TAK MENGAPA, SEKALIPUN BUMI INI DATAR
Ilmu pengetahuan telah menggiring manusia menjadi makhluk yang benar-benar layak mengelola bumi dengan keaneka ragaman cara berpikir dan melahirkan beberapa perubahan besar dibumi. Aristoteles (330SM), Ptolemeus, Erasthotenes (276 SM-194SM), Columbus (1451-1506) merupakan contoh pemikir yang melahirkan pencerahan tentang bentuk Bumi setelah ribuan tahun manusia berpikir bagaimana bentuk Bumi yang ditempati. Sebuah kewajaran alamiah bagi manusia bertanya bagaimana bentuk rumah yang ia tempati, sehingga sebelum manusia bisa melihat langsung bentuk bumi pasti bermunculan pemikiran bagaimana bentuk bumi yang sebenarnya.
Bumi Itu Benar-benar Datar
Samuel Rowbotham (1816-1884) berani mencetak ribuan pamflet 16 halaman yang mengatakan Bumi adalah cakram datar/astronomi zetetis yang menjadi embrio pemikiran melawan hegemoni Bumi bulat yang sudah berkembang pesat di eropa, terlepas dari sejarah pertentangan ilmu pengetahuan dengan agama yang pernah terjadi dimasa itu, ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan mendapat tempat tersendiri oleh pemikirnya. Gagasan keilmuan kuno (Yunani, India, Cina) yang dianggap salah dimunculkan oleh Samuel Rowbotham dengan teori ilmiahnya yang bersumber dari beberapa penelitian yang ia buat dan menarik perhatian masyarakat terlebih buku berjudul Earth Not Globe disajikan dengan sisi keilmiahan berpikir modern. YouGov Amerika pada 2018 dan FDu 2022 menemukan bahwa 11 persen orang Amerika percaya Bumi ini mungkin datar (CNN Indonesia, 11 Juli 2022), data yang mungkin cukup mengherankan dimasa Live Streaming Badan Antariksa Amerika Serikat/NASA sudah disajikan 24 jam melalui kanal Youtube yang memungkinkan kita bisa melihat bumi secara langsung dari luar angkasa. Bumi itu benar-benar datar adalah pemikiran yang tidak tergoyahkan bagi pemegang mazhab Samuel Rowbotham.
Mengenal Kembali Eksistensi Manusia
Ketika kita membahas teori Bumi bulat dan datar tentunya tidak terlepas dari gagasan Aristoteles yang bersumber dari pengamatan saat gerhana, pengamatan bintang Utara yang letaknya lebih rendah dan berakhir pada perdebatan Geosentris dan Heliosentris. Disini penulis juga ingin melihat permasalahan perdebatan Bumi bulat dan datar dari dimensi lain yaitu filsafat manusia, seperti yang kita ketahui bersama walaupun banyak teori dan hasil observasi yang menguatkan bahwa Bumi bulat tetapi kepercayaan Bumi datar tetap kokoh bahkan organisasi/Flat Earth Society dengan skala luas menyebar keseluruh negara dunia dengan berbasis buku dan teknologi informasi. Aristoteles mengatakan bahwa Bumi bulat juga mengemukakan bahwa manusia adalalah hewan berakal sehat yang mengeluarkan pendapat, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya. Soren Aabye Kiekegaard (1883-1855) menitikberatkan eksistensi manusia pada 3 tahap :
- Tahap Estetis
- Tahap Etis
- Tahap Religius
Penulis ingin melihat permasalahan ini dari sisi tahap religious dimana tahap ini merupakan tahapan berpikir manusia yang tidak membutuhkan rasional dan ilmiah, yang diperlukan adalah keyakinan subyektif misalnya keyakinan manusia terhadap Tuhan, tidak pernah melihat Tuhan namun percaya secara subyektif transenden dan Flat Earth Society berhasil membuat kepercayaan subyektif transenden menjadi fenomena yang ada dikalangan Bumi datar, ini menegaskan pendapat termasyur seorang filsuf rasionalis Blaise Pascal ( 1623-1622) “ Le Couer a ses raisons qui la raison ne connait point”( hati memiliki alasan-alasan yang tidak dimengerti rasio).
Gagasan Bumi datar adalah hasil berpikir manusia yang seharusnya dihormati, cara berpikir ini melahirkan sebuah Hipotesa yang siapapun boleh mengujinya dengan penelitian terbaru dikemudian hari. Mari kita mengingat sejak Einstein mengemukakan pandangan gravitasi bukan hanya ada di Bumi namun juga ada di alam semesta, butuh hampir 100 Tahun bagi peneliti untuk membuktikannya, pada 14 September 2015 LIGO ( laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory) di Amerika menemukan adanya gravitasi alam semesta.
Satu hal yang perlu kita fahami adalah apapun bentuk Bumi ( Bulat, Datar, Segi Empat, Hiperbola), manusia wajib bertanggung jawab menjaga dan memelihara Bumi beserta isinya untuk kehidupan masa depan yang lebih baik.
Https:Journal.unpak.ac.id/index.php/sep
Journal of science education and practice Vol.1 No1.Th 2017
Jurnal ilmu budaya vol.4 No.2 Desember 2016