LGBT Itu Pilihan atau Bawaan? Ini Jawaban Ilmiah Berdasarkan 5 Teori Global

profile picture keanugold
Lifestyle - Other

Identitas seksual dan gender merupakan aspek fundamental dalam struktur psikososial individu. Istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender) merujuk pada keragaman orientasi seksual dan identitas gender yang telah ada dalam berbagai kebudayaan dan sejarah manusia. Alih-alih dipandang sebagai fenomena temporer atau produk pengaruh budaya modern semata, LGBT saat ini diakui secara luas sebagai bagian dari spektrum identitas manusia yang sah dan tidak patologis. Perspektif ini diperkuat oleh konsensus akademik dan lembaga profesional seperti American Psychiatric Association dan World Health Organization, yang telah menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan mental sejak 1973 dan 1992 secara berturut-turut (Drescher, 2015).

Pemahaman terhadap penyebab orientasi seksual non-heteroseksual perlu dilakukan secara objektif dan berbasis sains, guna menghindari kesimpulan reduksionistik atau moralistik. Dalam dekade terakhir, pendekatan multidisipliner yang melibatkan biologi, psikologi, dan sosiologi telah berkembang untuk menjelaskan faktor-faktor kompleks yang berkontribusi terhadap terbentuknya identitas LGBT. Secara biologis, studi kembar menunjukkan bahwa faktor genetik memiliki kontribusi terhadap orientasi seksual. Kendler et al. (2010) menemukan bahwa hereditas dapat menjelaskan sekitar 31–39% variasi orientasi seksual pada pria, dan 18–19% pada wanita dalam studi populasi di Swedia.

Dari perspektif psikologi perkembangan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dinamika relasi keluarga, pengalaman trauma, serta interaksi sosial di masa kanak-kanak turut membentuk aspek-aspek dari identitas seksual, meskipun tidak bersifat deterministik (Mustanski et al., 2002). Sementara itu, sosiologi mengkaji bagaimana norma budaya, ekspektasi sosial, dan representasi media dapat memperkuat atau menekan ekspresi identitas seksual tertentu dalam masyarakat.

Seiring meningkatnya keterbukaan terhadap isu LGBT secara global, terjadi pula peningkatan pelaporan individu yang mengidentifikasi diri sebagai bagian dari spektrum tersebut. Menurut survei Gallup (Jones, 2021), proporsi populasi dewasa di Amerika Serikat yang mengidentifikasi sebagai LGBT meningkat dari 3,5% pada tahun 2012 menjadi 5,6% pada tahun 2020, dengan kelompok usia Gen Z menunjukkan angka tertinggi, yaitu 15,9%. Namun, penting dicatat bahwa peningkatan ini lebih mencerminkan pergeseran sosial menuju keterbukaan dan penerimaan, bukan peningkatan prevalensi biologis. Sedangkan LGBT di Indonesia lebih kepada 'tidak dianggap ada' meskipun homoseksualitas tidak dianggap ilegal dan tidak dikriminalisasi.

Dengan demikian, pengkajian tentang penyebab seseorang menjadi LGBT harus ditempatkan dalam kerangka keilmuan yang komprehensif, bebas dari bias ideologis dan prasangka moral. Hanya melalui pendekatan ilmiah dan multidisipliner, masyarakat dapat membangun pemahaman yang inklusif dan berkeadilan terhadap keragaman orientasi seksual dan gender.

Berikut salah satu video penjelasan tentang queer theory:

https://youtu.be/74k8OvL-NiQ?si=ivRMf65xXm21ui2G

Teori 1: Faktor Genetik dan Biologis

Salah satu teori paling kuat dan banyak diteliti mengenai penyebab orientasi seksual adalah faktor genetik dan biologis. Teori ini menyatakan bahwa orientasi seksual—termasuk menjadi gay, lesbian, atau biseksual—bukanlah hasil dari pengaruh lingkungan semata, melainkan bisa terbentuk sejak dalam kandungan, melalui warisan genetik, pengaruh hormon, dan struktur biologis otak.

1. Studi Kembar: Bukti Kuat dari Genetik

Penelitian awal yang mendukung teori ini datang dari studi kembar identik. Salah satu studi paling dikenal dilakukan oleh Bailey & Pillard (1991), yang menemukan bahwa:

  • Jika satu kembar identik adalah gay, kemungkinan kembar satunya juga gay adalah 52%.
  • Angka ini turun menjadi 22% pada kembar fraternal (tidak identik).
  • Dan hanya sekitar 11% pada saudara biasa (Bailey & Pillard, 1991. Archives of General Psychiatry).

Angka ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kesamaan genetik, semakin tinggi kemungkinan memiliki orientasi seksual yang sama.

Studi yang lebih besar di Swedia oleh Kendler et al. (2010) menemukan hal serupa. Dalam populasi besar, mereka memperkirakan bahwa 35% variasi orientasi seksual pada pria dan 18% pada wanita dapat dijelaskan melalui faktor keturunan (Kendler et al., 2010. Archives of General Psychiatry). Artinya, gen memang berperan penting—meskipun tidak sepenuhnya menentukan.

2. Peran Hormon Prenatal

Faktor biologis lainnya adalah paparan hormon selama masa kehamilan. Saat janin berkembang, hormon seperti testosteron dan estrogen memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf. Jika terjadi ketidakseimbangan atau variasi hormon pada masa kritis ini, hal ini diduga bisa memengaruhi orientasi seksual.

Misalnya, teori androgen prenatal menyebutkan bahwa jika seorang janin perempuan terpapar lebih banyak hormon androgen (hormon laki-laki), ia lebih mungkin memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis. Beberapa studi pada hewan juga menunjukkan bahwa perubahan kadar hormon saat kehamilan bisa memengaruhi perilaku seksual setelah lahir (Balthazart, 2011. Frontiers in Neuroendocrinology).

3. Epigenetik: Gen yang “Aktif” atau “Diam”

Selain gen dan hormon, ilmu epigenetik juga mulai menjelaskan bahwa cara gen bekerja bisa berubah tergantung kondisi tertentu selama kehamilan atau masa awal kehidupan. Ini menjelaskan mengapa dua orang dengan genetik yang sama (seperti kembar identik) bisa tetap memiliki orientasi seksual berbeda.

Studi oleh Rice et al. (2012) mengusulkan bahwa epimark hormon seks—yaitu tanda kimia yang mengatur bagaimana gen bereaksi terhadap hormon seks—dapat memengaruhi arah perkembangan orientasi seksual seseorang (Rice et al., 2012. The Quarterly Review of Biology).

Berdasarkan studi kembar dari Bailey & Pillard (1991). Grafik ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kesamaan genetik antara dua individu, semakin tinggi pula kemungkinan mereka memiliki orientasi seksual yang sama (dalam hal ini, gay). Infografis ini mendukung gagasan bahwa faktor genetik memiliki peran signifikan dalam pembentukan orientasi seksual, meskipun bukan satu-satunya faktor. 

 Teori 2: Struktur Otak dan Neurosains

Selain genetik, struktur dan aktivitas otak juga menunjukkan perbedaan menarik antara individu LGBT dan heteroseksual. Teori ini menyatakan bahwa perbedaan dalam ukuran, aktivitas, dan simetri otak dapat berperan dalam membentuk orientasi seksual seseorang. Ini bukan berarti ada “otak gay” atau “otak hetero”, tetapi ada indikasi bahwa otak pria gay, misalnya, menunjukkan beberapa kesamaan dengan otak wanita heteroseksual.

1. Studi Hipotalamus oleh Simon LeVay

Studi paling berpengaruh dalam bidang ini dilakukan oleh Simon LeVay pada tahun 1991. Ia meneliti INAH-3, yaitu salah satu bagian dari hipotalamus anterior otak yang berperan dalam regulasi dorongan seksual.

Temuan pentingnya adalah:

  • INAH-3 lebih kecil secara signifikan pada pria homoseksual dibanding pria heteroseksual.
  • Ukuran INAH-3 pada pria homoseksual mirip dengan wanita heteroseksual.
  • Ini menyiratkan bahwa struktur otak mungkin mencerminkan, atau bahkan berperan dalam, orientasi seksual seseorang.

2. Simetri Otak: Studi oleh Savic dan Lindström

Penelitian lebih lanjut menggunakan teknologi MRI dilakukan oleh Ivanka Savic dan Per Lindström (2008). Mereka mengamati struktur otak 90 orang (pria dan wanita, gay dan hetero) dan menemukan:

  • Pria heteroseksual cenderung memiliki otak yang lebih asimetris—bagian kanan lebih besar daripada kiri.
  • Sebaliknya, pria homoseksual memiliki otak yang simetris, seperti wanita heteroseksual.
  • Hal yang sama ditemukan pada wanita lesbian: otak mereka cenderung lebih asimetris, mirip pria heteroseksual.

Studi ini menunjukkan bahwa pola otak pria homoseksual cenderung mencerminkan karakteristik otak wanita heteroseksual, dan sebaliknya untuk wanita lesbian.

3. Apa Artinya Temuan Ini?

  • Perbedaan struktur otak tidak berarti orientasi seksual bisa didiagnosis melalui scan otak.
  • Namun, ini memperkuat pandangan bahwa orientasi seksual berakar secara biologis, bukan sepenuhnya dipengaruhi oleh pengalaman sosial.
  • Otak terbentuk sejak masa janin, jadi perbedaan ini bisa menjadi hasil interaksi antara genetik dan hormon prenatal.

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa temuan ini bersifat korelasi, bukan kausal. Artinya, belum bisa dipastikan apakah perbedaan struktur otak menyebabkan orientasi seksual, atau justru akibat dari pengalaman hidup yang berbeda.

Namun, ketika temuan LeVay dan Savic diletakkan berdampingan dengan studi genetik dan hormonal, maka gambaran besar tentang dasar biologis orientasi seksual makin kuat. Otak manusia sangat kompleks. Studi neurosains menunjukkan bahwa ada pola struktur dan simetri tertentu yang konsisten pada individu LGBT. Meskipun bukan satu-satunya penentu, otak menyimpan “jejak biologis” dari orientasi seksual yang terbentuk jauh sebelum masa dewasa. Ini menegaskan bahwa menjadi LGBT bukanlah sekadar pilihan gaya hidup, tetapi bagian dari keragaman biologis manusia yang dapat dipahami secara ilmiah.

Teori 3: Psikologi Perkembangan dan Pengalaman Masa Kecil

Dalam psikologi perkembangan, salah satu teori yang sering dibahas adalah bahwa pengalaman masa kecil, terutama pengalaman emosional dan hubungan dengan orang tua, bisa memengaruhi orientasi seksual di kemudian hari. Teori ini tidak menyatakan bahwa trauma pasti menyebabkan LGBT, melainkan melihat adanya korelasi antara pengalaman traumatis dengan perkembangan identitas seksual dan gender.

1. Trauma dan Relasi Keluarga

Penelitian menunjukkan bahwa individu LGBT lebih berisiko mengalami berbagai bentuk trauma masa kecil dibanding individu heteroseksual. Hal ini termasuk kekerasan emosional, kekerasan seksual, dan penelantaran fisik atau emosional.

Data Kuantitatif:

Dalam studi besar oleh Roberts et al. (2013), yang melibatkan lebih dari 30.000 responden di Amerika Serikat, ditemukan bahwa:

  • 34% individu LGBT mengalami kekerasan emosional di masa kecil, dibandingkan hanya 15% heteroseksual.
  • 26% LGBT mengalami pelecehan seksual, dibandingkan dengan 8% heteroseksual.
  • 18% LGBT mengalami penelantaran fisik, dibandingkan 5% pada heteroseksual.

2. Teori Kelekatan dan Dinamika Emosional

Menurut teori attachment (kelekatan) dalam psikologi, kualitas hubungan anak dengan orang tua dapat membentuk pola relasi dan identitas diri. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh ketakutan, penolakan, atau kekacauan emosional mungkin mengalami kebingungan dalam perkembangan gender dan orientasi seksual.

Namun, perlu ditekankan bahwa tidak semua individu LGBT memiliki latar belakang traumatis, dan tidak semua korban trauma masa kecil menjadi LGBT. Artinya, teori ini tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan “sebab-akibat” secara mutlak, tetapi hanya menunjukkan hubungan yang mungkin terjadi dalam sebagian kasus.

3. Risiko Interpretasi Keliru

Karena sifatnya yang sensitif, teori ini sering disalahgunakan untuk menyatakan bahwa LGBT adalah hasil "kerusakan emosional". Padahal, pendekatan ilmiah modern justru menggunakan data ini untuk memperkuat perlunya dukungan psikososial, bukan untuk menyalahkan.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa masa kecil memang berperan dalam membentuk kepribadian dan identitas seksual seseorang, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Trauma masa kecil bisa menjadi bagian dari cerita hidup sebagian individu LGBT, namun tidak bisa dijadikan kesimpulan umum. Interaksi antara pengalaman psikologis dan faktor biologis lainnya jauh lebih kompleks dan personal.

Teori 4: Lingkungan Sosial dan Budaya

Teori ini mengajukan bahwa budaya, norma sosial, media, dan penerimaan masyarakat memainkan peran penting dalam bagaimana seseorang memahami dan mengekspresikan identitas seksual dan gendernya. Bukan berarti lingkungan membentuk orientasi seksual seseorang dari nol, tetapi lingkungan bisa memperkuat, menekan, atau memberi ruang bagi individu untuk mengekspresikan siapa dirinya sebenarnya.

1. Keterbukaan = Keberanian untuk Mengungkapkan

Dalam banyak penelitian, ditemukan bahwa semakin tinggi tingkat penerimaan sosial terhadap LGBT, semakin banyak individu yang berani terbuka mengenai orientasi mereka.

Data Kuantitatif:

  • Di negara-negara seperti Belanda (95%) dan Swedia (92%), penerimaan LGBT sangat tinggi, dan lebih dari 9% penduduk mengidentifikasi sebagai LGBT.
  • Di Amerika Serikat, penerimaan mencapai 72%, dengan 5,6% penduduk mengidentifikasi LGBT (Gallup, 2021).
  • Bandingkan dengan Indonesia, di mana tingkat penerimaan hanya 9%, dan pelaporan identitas LGBT sangat rendah, sekitar 0,8% saja (Pew Research Center, 2020; ILGA Asia, 2022).

2. Peran Media dan Representasi

Media—film, serial, influencer, dan konten sosial—mempengaruhi cara masyarakat memandang identitas LGBT. Di negara-negara yang memiliki representasi positif, stigma berkurang, dan individu merasa lebih aman untuk mengeksplorasi atau menyatakan identitas mereka.

Namun, di masyarakat yang menstigma atau mengkriminalisasi LGBT, banyak orang menyembunyikan identitasnya bahkan dari keluarga terdekat. Ini menurunkan tingkat pelaporan, bukan karena jumlahnya sedikit, tetapi karena takut terhadap diskriminasi.

3. Salah Kaprah: Lingkungan "Membuat" LGBT?

Salah satu miskonsepsi umum adalah bahwa “bergaul dengan LGBT akan membuat seseorang jadi LGBT”. Ini telah dibantah oleh banyak studi. Orientasi seksual bukanlah sesuatu yang dapat ditularkan atau ditiru. Namun, lingkungan yang suportif memungkinkan seseorang untuk lebih jujur terhadap dirinya sendiri.

Lingkungan sosial dan budaya tidak menciptakan orientasi seksual, tetapi sangat memengaruhi bagaimana dan kapan seseorang berani mengekspresikannya. Lingkungan yang inklusif dan suportif berperan penting dalam mendukung kesehatan mental dan keberanian identitas LGBT.

Teori 5: Pendekatan Gabungan (Biopsikososial)

Setelah membahas empat teori sebelumnya secara terpisah, pendekatan biopsikososial hadir sebagai sintesis ilmiah yang paling diterima secara luas di kalangan akademisi dan profesional kesehatan mental. Teori ini menekankan bahwa orientasi seksual tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan terbentuk dari interaksi yang kompleks antara aspek biologis, psikologis, dan sosial.

1. Apa itu Model Biopsikososial?

Model ini pertama kali diperkenalkan dalam psikologi klinis dan kesehatan untuk memahami kondisi manusia secara holistik. Dalam konteks LGBT, model ini memadukan:

  • Faktor biologis/genetik: kecenderungan bawaan sejak lahir (35%)
  • Struktur otak dan hormonal: perbedaan neurobiologis yang terdeteksi lewat pencitraan otak (25%)
  • Faktor psikologis: pengalaman masa kecil, trauma, dan dinamika keluarga (20%)
  • Faktor sosial dan budaya: penerimaan masyarakat, representasi media, lingkungan pergaulan (20%)

2. Mengapa Pendekatan Ini Penting?

Dengan menggabungkan berbagai teori, pendekatan biopsikososial:

  • Menghindari penilaian yang menyederhanakan (“karena trauma saja” atau “karena pergaulan”).
  • Memberikan landasan ilmiah dan empati dalam memahami identitas seksual.
  • Mendorong pemahaman bahwa orientasi seksual adalah bagian alami dari variasi manusia, bukan kelainan atau penyimpangan.

Model biopsikososial adalah kerangka paling adil dan ilmiah untuk memahami orientasi seksual. Ia tidak hanya mengakui bahwa LGBT bukan pilihan sadar, tetapi juga bahwa setiap individu memiliki latar belakang unik yang membentuk identitas mereka. Ini menjadi dasar penting dalam edukasi, kebijakan publik, dan pemberdayaan komunitas LGBT.

Daftar Referensi Singkat:

  • Bailey, J. M., & Pillard, R. C. (1991). A genetic study of male sexual orientation. Archives of General Psychiatry, 48(12), 1089–1096.
  • Balthazart, J. (2011). Minireview: Hormones and human sexual orientation. Frontiers in Neuroendocrinology, 32(2), 161–173.
  • Drescher, J. (2015). Out of DSM: Depathologizing Homosexuality. Behavioral Sciences, 5(4), 565–575. https://doi.org/10.3390/bs5040565
  • Gallup (2021). LGBT Identification Rises to 5.6% in U.S. https://news.gallup.com/poll/329708/lgbt-identification-rises-latest-estimate.aspx
  • ILGA Asia Report (2022). State-Sponsored Homophobia and Social Attitudes in Southeast Asia.
  • Jones, J. M. (2021). LGBT Identification Rises to 5.6% in Latest U.S. Estimate. Gallup. https://news.gallup.com/poll/329708/lgbt-identification-rises-latest-estimate.aspx
  • Kendler, K. S., Thornton, L. M., Gilman, S. E., & Kessler, R. C. (2010). Sexual orientation in a U.S. national sample of twin and sibling pairs. Archives of General Psychiatry, 67(8), 777–783.
  • LeVay, S. (1991). A difference in hypothalamic structure between heterosexual and homosexual men. Science, 253(5023), 1034–1037. https://doi.org/10.1126/science.1887219
  • Mustanski, B. S., Chivers, M. L., & Bailey, J. M. (2002). A critical review of recent biological research on human sexual orientation. Annual Review of Sex Research, 13, 89–140.
  • Pew Research Center (2020). Global Attitudes & Trends.
  • Rice, W. R., Friberg, U., & Gavrilets, S. (2012). Homosexuality as a consequence of epigenetically canalized sexual development. The Quarterly Review of Biology, 87(4), 343–368.
  • Roberts, A. L., Rosario, M., Slopen, N., Calzo, J. P., & Austin, S. B. (2013). Childhood Abuse and Risk for Obesity in Sexual Minority Women. American Journal of Preventive Medicine, 45(4), 394–402. https://doi.org/10.1016/j.amepre.2013.06.016
  • Rosario, M., Schrimshaw, E. W., & Hunter, J. (2006). A model of sexual identity development among lesbian, gay, and bisexual youths: implications for HIV risk and prevention. AIDS Education and Prevention, 18(4), 320–333.
  • Savic, I., & Lindström, P. (2008). PET and MRI show differences in cerebral asymmetry and functional connectivity between homo- and heterosexual subjects. Proceedings of the National Academy of Sciences, 105(27), 9403–9408. https://doi.org/10.1073/pnas.0801566105
0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By keanugold

This statement referred from