Benarkah surga dan neraka itu ada?

profile picture eikfadilla
Humaniora - Other

Sadar atau tidak, kematian adalah sesuatu yang mutlak akan terjadi dan dialami oleh seluruh makhluk hidup. Kematian akan datang saat tiba waktunya, bahkan seringkali akan datang secara tiba-tiba. Makhluk hidup tidak akan bisa menghindari suatu kematian. Namun adakah kehidupan lain setelah kematian? Pembicaraan seperti ini tak pernah terselesaikan. Hal ini tampak ganjil karena bagaimana mungkin kita membahas tentang peristiwa kehidupan setelah kematian, sementara yang tau semua tentang itu hanya ketika telah mengalami kematian.

Beberapa kalangan filosof modern menganggap bahwa kehidupan setelah kematian tidak ada. Menurut mereka, hidup manusia hanya terbatas didunia saja, karena manusia hanya terdiri dari badan saja. Dan sekiranya manusia telah mati, maka habislah badan manusia itu dan tidak ada sesuatupun yang tersisa (Abdillah, 2016).

Akan tetapi, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian hanya akhir dari kehidupan yang akan menuju ke kehidupan yang sempurna. Seperti halnya kelahiran yang menyusul kematian, maka setelah kematian juga ada kelahiran. Kematian yang mutlak tidak akan dialami oleh manusia, manusia hanya akan kehilangan pada kondisi tertentu yaitu jiwa dan raga yang akan berpindah ke kondisi lain. Manusia terdiri atas 2 unsur, dua unsur tersebut meliputi jiwa dan raga. Raga atau jasad akan terpisah dari jiwa ketika manusia mengalami kematian, serta raga akan larut dan menyatu dengan alam. Hal ini berbeda dengan jiwa, jiwa tidak akan mati. Oleh sebab itu, muncullah pertanyaan, kemanakah jiwa ini pergi?

Ada berbagai pandangan yang menyatakan tentang adanya kehidupan di alam lain untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang dilakukan ketika berada di dunia, yaitu surga dan neraka. Surga digambarkan suatu tempat yang indah yang ditempati oleh orang-orang baik, melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan. Sebaliknya, neraka merupakan tempat yang panas dan tersiksa yang dihuni oleh orang-orang jahat yang mengabaikan perintah dan larangan Tuhan. Namun benarkah surga dan neraka itu ada?

Menurut gagasan filsuf idealis terkenal yaitu Arthur Schopenhauer. Beliau berpendapat bahwa ada keadaan setelah seseorang mengalami kematian. Oleh karena itu, Schopenhauer menjelaskan dengan melalui pengertian pengetahuan trancendental dan pengetahuan imanen. Pengetahuan trancendental adalah ilmu yang terbatas pada ikatan pemikiran dan pengalaman. Schopenhaurer menjelaskan bahwa keberadaan manusia tidak mengenal waktu baik diawal ataupun diakhir. Schopenhauer menjelaskan dengan sangat jelas bahwa ada keadaan lain setelah mengalami kematian dengan menggunakan pengetahuan untuk mencapainya.(Denpasar, 2020).

Setiap perbuatan akan berhubungan erat kaitannya dengan akibat, sehingga kehidupan adalah hukum sebab akibat. Tidak semua manusia menerapkan jalan yang benar dan banyak manusia tidak mampu untuk menghentikan perbuatan buruk. Hukum tidak bisa dinegosiasikan. Tuhan itu adil, jadi surga dan neraka benar-benar ada untuk menghukum dan membalas semua perbuatan yang telah dilakukan manusia selama mereka hidup di bumi. Kemudian pada saat itu manusia juga akan mendapatkan pahala dan balasan sesuai dengan apa yang dikerjakan.

Kehidupan di dunia dan kematian adalah seperangkat mekanisme sistem penciptaan. Kematian adalah bagian dari persiapan untuk kehidupan baru yang lebih realistis dan mengarah pada tujuan akhir, yaitu surga dan neraka. Manusia hidup melalui tahapan yang akan terus meningkat, dimulai dengan kehidupan di dunia dan diakhiri dengan kembalinya manusia kepada Sang Pencipta. Manusia melewati tahapan-tahapan tersebut tidak lain untuk memperoleh pengetahuan yang realistis. Pengajaran mengenai kehidupan lain setelah kematian selalu tersebar dan dibicarakan oleh seluruh dunia. Pengajaran ini dilakukan agar manusia memiliki harapan yang realitas tentang kehidupan setelah kematian. Maka hal ini dapat disimpulkan bahwa benar adanya kehidupan abadi setelah kematian. Pada dasarnya manusia akan berlomba-lomba untuk mendapatkan kehidupan di surga. Pengharapan imbalan yang telah dilakukan oleh manusia dapat mengikat pikiran manusia. Sehingga manusia akan sangat cemas, jika di dunia melakukan kesalahan yang akan membawanya ke api neraka.

Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan, setelah kematian ada kehidupan lain yang lebih realistis. Manusia hidup di dunia untuk membawa bekal menuju ke kehidupan akhirat. Dalam hidup di dunia maka ada pertanggung jawaban yang telah dilakukan. Setelah melakukan pertanggung jawaban maka manusia akan memperoleh kehidupan abadi yaitu surga atau neraka. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa surga dan neraka benar adanya untuk kehidupan yang abadi. Kita hanya perlu mempercayai dan meyakini dengan apa yang telah disampaikan kepada Tuhan untuk kita semua, bahwa surga dan neraka memang benar adanya. Manusia tidak bisa membuktikan keberadaan surga dan neraka dikarenakan kehidupan abadi memang hanya bisa dibuktikan ketika kita telah mengalaminya. Akan tetapi, manusia diberi akal untuk memperoleh pengetahuan tentang surga dan neraka. 

Jadi sudah percaya dengan keberadaan surga dan neraka itu benar adanya kan?

References :

Abdillah (2016) ‘Eskatologi: Kematian dan Kemenjadian Manusia’, Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, 1(1), pp. 121–134.

Denpasar, N. (2020) ‘Jurnal pangkaja vol 23, no.2, juli-desember 2020 68’, Jurnal Pangkaja, 23(2), pp. 68–77.

9 Agree 3 opinions
2 Disagree 1 opinion
9
2
profile picture

Written By eikfadilla

This statement referred from