Bumi Datar (Flat Earth) adalah Kebenaran (Alternatif)
Iman pada bumi datar sudah ada sejak ratusan tahun silam. Bahkan pernah menjadi keyakinan umum selama berabad-abad. Setelah era moderen, wacana ini kehilangan peminat. Sebagian besar orang seturut dengan keyakinan Christopher Columbus, mengimani bahwa bumi bulat.
Beberapa tahun belakangan, wacana bumi datar kembali ramai diperbincangkan. Sebagian menganggapnya guyon. Namun, sebagian lain benar-benar mengamininya sebagai kebenaran. Banyak di antara mereka yang meyakini lantas menggabungkan diri dalam komunitas dengan berbagai macam nama. Jejaringnya sampai lintas negara.
Kecuali itu, mereka pun aktif “berdakwah”. Ada yang membuat tulisan, meme, flayer, video, dan lain sebagainya. Di jagat YouTube, banyak kanal yang mengkhususkan diri membahas bumi datar, dalam dan luar negeri. Dari sekian kanal dan video, ada satu kesamaan di luar sikap mereka yang keukeuh bahwa bumi berbentuk datar: kesadaran poeple power.
Mereka membangun argumen bahwa semua “riset” yang mereka lakukan bisa juga dengan mudah dilakukan siapa pun hanya dengan menggunakan data-data yang bebas diakses publik, tentu saja dengan pengetahuan fisika dan ilmu hitung yang memadai. Kedua hal yang disebut terakhir pun kini bisa dengan mudah diakses dengan bantuan teknologi. Intinya, siapa saja bisa melakukan. Tidak harus menjadi seorang ahli astronomi untuk membuktikan bahwa bumi itu datar.
Ditilik dari sudut pandang tertentu, hal ini bukan iseng belaka. Bukan pula sekadar mencari perhatian. Maraknya “penganut” bumi datar adalah suatu fenomena zaman post-moderen, zaman di mana keyakinan-keyakinan lama digugat dan dipertanyakan. Kebenaran-kebanaran saintifik yang sudah larut menjadi semacam keyakinan umum ditengok dan dikoreksi.
Mula-mula bentuk bumi yang digugat. Kemudian “kebenaran turunannya”, seperti soal Antartika, sistem keuangan dunia, bisnis satelit, dan lain sebagainya. Sampainya akhirnya menggugat tatanan dunia yang dibangun di atas asumsi bumi bulat. Tatanan yang dinilai hanya menguntungkan sebagian kecil pihak. Teori bumi datar adalah pintu gerbang membongkar segala konspirasi. Demikian singkatnya.
“Poeple power” macam ini juga yang menjadi spirit dasar sistem mata uang kripto. Sistem mata uang kripto bersifat desentralisasi alih-alih terpusat di bank sentral seperti mata uang konvensional. Semangat yang usungnya anti-otoritas. Kendati belakangan marak kasus berbasis mata uang kripto, tetapi ia pernah menjadi sangat seksi sebagai investasi, aset, dan impian masa depan.
Baik bumi datar maupun kripto sama-sama dicetuskan oleh “bukan siapa-siapa”. Mereka yang mengawali bukanlah sebuah lembaga raksasa, ilmuwan, atau tokoh kelas dunia. Mereka adalah “kita”.
Dalam konteks lain, people power kerap kali dimaknai sebagai aksi demontrasi besar-besaran yang tak jarang berakhir ricuh. Indonesia punya banyak catatan akan hal demikian. Misalnya saja, tragedi 98. Kekuatan (power) dipahami dalam maknanya yang paling fisikal.
Pada bumi datar, kripto, dan fenomena sejenisnya, kekuatan boleh jadi bermakna kemampuan untuk mengakses informasi. Lebih jauhnya, kemampuan untuk membangun opini. Pesatnya perkembangan teknologi membuat informasi bisa sangat mudah diakses. Tentu saja termasuk ilmu pengetahuan di dalamnya. Oleh seorang pemikir Amerika, Tom Nichols, zaman kini disebutnya the death of expertice ‘zaman matinya pakar’. Siapa pun bisa dengan mudah menjadi “pakar” tanpa harus lelah, mahal, dan lama-lama bersekolah. Tinggal klik, pengetahuan ada dalam genggaman.
Kondisi ini pula yang menyebabkan wacana bumi datar berstatus kebenaran alternatif. Di zaman kematian para pakar, hampir tak ada satu pun yang absolut. Semua kebenaran adalah kebenaran alternatif. Terlebih zaman kini disebut pula zaman pasca kebenaran (post truth). Zaman di mana tidak ada kebenaran objektif. Benar adalah sejauh mana sesuatu diyakini benar oleh sebagian besar orang tanpa peduli fakta objektif.
Sebelum kecerdasan buatan benar-benar menggantikan peran-peran vital manusia, “era serba pasca” ini akan begini adanya: serba tak pasti.