Kosmografi Bumi Datar: Langit adalah Kubah Pelindung Daratan?

profile picture theluxfu

Budaya manusia telah mengembangkan berbagai pemahaman tentang Bumi, termasuk julukannya sebagai Dewa Planet, bentuknya yang datar, posisinya sebagai pusat dunia, dan prinsip bahwa Bumi adalah organisme yang mengatur diri sendiri (Gaia). Dalam budaya Mesir kuno, langit direpresentasikan sebagai wanita raksasa yang bernama Dewi Nut. Nut mengulurkan kaki dan tangannya ke empat penjuru dunia untuk menutupi Bumi. Setiap pagi Nut melahirkan Matahari, tetapi di malam hari ia memakan Matahari lagi dan mengulangi siklus ini setiap hari. Pada saat yang sama, Dewa Geb—Bumi—berada di bawah langit. Geb digambarkan sebagai seorang pria yang berbaring di bawah lengkungan Nut. Orang Mesir percaya bahwa gempa bumi disebabkan oleh Geb yang tertawa. Sementara itu, air laut ada di dunia ini karena Nut menangis saat dipisahkan dari Geb. Menurut konsep etimologis, kata bumi berasal dari bahasa Sanskerta bhumi, yang berarti tanah.

Sebelumnya diperkirakan bahwa Bumi datar, tetapi hipotesis ini digantikan oleh gagasan tentang Bumi yang berbentuk bulat. Gagasan bahwa Bumi datar adalah ciri kosmologi kuno sampai abad ke-4 SM, ketika para filsuf Yunani kuno mulai berpendapat bahwa Bumi itu bulat. Pada 330 SM, Aristoteles adalah salah satu filsuf pertama yang mengusulkan bentuk bulat pada Bumi. Sejak awal Abad Pertengahan, pengetahuan tentang konsep Bumi bulat menyebar ke seluruh Eropa. Hingga sebuah hipotesis modern yang mendukung teori Bumi datar diajukan oleh penemu Inggris bernama Samuel Rowbotham. Rowbotham menerbitkan buku setebal 16 halaman, kemudian diperluas menjadi 430 halaman berjudul The Earth Not a Globe, di mana ia mempresentasikan pandangannya tentang Bumi yang datar. Salah satu teori yang keluar dari buku ini adalah Bumi memberikan ilusi optik yang semakin kuat saat seseorang menjauh darinya.

Perdebatan antara kubu Bumi datar dan kubu Bumi bulat memanas. Sebagai bukti, kubu Bumi bulat menggunakan Yesaya 40:22 yang berbunyi, ‘Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi, yang penghuninya seperti belalang; Dialah yang membentangkan langit seperti selembar kain dan memasangnya seperti kemah!’ Selain itu, ada pula dalil bahwa Bumi itu bulat dalam Al-Quran dari Surah Az-Zumar ayat 5, yaitu, ‘Dia dibuat; langit dan bumi di sebelah kanan dengan (tujuan) yang berbeda; Dia menempatkan malam pada siang dan siang pada malam, dan mengikat Matahari dan Bulan, masing-masing berjalan pada waktunya. Ingat! Dialah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.’ Terkadang mereka mengajukan pertanyaan menarik seperti, “Jika Bumi datar, apakah Bumi akan menjadi satu-satunya planet yang terlihat seperti itu?” atau, “Di mana ujung dunia?”

Pada tahun 1974, militer AS memotret Bumi dari udara dengan roket V-2 dan menemukan gambar yang menunjukkan bahwa Bumi itu melengkung. Bumi sendiri seharusnya bulat karena memiliki gravitasi, kecuali jika tidak memiliki gravitasi. Gravitasi menarik semua benda secara merata dari sisi yang berbeda dan kemudian membentuk lingkaran. Jika Bumi seperti piringan, planet ini tidak akan mampu beradaptasi dengan kondisi gravitasi. Bumi dan Bulan sama-sama bulat karena memiliki penyebab yang sama, yaitu gravitasi. Ini berarti bahwa bentuk datar “menghilangkan” gravitasi. Di Bumi datar, pohon tumbuh miring, bukan lurus. Tak hanya itu, semua air di dunia ini juga tersedot ke pusat dunia jika Bumi benar-benar datar. Oleh karena itu, semakin jauh seseorang dari pusat dunia, semakin besar efek gravitasi yang dirasakan (Bukan ilusi optik seperti yang dikemukakan Rowbotham).

Membaca buku The Flat Earth sepertinya merupakan ujian bagi seseorang untuk membuka pikirannya. Pembaca mungkin tertarik dengan teori kontra utama yang disajikan. Namun, pembaca juga mungkin terpesona oleh pernyataan yang tidak terduga dan melanggar teori geoscientific mapan yang telah diterima selama berabad-abad. Kaum Bumi datar mengklaim bahwa sinar Matahari yang melewati awan (sinar krepuskular) menunjukkan bahwa Matahari sebenarnya tidak terlalu jauh. Jika Matahari benar-benar terletak di 149,6 juta kilometer dari Bumi, sinarnya pasti akan jatuh sejajar dengan Bumi dan tidak merambat miring. Sinar matahari sejajar. Efek kipas ini hanya ilusi yang disebabkan oleh sudut pandang mata manusia. Pada dasarnya efek yang sama berlaku ketika kita melihat rel kereta api yang ujungnya tampak menyatu dari kejauhan.

Flat Earthers mengklaim bahwa teori Bumi datar adalah realitas ontologis ilmiah. Beberapa klaim yang diyakini para penganut Bumi datar, yaitu:

1) Bentuk Bumi tidak bulat, tetapi datar, hal ini didasarkan pada hasil eksperimen Benford yang menyangkal adanya kelengkungan bumi. Nyatanya, Bumi itu melengkung. Memandang Bumi dari atas ketinggian akan menunjukkan bentuk Bumi yang bulat. Jika seseorang memanjat ke atas pohon atau memandang di atas gedung yang tinggi, seharusnya ia akan mampu melihat hamparan Bumi yang sangat jauh. Faktanya, jarak pandang tidak akan terlalu jauh karena permukaan Bumi yang melengkung di ujung pemandangan yang ia lihat;

2) Percepatan universal adalah satuan yang lebih cocok untuk menggambarkan fenomena jatuhnya benda ke permukaan Bumi. Padahal, gravitasi merupakan sifat percepatan pada bumi yang menghasilkan benda jatuh secara bebas. Percepatan gravitasi pada setiap tempat di permukaan bumi tidak sama. Di ekuator percepatan gravitasi sekitar 9,78 m/s2, sedangkan pada daerah kutub sekitar 9,83 m/s2; dan

3) Matahari bukanlah pusat tata surya, melainkan Bumi. Faktanya, Matahari menjadi pusat tata surya karena semua benda langit berputar mengelilingi Matahari dengan lintasan berbentuk elips. Dalam setiap revolusinya anggota tata surya pada suatu saat berada dekat dengan matahari. Klaim kaum flatlanders tidak dapat dianggap sebagai bukti konkret karena tidak mendasar.

Kaum Bumi datar sering berdebat tentang NASA dan badan antariksa lainnya karena mereka tidak punya pilihan lain. Jika mereka ingin mempertahankan konsep Bumi datar, mereka harus menemukan “alasan” untuk foto dan video dari luar angkasa. Terkadang mereka terjebak dan berasumsi bahwa orang tahu Bumi itu bulat hanya karena, “NASA bilang begitu.” Mereka salah. Bahwa Bumi itu bulat dapat dengan mudah diketahui tanpa campur tangan NASA atau badan antariksa lainnya. Kaum Bumi datar ingin mengabaikan bukti Bumi bulat dengan dalih bahwa kita bahkan belum pernah ke luar angkasa untuk melihatnya sendiri. Padahal, pergi ke luar angkasa membutuhkan pengetahuan tentang Bumi yang bulat. Kita tahu bahwa Bumi bulat selama 23 abad sebelum mencapai ruang angkasa, dan mudah untuk membuktikan bahwa Bumi bulat dengan pengamatan di permukaan Bumi. Mereka menggunakan arah kiblat seolah-olah merupakan “bukti” Bumi datar. Mereka sengaja menggunakan kasus Amerika Utara, di mana peta Azimuthal Equidistant memiliki sedikit distorsi agar terlihat bagus di Bumi datar; dan mengabaikan kasus di selatan yang kiblatnya melenceng jauh dari peta Bumi datar.

Jika dilihat dari luar angkasa, Bumi itu bulat, tetapi permukaannya tidak. Permukaan Bumi ada yang datar, ada yang tinggi, bahkan ada yang sampai di bawah permukaan laut. Tanah bisa berupa gunung, bukit, lembah, dll. Bentuk Bumi yang bulat disebabkan oleh pengaruh gravitasi. Gravitasi memanipulasi bentuk bumi sehingga jarak antara tanah dan pusat gravitasi sama panjang (dengan kata lain jari-jarinya sama). Massa Bumi ditambahkan oleh semua benda di bumi dan gravitasi meningkat, ini menciptakan bentuk Bumi yang paling efisien, di mana semua titik di permukaan memiliki jarak yang sama dari pusat. Itulah sebabnya Bumi menjadi bulat. Jika Bumi terkikis, suatu saat akan kembali bulat karena adanya gravitasi. Apakah kamu masih percaya Bumi itu datar?

“Orang-orang pernah percaya bahwasanya Bumi itu datar dan Bulan terbuat dari keju. Beberapa masih melakukannya sampai hari ini. Pria di Bulan melihat ke bawah dan tertawa.” – Vera Nazarian

28 Agree 5 opinions
2 Disagree 0 opinions
28
2
profile picture

Written By theluxfu

This statement referred from