Flat earth dan Covid – 19
Speak Up! Slogan yang sesuai untuk menyuarakan kebenaran walau awalnya sebuah ilusi bahkan halusinasi. Perdebatan panjang bumi itu datar atau bulat telah dimulai oleh John Hampden (1820 – 1891) dan telah dipublikasi di banyak tempat sejak meninggalkan Oxford tahun 1839. Hampden mendeklarasikan bila bumi itu datar dan dikelilingi oleh es. Lantas bagaimana respon dari teori ini? Banyak tokoh yang memberikan argumen. Seorang professor bidang matematika bernama Augustus de Morgan (1806 – 1871) dari Universitas College London menyebutnya “paradox – yaitu ide aneh yang menyimpang dari pendapat umum baik dari sisi materi, metode maupun kesimpulan”. Seorang Professor Natural Philosophy dari Universitas Edinburg bernama Peter Guthrie Tait (1831 – 1901) menyatakan penyesalannya bila pemuja bumi datar melebihi para ilmuwan sejati. Richard Anthony Proctor (1837 – 1888) justru memberikan argumen bila teori bumi datar dapat menjadi awalan menarik untuk membuka fakta – fakta selanjutnya. Yang terakhir, Direktur Cambridge University Observatory, Sir Robert Stawell Ball (1840 – 1913) malah tidak memberikan pendapat (Garwood, 2001). Dari keempat pendapat diatas, maka setidaknya dapat ditarik kesimpulan sebuah teori atau pendapat pasti akan memberikan kontroversi dengan respon beragam apakah setuju, tidak setuju, diam atau justru tertarik untuk mendalaminya.
Virus Covid – 19 pun demikian. 2 Maret 2020 di Depok, Jawa Barat. Satu orang ternyata positif Covid – 19 karena pada 14 Februari 2020, melakukan kontak erat dengan warga negara Jepang di Malaysia saat perayaan malam Valentine. Pasien ini kemudian menularkan ke orang lain yang tidak lain ibunya sendiri, dirujuk ke RSPI Sulianti Saroso dan positif Covid – 19 pada 1 Maret 2020. Lantas bagaimana respon dari kejadian ini? Laporan Tempo 2 Maret 2021 dengan judul “ Setahun Pandemi Covid – 19, ini kelakar pejabat Indonesia soal Corona “ merangkumnya sebagai berikut. 15 Februari 2020, seorang menteri berkomentar bila Covid – 19 sulit masuk karena perijinannya susah. 17 Februari 2020, seorang menteri lain berkomentar kita kebal terhadap virus karena setiap hari makan nasi kucing. 11 Maret 2020, seorang Gubernur menyebut susu kuda liar mampu menangkal virus. 2 April 2020, seorang menteri lain mengatakan virus ini tidak cocok dengan cuaca di Indonesia. 26 Mei 2020, seorang menteri lain menyatakan virus ini mesti diperlakukan layaknya istri sendiri.
Kontroversi berlanjut dengan program vaksinasi hingga saat ini. 13 Januari 2021, vaksin produksi Sinovac Biotech resmi digunakan. Dan saat ini, sebagian percaya dengan keampuhan vaksin, sebagian tidak percaya, sebagian mulai menyesal karena merasakan tubuhnya tidak lebih sehat malah mudah sakit dan sebagian malah mencari – cari dimana tempat vaksin untuk mempermudah ijin perjalanan.
Hasil penjabaran diatas menggambarkan, sekuat apapun dalil untuk menjatuhkan teori flat earth, sebagian pemujanya tetap akan percaya. Sehebat apapun bukti ilmiah keampuhan vaksin Sinovac, Moderna, Astrazeneca, Pfizer, Jhonson & Jhonson, Sinopharm, Sputnik-V, IndoVac, Inavac, sebagian pemujanya tetap akan percaya vaksin tidak bermanfaat bagi kesehatan. Lantas bagaimana respon dari tulisan ini?
Pertama, Take position, letakan posisi kita terlebih dahulu. Kita akan menjadi siapa? John Hampden, Augustus de Morgan, Richard Anthony Proctor? atau justru kita akan menjadi bagian dari para menteri? Posisi ini menentukan hasil keputusan untuk diri kita saat ini maupun di masa datang. Kedua, Speak Up! Utarakan dengan jelas argumen kita secara tertulis. Ini berguna untuk menentukan kekuatan / kesalahan / kekurangan dan perbaikan yang mesti dilakukan. Ketiga, Upload! Segera berikan balasan atas kekurangan / kesalahan yang teridentifikasi. Keempat, Continue!Terus Speak Up! untuk mendapatkan kontroversi lanjutan.
#flatearth
Daftar Pustaka
Garwood, Christine (2001). Alfred Russel Wallace and the flat earth controversy. Endeavour. Vol 25(4)