Kim Jong Un Murka - Kronologi Lengkap Gagalnya Peluncuran Kapal Perang Korea Utara
Sebuah acara peluncuran yang seharusnya menjadi momen kebanggaan berubah menjadi bencana nasional. Kapal perang terbaru Korea Utara—kapal perusak berbobot 5.000 ton yang belum diberi nama—mengalami kerusakan parah saat peluncuran hari Rabu. Menurut kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, mekanisme peluncuran gagal, menyebabkan bagian buritan kapal masuk ke air lebih dulu dan menghancurkan sebagian lambung kapal. Bagian haluan bahkan masih tertinggal di darat.
Pernyataan Kim Jong Un: Malu Nasional dan Tuntutan Hukuman
Kim Jong Un yang menyaksikan langsung kejadian tersebut, menyebut kegagalan ini sebagai “tindakan kriminal” dan menyalahkan beberapa institusi negara, termasuk Departemen Industri Persenjataan, Universitas Teknologi Kim Chaek, dan biro desain kapal pusat. Ia menegaskan bahwa insiden ini adalah “malu bagi martabat bangsa” dan memerintahkan hukuman tegas bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Analisis Kerusakan oleh Para Ahli
Foto satelit menunjukkan kapal dalam posisi miring: buritan di dalam air, sementara haluan masih di atas galangan. Sal Mercogliano, profesor maritim di Campbell University, menyatakan bahwa kerusakan akibat peluncuran seperti ini bisa berakibat “katastrofik.”
Menurut analis angkatan laut Carl Schuster, stres struktural bisa menyebabkan lambung retak dan bahkan lunas kapal patah tergantung pada titik tekanan.
Kronologi dan Fakta Lengkap Gagalnya Peluncuran Kapal Perusak Korea Utara
- Proyek Ambisius Korea Utara
Pada April 2025, Korea Utara memperkenalkan kapal perusak “Choe Hyon”, kapal permukaan utama pertama dalam puluhan tahun sebagai bagian dari program modernisasi Angkatan Laut Rakyat Korea (Korean People's Navy – KPN). Didesain sebagai kapal generasi baru, kapal ini menandai upaya Pyongyang untuk lepas dari dominasi kapal era Soviet.
Kapal yang gagal diluncurkan pada bulan Juni merupakan kapal perusak kedua, dengan tonase sekitar 5.000 ton. Ini menjadikannya kapal permukaan terbesar yang pernah dibangun Korea Utara, bahkan lebih besar dari Choe Hyon.
- 13 Juni 2025: Insiden Peluncuran
Pada Rabu, 13 Juni 2025, Korea Utara melakukan upacara peluncuran untuk kapal perang besar mereka di salah satu galangan kapal di pantai timur. Namun, alih-alih meluncur mulus ke laut, kapal mengalami malfungsi serius. Mekanisme peluncuran gagal, menyebabkan buritan kapal meluncur lebih dulu, sementara haluannya tertahan di darat. Akibatnya:
- Bagian tengah kapal mengalami tekanan struktural tidak merata.
- Lambung sebelah kanan tergores parah, dan air laut masuk ke bagian buritan.
- Foto satelit komersial menunjukkan kapal miring ke satu sisi, dengan posisi yang berbahaya.
- 14 Juni 2025: Reaksi Kim Jong Un
Kim Jong Un, yang menyaksikan langsung insiden tersebut, sangat marah. Dalam pernyataannya yang dikutip media resmi KCNA, Kim menyebut kejadian itu sebagai:
“Tindakan kriminal yang memalukan harga diri nasional.”
Ia menyalahkan tiga lembaga utama negara:
- Departemen Industri Persenjataan
- Universitas Teknologi Kim Chaek
- Biro Desain Kapal Pusat
Kim menuduh ketiganya menunjukkan “kelalaian absolut dan ketidakbertanggungjawaban.” Ia langsung memerintahkan penyelidikan internal dan membentuk tim investigasi kecelakaan.
- 15 Juni 2025: Konfirmasi Kerusakan Lewat Satelit
- Citra satelit dari Maxar Technologies menunjukkan kapal dalam keadaan miring, dengan buritan tenggelam sebagian, sedangkan haluan masih berada di jalur peluncuran.
- Carl Schuster, analis militer dari Hawaii dan mantan direktur operasi intelijen Angkatan Laut AS, menyebut kerusakan seperti ini bisa:
- Sal Mercogliano, pakar maritim dari Campbell University, menambahkan bahwa peluncuran tidak sinkron pada kapal seukuran ini dapat menyebabkan kerusakan struktural permanen.
“Membengkokkan lambung, memicu retakan, dan berpotensi mematahkan lunas kapal.”

- 16 Juni 2025: Kim Perintahkan Perbaikan Cepat
Kim menginstruksikan agar kapal diperbaiki sebelum pleno Partai Pekerja Korea yang dijadwalkan akhir Juni 2025, menegaskan bahwa ini menyangkut “kehormatan nasional.”
Namun, para analis skeptis. Laksamana (Purn) Kim Duk-ki dari Angkatan Laut Korea Selatan mengatakan bahwa Korea Utara:
- Tidak memiliki dry dock (dok kering) yang cukup besar untuk meluncurkan atau memperbaiki kapal 5.000 ton.
- Tanpa fasilitas itu, proses perbaikan sangat tidak efisien dan bisa memakan waktu 4–5 bulan atau lebih.
- 17 Juni 2025: KCNA Rilis Update Teknis
Dalam pembaruan berita, KCNA mengklaim:
- Kerusakan lebih ringan dari dugaan awal.
- Tidak ada lubang di lambung, hanya goresan besar di sisi kanan, dan sedikit air masuk ke buritan.
- Perkiraan perbaikan: 10 hari.
Namun, Center for Strategic and International Studies (CSIS) melalui blog Beyond Parallel menyebut:
“Kapal ini tidak akan masuk layanan KPN dalam waktu dekat dan mungkin akan menjadi kerugian total.”

Pihak-Pihak yang Terlibat
- Kim Jong Un – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, saksi langsung peluncuran dan pemegang kendali penuh atas proyek militer.
- Departemen Industri Persenjataan Korea Utara – Bertanggung jawab atas eksekusi teknis proyek.
- Universitas Teknologi Kim Chaek – Lembaga riset teknik yang merancang teknologi peluncuran.
- Biro Desain Kapal Pusat – Divisi utama desain kapal.
- Tim Investigasi Khusus – Dibentuk segera setelah insiden.
- Analis luar – Carl Schuster, Sal Mercogliano, dan Laksamana Kim Duk-ki memberikan analisis independen.
- South Korea JCS (Joint Chiefs of Staff) – Memverifikasi elemen desain kapal serupa dengan Choe Hyon.
Kegagalan peluncuran ini menunjukkan jurang besar antara ambisi militer Korea Utara dan kemampuan teknis nyata yang mereka miliki. Kapal perang generasi baru yang seharusnya menjadi simbol kekuatan maritim, justru membuka kelemahan infrastruktur dan ketergesaan yang bisa berakibat fatal.
Jika tidak ditangani dengan benar, insiden ini bisa menjadi bukti kuat bahwa modernisasi militer Pyongyang lebih bersifat simbolik daripada substansial.
Ambisi Modernisasi Angkatan Laut Korea Utara
Insiden ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Korea Utara meluncurkan kapal perusak Choe Hyon, yang disebut sebagai kapal generasi baru pertama dalam beberapa dekade. Proyek ini merupakan bagian dari ambisi Kim membangun lebih banyak kapal perusak, penjelajah, dan fregat sebagai respons atas “ancaman dari AS dan Korea Selatan”.
Namun, para analis mencatat bahwa kapal-kapal ini belum menunjukkan tanda-tanda operasional nyata. Banyak yang meragukan apakah kapal-kapal tersebut bahkan memiliki mesin.
Tanggapan dan Dampak Politik
Setelah insiden, Kim menuntut agar kapal diperbaiki sebelum sidang pleno Partai Pekerja Korea akhir Juni, menyebutnya sebagai “soal kehormatan nasional.” Namun, para ahli militer skeptis.
KCNA belakangan mengklaim kerusakan “lebih ringan dari perkiraan awal”—hanya terdapat goresan di sisi kanan kapal dan air laut masuk ke bagian buritan. Tapi ahli luar negeri memperkirakan bahwa perbaikan bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Kemungkinan Pemulihan Kapal dan Kendala Infrastruktur
Laksamana (Purn) Korea Selatan Kim Duk-ki menyoroti bahwa Korea Utara kemungkinan besar tidak memiliki fasilitas dry dock, yang krusial untuk meluncurkan atau memperbaiki kapal seukuran ini. Tanpa fasilitas tersebut, proses perbaikan akan sangat rumit dan bisa memakan waktu 4–5 bulan atau lebih.
Analis pertahanan Yu Yong-weon juga menilai bahwa peluncuran yang dipaksakan adalah penyebab utama kegagalan, dan perbaikan terburu-buru bisa memperburuk keadaan.
Kesimpulan: Simbol atau Kekuatan Nyata?
Peluncuran gagal ini bisa menjadi pukulan besar terhadap ambisi maritim Korea Utara, yang selama ini mencoba tampil lebih kuat di hadapan dunia. Para analis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) bahkan menulis bahwa kapal ini bisa saja menjadi kerugian total dan tidak akan pernah beroperasi.
Lebih jauh, insiden ini menunjukkan bahwa kemajuan militer Korea Utara masih penuh tanda tanya. Apakah proyek ini benar-benar mencerminkan kekuatan tempur nyata, atau hanya simbol politik belaka? Satu hal jelas: di balik retorika militeristik Pyongyang, ketidaksiapan teknis dan tekanan politik dalam negeri bisa menjadi musuh terbesar mereka sendiri.