Pengalaman Horor Nyata di Jerman: Bertemu Hantu Tentara Nazi yang Minta Pulang

profile picture lenterasenja79
Sejarah - Internasional

Ini adalah kisah nyata yang dibagikan oleh seorang mahasiswa Indonesia bernama Foo, yang mengalami pengalaman supranatural mengerikan saat menempuh studi S2 di Jerman, tepatnya di kota Sweningen. Ia bertemu dengan dua sosok hantu tentara Nazi yang tewas tragis di masa Perang Dunia II dan masih bergentayangan mencari jalan pulang.

Awal Mula: Mahasiswa Baru di Kota Sweningen

Tahun 2015, Foo memulai perjalanannya sebagai mahasiswa S2 di sebuah universitas di kota Sweningen, Jerman. Kota ini berada di wilayah selatan Jerman dan dikelilingi oleh hutan lebat yang disebut Black Forest—hutan legendaris yang bahkan siang hari pun tetap gelap karena pepohonannya yang sangat rimbun. Kabarnya, kue Black Forest yang terkenal itu juga berasal dari daerah ini.

Foo tinggal di sebuah rumah sewa bersama tujuh orang lainnya. Rumah tersebut cukup jauh dari kampus—sekitar 30 menit jalan kaki—namun karena belum mengenal daerah sekitar, Foo tetap tinggal di sana.

Dua Teman dari Indonesia dan Sebuah Undangan Pesta

Di hari pertama kuliah, Foo berkenalan dengan dua mahasiswa Indonesia lainnya: Wulan dan Ratna. Hubungan mereka semakin akrab, hingga Foo sering mampir ke apartemen Ratna dan Wulan setelah kuliah, apalagi apartemen mereka lebih dekat ke kampus.

Namun, untuk pulang dari sana, Foo harus melewati jalanan gelap sejauh 200 meter dengan kuburan tua di kanan dan panti jompo di kiri, lalu gang kecil yang kanan-kirinya penuh pohon. Meskipun jalannya sepi, Foo belum pernah mengalami hal mistis. Sebagai seorang yang sensitif (indigo), ia berpikir mungkin Jerman tidak “seramah” Indonesia soal kemunculan makhluk halus.

Hingga malam pesta itu tiba.

Baca juga : Kisah Nyata Teror Hanmiso di Kampus Korea Selatan: Arwah Jugun Ianfu yang Tak Tenang

Malam Pesta dan Keputusan untuk Pulang Sendirian

Ratna mengundang Foo ke pesta kecil di apartemennya bersama mahasiswa Indonesia lainnya. Acara itu berjalan seru, penuh tawa, makanan, dan obrolan hangat. Waktu tak terasa, hingga tiba-tiba sudah pukul 12.30 malam.

Foo panik—jalan yang harus ia lalui sangat gelap, dan ia harus pulang sendirian. Ratna sempat menawarkan agar Foo menginap, namun Foo menolak karena merasa tidak enak menginap di apartemen perempuan.

Jalan Pulang yang Mencekam dan Pertemuan dengan Thomas

Dengan menggigil dan dibalut kabut malam, Foo tetap berjalan pulang. Saat melewati area kuburan, lampu jalan tiba-tiba padam. Ia menghidupkan flashlight ponselnya dan berdoa sepanjang jalan.

Tiba-tiba, ia melihat seorang pria duduk di kursi dekat kuburan, hal yang lumrah karena banyak kursi disediakan untuk keluarga yang berziarah. Namun pria itu memanggil Foo dengan bahasa Jerman, lalu menghampirinya.

Pria itu tampak normal, berpakaian hangat, berkulit putih, berambut pirang, bermata biru keabu-abuan. Dengan bahasa Inggris, ia bertanya apakah Foo membawa korek karena ia ingin merokok. Foo menjawab ia tidak merokok dan tak membawa korek.

Ketika hendak lanjut berjalan, pria itu justru meminta ikut berjalan bersama Foo karena mereka searah. Foo tidak curiga dan mereka berjalan bersama dalam diam. Setelah sekitar 10 menit, mereka sampai di persimpangan. Setelah berpisah jalan, Foo tiba-tiba melihat pria itu berubah wujud—menjadi transparan, melayang, tanpa kaki menapak tanah.

Dia bukan manusia. Dia hantu.

Foo langsung lari sekencangnya ke kosan, cuci muka, kaki, dan mencoba tidur dengan pikiran kacau.

Esok Hari: Penampakan Kedua yang Lebih Mengerikan

Besoknya, Foo kembali lewat rute yang sama sepulang kuliah. Ia berharap tidak bertemu lagi dengan hantu itu. Namun ternyata, sosok lain sudah menantinya.

Beberapa meter di depan, berdiri seorang laki-laki berseragam tentara dengan punggung menghadap. Saat Foo mendekat, pria itu menoleh—tersenyum, dan berkata:

“Kamu bisa lihat saya, kan?”

Foo langsung merinding hebat. Sosok itu tidak terlihat menyeramkan, tapi jelas bukan manusia biasa.

Dia memperkenalkan diri: “Namaku Nils. Aku sudah lama mengamati kamu. Aku ingin pulang. Aku tidak mau di sini.”

Foo membeku, tak sanggup bicara. Tapi Nils melanjutkan:

“Aku tahu kamu pernah ngobrol sama Thomas, teman aku yang kamu temui kemarin.”

Nama pria yang pertama ditemui Foo malam sebelumnya ternyata Thomas.

Wujud Asli Nils: Tentara yang Tewas di Medan Perang

Ketika Foo hanya diam, Nils berkata:

“Kalau kamu tidak mau bantu aku, aku akan terus mengikuti ke mana pun kamu pergi.”

Dan saat itu pula, Nils berubah wujud menjadi sangat menyeramkan:

  • Wajahnya berdarah-darah
  • Tubuhnya berbau amis
  • Seragamnya berlumuran lumpur dan darah
  • Pelipis, rahang, dada hingga perutnya berlubang seperti kena tembakan

Foo gemetar, tapi tetap berzikir dalam hati. Ia berkata:

“Stop, Nils. Aku mau bantu kamu, tapi tolong kembalilah ke wujud semula.”

Kilasan Masa Lalu: Nils dan Thomas di Era Nazi

Saat itu juga, Nils berubah kembali ke wujud awal—lalu Foo merasa seperti ditarik ke dimensi lain. Ia melihat penglihatan masa lalu, seperti hologram:

  • Nils dan Thomas adalah sahabat sejak kecil.
  • Saat remaja, mereka dipaksa oleh Nazi untuk bergabung menjadi tentara.
  • Mereka dibawa ke barak militer, ikut berperang, dan hidup dalam tekanan dan luka.
  • Nils tewas tertembak di medan perang.
  • Thomas, yang tak kuat melihat sahabatnya tewas, akhirnya bunuh diri dengan menembakkan pistol ke kepala.

Tragisnya, jasad mereka tidak dikuburkan secara layak.

Doa dan Perpisahan

Foo tersadar kembali ke dunia nyata. Nils masih berdiri di depannya.

“Kamu sudah melihat segalanya. Sekarang, bisakah kamu bantu aku pulang?” tanya Nils.

Foo menjawab lirih:

“Maaf, aku tidak bisa membantu kamu bertemu keluargamu. Tapi aku akan mendoakan kamu dan Thomas, agar kalian tenang, dan tidak bergentayangan lagi.”

Setelah itu, Foo memejamkan mata, berdoa. Saat membuka mata, Nils sudah hilang.

Foo pun berlari kembali ke kosannya.

Baca juga : Pengalaman Mistis Saat Jastip di Thailand: Kisah Nyata Menginap di Hotel Berhantu Bangkok

Akhir Cerita: Damai Setelah Teror

Setelah kejadian itu, Foo tidak pernah lagi melihat penampakan Thomas maupun Nils. Ia pun lulus dan pindah ke kota lain untuk bekerja. Ia percaya, setelah pertemuan itu, arwah kedua sahabat itu sudah tenang dan tidak lagi menghantui.

Perang Meninggalkan Luka Bahkan Setelah Kematian

Kisah ini menjadi pengingat bahwa perang bukan hanya menghancurkan fisik, tapi juga meninggalkan luka spiritual yang dalam—bahkan bagi mereka yang sudah mati. Nils dan Thomas adalah contoh nyata bagaimana arwah korban perang bisa bergentayangan, menunggu untuk pulang.

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By lenterasenja79

This statement referred from