Orang Miskin Sebaiknya Jangan Punya Anak!
Judul diatas mungkin terdengar kasar dan jahat. Seolah sedang mengintimidasi atau melakukan diskriminasi kepada orang-orang dengan ekonomi menengah kebawah. Tapi jika ditelaah dengan baik-baik, untuk menghidupi diri sendiri saja masih berkekurangan, mengapa berani mengambil keputusan menanggung hidup manusia baru?
DEFINISI MISKIN
Sebelum dilanjutkan, kita harus mengetahui dulu definisi miskin itu seperti apa. Dilansir dari https://kbbi.web.id/ arti kata miskin adalah tidak berharta, serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah).
Jika diimplementasikan dalam hidup, maka definisi miskin itu berbeda-beda bergantung beberapa elemen, seperti lokasi tempat tinggal, kondisi sekitar, dan sebagainya.
Misalnya UMR, seperti yang kita ketahui UMR adalah sejumlah pendapatan mininum seseorang untuk bisa bertahan hidup atau hidup sejahtera di daerah mereka tinggal, dan hanya dihitung untuk 1 kepala. Jadi apabila orang ini menikah, dan kemudian pasangan tidak bekerja, otomatis secara teori hidup mereka tidak berkecukupan.
UMR di Jakarta, bisa jadi lebih dari cukup bagi orang yang tinggal di Yogyakarta, Kupang, Bali, atau daerah lainnya. Artinya dengan UMR Jakarta, mereka bisa membangun sebuah keluarga dengan sejahtera atau berkecukupan.
Teori lain, misalkan pendapatan sebuah keluarga UMR, namun mereka memiliki tanah atau laut untuk diolah dan mendapatkan bahan pangan, maka dengan UMR bisa dikatakan keluarga ini hidup sejahtera.
Jadi teori miskin berbeda-beda bergantung daerah dan keadaan. Namun yang akan dibahas saat ini adalah sesuai dengan KBBI, yaitu seseorang yang tidak memiliki tabungan, atau aset apapun. Membangun rumah dengan bahan seadanya di tanah yang bukan miliknya, untuk makan sehari-hari susah atau bahkan terpaksa tidak makan, tidak bisa menjalani pendidikan, dan bahkan untuk minum air bersihpun tidak bisa.
HIDUP BUTUH UANG
Harus diakui hidup itu membutuhkan uang. STOP untuk bilang "hidup itu tidak butuh uang, asal percaya saja dengan Tuhan". DIsini kita tidak sedang membicarakan tentang agama, bukan karena penulis seorang atheis, tapi memang ingin membahas dengan realistis dan logika.
Dari sejak lahir, manusia membutuhkan uang supaya bisa bertahan di dunia ini. Apalagi masyarakat yang sebagian besar saat ini sudah tidak bisa memanfaatkan alam sebaik mungkin seperti dulu. Menurut catatan sejarah, dahulu manusia, khususnya masyarakat Indonesia masih bisa hidup sejahtera walau tanpa uang. Hal ini karena dulunya Indonesia memiliki tanah yang subur, dan laut yang luas. Istilahnya dulu "kail dan batu cukup menghidupimu". Apapun yang ditanam selalu tumbuh subur, dan apapun yang dipancing dilaut selalu dapat.
Tapi sekali lagi, itu dulu. Saat ini selain lahan yang berkurang dan laut yang tidak lagi bersih, manusia juga sudah mulai malas memanfaatkan alam dengan sebaik mungkin dan banyak yang dieksploitasi sedemikian rupa, sehingga mau tidak mau untuk mendapatkan bahan pangan harus menggunakan uang.
Tidak hanya makan, pendidikan yang mumpuni juga membutuhkan uang. Ya banyak sekolah negeri gratis saat ini, namun tindakan oknum-oknum tidak bertanggungjawab membuat para siswa-siswi tetap harus membayar sejumlah uang dengan alasan seperti infaq, sumbangan, dana ini itu, dan alasan konyol lainnya.
POLA PIKIR YANG SALAH
Tidak hanya alasan hidup butuh uang, kebanyakan pola pikir kelompok masyarakat miskin banyak yang salah.
Pertama, beberapa dari mereka menganggap pendidikan tidak penting, atau hanya gender tertentu saja yang pantas mendapatkan pendidikan. Dalam hidup yang paling penting adalah bekerja mencari uang, berapapun usianya.
Kedua, banyak yang masih berpikir banyak anak banyak rejeki. Padahal hal itu salah, banyak anak itu justru makin banyak rejeki yang harus dicari. Bukan ketika kita santai-santai tiba-tiba uang tumbuh di tanah karena punya banyak anak.
Ketiga, buta akan sistem ketuhanan. Memiliki agama, dan beriman pada Tuhan tidak ada yang salah, dan malah hal yang baik. Namun mencobai Tuhan bukanlah kelakuan yang terpuji. Manusia diciptakan lebih mulia dari makhluk hidup lain karena manusia diberi akal budi. Namun lucunya, mereka yang (maaf) makan saja masih hutang sana sini, nekat memiliki anak dengan alasan, "anak itu ada rejekinya sendiri-sendiri, punya anak aja dulu, nanti ada rejekinya". Namun ketika ditampar kenyataan mereka akan berdalih, "rejeki tidak hanya dalam bentuk uang", padahal bisa dipastikan "pepatah" yang mereka katakan sebelum memiliki anak adalah rejeki dalam bentuk uang atau harta benda lainnya. Ada juga yang percaya bahwa KB adalah hal yang dilarang agama dan diwajibkan memiliki anak sebanyak-banyaknya. Mungkin mereka lupa, bahwa Tuhan mengajarkan untuk bisa mencintai dan bertanggungjwab sesama makhluk hidup.
Keeempat, menetapkan target umur hanya untuk memenuhi konsep hidup lingkungan sekitar. Tanpa memikirkan kemampuan hidup layak, masih banyak orang yang menikah dan memiliki anak hanya karena target umur atau dorongan orang sekitar. Umur sekian harus menikah, setelah menikah harus segera punya anak atau jika tidak akan dikatakan "mandul". Lucunya mereka yang jadi korban teori tidak berdasar ini justru sebagian besar juga menjadi pelaku.
Kelima, adanya konsep jaman dulu yang dibawa-bawa ke jaman sekarang, seperti "orang tua jaman dulu meskipun tidak punya uang, tapi punya anak 10 aja sanggup kok". Sehingga melakukan pembenaran bahwa tidak perlu mempersiapkan uang dan mental, punya banyak anak tidak masalah.
Keenam, merasa perlu melanjutkan garis keturunan, atau meneruskan nama keluarga.
Ketujuh, menjadikan anak sebagai investasi di masa tua. Entah dalam bentuk uang, atau untuk merawat mereka nantinya. Padahal anak itu bukan barang, bukan investasi dan instrumen keuangan.
KEJAHATAN ORANG MISKIN YANG MEMAKSAKAN DIRI MEMPUNYAI ANAK
Siapa bilang kejahatan hanyalah yang terterah pada hukum pidana dan perdata? Dalam sebuah keluarga kejahatan yang tidak tercatat dalam undang-undang di Indonesia juga banyak kok. Saat ini kita akan membahas kejahatan yang dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya dalam sebuah keluarga miskin.
- Pernah dengar istilah, "1 orang Ibu bisa merawat 10 orang anak, tetapi 10 orang anak belum tentu bisa merawat 1 orang Ibu"? Istilah tersebut tidak sepenuhnya benar. Jika dihubungkan dengan zaman dulu yang mana punya banyak anak adalah hal lumrah, siapa bilang seorang ibu bisa merawat 10 anak? Apa arti merawat? Apa arti membesarkan dengan baik?
Banyak kisah yang kita dengar, jaman dahulu dimana ekonomi mereka masih sangat minim, mereka justru mengorbankan salah satu atau lebih dari anak-anaknya untuk bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah adik-adiknya. Belum lagi kebutuhan gizi anak-anaknya yang tidak mampu mereka cukupi.
Bisa dilihat dari perawakan anak-anaknya yang cenderung pendek, yang kemudian ditutupi dengan alasan keturunan, padahal masuk kategori kekurangan gizi. Tidak sedikit cerita bahwa pada waktu anak-anaknya kecil, mereka hanya memberi makan nasi dan kuah, atau nasi dan sayur. Ya, jaman dahulu orang tua banyak yang menganggap asal anak hidup saja sudah selesai. Tetapi mereka tidak sadar sudah mengorbankan banyak hal pada anaknya agar bisa tetap hidup.
Jika dibandingkan secara apple to apple, apabila anak dari mereka kemudian merawat ibu atau ayah mereka dengan cara jaman dulu, dipaksa bekerja atau hanya diberi makan nasi dengan kuah, maka istilah tadi akan dikeluarkan, dan si anak akan di cap durhaka.
Ini merupakan salah satu kejahatan orang tua, memaksa anak bekerja dan tidak memberikan makanan serta pendidikan yang layak dan sama rata. Jika alasannya adalah uang, mengapa memutuskan memiliki banyak anak?
- Cenderung menjadikan anak sebagai investasi masa tua. Tidak semua, tapi kebanyakan pasangan yang sebelumnya hidup di garis kemiskinan dan mempercayai pola pikir yang disebutkan diatas, BIASANYA, menjadikan anak sebagai sumber uang, atau istilahnya sekarang adalah sandwich generation.
Banyak kasus dimana orang tua hanya meminta uang saat anak sudah bekerja dengan alasan balas budi, dan terus meminta tanpa peduli keadaan sang anak. Jika tidak diberi sejumlah yang diminta, lagi dan lagi akan dengan mudah melabeli anak durhaka
- Suka tidak suka, nyatanya mereka juga ikut menyumbang tingginya angka stunting dan kurang gizi di Indonesia. Penyebab stunting tentunya karena gizi yang tidak terpenuhi saat masa pertumbuhan, khususnya pada 1000 hari pertama anak. Stunting dapat menyebabkan pola belajar anak terganggu, IQ yang dibawah rata-rata, susah dalam menyerap ilmu, cenderung implusif dalam memutuskan sesuatu, dan minim literasi. Tentunya sifat-sifat seperti ini akan mempersulit Indonesia untuk bersaing dengan Negara lain. Tidak mustahil Indonesia bisa mengalami kemunduran jika hal ini terus dilakukan.
- Beberapa dari mereka hingga tidak mampu memberikan pendidikan dengan minimal lulus SMA. Ada yang putus sekolah, bahkan tidak mampu membaca dan berhitung. Ketika orang tua tidak mampu namun memaksakan, anaklah yang jadi korban. Bisa bayangkan bagaimana masa depan anak-anak ini? Rantai kemiskinan tidak akan putus, dan malah diwariskan. Bukankah ini termasuk tindak kejahatan pada anak?
- Hutang-piutang bisa merusak hubungan teman hingga keluarga. Kadang, orang yang berkecukupan saja memiliki hutang piutang, apalagi mereka yang tidak mampu? Darimana mereka membayar? Banyak kejadian keluarga yang sampai berani melakukan pinjaman online dan tidak mampu membayar hingga melakukan aksi nekat, seperti tindakan kriminal atau bunuh diri. Mirisnya, terkadang mereka bunuh diri sambil mengajak anak-anak mereka yang masih tidak tau apa-apa, dan berpikir orang tua adalah tempat teramannya.
Setelah melihat ulasan diatas, tampaknya pernyataan judul dari artikel ini tidak begitu jahat kan? Setiap manusia memiliki sisi gelapnya masing-masing, begitupun pasangan yang hidup di garis kemiskinan, namun tetap nekat memiliki anak. Jangan gunakan kalimat pelindung, "iya kami orang miskin, kami tidak layak…". Sekali salah tetap salah.
CONTOH KASUS
Banyak contoh kasus yang bertebaran di Indonesia. Salah satunya yang sempat viral baru-baru ini, sebuah keluarga di Depok dengan 8 orang anak. Mereka sempat viral karena memberikan makan anak-anaknya dengan kertas karena tidak punya uang sama sekali untuk membeli bahan makanan. Diketahui, Bapak dari anak-anak tersebut bekerja serabutan. Bahkan pernah menjual SIMnya demi bisa membeli makanan untuk keluarga dirumah.
Ceritanya miris ya? Namun respon yang diterima diluar prediksi. Bukannya miris dan melontarkan kalimat yang mengandung unsur kasihan, malah banyak yang menyayangkan keputusan pasangan suami istri itu untuk terus memiliki anak hingga 8 orang padahal ekonominya sangat kekurangan. Ya, netizen merasa sedih dengan nasib anak-anak mereka, dan bukan dengan pasangan ini.
Netizen menilai bapak dan ibu ini egois, dan tidak mementingkan kesejahteraan hidup anak. Bahkan ada yang menyebut mereka adalah orang tua yang dzalim karena termasuk menelantarkan anak-anak kandungnya sendiri.
Kasus berakhir diliput dengan adanya penyerahan donasi dari orang-orang diluar sana untuk keluarga besar ini. Publik berharap mereka stop memiliki anak lagi, dan lebih fokus memperbaiki kondisi ekonomi, serta kesejahteraan anak.
SOLUSI
Siapa yang ingin hidup miskin? Tentu tidak ada. Semua ingin hidup berkecukupan. Setidaknya bisa makan setiap hari, tidak merasa lapar, dan bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin atau minimal SMA. Sebenarnya kasus ini bisa diatasi, asal mau sadar diri dan saling bekerjasama. Solusi yang ditawarkan adalah sebagai berikut:
- Gerakan KB, 2 anak cukup. Sebaiknya di daerah-daerah pedalaman, khususnya yang angka kemiskinan tinggi dilakukan kerjasama dengan pemerintah setempat untuk terus menggaungkan KB maksimal setelah memiliki 2 anak. Bisa dijelaskan apa saja jenis KB, efek yang hormonal yang bisa dirasakan, resiko jika tidak menggunakan KB, cara perawatan KB agar berfungsi maksimal, dan lainnya. Mungkin bila perlu, dijadikan aturan khusus di daerah tersebut. Berikan slogan, "KB itu murah, tapi biaya memiliki anak jauh lebih mahal dan berlaku seumur hidup".
- Pendidikan yang merata juga perlu dilakukan. Kebanyakan justru mereka yang hidup dibawah garis kemiskinan dan nekat memiliki banyak anak adalah mereka yang kekurangan pendidikan. Mungkin perlu bantuan para aktivis. Tidak akan mudah memang, mengingat biasanya mereka yang kurang pendidikan akan tutup mata dan telinga terhadap ilmu baru. Namun, tidak ada salahya terus dicoba.
- Mengajak kerjasama ahli agama setempat. Sebab banyak dari mereka yang terlalu percaya anak akan mendatangkan rejeki masing-masing dalam bentuk uang. Padahal Tuhan mengajarkan untuk manusia bertanggungjawab pada pilihan hidupnya. Kadang konsep mereka juga salah, uang itu harus dicari dan diusahakan, bukan diam-diam lalu Tuhan turunkan dari Surga uang sekoper untuk dipakai anak-anaknya.
- Dari diri sendiri, STOP memaksa dan mendorong pasangan-pasangan muda untuk cepat-cepat memiliki anak, atau mendorong mereka untuk memiliki anak lebih dari satu. Tidak ada alasan itu basa basi, gunakan topik lain untuk membuka pembicaraan. Jangan mendoktrin mereka dengan mitos-mitos atau kalimat agamis untuk membuat mereka berpikir harus punya banyak anak.
- STOP memiliki pikiran bahwa anak adalah investasi di masa depan, sehingga harus punya anak banyak agar tidak kesepian dan hidup terjamin. Nyatanya anak adalah manusia titipan Tuhan yang nantinya akan punya kehidupan sendiri. Jangan egois dengan mengatur hidup anak kelak agar masa tuamu bisa bergantung padanya. Cukup berikan kasih sayangmu pada mereka, kelak mereka pun akan membalas budi dengan caranya masing-masing tanpa dipaksa. Artinya jika sebagai orang tua mampu melakukan itu 1 hingga 3 anakpun akan cukup.
- Biasakan menstabilkan ekonomi sebelum menikah dan memiliki anak. Tidak perlu menunggu kaya raya, namun setidaknya pemasukan dalam keluarga minimal cukup untuk makan dan pendidikan 1 orang anak.
- Miliki rencana ekonomi keluarga masa depan. Semisal belajar investasi, memiliki usaha kecil-kecilan, dll. Sehingga jika terjadi kemungkinan buruk pada pemasukan utama, orang tua masih memiliki pemasukan dan tabungan untuk bertahan hidup.
PENUTUP
Memang solusi yang ditawarkan tidak mudah dilakukan, namun tidak ada salahnya dicoba, daripada harus menanggung dosa karena tidak mampu bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan. Salah jika punya pemikiran, "yang susah aku, tidak menganggu kamu", karena jika diteruskan, maka masa depan Negara akan suram. Mereka yang memiliki ekonomi berkecukupan dan pendidikan bagus memilih untuk memiliki sedikit anak supaya bisa memaksimalkan aksih sayang dan pendidikan anak-anaknya, sementara mereka yang tidak memiliki apa-apa nekat punya banyak anak demi mengejar mitos banyak anak banyak rezeki.
Dengan perbandingan yang besar, bisa dibayangkan bagaimana nasib depan bangsa kelak?