MENEROPONG WUJUD DUNIA DENGAN SETETES AIR
JAGAT INI BEGITU BESAR. NAMUN, TAK BERARTI KITA HARUS MENGENAKAN KACA MATA MAHA BESAR AGAR DAPAT MEMPELAJARINYA. SIFAT DAN BERAGAM HUKUM ALAM YANG ADA DI SEKITAR KITA SAHIH SEBAGAI ACUAN MENDALAMINYA.
Bentuk bulat bumi kerap dipergunjingkan. Sementara wujud bulat tetes air tak banyak orang mempedulikan. Padahal, kedua hal itu serupa namun tak sama.
Dalam kondisi tak terpengaruh energi dari luar, bentuk tetes air itu bulat. Analog dengan bola bumi. Hukum-hukum yang menyertainya pun analogis.
Berbekal keterampilan berpikir analogis, kita dapat mempelajari jagat yang Maha Besar ini melalui sifat-sifatnya di sekitar kita.
Tetes Air, Planet dan Analoginya
Faktanya, di angkasa, tetes air itu bulat. Selama tidak ada gaya lain yang mengganggu, tetes air mempertahankan wujudnya seperti bola. Geometri bulat merupakan bentuk paling stabil dibandingkan bentuk lainnya. Sebab, bentuk bola menghasilkan energi interaksi total antar molekul paling kecil.
Ada 2 peristiwa yang terjadi dalam setetes air. Kohesi dan tegangan permukaan. Kohesi yaitu usaha menyatunya beberapa mokekul yang sejenis. Dipicu oleh gaya tarik listrik atau disebut juga gaya elektrostatis.
Air (H2O) memiliki kutub positif (atom H1+) dan kutub negatif (O2+). Fakta ini menjadikan air bersifat kohesif, saling tarik menarik. Molekul air yang terletak di lapisan terluar ditarik ke satu arah, menuju tengah. Proses ini melahirkan tegangan permukaan.
Ketidak seimbangan energi tegangan permukaan diminimalkan oleh molekul dengan cara memperkecil satuan luas permukaan. Bentuk bola memiliki luas permukaan terkecil dibandingkan bentuk lain. Sehingga bola menjadi satu-satunya bentuk yang paling stabil.
Pada tahun 1785, Charles-Augustin de Coulomb mempublikasikan teorinya. Postulat itu menyatakan bahwa jika ada dua benda bermuatan listrik (q1) dan (q2), sejenis atau berbeda, yang terpisah pada jarak tertentu (r) gaya tolak atau tarik yang terjadi antara kedua muatan itu proporsional dengan hasil kali nilai masing-masing muatan. Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduanya.
Secara matematis Hukum Coloumb tersebut dinyatakan dengan: F = k x ((q1 x q2) ÷ r kuadrat))
Gaya elektrostatis tetesan air analog dengan gaya gravitasi bumi. Setiap benda yang bermassa itu memiliki gravitasi. Semakin besar massa sebuah benda, kian besar pula gravitasinya. Gaya ini memampatkan massa bumi ke arah inti.
Pada tanggal 5 Juli 1687 Isaac Newton merilis dalilnya. Menyatakan bahwa Setiap titik massa (m1) menarik setiap massa titik lain (m2) dengan jarak (r) dari kedua titik. Besarnya gaya tersebut berbanding lurus dengan hasil kali dari dua massa. Berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara mereka.
Secara matematis Hukum Gravitasi Newton dinyatakan sebagai berikut: F = G x ((m1 x m2) ÷ r kuadrat))
Secara matematis, Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Coloumb
sama namun tak serupa. Keduanya berbeda dalam tataran penerapan, Hukum Gravitasi Newton diaplikasikan untuk mengukur gaya tarik-menarik benda-benda bermasa dan bervolume besar. Misalnya planet, bulan, dan bintang. Sedangkan Hukum Coloumb diterapkan pada materi yang lebih kecil.
Analogi kedua hukum ini menguatkan pendapat bahwa gaya gravitasi penyebab planet berbentuk bulat itu analogis dengan gaya tarik menarik antar atom yang menyebabkan tetes air berbentuk bola.
Gravitasi bumi berasal dari gabungan semua massa yang ada di Bumi. Termasuk massa tubuh tiap manusia manusia. Bukankan pijakan kaki Anda turut memampatkan tanah ke arah inti bumi?
Agar dapat dikategorikan sebagai planet, benda langit harus memiliki gravitasi yang cukup untuk membersihkan benda-benda langit di sekitarnya. Jadi, sebuah planet itu harus egois.
Gaya gravitasi yang besar itu menyebabkan planet berbentuk bulat. Lantas mengapa asteroid dan komet banyak yang berbentuk tak bulat? Ya, sebab mereka tak memiliki massa yang cukup untuk mengahasilkan gaya gravitasi yang memadahi pula.
Fase Turut Menentukan Bentuk
Selain dipengaruhi oleh gravitasi, fase materi obyek (benda langit) juga turut menentukan bentuk. Fase materi itu dapat berupa padat, cair, dan gas.
Matahari adalah bola gas (plasma) raksasa yang maha panas. Kerapatan gas itu tak sebesar kerapatan fase padat dan cair. Sehingga gravitasi mudah membentuknya menjadi bola.
Begitu pula dengan planet-planet besar. Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Tubuh mereka mayoritas berupa cairan. Lapisan luarnya diliputi gas. Sehingga, planet-planet ini pun mudah dibentuk menjadi bola oleh gravitasi.
Lantas bagaimana dengan benda langit yang memiliki massa dan gravitasi besar namun disusun oleh materi fase padat?
Mereka butuh waktu yang lebih lama agar dapat dibentuk menjadi bola. Dalam kurun waktu ribuan hingga jutaan tahun batuan padat dapat mengalir seperti cairan.
Di bumi, aliran bebatuan itu mengendap. Membentuk lapisan-lapisan penyusun litosfer. Kehadirannya penting sebagai bahan mempelajari sejarah geologi Bumi.
Jika kita sudi blusukan di daerah pegunungan utamanya di kawasan sesar bumi, akan banyak ditemukan singkapan maupun patahan lapisan bumi. Di tempat itu lapisan-lapisan litosfer bisa disaksikan.
Lapisan-lapisan itu bak buku sejarah. Saksi bisu kisah bumi ini terbentuk. Di dalam lembaran-lembaran itu dunia menampakkan wajahnya yang bulat.
Faktanya, hasil penelitian membuktikan bahwa benda berbatu berukuran 500 kilometer dapat menjadi bulat dalam kurun waktu kira-kira 1 miliar tahun. Padahal, tata surya kita telah berusia 4½ miliar tahun. Kurun waktu yang sangat longgar untuk membentuk padatan di bumi menjadi berbentuk bola.
Tak terkecuali Bumi, hampir semua benda berukuran sebesar itu di tata surya berbentuk bulat.
Bentuk Donat vs Perubahan Musim
Konspirasi bumi berbentuk donat pada dasarnya mirip dengan konspirasi bumi datar. Hanya memodifikasinya saja.
Faktanya, bumi berevolusi tidak berada dalam lintasan lingkaran linear. Sambil berotasi, arah sudut sumbu rotasi bumi pun berubah. Bidang katulistiwa condong sebesar 23,5 derajat dari bidang orbit bumi. Artinya, sumbu bumi condong dengan sudut sebesar 23,5 derajat dari tegak lurus ke bidang orbit bumi.
Dengan demikian terjadilah apa yang disebut solstisium. Yaitu peristiwa poros sumbu yang condong terhadap matahari, dengan kedudukan sangat dekat dengan titik perihelium dan aphelium. Evolusi dan sudut condong sumbu bumi ini lah yang mengakibatkan adanya perubahan musim.
Solstisium musim dingin terjadi apabila kedudukan matahari paling jauh di selatan (untuk belahan bumi utara). Berlangsung beberapa hari sebelum perihelium. Daerah yang terletak pada 23,5 derajat lintang selatan, matahari berada tegak lurus di atas kepala.
Sebaliknya, solstisium musim panar terjadi apabila kedudukan semua matahari berada di titik paling utara. Terjadi beberapa hari sebelum aphehelium. Untuk daerah-daerah yang terletak pada 23,5 derajat lintang utara, matahari berada tegak lurus di atas kepala.
Sekali lagi, melalui perubahan musim sebagai sifatnya, bumi menampakkan wajahnya yang bulat itu kepada seluruh umat manusia.
Sementara itu, selama berotasi dan berevolusi bumi tak luput dari pengaruh gravitasi benda-benda langit yang lain. Utamanya matahari. Bentuk bulat adalah geometri yang paling mendukung gerakan evolusi dan posisi condong sumbu bumi yang berubah-ubah itu.
Bentuk donat menjadi tidak relevan dengan fakta dan sifat bumi tersebut di atas.