Mengapa Berat Badan Naik Setelah Minum Kopi? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Pernah merasa berat badan naik esok harinya setelah ngopi sore atau malam? Kita tidak sendirian. Banyak orang mengaitkan minum kopi dengan penambahan berat badan. Tapi apakah benar kopi penyebabnya? Jawabannya: tergantung pada jenis kopi, waktu minum, dan apa yang masuk bersama kopi itu sendiri.
Komposisi Kopi: Tidak Hanya Kafein
Kopi hitam (tanpa gula) hampir tidak memiliki kalori. Rata-rata hanya mengandung 2–5 kalori per cangkir.
Namun, saat ditambahkan:
- Gula pasir (1 sdm ≈ 50 kalori)
- Krimer manis (1 sachet ≈ 30–60 kalori)
- Susu full cream (100 ml ≈ 60–70 kalori)
- Sirup hazelnut/caramel (1 shot ≈ 80–100 kalori)
total kalori bisa dengan mudah melewati 200–400 kalori, bahkan melebihi seporsi nasi.

Kopi dan Retensi Air: Efek Sementara yang Menipu
Pertanyaan Awal: Kenapa Berat Badan Naik Setelah Minum Kopi Padahal Kalorinya Rendah?
Banyak dari kita merasa heran—sudah ngopi hitam tanpa gula, tapi berat badan naik 0,5–1 kg keesokan harinya. Padahal, logikanya, kopi mengandung hampir nol kalori. Jadi dari mana kenaikan itu datang? Jawabannya mungkin bukan dari lemak, tapi dari air.
Apa Itu Retensi Air?
Retensi air (water retention) adalah kondisi di mana tubuh menahan cairan di jaringan, yang seharusnya dikeluarkan melalui urin. Efek ini bisa menyebabkan:
- Perasaan kembung
- Berat badan naik tiba-tiba
- Kaki dan jari terasa bengkak
- Lingkar perut tampak membesar
Retensi air bersifat sementara, tapi bisa menyebabkan kenaikan berat badan 0,5–2 kg hanya dalam satu hari.
Kopi dan Retensi Air: Apa Hubungannya?
Kopi—terutama yang mengandung kafein tinggi—dikenal sebagai diuretik ringan, yaitu zat yang merangsang produksi urin. Namun, efek ini tidak selalu berarti tubuh akan membuang air lebih banyak. Justru sebaliknya bisa terjadi, Ketika kita terlalu sering minum kopi:
- Tubuh bereaksi terhadap stresor kafein dengan meningkatkan produksi hormon kortisol dan aldosteron
- Hormon ini memberi sinyal ke ginjal untuk menahan natrium
- Natrium yang tertahan = air yang tertahan
- Akibatnya, kita menyimpan lebih banyak cairan dalam tubuh
Studi Pendukung dari Maughan RJ & Griffin J (2003): The diuretic action of caffeine in humans menunjukkan bahwa efek diuretik kafein hanya signifikan saat asupan melebihi 300 mg (setara 3–4 cangkir kopi), dan bahwa adaptasi bisa terjadi.
Kapan Retensi Air Ini Terjadi?
Retensi air akibat konsumsi kopi lebih mungkin terjadi saat:
| Situasi | Risiko Retensi Air |
|---|---|
| Minum kopi dalam jumlah besar (>3 gelas) | Sedang–Tinggi |
| Minum kopi sambil kurang minum air putih | Tinggi |
| Minum kopi di bawah tekanan/stres | Tinggi |
| Minum kopi sebelum tidur | Tinggi (karena mengganggu sirkulasi dan ekskresi) |
Kopi, Stres, dan Retensi: Triple Combo yang Harus Diwaspadai
Kita tidak bisa membahas retensi air dari kopi tanpa menyentuh stres. Kombinasi:
- Kafein (stimulan)
- Deadline (psikologis)
- Kurang minum air (fisiologis)
bisa membuat tubuh berada dalam mode survival. Di mode ini, hormon kortisol tinggi, dan retensi cairan otomatis meningkat sebagai bentuk “pertahanan”. Inilah alasan kenapa berat badan naik meskipun kita sudah makan bersih dan tidak melebihi kalori harian.

Apa Solusinya?
Untuk Menghindari Retensi Air karena Kopi:
- Jangan minum kopi berlebihan (maksimal 2 cangkir/hari)
- Minum air putih 1:1 dengan setiap cangkir kopi
- Hindari kopi saat stres atau sebelum tidur
- Perhatikan asupan sodium harian (jangan terlalu asin)
- Tambahkan makanan kaya kalium (pisang, alpukat, bayam) untuk mengimbangi efek natrium
Gula, Krimer, dan Sirup: Tersangka Kalori Tersembunyi
Kita sering memesan kopi sambil berkata, “ah, cuma minum kok, bukan makan”. Padahal kalori dalam kopi kekinian bisa menyamai satu mangkuk mi goreng.
| Jenis Minuman Kopi | Estimasi Kalori |
|---|---|
| Kopi Hitam Tanpa Gula | 2–5 kkal |
| Kopi Susu Gula Aren | 180–250 kkal |
| Es Kopi Krim + Sirup Vanilla | 250–400 kkal |
| Frappuccino Mocha | >450 kkal |
Kalori cair ini lebih cepat diserap, tidak memberi rasa kenyang, dan seringkali tidak dianggap sebagai “makanan” oleh otak kita.
Berikut, alasan mengapa kopi dapat menaikkan berat badan menurut ahli:

1. Bahan yang ditambahkan ke dalam kopi
Meskipun kopi memengaruhi setiap orang secara berbeda, ada beberapa alasan mengapa beberapa orang mungkin mengalami kenaikan berat badan yang tidak disengaja akibat konsumsi kopi secara teratur. "Meskipun latte atau frappuccino terasa lezat dan menyegarkan, minuman campuran ini mengandung lebih dari sekadar kopi," kata ahli diet dan nutrisi sekaligus pendiri Nutrition Undefined, Megan Rasmussen, dikutip dari Eatingwell (25/7/2023). Menambahkan krim, sirup, dan pemanis tambahan ke dalam kopi dapat dengan mudah menyebabkan kelebihan kalori, yang pada akhirnya dapat menyebabkan penambahan berat badan. Untuk melihat potensi kandungan kalori dan gula, Mocha Cookie Crumble Frappuccino seberat 16 ons dari Starbucks mengandung 480 kalori dan 55 gram gula tambahan. Adapun, jumlah gula dalam kopi tersebut mengandung 150 hingga 220 persen dari batas harian yang direkomendasikan oleh American Heart Association (AHA) untuk gula tambahan. AHA merekomendasikan pria mengonsumsi tidak lebih dari 36 gram gula per hari dan wanita tidak lebih dari 25 gram. Menurut sebuah studi tahun 2019 yang diterbitkan dalam Polish Journal of Food and Nutrition Sciences, konsumsi gula, terutama dalam minuman yang dimaniskan dengan gula, dikaitkan dengan penambahan berat badan dan obesitas.
2. Kafein dapat mengganggu kualitas tidur
Bukan hanya apa yang dimasukkan ke dalam kopi saja yang penting, namun waktu meminumnya juga dapat berkontribusi dalam penambahan berat badan. Sebuah tinjauan tahun 2018 yang diterbitkan dalam Risk Management and Healthcare Policy mengamati hubungan antara asupan kopi dan tidur. Para peneliti mencatat, ketika kopi dikonsumsi enam jam sebelum tidur, itu secara signifikan akan mengganggu tidur. Jadi jika seseorang memiliki waktu tidur pukul 10 malam dan minum kopi pada pukul 2 siang sebagai penambah semangat di sore hari, mereka mungkin mengalami kesulitan tidur. Pada gilirannya, seseorang mungkin kehilangan satu atau dua jam tidur. Tetapi, bagaimana ini berhubungan dengan penambahan berat badan? Studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam BMJ Open Sport & Exercise Medicine menunjukkan, ketika seseorang secara teratur tidur kurang dari tujuh jam per malam, mereka memiliki peningkatan risiko kenaikan berat badan. Efek ini mungkin disebabkan oleh peningkatan kadar ghrelin (hormon lapar), retensi garam dan peradangan yang terkait dengan kurang tidur.
3. Kopi dapat meningkatkan kadar kortisol Setelah tidur semalaman, tubuh akan memproduksi dan melepaskan hormon yang disebut kortisol untuk membantu seseorang bangun di pagi hari. Kortisol pada dasarnya dikenal sebagai "hormon stres". Akan tetapi, hormon ini juga berperan penting dalam membantu seseorang merasa waspada, responsif, dan fokus di pagi hari. Meskipun tubuh secara alami memproduksi kortisol saat bangun tidur, mengonsumsi kopi berkafein dapat meningkatkan kadar kortisol lebih banyak lagi, menurut sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam Stress and Health. Akibatnya, kadar kortisol yang tinggi dapat meningkatkan keinginan untuk makan makanan yang tinggi gula dan lemak jenuh, yang menyebabkan penambahan berat badan, menurut sebuah studi kecil tahun 2019 yang diterbitkan dalam Physiology & Behavior.
Kopi dan Hormon Lapar: Ghrelin, Insulin, dan Nafsu Makan
Kafein bisa memengaruhi sistem hormonal:
- Ghrelin meningkat setelah efek kafein habis → kita jadi lebih lapar
- Kafein juga bisa menyebabkan lonjakan insulin jika dikombinasikan dengan makanan tinggi gula
- Efek ini berbahaya terutama jika kita sedang menjalani diet atau intermittent fasting
Menurut Greenberg JA et al., 2005: Hubungan antara konsumsi kopi manis dan risiko peningkatan berat badan jangka panjang.

Kafein, Stres, dan Kortisol: Kombinasi Penyimpan Lemak?
Kafein dapat meningkatkan kortisol, hormon stres yang juga:
- Meningkatkan penyimpanan lemak viseral
- Menurunkan sensitivitas insulin
- Memicu craving makanan tinggi karbohidrat
Apalagi jika kita:
- Minum kopi tanpa makan (saat perut kosong)
- Minum kopi sambil bekerja di bawah tekanan
Dalam jangka panjang, kombinasi kafein + stres = metabolisme kacau dan penyimpanan lemak aktif.
Kopi dan Gangguan Tidur: Efek Tidak Langsung pada Berat Badan
Satu hal penting: gangguan tidur → berat badan naik.
Minum kopi sore atau malam bisa:
- Menurunkan durasi dan kualitas tidur
- Mengacaukan hormon leptin dan ghrelin
- Menurunkan kontrol impuls terhadap makanan
Menurut Spiegel K et al., 2004: Kurang tidur menurunkan leptin dan meningkatkan ghrelin → membuat kita makan lebih banyak.

Apakah Kopi Bikin Gemuk? Jawabannya Tidak Sesederhana Itu
Kopi tidak secara langsung membuat kita gemuk. Tapi:
- Tambahan gula, krimer, dan sirup bisa menyumbang ratusan kalori
- Efek hormonal dari kafein bisa memicu rasa lapar dan craving
- Minum kopi yang mengganggu tidur bisa memperparah risiko penambahan berat badan
Jadi, bukan kopinya yang salah. Tapi bagaimana kita minum dan apa yang kita tambahkan ke dalamnya.
Jurnal dan Studi Ilmiah Terkait
- Greenberg JA et al. (2005). Habitual coffee consumption and long-term weight gain.
- Maughan RJ, Griffin J (2003). The diuretic action of caffeine in humans.
- Spiegel K et al. (2004). Leptin levels and ghrelin: impact of sleep duration.
- Guyenet SJ (2015). The Hungry Brain: Outsmarting the Instincts That Make Us Overeat.