Pengalaman Horor Nyata di Hotel Jepang: Teror Sadako Saat Liburan ke Osaka

profile picture lenterasenja79
Sejarah - Internasional

Artikel ini adalah kisah nyata dari seorang perawat Indonesia yang tinggal di Jepang, yang mengalami perjumpaan langsung dengan sosok menyeramkan dari legenda urban Jepang: Sadako. Kisah ini dituturkan langsung oleh Wayan dan telah disunting ulang tanpa mengurangi detail aslinya.

Awal Cerita: Liburan yang Seharusnya Menyenangkan

Namaku Wayan. Aku adalah seorang perawat lansia asal Indonesia yang sudah tinggal di Jepang selama dua tahun. Kali ini aku ingin berbagi sebuah pengalaman horor nyata yang benar-benar menempel dalam hidupku.

Ceritanya dimulai saat aku dan dua teman perempuanku, Marisa dan Ismi, memutuskan untuk pergi liburan ke USJ (Universal Studios Japan) di Osaka. Kami tinggal di kota Kumamoto, bagian paling bawah Jepang. Untuk mencapai Osaka, kami harus naik pesawat atau bus travel.

Karena saat itu Jepang sedang dilanda topan Himawari yang cukup besar dan beritanya ramai di media, kami tidak berani ambil risiko naik pesawat. Banyak penerbangan dibatalkan. Kami pun memilih naik bus.

Rute kami dimulai dari kota Misato ke terminal bus Sakuramachi, lalu lanjut naik bus travel ke Osaka. Dalam perjalanan, kami bertiga sempat tertidur sangat lama, dari siang hingga pagi hari.

Saat tertidur itulah aku bermimpi aneh: aku berada di sebuah hutan lebat, dan ada papan larangan bertuliskan huruf Jepang agar tidak masuk lebih dalam ke hutan. Tidak ada kejadian aneh di mimpi itu, tapi rasanya seperti sebuah peringatan. Aku tidak terlalu memikirkannya… sampai akhirnya semua mulai masuk akal.

Baca juga : Pengalaman Mistis Saat Jastip di Thailand: Kisah Nyata Menginap di Hotel Berhantu Bangkok

Osaka yang Tak Seperti Biasanya

Setibanya di halte bus Osaka, ternyata jarak ke hotel masih sekitar 1 jam 45 menit. Kami mencoba mencari bus, tapi karena badai, semua bus sangat terbatas. Aku bahkan melihat seorang bule terseret angin sejauh 200 meter, hanya karena sedang memegang payung.

Karena tak menemukan transportasi lain, kami memutuskan naik kereta. Meski harus transit berkali-kali, itu adalah satu-satunya pilihan. Kami akhirnya sampai di hotel sekitar pukul 11 malam.

Namun suasana hotel sangat mengejutkan.

Hotel yang kami pilih berada di area yang seharusnya ramai. Tapi malam itu, tak ada satu pun orang di sekitar, padahal bangunannya tinggi-tinggi. Benar-benar hanya kami bertiga.

Kamar yang Bau Apek, Lorong yang Gelap

Kami membagi kamar. Marisa dan Ismi sekamar, sedangkan aku sendiri. Kamarku berada di lantai 3, nomor 4, dengan futon bed ala Jepang seperti yang dipakai Nobita di anime. Aku naik ke kamar melewati lorong yang gelap dan sepi.

Saat hendak membuka pintu, kuncinya seperti sudah klik, tapi pintu tidak bisa didorong. Dicoba berkali-kali tetap tidak bisa. Aku panggil Marisa dan Ismi, dan anehnya saat mereka coba, pintunya langsung kebuka dengan mudah.

Aku heran—aku sudah coba berkali-kali.

Begitu masuk, kesan pertama: bau apek, lembab, dan jadul. Kamar ini seperti gudang tua. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku mengecek kamar mandi, airnya masih berfungsi. Aku kemudian makan malam sambil video call dengan orang tuaku.

Setelah itu, aku rebahan di kasur sambil scroll TikTok. Seperti biasa, aku meredupkan lampu karena tidak bisa tidur dengan lampu terang.

Suara Langkah Tak Kasat Mata

Posisiku tidur menghadap pintu utama yang langsung mengarah ke lorong hotel. Kamar ini berada di ujung lorong—posisi tusuk sate. Tidak ada pintu pemisah antara lorong kecil dalam kamar menuju area tidur.

Saat aku asyik dengan TikTok, aku mendengar suara langkah kaki di depan pintu. Awalnya aku berpikir: “Oh, mungkin ada tamu lain.”

Tapi suara itu tidak pergi. Justru mondar-mandir selama 20 menit penuh.

Bayangkan, hotel ini sepi total. Tidak ada yang lewat, tapi suara langkah kaki terus berulang. Aku terlalu takut untuk mengintip dari peephole, jadi aku pura-pura fokus di ponsel.

Setelah suara itu menghilang, tiba-tiba terdengar suara “tes… tes…”, suara tetesan air dari kamar mandi. Padahal aku belum menyentuh keran sama sekali.

Aku berpikir mungkin bocor.

Namun tiba-tiba, setetes air jatuh di pipiku. Aku menengadah, mencari dari mana datangnya air itu. Tapi langit-langit terlihat kering. Tidak ada air menetes. Anehnya, suasana kamar terasa semakin lembab dan tidak nyaman.

Malam Kedua: Rambut Itu Turun dari Pintu

Aku mencoba tertidur sekitar pukul 00.30, berharap semua akan berlalu.

Tapi justru teror terulang lagi: langkah kaki kembali muncul, suara air menetes kembali terdengar, dan satu tetes lagi jatuh ke wajahku.

Aku menarik selimut sampai menutup seluruh tubuh. Tapi dalam hati, aku penasaran. Akhirnya aku beranikan diri mengintip ke arah pintu…

Yang kulihat pertama kali adalah sesuatu yang gelap… berkabut…

Kabut masuk dari celah bawah pintu, merayap ke dalam kamar.

Dan tiba-tiba…

Sehelai rambut panjang hitam menjulur masuk dari pintu.

Lalu disusul oleh jemari-jemari panjang, merayap perlahan…

Tubuhnya muncul perlahan. Dimulai dari rambut, kepala, tangan, tubuh, hingga akhirnya makhluk itu muncul sepenuhnya, merangkak menuju tempat tidurku.

Makhluk itu seperti Sadako.

Ia merangkak seperti di film-film horor Jepang.

Wajah Itu…

Makhluk itu berhenti tepat di depan wajahku.

Awalnya wajahnya tertutup rambut panjang, tapi perlahan… rambut itu tersibak.

Matanya merah menyala. Wajahnya putih pucat. Mulutnya robek menganga. Dan tubuhnya mengeluarkan aroma lembab dan apek, jauh lebih menyengat dari bau kamar.

Aku ingin berteriak, tapi tubuhku lumpuh.

Saat itu, tiba-tiba muncul sosok hitam di sampingku. Ia berkata:

“Udah, jangan takut sama dia. Saya menjaga kamu.”

Sosok itu menutup mataku dengan tangannya, dan seketika… aku tertidur seperti melayang. Seperti kehilangan kesadaran secara paksa.

Pagi yang Membekas Seumur Hidup

Aku terbangun di pagi buta dengan rasa takut yang luar biasa. Aku segera memutar lagu doa Gayatri Mantra agar tenang. Saat mandi pun, aku merasa ada sesuatu yang mengawasi dari sudut kamar mandi.

Aku tak tahan.

Aku segera keluar dari hotel dan tak ingin kembali ke sana selamanya.

Baca juga : Kisah Nyata Teror Hanmiso di Kampus Korea Selatan: Arwah Jugun Ianfu yang Tak Tenang

Sadako Itu Nyata?

Beberapa hari kemudian, aku bercerita kepada teman-teman Jepangku.

Dan mereka berkata:

“Sadako dipercaya muncul di tempat yang lembab, gelap, dan berair.”

Persis seperti kamar yang kutinggali malam itu.

Pesanku untuk Semua Traveler

Di mana pun kamu berada, jangan remehkan legenda lokal.

Ketika berada di tempat asing, apalagi yang memiliki sejarah atau kesan tua, berdoalah selalu, dan jaga sikap. Legenda-legenda yang kita anggap mitos, bisa jadi berakar dari kisah nyata yang menakutkan.

Terima kasih sudah membaca kisahku.

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By lenterasenja79

This statement referred from