Beberapa Alasan Kenapa Asumsi Bahwa Bumi Datar Tetap Hidup Sampai Sekarang
Saya bergabung dengan tim olimpiade Geografi di sekolah. Dan saya tahu dan mempercayai bahwa Bumi itu bulat. Saya percaya karena ada bukti-bukti empiris yang mendukung teori Bumi itu bulat. Perihal Bumi datar, bagi saya itu adalah sebuah asumsi dari sekelompok orang yang tidak akan pernah bisa dibuktikan dan sudah berkali-kali dipatahkan.
Tetapi kenapa orang-orang yang percaya bahwa Bumi itu datar tetap keukeh dengan pendapat mereka ? ada beberapa alasan menurut saya , sehingga keyakinan mereka tidak goyah walau sudah dipaparkan dengan begitu banyak bukti-bukti valid.
Alasan pertama adalah Fanatisme sempit yang membuat mereka yakin bahwa Bumi itu datar adanya. Mereka fanatik dengan pendapat Samuel Bhirley Rowbotham, bahwa Bumi adalah piringan datar dengan kutub utara sebagai pusatnya . Walau pendapat Rowbotham itu sudah dipatahkan oleh Alfred Russel Wallace dalam taruhan yang ditaja oleh John Hampden, seorang pendukung Bumi datar, tetapi mereka tetap bersikeras bahwa Wallace salah. Bahkan Hampden selalu meneror Wallace setelah kejadian itu hingga akhir hayatnya.
Fanatisme sempit ini bisa menjangkiti semua individu dalam masyarakat. Yang terdidik ataupun yang tidak, tua maupun muda, pria dan juga wanita. Kejadian ketika pendukung Trump yang tidak terima dengan kekalahan jagoannya dan menyerbu gedung DPR Amerika Serikat, dapat dijadikan contoh lain dalam membenarkan alasan ini.
Padahal warga negara Amerika Serikat menurut CNBC termasuk kedalam lima besar masyarakat yang paling terdidik di dunia dan menurut CEOWorld pada tahun 2020 negara ini adalah peringkat kedua di dunia sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik.
Bahkan menurut YouGov America pada tahun 2018 ada 11 persen warga negara adi kuasa itu yang percaya bahwa mungkin Bumi itu datar.
Alasan kedua adalah masifnya penyebaran pandangan tentang Bumi datar itu. Baik lewat media sosial maupun lewat pengaruh orang –orang terkenal yang mendukung pendapat ini. Menurut YouGov, YouTube menjadi aplikasi yang paling berperan dalam menambah jumlah pendukung Bumi datar. Ketika seseorang terus menerus melihat sebuah video dan mendengar pernyataan yang di sampaikan dengan baik, maka mungkin saja orang tersebut menyetujui dan percaya dengan narasi video itu. Walaupun isi video itu salah dan bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang diakui.
CNN pernah menayangkan iklan tentang sebuah apel yang diakui oleh sebagian besar orang-orang bahwa memang itu adalah buah apel. Tetapi ada beberapa orang yang menyatakan bahwa buah apel itu adalah buah pisang dan teman-teman mereka juga mendukung serta menyatakan bahwa buah itu memang buah pisang dan bukannya buah apel. Hal itu dilakukan berulang-ulang dan kemudian sebagian besar orang yang percaya bahwa buah itu adalah apel mulai dilanda keraguan.
Survei yang di lakukan oleh Texas Tech Unversity juga mengungkap bahwa 29 dari 30 orang pendukung Bumi datar awalnya percaya Bumi itu bulat. Akan tetapi karena seringnya mereka menyaksikan video tentang Bumi datar dari YouTube, keyakinan mereka pun berubah.
Alasan yang ketiga adalah sebagian orang lebih percaya apa yang dikatakan dan ditulis oleh orang-orang awam yang banyak pengikutnya di media sosial dibanding dengan para pakar yang ahli dibidangnya. Pendukung bumi datar lebih percaya apa yang dikatakan oleh Eric Dubay di YouTube dibanding dengan para pakar yang sudah di akui keilmuannya. Galileo Galilei, Johannes Keppler, Issac Newton, Carl Sagan dianggap oleh mereka mengemukakan teori yang salah.
Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tom Nichols, seorang professor di US Naval War College dalam bukunya Matinya Kepakaran.
Alasan keempat adalah adanya kecenderungan manusia untuk diakui, diberikan penghargaan dan dikenal oleh orang banyak. Alasan ini saya kemukakan karena pernah diceritakan kisah nyata saudara dari seorang teman. Yang bersangkutan adalah seorang penyendiri, temannya sedikit dan tidak mampu bersosialisasi dengan baik dengan orang lain. Sehingga kehadirannya kadang tidak dianggap. Kemudian ia jatuh cinta dengan seorang gadis penyuka cosplay anime. Sang gadis mau menerima cintanya dengan syarat ia harus menyukai cosplay anime, menjadi pelakunya dan juga mempromosikan hal itu lewat media sosial yang di punyainya. Ia akhirnya menerima syarat itu, karena merasa diterima dengan baik, dihargai dan dikenal oleh lebih banyak orang dikelompok tersebut. Walaupun awalnya ia membenci cosplay anime dan orang-orang yang terlibat didalamnya.
Kasus seperti ini saya yakini terjadi juga pada sebagian orang-orang pendukung Bumi datar. Orang-orang yang tidak di terima di lingkungannya. Orang-orang yang sering dibully karena dianggap aneh yang kemudian bergabung dengan kelompok yang menerima keberadaan mereka dengan tangan terbuka, dihargai dan dihormati. Kemudian mereka membalas penghargaan dan penghormatan itu dengan membela kelompok Bumi datar itu mati-matian dari orang-orang yang menyudutkan, sekaligus agar semakin banyak yang mengenal dirinya.
Dasar alasan ini senada dengan teori hirarki Abraham Maslow yang terkenal itu.
Itu empat alasan yang menurut saya berhasil membuat pandangan atau asumsi mengenai Bumi datar itu tidak pernah mati dan bahkan belakangan ini jumlah pendukungnya dikabarkan bertambah banyak. Tetapi saya yakin pada akhirnya kebenaran akan selalu menang. Tinggal bagaimana saya, anda yang percaya bumi itu bulat dan para pakar, punya sikap ilmiah dan tidak diam dalam menyuarakan kebenaran tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Lee McIntyre dalam bukunya The Scientific Attitude : Defending Science From Denial, Fraud and Pseudoscience, bahwa ada dua hal penting dari sikap ilmiah yang harus dipahami, yaitu berpihak pada bukti empiris dan jika ditemukan bukti empiris baru yang membuat teori lama salah maka teori baru tersebut harus diterima sebagai sebuah kebenaran.
#Flatearth