Perlukah Vaksin Dengue? Ini Fakta Penting yang Perlu Anda Ketahui

profile picture pakdoktor
Kesehatan - Penyakit

Dengue atau demam berdarah adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk dan terus menjadi ancaman serius di banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan kasus dilaporkan dengan tingkat keparahan yang bervariasi, dari gejala ringan hingga yang mengancam jiwa. Dalam upaya pencegahan, vaksin dengue mulai diperkenalkan sebagai salah satu solusi medis untuk mengurangi risiko infeksi. Namun, banyak masyarakat masih mempertanyakan efektivitas dan keamanan vaksin ini. Artikel ini akan membahas fakta-fakta penting seputar vaksin dengue yang perlu Anda ketahui sebelum mengambil keputusan.

Vaksin dengue merupakan langkah pelengkap yang penting dalam upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD), namun bukanlah pengganti dari tindakan utama seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan penerapan 3M Plus—menguras, menutup, mendaur ulang, serta penggunaan larvasida, kelambu, dan fogging. Vaksin ini menunjukkan manfaat khususnya bagi kelompok usia tertentu yang tinggal di daerah endemis, di mana risiko tertular cukup tinggi. Oleh karena itu, edukasi masyarakat mengenai vaksin dengue harus mencakup pemahaman menyeluruh tentang manfaatnya, keterbatasannya, serta potensi risikonya, agar keputusan yang diambil dapat didasarkan pada informasi yang akurat dan bertanggung jawab.

Apa Itu Vaksin Dengue?

Definisi Vaksin dengue adalah jenis vaksin yang dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap virus dengue, penyebab utama demam berdarah (DBD) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Vaksin ini bekerja dengan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus dengue jika seseorang terpapar di kemudian hari. Saat ini, terdapat beberapa jenis vaksin dengue yang telah dikembangkan dan disetujui di berbagai negara, dengan efektivitas yang berbeda-beda tergantung pada usia, status infeksi sebelumnya, dan tingkat endemisitas wilayah. Vaksin ini umumnya direkomendasikan untuk individu yang sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya dan tinggal di daerah yang memiliki tingkat penularan tinggi, sebagai upaya tambahan untuk mengurangi risiko infeksi berat dan rawat inap akibat DBD.

Jenis-Jenis Vaksin Dengue yang Tersedia

Saat ini, terdapat dua jenis vaksin dengue yang telah mendapatkan izin penggunaan di beberapa negara, termasuk Indonesia, yaitu Dengvaxia dan Qdenga. Dengvaxia (CYD-TDV) adalah vaksin dengue pertama yang dikembangkan oleh Sanofi Pasteur dan telah disetujui untuk digunakan pada individu berusia 9 hingga 45 tahun yang telah memiliki riwayat infeksi dengue sebelumnya. Vaksin ini diberikan dalam tiga dosis selama 12 bulan. Dengvaxia lebih dianjurkan untuk orang yang sudah pernah terinfeksi karena efektivitasnya lebih tinggi dan risikonya lebih rendah pada kelompok ini. Sementara itu, Qdenga (TAK-003) adalah vaksin terbaru yang dikembangkan oleh Takeda Pharmaceuticals dan mulai diperkenalkan di beberapa negara termasuk Indonesia pada tahun-tahun terakhir.

1. Dengvaxia (CYD-TDV) – Sanofi Pasteur

Deskripsi:
Dengvaxia merupakan vaksin dengue pertama yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Sanofi Pasteur. Vaksin ini berbasis virus hidup yang dilemahkan (live attenuated) dan ditujukan untuk mencegah infeksi keempat serotipe virus dengue (DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4).

Indikasi dan Usia Penggunaan:
Dengvaxia direkomendasikan untuk individu berusia 9 hingga 45 tahun yang telah pernah terinfeksi dengue sebelumnya (seropositif). Hal ini penting karena vaksin ini dapat meningkatkan risiko dengue berat jika diberikan kepada orang yang belum pernah terinfeksi.

Dosis dan Jadwal Pemberian:
Diberikan sebanyak tiga dosis dengan interval enam bulan antar dosis, yaitu pada bulan ke-0, ke-6, dan ke-12.

Efektivitas dan Perlindungan:
Dengvaxia terbukti cukup efektif untuk mencegah dengue berat dan rawat inap pada individu yang sudah memiliki kekebalan sebelumnya. Namun efektivitasnya berbeda-beda tergantung serotipe virus dan kondisi geografis. Tidak dianjurkan untuk penggunaan massal tanpa skrining terlebih dahulu.

Kelemahan:

  • Tidak cocok untuk individu yang belum pernah terinfeksi dengue.
  • Membutuhkan tes serologis (pemeriksaan antibodi dengue) sebelum pemberian.
  • Efektivitas jangka panjang masih menjadi bahan evaluasi di beberapa negara.

2. Qdenga (TAK-003) – Takeda

Deskripsi:
Qdenga adalah vaksin dengue kedua yang dikembangkan oleh Takeda Pharmaceuticals, Jepang. Vaksin ini juga menggunakan virus hidup yang dilemahkan dan ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe dengue.

Indikasi dan Usia Penggunaan:
Berbeda dengan Dengvaxia, Qdenga dapat diberikan kepada individu yang belum pernah terinfeksi dengue (seronegatif) maupun yang sudah pernah terinfeksi, sehingga tidak memerlukan tes serologi terlebih dahulu. Di Indonesia, Qdenga telah mendapat izin penggunaan untuk usia 6 hingga 45 tahun.

Dosis dan Jadwal Pemberian:
Vaksin ini diberikan dalam dua dosis dengan interval tiga bulan (bulan ke-0 dan ke-3).

Efektivitas dan Perlindungan:
Dalam uji klinis fase 3, Qdenga menunjukkan efektivitas tinggi terutama terhadap serotipe DENV-2 dan efikasi yang signifikan dalam mencegah rawat inap dan dengue berat, baik pada individu yang seropositif maupun seronegatif. Efek perlindungan tercatat berlangsung hingga 4,5 tahun setelah vaksinasi.

Kelebihan:

  • Tidak memerlukan skrining serologi.
  • Lebih fleksibel dan efisien dalam program imunisasi.
  • Efektivitas merata di berbagai kelompok usia dan status kekebalan.
  • Potensi tinggi untuk program pencegahan berskala luas di daerah endemis.

Siapa Saja yang Dianjurkan Mendapatkan Vaksin Dengue?

1. Dengvaxia (CYD-TDV) – Sanofi Pasteur

Kelompok yang Dianjurkan:

  • Usia: 9 hingga 45 tahun
  • Kondisi:Sudah pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya (seropositif)
  • Lokasi: Tinggal di daerah endemis dengue — wilayah dengan risiko tinggi penularan
  • Status Kesehatan: Tidak sedang mengalami gangguan imun atau kondisi medis serius lain yang dapat memengaruhi respons terhadap vaksin

Alasan Rekomendasi:

Studi menunjukkan bahwa Dengvaxia memberikan perlindungan efektif hanya jika individu sudah memiliki antibodi terhadap virus dengue sebelumnya. Jika diberikan kepada orang yang belum pernah terinfeksi, justru dapat meningkatkan risiko dengue berat jika terinfeksi di kemudian hari. Karena itu, tes serologi (pemeriksaan antibodi dengue) sangat disarankan sebelum vaksinasi.

2. Qdenga (TAK-003) – Takeda

Kelompok yang Dianjurkan:

  • Usia: 6 hingga 45 tahun (di Indonesia dan sejumlah negara lain)
  • Kondisi:Baik yang sudah maupun yang belum pernah terinfeksi dengue (seropositif maupun seronegatif)
  • Lokasi: Terutama di daerah dengan tingkat endemisitas tinggi
  • Status Kesehatan: Dalam kondisi sehat secara umum dan tidak memiliki kontraindikasi terhadap vaksin hidup yang dilemahkan

Alasan Rekomendasi:

Qdenga telah terbukti efektif untuk berbagai kelompok, termasuk mereka yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Karena tidak memerlukan skrining antibodi, vaksin ini lebih praktis untuk digunakan dalam program vaksinasi berskala luas, khususnya di wilayah tropis dan subtropis yang memiliki insiden DBD tinggi.

  • Dengvaxia dianjurkan hanya untuk orang yang sudah pernah terinfeksi dengue dan memerlukan pemeriksaan antibodi terlebih dahulu.
  • Qdenga lebih fleksibel, dapat diberikan kepada siapa pun dalam rentang usia yang ditentukan, tanpa harus mengetahui riwayat infeksi sebelumnya.

Konsultasi dengan tenaga kesehatan sangat penting untuk memastikan apakah seseorang termasuk dalam kelompok yang dianjurkan mendapatkan vaksin, serta untuk memahami manfaat, jadwal dosis, dan potensi efek sampingnya.

Efektivitas Vaksin Dengue: Lindungi dari Semua Serotipe?

Virus dengue memiliki empat serotipe utama—DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Setelah seseorang terinfeksi oleh salah satu serotipe, ia hanya akan memiliki kekebalan permanen terhadap serotipe tersebut, namun tetap rentan terhadap serotipe lainnya. Inilah alasan mengapa infeksi sekunder bisa lebih berbahaya dan berisiko menyebabkan dengue berat. Vaksin dengue dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe sekaligus, namun efektivitasnya bisa bervariasi tergantung jenis vaksin dan kondisi individu.

🧬 Dengvaxia (CYD-TDV)

  • Efektivitas terhadap semua serotipe cukup baik, namun tertinggi terhadap DENV-4 dan DENV-3.
  • Lebih efektif pada individu seropositif (yang sudah pernah terinfeksi sebelumnya).
  • Kurang efektif pada seronegatif, dan justru bisa meningkatkan risiko dengue berat pada kelompok ini jika terinfeksi setelah vaksinasi.

🧬 Qdenga (TAK-003)

  • Menunjukkan perlindungan yang kuat terhadap DENV-2, yang merupakan salah satu serotipe paling umum dan virulen.
  • Efektivitas terhadap DENV-1, DENV-3, dan DENV-4 juga cukup baik, meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan DENV-2.
  • Bekerja baik pada individu seropositif maupun seronegatif, menjadikannya lebih fleksibel dalam program vaksinasi massal.

Virus dengue terdiri dari empat serotipe berbeda—DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4—dan seseorang bisa terinfeksi hingga empat kali seumur hidup jika terpapar serotipe yang berbeda setiap kali. Inilah yang membuat dengue menjadi penyakit menantang, karena kekebalan terhadap satu serotipe tidak menjamin perlindungan terhadap serotipe lainnya. Meskipun vaksin dengue tidak memberikan perlindungan 100%, perannya sangat penting karena dapat mengurangi risiko gejala parah, mencegah rawat inap, dan menurunkan angka kematian akibat infeksi dengue.

Berdasarkan hasil uji klinis, vaksin Qdenga menunjukkan efikasi yang cukup tinggi, yakni 80% dalam mencegah perawatan di rumah sakit dan 61% dalam mencegah infeksi simptomatik. Sementara itu, Dengvaxia memiliki efikasi yang bervariasi tergantung pada usia, status infeksi sebelumnya, dan jenis serotipe, namun menunjukkan perlindungan yang lebih kuat pada individu yang sudah pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Dengan kata lain, vaksin bukan sekadar pelindung tambahan, tetapi merupakan bagian penting dari strategi pencegahan komprehensif di wilayah endemis.

Efek Samping dan Risiko Vaksin Dengue

Seperti halnya vaksin lain, vaksin dengue juga dapat menimbulkan efek samping, meskipun sebagian besar bersifat ringan dan sementara. Efek samping umum yang sering dilaporkan meliputi:

  • Nyeri atau kemerahan di tempat suntikan
  • Demam ringan
  • Sakit kepala
  • Kelelahan
  • Nyeri otot atau sendi

Efek ini biasanya muncul dalam beberapa hari setelah vaksinasi dan akan mereda dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.

Risiko Khusus yang Perlu Diperhatikan

Dengvaxia

Risiko utama dari Dengvaxia muncul jika diberikan kepada orang yang belum pernah terinfeksi virus dengue sebelumnya (seronegatif). Studi menunjukkan bahwa pada kelompok ini, vaksin justru dapat meningkatkan risiko dengue berat dan komplikasi serius jika mereka terinfeksi setelah vaksinasi. Oleh karena itu, Dengvaxia hanya dianjurkan untuk individu yang sudah pernah terkena dengue, dan idealnya didahului dengan tes antibodi.

Qdenga

Vaksin Qdenga secara umum memiliki profil keamanan yang baik, baik pada individu yang sudah maupun belum pernah terinfeksi dengue. Hingga saat ini, tidak ditemukan peningkatan risiko dengue berat pasca vaksinasi, bahkan pada kelompok seronegatif. Namun, seperti semua produk biologis, reaksi alergi parah (anafilaksis) tetap mungkin terjadi, meskipun sangat jarang.

Status Vaksin Dengue di Indonesia

Di Indonesia, vaksin dengue telah mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk digunakan sebagai bagian dari upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD), khususnya di wilayah-wilayah endemis. Hingga saat ini, dua vaksin utama yang telah disetujui penggunaannya adalah Dengvaxia (CYD-TDV) dari Sanofi Pasteur dan Qdenga (TAK-003) dari Takeda Pharmaceuticals.

Dengvaxia telah lebih dahulu disetujui di Indonesia, namun penggunaannya sangat selektif—hanya diberikan kepada individu berusia 9–45 tahun yang sudah pernah terinfeksi dengue, karena adanya risiko peningkatan keparahan jika diberikan pada orang yang belum memiliki antibodi dengue. Oleh sebab itu, penggunaannya tidak termasuk dalam program imunisasi nasional dan perlu konsultasi medis serta pemeriksaan serologi terlebih dahulu.

Qdenga, vaksin dengue yang dikembangkan oleh Takeda, telah mendapatkan persetujuan dari BPOM pada tahun 2023 dan kini tersedia di sejumlah rumah sakit serta klinik swasta di Indonesia. Meskipun demikian, vaksin ini belum masuk ke dalam program imunisasi nasional, sehingga penggunaannya masih bersifat opsional dan berbayar. Harga per dosis bervariasi, berkisar antara Rp 1,2 juta hingga Rp 2 juta, tergantung pada fasilitas kesehatan yang menyediakannya. Saat ini, Kementerian Kesehatan masih melakukan evaluasi terhadap efektivitas biaya (cost-effectiveness) vaksin ini sebelum mempertimbangkan implementasi lebih luas dalam skema imunisasi publik.

Status vaksin dengue di Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam pencegahan DBD, namun masih dalam tahap adopsi bertahap dan bukan pengganti utama dari program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Kombinasi antara vaksinasi yang tepat sasaran dan edukasi masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menurunkan beban penyakit dengue di Indonesia.

Perlukah Vaksin Jika Sudah Pernah Terkena DBD?

Ya, vaksin dengue tetap diperlukan meskipun seseorang sudah pernah terkena demam berdarah (DBD), karena infeksi dengue hanya memberikan kekebalan terhadap satu dari empat serotipe virus (DENV-1 hingga DENV-4). Artinya, Anda masih berisiko terinfeksi oleh serotipe lain di kemudian hari, dan infeksi kedua justru berisiko lebih tinggi menyebabkan gejala yang lebih berat dan komplikasi serius karena respons imun yang disebut antibody-dependent enhancement (ADE). Dalam hal ini, vaksin dapat membantu memperkuat perlindungan terhadap serotipe lain yang belum pernah menyerang tubuh.

Vaksin seperti Dengvaxia bahkan secara khusus direkomendasikan untuk individu yang sudah pernah terinfeksi dengue, karena efektivitasnya lebih tinggi dan risikonya lebih rendah pada kelompok ini. Sementara Qdenga juga cocok untuk orang yang sudah pernah terinfeksi, dengan efikasi yang baik untuk mencegah rawat inap dan infeksi simptomatik. Dengan demikian, vaksinasi setelah pernah terkena DBD dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan yang penting, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah endemis.

Berikut penjelasan dokter terkait dengan efektifitas vaksin DBD:

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By pakdoktor

This statement referred from