Islam Dan Politik: Melihat Tindakan Politik Husein Ra. Dalam Peristiwa Karbala

profile picture Izulumam

Habib Husein Jafar, nama beliau semakin hari semakin menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak, metode dan pendekatan dakwah yang beliau gunakan sukses membuat kaum milenial mengenal agamanya lebih dalam. Penumbuhan sikap toleransi, pakaian yang memberi konotasi berbaur dengan kaum milenial, serta bumbu canda yang selalu beliau selipkan dalam penyampaian dakwahnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para generasi muda. Terutama bagi mereka yang menyebut diri mereka “Pemuda Tersesat”.

Telah lumrah diketahui bahwasanya Habib Husein Ja'far merupakan salah satu anak cucu dari Ali bin Abi Thalib Ra., menantu Rasulullah Saw. Dalam agama Islam, keluarga Nabi Muhammad Saw. disebut sebagai ahl bait yang wajib dihormati lebih sesuai dengan kadar perintah Rasulullah Saw. Selain beliau juga, masih banyak para ahl bait yang hidup di Indonesia, diantara mereka yang menjadi tokoh Nasional adalah Habib Reziek Shihab, Habib Bahar, serta Habib Zein Assegaf yang akrab dengan panggilan Habib Kribo. Walau terkadang terlihat cekcok karena perbedaan pandangan antar ahl bait yang disebut, tetap saja mereka wajib dihormati sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah Saw.

Namun begitu, kendati menjadi ahl bait, seorang tidak serta merta terjauh dari kesahan dan dosa sebab mereka tidaklah mencapai derajat manusia ma’shum yang terbebas dari dosa. Apabila kita, sebagai muslim yang paham akan kesalahan melihat seorang dari kalangan ahli bait melakukan kesalahan, maka tegurlah dengan santun dan hormat. Bisa saja kesalahan yang mereka lakukan merupakan suatu kekhilafan yang manusiawi.

Husein Dan Penolakan Baiat

Begitu juga yang terjadi dengan sosok yang akan dibahas dalam artikel ini. Husein bin Ali Ra. Cucu Rasulullah Saw., dari rahim Fatimah anaknya. Anak dari Khalifah keempat Ali bin Abi Thalib Ra., sahabat yang diakui keilmuan dan keagungannya oleh umat muslim bahkan sampai dengan hari kiamat kelak. Sungguh istimewa garis nasab yang beliau miliki. Adapun dari keutamaan secara individu, maka tidak perlu dipertanyakan lagi, sebab terlalu banyak hadist yang menjelaskan tentang hal tersebut. Walau demikian, tetap saja beliau bukanlah seorang ma’shum yang terhindar dari kesalahan.

Peristiwa Karbala mungkin merupakan catatan yang dapat menjelaskan bahwa Husein telah melakukan beberapa kesalahan. Kesalahan yang dimaksud dalam hal ini adalah kesalahan dalam tindakan politik yang beliau lakukan. Dalam catatan sejarah, beliau tidak sudi untuk membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah menggantikan Muawiyah bin Abi Sufyan. Bukan karena tidak setuju dengan sistem Monarki yang diterapkan oleh Muawiyah, namun karena beliau merasa terlalu banyak sahabat lain yang lebih berhak menjadi khalifah dari Yazid. Sebut saja Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair. Apakah Muawiyah lupa bahwa beberapa nama yang disebut masih hidup pada zamannya?

Maka menjadi suatu kewajaran apabila pada awalnya Husein menolak untuk membaiat Yazid sebagai khalifah. Bahkan bukan hanya beliau. Nama para sesepuh kota Madinah disaat itupun tidak membaiat Yazid walau dengan perintah Muawiyah sekalipun. Namun yang membedakan Husein dengan sesepuh kota Madinah yang lain dalam hal ini adalah tindakan politisnya yang terkesan memberontak kepada Yazid. Seperti yang dikatakan oleh Tamim Anshary dalam bukunya Destiny Disrupted: A history of the World Through Islamic Eyes, jika putra Ali dan Fatimah serta cucu Rasul saja tidak memiliki tekad untuk menghadapi penguasa tiran yang tidak adil, maka siapa yang akan? Dan kemudian inilah yang menjadi awal mula peristiwa yang sangat memilukan bagi umat Islam, peristiwa Karbala yang berujung pada kematian cucu Rasulullah Saw.

Karbala Dan Kesalahan Tindakan Politik Husein

Pada awal masa pengangkatan Yazid, banyak kalangan yang tidak setuju dengan pengangkatannya tersebut. Mulai dari kalangan sahabat sebagaimana yang disebutkan diatas, serta dari kalangan masyarakat Kufah pada saat itu. Mereka tidak membaiat Yazid sebagai Khalifah. Kemudian mereka, masyarakat Kufah banyak mengirimi surat kepada Husein untuk memintanya memangku jabatan sebagai khalifah dan berikrar bahwa walau harus mati, mereka rela untuk membela Husein.

Tercatat 500 surat yang diterima Husein dari penduduk Kuffah. Lalu Husein meminta sepupunya, Muslim bin Aqil untuk mencari kebenaran dukungan warga Kuffah tersebut. Berangkatlah Muslim ke Kuffah dan ternyata benar bahwasanya penduduk Kuffah ingin membaiat Husein menjadi khalifah. Terhitung banyak kekuatan yang bisa dihimpun dari masyarakat Kuffah sebagai modal untuk menandingi kekuasaan Yazid yang berpusat di Syam. Dengan keyakinan tersebut bersuratlah Muslim bin Aqil untuk meminta Husein datang menemui penduduk Kuffah. Sebab sampai pada saat itu, mereka masih menyatakan kesetiaan mereka kepada Husein. Dengan modal berita yang datang dari Muslim bin Aqil serta ratusan surat yang diterima Husein dari masyarakat Kuffah, Husein memantapkan diri untuk mengadakan perjalanan ke Kuffah dengan mengajak karib kerabat bersamanya.

Mengatahui keinginan yang dimiliki Husein, para tokoh Islam pada saat itu banyak menasehatinya untuk tidak pergi menuju kearah Kuffah sebab perkataan masyarakat disana tidak dapat dipercayai begitu saja. Sebut saja yang menasehatinya adalah Abdullah bin Abbas, Beliau dengan hati yang gundah menasehati Husein agar menanggalkan niatnya, kalaupun tetap ingin melaraih karier politik, maka lebih baik untuk pergi ke daerah Yaman sebab disana loyalis bapaknya, Ali bin Abi Thalib masih bersisa. Abdullah juga menyarankan apabila Husein tetap kekeh berangkat ke Kufah menemui pendukungnya, maka bersuratlah terlebih dahulu kepada mereka. Minta mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka dengan memerangi gubernur dari kekuasaan Umayyah agar terbukti ucapan setia yang selama ini mereka ucap. Namun Husein tetap teguh dan berkata bahwa inilah jalan yang akan ditempuhnya walau nyawa yang harus menjadi bayaran.

Sementara di lain sisi, gubernur Kufah dari bani Umayyah, Ubaidillah bin Ziyad mendengar desas desus bahwa penduduk Kufah saat ini memberikan suaranya pada Husein dan berniat memberontak Yazid sebagai khalifah yang sah. Maka Ubadillah yang terkenal kejam menyandera salah satu pendukung Husein, Hani’ bin Urwah dalam bentengnya. Tidak terima dengan hal tersebut, Muslim bin Aqil mengajak 4000 pendukung Husein untuk memberontak kepada Ubadillah.

Ubadillah dengan licik menjalankan strategi politiknya. Dia sadar akan kalah apabila menghadapi pasukan Muslim dengan perang terbuka. Dengan menggandeng petinggi kaum masyarakat Kufah, dia menyebarkan isu bahwasanya tidak ada lagi bantuan dari negara bagi mereka yang mendukung Husein, para pembelot kekuasaan yang sah pasti akan kalah sebab saat ini pasukan bantuan dari Syam sedang dalam perjalanan untuk memerangi para pembelot.

Isu fiktif yang disebar Ubadillah terbukti sukses. Tidak butuh waktu lama, ibu-ibu pemuda mengajak anak mereka pulang dan tidak membiarkan mereka mendukung pemberontakan. Takut akan hukuman yang akan diterima, lebih baik bagi mereka untuk tidak loyal kepada Husein. Apalah arti kesetiaan yang berujung pada kesengsaraan pikir mereka. Sayyid Hasan al-Husaini menyebutkan dalam Mausuah al-Hasan wa al-Husein bahwa tidak ada yang tersisa dari pasukan Muslim bin Aqil kecuali Muslim bin Aqil seorang diri, 4000 pasukan yang dibawanya pulang tanpa mengingat janji loyal yang mereka berikan sebelumnya. Pada akhirnya Muslim bin Aqil dibunuh namun sebelumnya beliau telah berwasiat untuk mengirimi Husein surat agar menyuruhnya tidak datang sebab penduduk Kuffah telah berkhianat.

Disiniliah yang menjadi letak kesalahan Husein dalam tindakan politiknya. Beliau nekat pergi dengan modal percaya sepenuhnya kepada masyarakat Kufah. Padahal telah diketahui sebelumnya bahwa penduduk Kufah pada saat itu memiliki latar belakang tidak kokoh pada pendirian serta gemar menghianati pemimpinnya. Pemimpin yang mereka khianati pun merupakan keluarga yang sangat dekat dengannya. Ali Ra. sebagai bapak dan Hasan bin Ali Ra. sebagai saudara kandung. Namun tetap saja Husein masih berbaik sangka dengan mempercayai penduduk Kuffah loyal padanya.

Surat dari Muslim sampai kepada Husein, kemudian dia menyadari bahwa penduduk Kuffah telah berkhianat padanya. Husein lalu bertanya kepada anak-anak Muslim apakah mereka yakin akan melanjutkan perjalanan sebab penduduk Kuffah telah berkhianat. Namun dengan tegarnya anak-anak Muslim pantang mundur, mereka ingin menuntut balas kematian ayah mereka. Husein Pun menyetujui hal tersebut. Dan inilah yang menjadi kesalahan selanjutnya dari tindakan politik Husein. Bagaimana mungkin pasukan keluarganya ingin menghadapi kekuasaan Umayyah tanpa bantuan dari penduduk Kufah?

Husein kemudian melanjutkan perjalanan. Mendengar hal tersebut Ubadillah mengutus 1000 pasukan untuk mengawasi perjalanan Husein dan keluarganya. Sebenarnya telah banyak tawaran perdamaian yang diajukan oleh pihak Umayyah kepadanya. Tujuan dari tawaran perdamaian itu adalah menghindari peperangan yang sengat tidak seimbang antar kedua kubu. Namun berkali kali Husein menolak tawaran tersebut dan tetap teguh pada pendiriannya.

Dari pihak Umayyah sebenarnya bisa-bisa saja seketika membunuh Husein dan pasukannya dalam setiap waktu, namun dilandasi rasa hormat kepada beliau sebagai cucu Nabi, mereka tidak sampai hati membunuh Husein dan pasukannya. Andaikata tidak pemahaman mereka dalam politik tidak berseberangan, tentu mereka tidak memerangi Husein. Yang mereka lakukan pada awalnya hanyah memojokkan Husein sampai tidak mendapat Air. Kemudian Ubadillah mengirimi pasukan tambahan sebanyak 4000 tentara Kuffah untuk menghadapi pasukan Husein, Posisi pasukan Husein semakin rumit, ditambah lagi 4000 pasukan yang datang terdiri dari mereka dahulu mengirimi surat ketaatan kepada Husein.

Melihat kondisinya semakin terpojok, Husein kemudian memanggil Umar bin Saad, salah satu dari pasukan Umayyah. Beliau menawarkan jalan damai dengan memberi tiga opsi pilihan. Memberi keselamatan pulang bagi Husein dan pasukannya pulang ke Madinah tanpa melanjutkan pemberontakan, membaiat Yazid sebagaimana yang ditawarkan sebelumnya, atau Husein diasingkan ke Negeri perbatasan karena tindakan yang telah dia lakukan selama ini, dengan syarat diperlakukan sama dan diberi hak selayaknya masyarakat biasa. Umar bin Saad kemudian mengirimi Ubadillah terkait tawaran Husein, namun terlambat. Ubaidillah telah dipengaruhi para penasihatnya untuk segera memerangi Husein. Tiga opsi yang ditawarkan Husein tidak dapat diterima olehnya. Mungkin dapat diterima tapi dengan syarat Husein tunduk terlebih dahulu kepada Ubaidillah, baru setelahnya Ubadillah memutuskan apa yang harus dilakukan kepada Husein.

Mendengar hal tersebut Husein tidak terima dan disinilah kesalahan tindakan politik Husein selanjutnya. Sudah beberapa kali pasukan Umayyah menawarkan tindak perdamaian dengan membaiat Yazid sebagai khalifah oleh Husein. Berkali kali pula Husein menolaknya dan berpegang teguh pada pendiriannya. Andaikata Husein dari awal menyadari kurangnya kekuatan yang beliau miliki dan menerima tindak perdamaian, bisa saja peristiwa yang memilukan itu berakhir. Saat dimana beliau sangat merasa terpojok barulah beliau mengajukan opsi perdamaian. Namun semua telah terlambat, Ubadillah ingin Husein tunduk padanya terlebih dahulu, maka Husein menolak karena akan menurunkan kewibawaan beliau sebagai cucu Nabi. Dan demikianlah tindakan yang benar menurut kami.

Perangpun tidak terelakkan. Pada tanggal 10 Oktober tahun 680 M terjadilah perang Thaf. 73 pasukan Husein melawan 5000 pasukan Umayyah. Sangat tidak imbang antar kedua belah pihak. Walaupun pasukan Husein bertarung dengan heroik sampai titik darah penghabisan, tetap saja, hasil perang sesuai dugaan tidak salah. Mereka kalah dan kepala Husein cucu Nabi dipenggal oleh musuhnya. Kemudian dikirim kepada Ubadillah laknatullah.

Melihat Kisah Karbala Dengan Kacamata Politik-Objektif

Kisah-kisah tradisional Arab menyebutkan bahwasanya tindakan Husein dalam peristiwa Karbala merupakan bentuk representasi tekad mulia melawan penguasa zalim seperti Yazid. Sekalipun nyawa yang menjadi taruhannya, tidaklah menjadi suatu masalah yang besar selama hal tersebut dapat menjadi teladan bagi umat setelah beliau, Begitulah makna jihad yang dipahami Husein dalam kondisi tersebut selama perjalanannya menuju arah Kufah. Hal tersebut juga diamini oleh para sejarawan, misalnya Utsman bin Muhammad al-Khamis yang dalam bukunya Hiqbah Min at-Tarikh menyebutkan bahwa Husein meninggal secara syahid walau dalam posisi memberontak.

Namun politik tetaplah politik. Pencapaian akan tujuan serta posisi yang diinginkan harusnya tidak hanya didapat dengan ambisi buta belaka. Harus ada perhitungan matang terlebih dahulu sebelum melakukan aksi. Sejak zaman dahulu bahkan sampai sekarang, seorang politisi harus melakukan tindakan cerdik agar tujuan yang dia inginkan didapat. Bagaimana mengkonsolidasi kekuatan, bagaimana mempercayai para pendukung dengan benar, cara apa yang harus dilakukan agar pendekung tidak membelot, semua hal tersebut adalah segala sesuatu yang harus diperhitungkan dan dipelajari oleh para politisi. Sebab lagi-lagi harus dikatakan bahwa tujuan politik tidak dapat dicapai dengan abisi belaka.

Sebagai contoh, propaganda dinasti Abbasiyah telah dijalankan sejak zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz pada tahun 100 H, saat dimana pemerintahan bani Umayyah mencapai masa keemasannya. Mereka sadar apabila memberontak pada saat itu maka mereka akan kalah dan hanya tinggal nama. Maka mereka memulainya dengan menyebar propaganda kepemimpinan ahl bait secara sembunyi-sembunyi. Berpuluh-puluh tahun setelah itu, ketika dirasa telah matang maka kemudian mereka secara terang-terangan memberontak dinasti Umayyah. Hal inilah yang tidak diperhitungkan oleh Husein sebelum melakukan rentetang aksinya. Andaikata beliau memikirkan matang-matang tindakan politiknya seperti menuruti nasihat Abdullah bin Abbas agar tidak serta merta percaya kepada penduduk Kuffah, mungkin saja peristiwa karbala bisa saja tidak terjadi, atau minimal ada perlawanan sengit dari pasukan Husein.

Andaikata Husein menerima tawaran damai dengan membaiat Yazid. Lalu kemudian bermain samar dengan mengkonsolidasi kekuatan sebagaimana yang dilakukan dinasti Abbasiyah, bisa saja kekuatan beliau melebihi kekuatan yang dimiliki Yazid dan mampu mengalahkannya. Namun perlu diketahui, ini hanyalah perandaian dan takdir telah ditetapkan. Maka sebagai orang yang memperhatikan, tentunya seorang muslim harus mengambil pelajaran dari peristiwa yang dilalui Husein bin Ali Ra.

Artikel ini tidak mempertanyakan bagaimana Husein secara agama dan individu, melainkan Husein sebagai politisi. Sebab terdapat beberapa kesalahan dalam tindakan politiknya. Sungguh tidak ada niat dari kami untuk menghina cucu Nabi Saw. Tidak ada yang mempertanyakan bagaimana agungnya seorang Husein dimata Allah, Rasul, dam masyarakat muslim secara keseluruhan.

Kesalahan yang beliau lakukan hanyalah kesalahan dari sifat manusiawinya semata. Adapun bagi seorang muslim yang mengetahui kisah tersebut hendaknya mereka mempelajari dan mengambil pelajaran dari kesalahan tersebut. Mungkin saja pelajaran tersebut dapat diterapkan dalam tindakan politik mereka agar tidak terjadi kesalahan yang telah terjadi sebelumnya dalam peristiwa karbala.

Salam dari penulis yang tidak ingin menyinggung pihak manapun.

Daftar Baca:

Abdullatif, Abdussyafi Muhammad. Al-Alam al-Islami fil Asri Umawy. Terj. Masturi Irham, Malik Supar, Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2016).

Al-Husaini, Sayyid Hasan. Mausuah al-Hasan wa al-Husein. Terj. Umar Mujtahid, Hasan & Husein The Untold Stories (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2021).

Al-Khamis, Utsman bin Muhammad. Hiqbah Min at-Tarikh. Terj. Syafarudin Inilah Faktanya (Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2019).

Al-Khudhari, Muhammad. ad-Daulah al-Abbasiyah. Terj. Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah, Masturi Irham, Abidun Zuhri, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar 2016)

Ansary, Tamim. Destiny Disrupted: A history of the World Through Islamic Eyes. Terj. Yuliani Liputo Dari Puncak Bagdad, Sejarah Dunia Versi Islam (Jakarta: Zaman, 2015).

Armstrong, Karen. A History Of God: The 4000 Year Quest od Judaism Christianity and Islam. Terj. Zaimul Am, Sejarah Tuhan (Bandung: Mizan Pustaka, 2019).

Hitti, Philip K. History of the Arabs. Terj. Cecep Lukman Yasin, Dedi Slamet Riyadi, History of the Arabs (Jakarta: Zaman, 2018).

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Izulumam

This statement referred from