah grafik yang menampilkan hasil positif dari proses pemulihan homofobia internal:

  • Tingkat depresi turun sebesar 65%
  • Harga diri naik hingga 73%
  • Koneksi sosial membaik mencapai 82%

Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Kita tidak harus menjalani proses ini sendirian. Bantuan profesional sangat penting dalam perjalanan ini. Beberapa pendekatan yang bisa membantu:

  • Terapi CBT: Mengubah pola pikir negatif tentang diri sendiri
  • Psikoterapi individu: Mengatasi rasa malu dan menerima diri
  • Terapi kelompok: Bertukar cerita dan pengalaman dalam ruang aman
  • Konseling trauma: Untuk pengalaman diskriminasi atau penolakan
  • Terapi keluarga: Untuk kita dan keluarga saat proses coming out

Sumber Dukungan Lain:

  • The Trevor Project: Layanan krisis 24/7 untuk LGBTQ+
  • PFLAG: 400+ komunitas dukungan di AS
  • HRC (Human Rights Campaign): Koneksi ke layanan affirming
  • GLSEN: Dukungan dan advokasi bagi pelajar LGBTQ+
  • GLMA: Direktori tenaga medis pro-LGBTQ+
  • Pusat Komunitas LGBTQ+: Konseling, bantuan hukum, kegiatan sosial, dan banyak lagi

Kita Berhak Bahagia

Sebagai manusia, kita semua pasti pernah mengalami kebingungan atau pergolakan batin terkait identitas diri, termasuk dalam hal orientasi seksual. Namun, penting untuk kita pahami bahwa tidak semua dorongan atau perasaan harus diikuti atau dijadikan identitas tetap. Dalam banyak budaya dan nilai luhur yang kita anut, hidup selaras dengan prinsip moral dan fitrah manusia adalah hal yang sangat dijaga. Maka dari itu, ketika muncul pikiran atau perasaan yang menyimpang — terutama yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut — sebaiknya kita tidak terburu-buru mengafirmasi, tetapi justru menjadikannya momen untuk merenung dan mencari arahan yang benar.

Jika kita merasa bingung, tertekan, atau memiliki kecenderungan yang membuat batin tak tenang, sangat disarankan untuk berbicara dengan tenaga profesional yang memahami aspek psikologis dan spiritual secara utuh. Dengan bimbingan yang tepat, kita bisa memahami diri lebih dalam dan menemukan solusi yang tidak hanya menenangkan hati, tapi juga membimbing kita pada kehidupan yang lebih sehat, selaras, dan bermakna.

References

  • Ni, Preston. Are You Highly Sensitive? How to Gain Immunity, Peace, and Self-Mastery!. PNCC. (2017)
  • Ni, Preston. How to Communicate Effectively and Handle Difficult People — 2nd Edition. PNCC. (2006)
  • Ni, Preston. How to Let Go of Negative Thoughts and Emotions. PNCC. (2014)
0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By keanugold

This statement referred from