Berapa Kalori yang Harus Dikurangi Agar Berat Badan Turun? Ini Jawaban Ilmiahnya
Kita hidup di era informasi yang penuh distraksi. Satu sisi bilang "keto itu jalan terbaik", sisi lain berkata "fasting itu jawabannya", dan sisanya hanya bilang, "asal jangan makan malam". Tapi realitanya? Kalori tetap raja.
Mau makan daging saja, hanya buah, atau tidak makan sama sekali—kalau kalori masuk tetap melebihi kalori keluar, tubuh tidak punya alasan membakar lemak. Kalori adalah bahasa dasar metabolisme. Dan kita perlu berbicara dalam bahasa tubuh, bukan tren sesaat.
Bayangkan kamu memiliki rekening energi. Setiap hari, tubuh “menghabiskan” sejumlah kalori untuk tetap hidup: bernapas, berpikir, berdiri, mencerna. Ini disebut TDEE (Total Daily Energy Expenditure). Sekarang, jika kamu “menabung” terlalu banyak (makan melebihi TDEE), tubuh akan menyimpan kelebihannya sebagai lemak.
Namun jika kamu makan sedikit lebih rendah dari TDEE, tubuh mulai menarik dari ‘tabungan’ lemak tersebut.
Apa Itu Defisit Kalori dan Bagaimana Cara Menghitungnya?
Defisit kalori terjadi saat kita mengonsumsi lebih sedikit kalori daripada yang kita bakar. Misalnya:
- BMR (Basal Metabolic Rate) kamu = 1600 kcal
- TDEE (Total Daily Energy Expenditure) = 2100 kcal
- Jika kamu hanya makan 1700 kcal/hari → defisit = 400 kcal
Baca juga : Kenapa Berat Badan Susah Turun Padahal Sudah Diet? Jawabannya Bukan Sekadar Kalori
Rumus TDEE:
TDEE = BMR x Faktor Aktivitas
Gunakan kalkulator TDEE berbasis Mifflin-St Jeor atau Harris-Benedict untuk akurasi.
Itulah defisit kalori. Bukan siksaan, tapi strategi.

Berat Badan Tak Turun-Turun? Mungkin Defisitnya Tak Pernah Ada
Berapa banyak dari kita yang bilang, "Aku sudah makan sedikit, tapi kok nggak kurus-kurus?"
Mari jujur. Tanpa tracking, tanpa pengukuran, dan hanya mengandalkan perasaan, kita cenderung salah kira. Secara ilmiah, manusia sering underestimate asupan makanan hingga 40%, terutama dari makanan yang tinggi lemak dan gula. Itulah kenapa tracking makanan—meskipun terdengar membosankan—sering menjadi perbedaan antara stuck dan sukses.
Kita tidak perlu melakukan ini selamanya. Tapi mengetahui apa yang masuk ke tubuh adalah bentuk self-awareness yang menyembuhkan.
250 Kalori Bisa Jadi Apa?
- 1 slice pizza: 250–300 kalori
- 2 sendok makan minyak zaitun: 240 kalori
- 1 kopi gula aren kekinian: 250–350 kalori
- 5–6 sendok nasi putih: 250 kalori
Nah, defisit 250–500 kalori bukan berarti harus kelaparan. Cukup hilangkan 1 elemen yang tidak memberi efek kenyang tinggi.

Menurut Dietary Guidelines for Americans 2020-2025, berikut kisaran kebutuhan kalori harian berdasarkan kelompok usia dan jenis kelamin:
Perempuan:
Usia 19-30 tahun: 1.800-2.400 kalori
Usia 31-60 tahun: 1.600-2.200 kalori
Usia 61 tahun ke atas: 1.600-2.200 kalori
Laki-laki:
Usia 19-30 tahun: 2.400-3.000 kalori
Usia 31-60 tahun: 2.200-3.000 kalori
Usia 61 tahun ke atas: 2.000-2.600 kalori
Angka ini bisa berbeda atau berubah tergantung aktivitas fisik harian dan kondisi tubuh seseorang. Sebagai contoh, jika kamu yang sangat aktif secara fisik mungkin memerlukan kalori lebih banyak daripada mereka yang bekerja di belakang meja seharian.
Sementara untuk anak-anak dan remaja, asupan kalori harus mempertimbangkan fase pertumbuhan dan tidak disarankan membatasi kalori secara ketat karena bisa memengaruhi tumbuh-kembangnya.
Berapa Kalori yang Harus Dikurangi untuk Menurunkan Berat Badan?
Estimasi Umum:
- Defisit 500 kcal/hari → penurunan ~0.5 kg/minggu
- Defisit 1000 kcal/hari → penurunan ~1 kg/minggu
1 kg lemak tubuh ≈ 7700 kalori
Namun, pembatasan terlalu agresif bisa menyebabkan:
- Hilangnya massa otot
- Penurunan metabolisme (adaptive thermogenesis)
- Craving dan binge eating
Idealnya, defisit 20–25% dari TDEE dianggap aman dan berkelanjutan.
Data berikut menggambarkan hubungan antara jumlah defisit kalori harian dan laju penurunan berat badan mingguan:
Defisit 500–750 kcal/hari → efisien & aman
Lebih dari 1000 kcal/hari → rawan masalah metabolik & psikologis
Saat Diet, Otakmu Akan Melawan: Adaptasi Itu Nyata
Tubuh kita tidak suka kehilangan berat. Ini bukan karena kita lemah. Ini karena tubuh kita adalah mesin biologis yang telah berevolusi untuk bertahan hidup, bukan terlihat kurus.
Studi oleh Leibel dan Rosenbaum (2008) menunjukkan bahwa saat berat badan turun, otak meningkatkan rasa lapar dan tubuh menurunkan metabolisme—sebuah bentuk perlindungan alami dari kelaparan.
Inilah sebabnya mengapa diet ekstrem justru memperkuat efek yoyo.
Metode Populer untuk Membatasi Kalori Secara Efektif
A. Tracking Kalori dengan Aplikasi
- Gunakan MyFitnessPal, FatSecret, atau Cronometer
- Paling akurat, cocok untuk pemula
B. Intermittent Fasting (IF)
- Membatasi jendela makan (misal 16:8) → mengurangi asupan harian
C. Volumetrics & Satiety Index
- Fokus pada makanan rendah kalori tinggi volume (sayur, sup, buah air tinggi)
D. Mindful Eating
- Fokus pada sinyal kenyang
- Mengurangi makan impulsif dan kalori tersembunyi
Panduan pola makan untuk defisit kalori:
Diet kalori bisa dilakukan dengan mengubah pola makan sehari-hari. Berikut ini adalah panduan pola makan yang dapat Anda coba lakukan:
1. Kurangi asupan karbohidrat
Beberapa riset menunjukkan bahwa diet kalori dengan membatasi asupan karbohidrat mampu menurunkan lebih banyak berat badan daripada diet rendah lemak. Tak hanya baik untuk menurunkan berat badan, membatasi asupan karbohidrat juga dapat menurunkan kadar gula dan trigliserida dalam darah sehingga baik untuk penderita sindrom metabolik dan diabetes tipe 2.
2. Konsumsi lebih banyak protein
Mengonsumsi lebih banyak makanan yang kaya akan protein merupakan salah satu cara sederhana dan efektif untuk menurunkan berat badan. Hal ini dikarenakan protein dapat membuat Anda merasa kenyang lebih lama, sehingga konsumsi kalori harian pun akan berkurang. Beberapa jenis makanan yang kaya akan protein adalah telur, ikan, kacang, dan daging tanpa lemak. Selain itu, menambah asupan protein juga akan meningkatkan metabolisme sehingga kalori di dalam tubuh lebih cepat terbakar.
3. Hindari minuman bersoda dan jus buah kemasan
Jus buah dan minuman soda kemasan biasanya memiliki kadar gula dan kalori yang tinggi. Asupan kalori berlebihan tentu tidak baik bagi kesehatan karena bisa menyebabkan obesitas. Oleh karena itu, akan lebih baik jika Anda mengonsumsi jus buah murni atau jus penurun berat badan yang tidak diberi gula tambahan. Selain untuk membatasi asupan gula dan kalori berlebihan, kandungan nutrisi dalam jus buah pun dapat Anda peroleh dengan maksimal.
4. Minum lebih banyak air putih
Minum 2 liter air putih setiap hari mampu membakar sekitar 95 kalori di dalam tubuh. Selain itu, konsumsi segelas air putih 30 menit sebelum makan juga bisa membuat rasa lapar berkurang, sehingga Anda bisa lebih cepat kenyang dengan porsi makan yang lebih sedikit.
5. Rutin berolahraga
Saat melakukan diet kalori, secara otomatis asupan kalori dalam tubuh berkurang dan tubuh akan mengimbanginya dengan membakar lebih sedikit kalori. Tak hanya itu, kurangnya kalori juga akan menyebabkan hilangnya massa otot dan menurunkan tingkat metabolisme, padahal keduanya dapat meningkatkan pembakaran kalori. Agar diet kalori bisa lebih efektif, Anda disarankan untuk rajin berolahraga. Rekomendasi waktu olahraga bagi orang dewasa sehat adalah 30 menit setiap harinya atau minimal 3 kali seminggu.
Selama masa pandemi COVID-19 ini, Anda juga bisa mencoba aktivitas fisik lain yang dapat Anda tetap lakukan di rumah, seperti push-up, sit-up, lompat tali, atau squat. Jangan lupa untuk menyesuaikan intensitas olahraga dengan asupan kalori dari makanan yang dikonsumsi agar Anda tidak merasa kelelahan.
Kesalahan Umum Saat Melakukan Defisit Kalori
| Kesalahan | Dampaknya |
|---|---|
| Defisit terlalu ekstrem (<1200 kcal) | Metabolisme drop, hormon kacau |
| Tidak memperhatikan protein | Kehilangan otot, bukan hanya lemak |
| Tidak menghitung minyak/minuman | Kalori tersembunyi bisa ratusan per hari |
| Tidak mempertahankan konsistensi | Sering “cheat day” terlalu besar → hasil tidak terlihat |
Menurut Rosenbaum et al., 2008: tubuh dapat menurunkan TDEE hingga 15% saat defisit berlangsung lama (adaptive response).
Kita Tak Harus Kelaparan: Makan Banyak, Tapi Kalori Sedikit?
Yes. Konsepnya disebut volumetrics. Kita bisa memilih makanan yang:
- Memiliki kepadatan kalori rendah (low energy density)
- Mengandung air dan serat tinggi
- Memberi volume di lambung, bukan hanya kalori
Contohnya?
- Sup bening + sayur
- Semangka, stroberi, jeruk
- Kentang kukus, bukan goreng
Strategi ini bisa membuat kita makan banyak secara volume, tetapi tetap dalam batas kalori yang dibutuhkan.
Baca juga : Kurang Tidur Bikin Lapar? Ini Fakta Ilmiah soal Ghrelin, Leptin, dan Pola Tidur
Penurunan Berat Badan yang Tahan Lama = Kalori yang Disesuaikan
Penurunan berat badan yang sehat bukanlah hasil dari perang melawan tubuh. Tapi kerja sama dengan biologi tubuh kita. Dengan menciptakan defisit kalori yang wajar—sekitar 500–750 kalori per hari—kita bisa:
- Menurunkan berat badan 0,5–1 kg/minggu
- Menjaga massa otot tetap utuh
- Menghindari efek rebound dan binge
Ini bukan tentang menjadi sempurna setiap hari, tapi konsisten dalam niat dan realistis dalam pendekatan.
Kalori Bukan Musuh, Tapi Informasi
Jika kita mengganti cara berpikir dari “mengurangi makanan” menjadi “mengelola energi”, maka penurunan berat badan menjadi proses logis—bukan siksaan.
Kita tak butuh diet aneh, tak perlu menjauh dari nasi, dan tak harus menghindari gula seumur hidup.
Kita hanya perlu tahu: berapa yang kita butuhkan, dan bagaimana tubuh memprosesnya.
Studi Ilmiah: Apa Kata Penelitian tentang Kalori dan Lemak Tubuh?
- Hall et al., 2016 (NIH Metabolic Ward Study):
Ketika protein & kalori dikontrol, jumlah kalori tetap menjadi penentu utama penurunan lemak, lebih dari jenis makronutrien. - Leibel & Hirsch, 1984:
Metabolisme akan menyesuaikan untuk mempertahankan berat badan sebelumnya, sehingga konsistensi defisit jadi kunci.