EKSISTENSI TUHAN DALAM AJARAN BUDDHA

profile picture febby_yolitan
Humaniora - Other


Di Indonesia setiap orang yang menganut agama tertentu percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. Pengertian dan makna Tuhan Yang Maha Esa dalam agama satu dan lainnya berbeda-beda. Agama Buddha memiliki konsep ketuhanan yang berbeda dengan agama lain. Dalam agama Buddha pengertian Tuhan tidak dipandang sebagai suatu pribadi maupun suatu sosok. Oleh karena itu, umat Buddha tidak memanjatkan doa dan menggantungkan hidup kepada Tuhan, akan tetapi agama Buddha mengajarkan bahwa semua yang terjadi kepada diri mereka disebabkan oleh hasil dari perbuatan yang telah mereka lakukan, baik perbuatan di masa lampau maupun perbuatan di masa sekarang ini. 
Dalam ajaran Buddha mengenal adanya hukum karma (perbuatan). Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan melalui pikiran, ucapan dan badan jasmani. Hukum karma juga disebut sebagai hukum kosmis, karena merupakan hukum moral. Menurut berlakunya, hukum karma “untuk hidup maupun tidak akan muncul oleh sesuatu” artinya tidak benar jika suatu dapat muncul karena ketiadaan/kekosongan. Dengan kata lain di dunia ini tidak ada sesuatu atau makhluk yang muncul tanpa memiliki sebab-akibat.
Kepercayaan adanya Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha dapat ditemukan pada pernyataan Buddha sebagai berikut:
“Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam, no cetam bhikkhave abhavisam abhutam akhatam asankhatam, nayida jatassa bhutassa sankhatassa nissaranam pannayetha. Yasma ca kho bhikkhave atthi sankhatassa nissaranan pannaya’ti.” 
(Udana VIII: 3)
Artinya: “Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para Bhikkhu, bila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”
Dari pernyataan tersebut menegaskan bahwa konsep ketuhanan dalam agama Buddha adalah sesuatu yang mutlak, tanpa wujud, impersonal, tidak dapat digambarkan maupun dibayangkan dan tidak dapat dipersonifikasikan. Jadi Tuhan dalam agama Buddha bukanlah merupakan seorang sosok seperti manusia yang memiliki wujud dan sifat. Tuhan dikatakan tidak memiliki wujud dan sifat seperti manusia dikarenakan jika memiliki sifat dan wujud seperti manusia Ia dapat disalahkan, dapat mengalami kelahiran, usia tua dan kematian.
Kepercayaan Tuhan dalam agama Buddha adalah Nibbana atau Nirwana (satu keberadaan yang tidak berkondisi) disebut sebagai tuhan. Nibbana itu sendiri disebut sebagai Tuhan karena itu sebagai tujuan setiap umat Agama Buddha. Pengetian Nibbana atau Tuhan  ia yang tak terbentuk yang tak terlahirkan yang tak terkondisikan seperti yang disebutkan dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3.
Apakah Nibbana itu ada?
Ketika ingin memahami Nibbana lebih lanjut, maka perlu menjelaskan sendiri dengan melaksanakan Jalan mulia berunsur delapan. Jalan mulia berunsur delapan merupakan satu jalan yang ditempuh untuk mencapai Nibbana. Jalan mulia berunsur delapan ini terdiri delapan unsur, yaitu, pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, daya upaya benar perhatian dan konsentrasi benar. Jalan mulia berunsur delapan adalah salah satu ajaran pokok dari Sang Buddha. Untuk mencapai nibbana, maka umat Buddha harus menjalani sendiri jalan tersebut, kemudian membuktikan Kembali kebenarannya seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri, yaitu “ehipassiko” atau datang dan buktikan. Nibbana dapat direalisasi dengan cara melenyapkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha)
Lebih lanjut dalam Kitab Milinda Panha juga dijelaskan tentang Nirwana melalui percakapan antara Bhikkhu Nagasena dan Raja Milinda sebagai berikut:
"Nirwana penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan, Oh Raja. Barang siapa yang mengatur kehidupannya secara sempurna dengan memahami sifat kehidupan sesuai dengan ajaran para Buddha, menyadari kehidupan melalui kebijaksanaan, sebagaimana seorang siswa yang dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Sang Guru, menjadikan dirinya 'Nakhoda' bagi kapalnya sendiri,..."
"Apakah Nirwana suatu tempat?" tanya Raja Milinda
"Nirwana bukanlah suatu tempat, Oh Raja, tetapi Nirwana ada sebagaimana api ada, meskipun api itu tidak disimpan di suatu tempat tertentu."
"Apakah ada tempat berpijak bagi seseorang untuk mencapai Nirwana?"
"Ya, Raja, tempat itu adalah kebajikan."
Jadi dapat disimpulkan bahwa Nibbana bukanlah suatu tempat atau alam kehidupan, melainkan keadaan yang terbebas dari semua kekotoran batin yang menjadi sebab penderitaan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kepedihan, ratapan dan keputus-asaan, yaitu Keserakahan (Lobha), Kebencian (Dosa), dan Kebodohan Batin (Moha). Jika seseorang ingin mencapai tujuan hidup yang tertinggi, maka ia hendaknya melaksanakan Jalan Mulia berunsur Delapan secara terus-menerus.

19 Agree 0 opinions
1 Disagree 1 opinion
19
1
profile picture

Written By febby_yolitan

This statement referred from