Melihat SOMASI Dalam Pandangan Filsafat

profile picture Izulumam

Siapa yang tidak mengenal Deddy Corbuzier, salah seorang public figure yang kerap malang melintang di industri hiburan tanah air. Ia memulai karirnya dari seorang mentalis, kemudian menjadi presenter di acara terkenal Hitam Putih. Sayang, acara tersebut tidak dapat berjalan kembali pasca menyebarnya virus Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Saat ini, Deddy Corbuzier tengah fokus menggarap channel YouTube-nya yang sejak artikel ini ditulis, subscribernya menyentuh angka 18,6 Juta.

Salah satu program menarik yang senantiasa saya ikuti dari channel YouTube Deddy Corbuzier adalah program somasi. Program tersebut berjalan dengan mendatangkan berbagai komika yang diharapkan mampu mengulas materi “tepi jurang”. Memang dari luar atau dari sudut pandang individu yang berfikir eksklusif, konten tersebut bak sindiran-sindiran tanpa adanya sisi positif. Namun menurut saya disinilah letak menariknya program tersebut.

Sebagaimana yang dikatakan diatas, dan hal ini juga telah diketahui oleh publik, komika yang tampil di acara tersebut diharapkan mampu membahas materi “tepi jurang”. Tentu dengan budaya dan pemikiran yang kita ketahui bersama, materi jurang tersebut tidak jauh dari pembahasan agama -terutama isu toleransi- serta pembahasan mengenai roda pemerintahan dan politik.

Socrates

Saya selalu kagum dengan keberanian para komika yang membawa materi “tepi jurang”. Mereka tidak segan menyuarakan kegelisahan-kegelisahan sosial yang terjadi di masyarakat. Walaupun beberapa diantara mereka terkena “somasi” karena ketidak terimaan masyarakat dan pemerintah kepada mereka, tetap saja menurut saya harus ditanam baik-baik dalam kepala kita, bahwa masalah-masalah yang mereka ceritakan benar-benar terjadi dalam realitas sosial.

Athena dahulu kala pernah mempunyai sosok yang selalu gelisah kemudian mempertanyakan apa saja. Menjengkelkan, demikian lukisan berupa kata yang digambarkan oleh Eric Weiner dalam bukunya The Socrates Express. Masalah yang terlintas di kepalanya lantas membuatnya galau dan tidak beranjak dari tempat duduknya sampai menemukan jawaban dari masalah tersebut. Pertanyaan-pertanyaannya yang nyeleneh, serta dibarengi dengan ciri khasnya yang kusam, bau, dekil menjadi bukti bahwa Eric tidak berlebihan dalam penggambarannya mengenai filsuf favoritnya tersebut.

Hal-hal yang sudah masyarakat anggap baku dipertanyakan kembali oleh Socrates. Apa benar mereka memahami sesuatu yang mereka katakan benar-benar paham. Pertanyaan demi pertanyaan sering dilontarkan kepada orang demi menguji pemahaman yang mereka anggap paham. Demikian sikap kritis yang dibawanya selama ia hidup, bahkan sampai detik-detik hukuman matinya, ia tetap saja menjengkelkan.

Walaupun terkesan nyeleneh dan membuat kemarahan public, apa yang dipertanyakan oleh Socrates tidak lantas hanya menjadi abu tanpa arti. Dengan adanya pertanyaan tersebut, seharusnya orang yang dicerca dengan pertanyaan Socrates memikirkan kembali apa benar ia betul-betul paham akan sesuatu yang dia anggap paham. Barangkali akan membuat orang tersebut sadar bahwa ternyata pemahamannya selama ini salah dan membuatnya beralih ke pemahaman yang lebih mendekati kebenaran.

Filsafat Kontemporer

M. Amin Abdullah dalam bukunya Falsafah Kalam di Era Kontemporer mempertanyakan dan kemudian mengkritik sikap umat (muslim khususnya) yang kerap kali disibukkan membahas konsep filsafat-filsafat Islam di Abad pertengahan. Bagaimana konsep yang dikemukakan Ibn Arabi, bagaimana kesimpulan dari konsep yang dicanangkan al-Kindi, serta bagaimana Ibn Rushd membantah argumen al-Ghazali dalam Tahafut at-Tahafut. Menurut Amin tanpa mendiskreditkan keilmuan tokoh-tokoh diatas, sikap semacam itu sudah tidak layak lagi untuk terus diperdebatkan apalagi ketika menutup diri dari pemikiran-pemikiran para pembaharu filsafat masa kini.

Zaman sekarang telah mengalami perubahan yang sedemikian drastis. Sebagai konsekuensi globalisasi, masalah baru muncul ke permukaan dan Islam sebagai agama diharap mampu memecahkan masalah tersebut. -Hudan li al-Muttaqin demikian janji Alquran kepada mereka yang bertaqwa-. Amin mempertanyakan, bagaimana mungkin, dengan sikap pembatasan diri dan tidak mau berbenah kaum muslim dapat menjawab permasalah yang berkembang. Mereka terlalu disibukkan dengan pertanyaan atau konsep ilahiah semata. Padahal menurutnya konsep yang harus dipikirkan, diteliti, dan dicari jawabannya adalah konsep dan masalah dalam sosio-antroposentris.

Pendapat Amin Abdullah juga didukung oleh Aksin Wijaya dalam kumpulan tulisannya Menatap Wajah Islam Indonesia. Islam sebagai pemberi jawaban butuh didialogkan dengan keadaan zaman yang berkembang sebagaimana Islam mendialogkan diri dengan budaya Arab pra Islam. Jikalau bisa berandai, andaikata di awal penyebarannya Islam tidak mampu mendialogkan diri dengan budaya di saat itu, bisa jadi penyebarannya mandek dan tidak dapat menyebar dengan cepat.

The Golden Age of Islam, zaman yang dieluh eluhkan oleh kaum muslimin mungkin dapat menjadi contoh terbaik dalam hal ini. Peradaban kaum gurun yang awalnya dilihat sebagai peradaban primitif, hobi perang, dan merampok menjadi peradaban yang diperhitungkan di dunia bahkan menjadi pemimpin dari alur politik dan ekonomi di zaman itu (kira-kira seperti Amerika di era sekarang). Bukan tanpa alasan, ulama yang pada saat itu mampu mengadopsi pemikiran Yunani kuno kemudian di padukan dengan pemikiran Islam, berhasil membawa peradaban Islam ke puncak keemasannya -walau jika dilihat lebih dalam bukan berarti peradaban tersebut berkembang tanpa adanya celah-.

Hal inilah yang diharapkan mampu berjalan pada saat ini. Bagaimana ketika permasalahan sosial mampu dijawab dengan memadukan Agama dan konstruk berfikir filsafat kontemporer. Jika ulama abad pertengahan saja bisa memadukan dua keilmuan yang up date di masanya, mengapa kita tidak mampu memadukan dua keilmuan yang up date masa kini untuk menjawab permasalahan yang berkembang. Padahal seharusnya otak manusia dapat berfikir lebih maju seiring dengan perkembangan zaman, demikian kata Yuval Noah Harari dalam Sapiens. Mungkinkah karena penjara nalar yang kita buat sendiri?

Antara Somasi, Socrates dan Filsafat Kontemporer. Apa hubungannya?

Socrates kerap kali membawa pertanyaan yang masyarakat anggap selama ini telah paten diketahui dan tidak perlu ditanyakan ulang. Padahal mereka tidak mengetahui bahwasanya pemahaman mereka sampai pada saat itu tidak dapat dikatakan sempurna. Bukankah dengan sikap kritis Socrates mereka menjadi tahu bahwa mereka salah?

Demikian halnya manakala cerita tersebut dikontekstualisasikan dengan dengan permasalahan yang terjadi pada saat ini. Budaya masyarakat intoleran sebagai implikasi dari model eksklusivitas beragama serta kejanggalan yang terdapat dalam tubuh pemerintahan selama ini, terjalur dianggap paten dan benar. Padahal inilah suatu anomali yang harus dipecahkan. Inilah realita masalah sosial yang kita hadapi saat ini. Bukankah socrates dulu selalu gelisah dengan segala hal? Tapi mengapa dengan suatu kebobrokan kita tidak gelisah?

Amin Abdullah mengatakan bahwa peran LSM pada saat ini harus di apresiasi. Sebab merekalah yang memberikan fakta-fakta kebobrokan sosial yang terjadi. Masyarakat menjadi peka bahwa hal-hal tersebut terjadi dan dibutuhkan penanggulangan. Dalam hal ini saya mengatakan bahwa peran komika dalam program somasi juga layaknya peran LSM yang dikatakan Amin Abdullah. Mereka lantang menyuarakan kerusakan cara berfikir masyarakat dalam hal agama serta rapuhnya sistem politik negara. Walau mereka tidak memberikan jawaban atas permasalahan, bukankah minimal kejanggalan serta permasalahan sudah diketahui? Tinggal konstruksi otak yang menjawab.

Inilah yang ditawarkan filsafat kontemporer. Bahwasanya umat Islam harus mendalami masalah sosial tersebut serta menemukan jawabannya. Bukan malah sibuk dengan problem yang telah dibahas jauh-jauh hari. Dengan model sikap macam itu, akan tidak mungkin Islam sebagai agama Rahmatan lil alamin mampu mengatasi problem buah perkembangan zaman. Itulah mengapa cendekiawan yang pro kepada filsafat kontemporer sangat lantang mengatakan bahwa umat islam butuh pemecahan masalah sosial kemasyarakatan, sebab hal tersebutlah yang mencuat ke permukaan di zaman ini. Dan dalam hal ini, somasi menjadi salah satu ajang untuk membuat masalah yang mencuat dipertanyakan. wallahu a’lam.  

Sumber Gambar

https://www.freepik.com/free-vector/man-thinking-concept-illustration_20824309.htm#query=filsafat&position=24&from_view=search

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Izulumam

This statement referred from