5 Fakta Pembunuh Para Ahli Teori Konspirasi Pendaratan Bulan
“PENDARATAN DI BULAN TIDAK PERNAH TERJADI.
Tidak ada misi Apollo yang berhasil. Semua foto bahkan video pendaratan atau jalan-jalannya para astronaut di bulan, hanya sebuah film yang direkam jauh di dalam Area 51. Neil Armstrong adalah aktor utama yang memainkan peran sebagai: manusia pertama yang menginjak bulan.
Semua berita pendaratan bulan oleh misi Apollo hanya kebohongan besar NASA....”
Setidaknya, itulah omong kosong para ahli teori konspirasi, terkait keberhasilan misi Apollo dalam proyek pendaratan di bulan. Para ahli teori konspirasi itu salah kaprah dan mesti kebakaran janggut saat mengetahui fakta bahwa, keseluruhan teori konspirasi yang dianutnya, mampu dibantah telak. Bantahan itu adalah fakta-fakta pembunuh para ahli teori konspirasi misi Apollo.
Saya yang berada di posisi kontra dengan konspirasi tersebut, telah merangkum fakta-fakta pembunuh itu dalam beberapa poin penting yang akan menjadi inti dari artikel ini. Inilah fakta-faktanya:
1. “JEJAK KAKI YANG DITINGGALKAN DI BULAN, DIBANDINGKAN DENGAN BENTUK ALAS DARI SEPATU ANTARIKSA NEIL ARMSTRONG....BERBEDA. LALU, SIAPA PEMILIK ASLI JEJAK ITU?”
Foto terkait jejak sepatu di bulan, menjadi kontroversial sebab munculnya teori konspirasi yang menyatakan: jejak kaki di bulan itu, berbeda dengan bentuk alas dari sepatu antariksa Neil Armstrong.
Sepatu hingga pakaian lengkap Neil Armstrong sendiri, telah di pajang di Smithsonian's Collection dengan Phil Plait sebagai fotografernya. Pakaian antariksa itu tampak dibaringkan, lalu ditangkap kamera dari sisi bawah, sehingga terlihatlah alas sepatunya.
Sayangnya, benar. Alas kaki di pakaian antariksa itu berbeda bentuk dengan foto-foto jejak kaki yang membekas di bulan.
Lantas, siapa pemilik asli jejak sepatu itu?
Tentu saja itu milik Neil Armstrong. Manusia pertama yang menginjak bulan. Namun, bagaimana bisa?
Michael Lopez-Algeria, seorang astronaut, pilot uji, bahkan veteran dari tiga misi Pesawat Ulang-alik dan satu misi Stasiun Luar Angkasa Internasional, menyuarakan cuitannya di Twitter terkait perbedaan jejak dan alas sepatu itu, di 21 Juli 2017:
#DidYouKnow sepatu bot Neil Armstrong masih berada di bulan, dan ini bukan masalah. Dia meninggalkannya untuk kompensasi berat tambahan karena membawa pulang batu bulan. #Countdown #Apollo50.
Dalam cuitannya itu, Michael Lopez-Algeria bahkan menunjukkan foto sebuah bot di atas jejak itu. Bot itu adalah bot yang berbeda dengan sepatu antariksa yang dipajang di Smithsonian's Collection.
Di sisi yang sama, sebuah foto yang memperlihatkan batu-batu dalam satu tempat aluminium, membuktikan kebenaran cuitan Michael Lopez-Algeria. Batu-batu itu adalah batu bulan yang pada akhirnya disimpan oleh NASA. Beberapa di antara batu-batu itu, dijadikan sebagai objek penelitian mereka, untuk membuktikan apakah batu bulan akan berbahaya bagi bumi atau tidak.
2. “SABUK RADIASI VAN ALLEN DI SEKITAR BUMI, AKAN MEMBAKAR SIAPA SAJA YANG MELEWATINYA. PARA ASTRONAUT AKAN MATI, TERBAKAR HIDUP-HIDUP SEBELUM SAMPAI BULAN!”
Sabuk Van Allen adalah zona radiasi, yang berbentuk hampir menyerupai dua buah donat (luar dan dalam), dengan bumi berada di pusat lubang donat itu. Sabuk itu memiliki beberapa tingkat radiasi. Semakin ke pusat donat, tingkat radiasi semakin tinggi, bahkan mampu membunuh.
NASA dalam artikelnya menulis,
Sabuk ini telah lama dikenal sebagai berita buruk bagi satelit dan astronaut, dengan konsekuensi yang berpotensi mematikan jika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu di dalamnya.
Lantas, bagaimana mungkin misi Apollo 11 hingga Apollo 17 mampu melewati zona radiasi mematikan itu?
Sesungguhnya, dalam penjelasan NASA, sudah dijelaskan, “....jika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu di dalamnya.” Artinya, kecepatan tinggi mampu mengatasi itu.
Pendapat ini diperkuat dengan ucapan Profesor Anu Ojha, seorang Direktur Penemuan Pusat Antariksa Nasional, saat ditanyai tentang bagaimana Apollo melewati sabuk Van Allen. Profesor itu menjawabnya sederhana, “Jawaban saya untuk itu adalah.…firewalking.”
Firewalking adalah praktik budaya di mana dengan bertelanjang kaki, seseorang harus melewati bara api. Dalam sebuah artikel dari buddyku.com, dijelaskan sedikit terkait firewalking ini, “Saat berjalan di atas api, seseorang dapat berjalan dengan tenang hingga ke ujung jalan. Meski begitu, ada pula yang berlari cepat dengan maksud ingin secepatnya mencapai akhir.”
Kembali ke Profesor Ojha, “Jika Anda pernah melakukan firewalking,” tambahnya, “Anda akan tahu satu hal yang tidak akan Anda lakukan, adalah berlama-lama di tengah firepit. Anda menyeberang secepat mungkin." Dia menambahkan lagi,
Dari sudut pandang Sains, selama Anda menyeberang cukup cepat, melihat konduktivitas termal kaki Anda, Anda tidak akan memiliki energi panas yang cukup masuk ke kaki Anda, untuk membakar Anda. Anda baik-baik saja.
Yang perlu digarisbawahi adalah saat Profesor Ojha menambahkan kembali,
Dengan cara yang sama, waktu transit melalui sabuk radiasi Van Allen tepat di awal pelayaran Apollo sangat singkat.
Selanjutnya, di sisi yang sama, Tony Cook, seorang fisikawan sekaligus dosen di Universitas Aberystwyth turut menjelaskan terkait Apollo yang melewati sabuk Van Allen ini,
Dan mereka (astronaut misi Apollo) juga mengambil bagian dari Sabuk Radiasi Allen yang tingkat radiasinya cukup lemah.
Rute yang diambil dalam perjalanan Apollo, adalah rute yang menolak melewati area tengah sabuk, agar menghindari ancaman radiasi yang lebih besar. Selain itu, Tony Cook menambahkan bahwa para astronaut tidak akan mendapatkan radiasi dalam dosis yang tinggi.
Sama halnya seperti yang dituliskan oleh Jillian Scudder dalam artikelnya di Forbes.com 16 Juni 2017, yang berjudul, Why Aren’t the Van Allen Belts A Barrier To Spaceflight?
Dalam tulisannya itu, Jillian Scudder menyatakan tentang dosis radiasi yang diterima astronaut Apollo saat melewati sabuk Van Allen,
Penghitung dosis on-board untuk misi Apollo, mencatat radiasi rata-rata ke kulit astronaut sebesar 0.38 rad. Ini kira-kira sama dengan radiasi untuk mendapatkan dua CT scan dada. Tidak terlalu buruk, meski bukan sesuatu yang harus Anda lakukan setiap Minggu.
Hingga pada akhirnya, dengan kecepatan serta rute yang tepat, misi Apollo sukses mencapai bulan hanya dengan sedikit paparan radiasi yang didapat.
3. “SAINS BERKATA, DI BULAN HAMPA UDARA. NAMUN, MAENGAPA BENDERA AS-NYA BERKIBAR, DALAM FOTO ATAU VIDEO? BUKTI BAHWA PENDARATAN DI BULAN HANYA SYUTING FILM!”
Sebuah foto yang menampilkan Buz Aldrin—manusia kedua yang menginjak bulan—tengah mengangkat hormat pada The Stars and Stripes—bendera Amerika Serikat. Dalam foto tampak sangat jelas bahwa, bendera tampak membentang dan memiliki banyak kerut seolah tengah berkibar. Sementara itu, dalam rekaman pengibaran bendera yang dilakukan Armstrong dan Aldrin menampakkan dengan sangat jelas bahwa bendera itu melambai-lambai.
Lantas, apakah pendaratan di bulan hanya syuting film di bumi?
Saya akan menjelaskannya satu-persatu.
A. Foto Aldrin memberi hormat pada bendera yang berkibar di bulan.
Untuk menjawab hal ini, foto bersejarah penghormatan Aldrin pada The Stars and Stripes perlu diperhatikan lebih detail. Apabila pengamatan jeli diarahkan ke sisi atas bendera, Anda akan mendapati sebuah silinder panjang aluminium yang dipasang dari sisi kiri atas hingga sisi kanan atas bendera secara horizontal. Silinder ini membentangkan bendera, serta secara detail memberikan efek kerutan-kerutan.
Hasilnya, seperti yang dikatakan oleh Profesor Ojha,
Karena sudah diatur seperti ini, tampak melambai tertiup angin. Semua kerutan di sana karena sudah dikacaukan dalam empat hari perjalanan menuju bulan.
B. Video pemasangan tiang bendera yang dengan sangat jelas memperlihatkan bahwa bendera bergoyang-goyang, berkibar.
Video yang mempertontonkan dipasangkannya tiang bendera pada tiang di permukaan bulan, merupakan adegan yang ditunggu-tunggu oleh siapa saja, termasuk para ahli teori konspirasi. Mereka—para ahli teori konspirasi—menunggu dan seketika mencatat untuk memasukkannya dalam, “Bukti terkuat kebohongan pendaratan di bulan!”
Mengapa? Karena bendera melambai.
Namun, malangnya para ahli teori konspirasi itu, karena pada faktanya, bendera yang melambai itu bukan sebab angin. Jelas, karena video itu berada di bulan. Lantas, karena apa?
Jawabannya telah berada di dalam video itu sendiri. Salah satu dari Armstrong dan Aldrin berteriak, “Ini tidak mau tertancap masuk!”
Ya, mereka kesulitan untuk menancapkan atau memasangkan tiang itu. Yang mereka lakukan berikutnya adalah dengan melakukan gerakkan memutar tiang secara horizontal, secara cepat. Putaran ini jelas menimbulkan lambaian pada bendera.
Kesaksian itu dikatakan langsung oleh Buzz Aldrin dalam wawancaranya,
Meletakkan bendera di bulan benar-benar merupakan sorotan simbolis dari misi itu. Adalah salah satu yang belum kami latih (di bumi). Neil tahu di mana bendera itu disimpan. Kami mengeluarkannya dan kami harus menyatukan kedua bagian itu.
Di akhir ucapannya, tangan kanan Buzz Aldrin mengepal, memukul telapak tangan kirinya, seolah membicarakan kesulitannya dalam menancapkan tiang itu.
Lalu, apabila diperhatikan kembali lebih, bendera itu melambai cukup kasar ke satu arah yakni, bumi. Faktanya, gravitasi bumi menarik bendera itu setiap tiangnya berputar ke arahnya, sehingga tampak melambai.
Pada akhirnya, setelah berhasil melawan kesulitan ditancapkannya tiang itu, foto bersejarah penghormatan Buzz Aldrin mampu tertangkap dengan kondisi bendera membentang sempurna.
4. “SEMUA FOTO BAHKAN VIDEO APOLLO, SAMA SEKALI TIDAK MEMPERLIHATKAN KEBERADAAN BINTANG. KEBENARAN BAHWA PENDARATAN, HANYA DIREKAM DALAM STUDIO!”
Memang benar bahwa dalam jepretan foto atau rekaman video misi Apollo, bintang-bintang sama sekali tidak muncul. Bahkan, dalam wawancara ketiga astronaut Apollo 11 saat ditanyai apakah mereka melihat bintang, jawab mereka adalah bahwa sama sekali tidak ada bintang yang mereka lihat.
Lantas, jika pendaratan di bulan benar, bagaimana hal ini mampu terjadi?
Sebelum masuk dalam bantahan, lebih baik saya bahas terlebih dahulu terkait lensa terbaik dibandingkan dengan kamera mana saja. Ya, lensa mata. Lensa mata bertugas untuk memfokuskan cahaya yang menuju retina. Sementara itu, jalan masuk utama cahaya adalah pupil mata. Pupil mata akan bergerak sesuai dengan gelap-terang yang kita tengah lihat.
Artikel dari alodokter.com menjelaskan, “Dalam kondisi minim cahaya atau di kegelapan, pupil akan membesar, sehingga lebih banyak cahaya yang sampai ke retina untuk menunjang penglihatan. Sebaliknya, dalam kondisi terang, pupil akan mengecil untuk membatasi cahaya yang masuk ke mata.”
Itu adalah lensa mata kita saat beradaptasi dengan cahaya. Sementara itu, bagaimana lensa kamera, terlebih adalah kamera tahun 1969 saat peluncuran Apollo 11, dalam beradaptasi dengan cahaya?
Kamera Hasselblad El 500 yang diproduksi khusus untuk misi bulan, walaupun secara canggih diatur oleh pusat kontrol di baju astronaut, nyatanya kamera ini memiliki kemampuan terbatas dalam melihat. Kamera Hasselblad El 500 sama seperti kamera lainnya, tidak mampu mengambil gambar cahaya dan kegelapan dalam waktu yang bersamaan.
Sama halnya seperti mengambil gambar seseorang yang tengah membelakangi jendela di siang terik. Detail-detail dalam wajah, pakaian, atau apa saja dalam seseorang itu, tidak akan terlihat dengan jelas, karena kalah dengan cahaya terik di belakangnya.
Hal ini terjadi pada kamera Hasselblad El 500 itu. Detail-detail yang berada di kegelapan langit, tidak akan muncul sebab cahaya yang sangat terik mengalahkannya. Ya, cahaya matahari. Cahaya matahari pula memantul di permukaan abu-abu bulan, menjadi seolah-olah menyerupai warna putih cerah.
Pada akhirnya, cahaya bintang-bintang yang terlalu redup karena posisinya yang terlalu jauh, tidak mampu muncul sebagai detail langit gelap sebab cahaya matahari yang terlalu cerah.
5. “LANTAS, UNTUK APA. UNTUK APA AMERIKA SERIKAT DAN NASA-NYA BERJUANG SEKERAS ITU UNTUK MISI APOLLO? MISI APOLLO TIDAK BERGUNA UNTUK MEREKA!”
Sebelumnya, saya akan bercerita. Beberapa hari lalu, saat pembelajaran sastra Inggris saya dapatkan, saya dan guru saya itu berdebat terkait hal ini. Bukan perdebatan yang besar, hanya mirip-mirip seperti perundingan. Kalimat bercetak tebal sebagai nomor lima di atas kurang lebih adalah ucapan guru saya.
Lalu, saya menjawabnya sederhana,
Saat itu, tahun 1969, perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet masih terjadi selepas perang dunia dua. Di dalam perang itu, ada sebuah perlombaan. Namanya space race. Amerika Serikat dan NASA-nya berjuang sekali demi memenangkan space race itu.
Jawaban panjangnya akan saya jelaskan, dengan melirik sejarah dan bukan sains.
Dahulu, pasca perang dunia dua, lahirlah dua pemenang. Amerika Serikat dan Uni Soviet. Keduanya saling ingin mendapat posisi sebagai negara paling superior di masa itu, tetapi mereka enggan berpapasan dalam peperangan fisik. Maka dari itu, muncullah perang dingin. Perang yang berisikan perlombaan-perlombaan untuk membuktikan siapa yang terbaik di antara keduanya.
Salah satu perlombaan itu adalah space race. Siapa cepat menguasai angkasa, dia adalah pemenangnya.
Di awal-awal perlombaan, Uni Soviet mengungguli jauh. Uni Soviet berhasil mengirim manusia pertama di luar angkasa, anjing pertama di luar angkasa, bahkan satelit-satelit pertama, dan lain sebagainya.
Hingga Amerika Serikat muncul menghancurkan itu semua dan merenggut seluruh perhatian masyarakat. Saat itu, tepat pada 20 Juli 1969 pukul 20.17 UTC, Apollo 11, NASA, berhasil mengirim manusia pertama di bulan. Bendera Amerika Serikat juga menandai keberhasilan misi Apollo itu.
Pada akhirnya, ketenaran Neil Armstrong, Buzz Aldrin dan Michael Collins berhasil menyita perhatian masyarakat dan menenggelamkan pengetahuan sekelompok masyarakat akan banyak keberhasilan Uni Soviet.
Akhirnya, saya sebagai kontra terhadap teori konspirasi pendaratan bulan, benar-benar meyakini keberhasilan misi Apollo, yang tentu saja kecuali Apollo 13 yang naasnya meledak. Pendaratan di bulan oleh Apollo 11 hingga Apollo 17 adalah fakta nyata yang benar-benar terjadi dalam kurun waktu 1969 hingga 1972. Dan kapan pun, kita mampu kembali lagi ke satelit alami kita itu, seperti pada misi besuk. Di Artemis 3.…
Referensi:
https://youtu.be/F1a3zdLLzxA
https://youtu.be/DxW__ZtZApo
https://buddyku.com/gaya-hidup/84c4005c30354c61889d90905700e556/firewalking-aktivitas-spiritual-untuk-tunjukkan-kekuatan-fisik-berani-coba
https://www.nasa.gov/sites/default/files/files/SMIII_Problem7.pdf
https://www.liputan6.com/global/read/4024716/teliti-batu-bulan-yang-dibawa-apollo-11-nasa-kasih-makan-puing-ke-kecoak
https://slate.com/technology/2015/07/reboot-the-suit-preserving-neil-armstrong-s-spacesuit.html
https://dcist.com/story/19/07/16/neil-armstrongs-spacesuit-is-on-display-for-the-first-time-in-13-years/