Erastothener dan Christopher Columbus: Patahkan Mitos Teori Bumi Datar

profile picture Nirvana Liona

Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah hamparan dataran dan samudra yang dapat terlihat dan di ujungnya terdapat langit yang berwarna kebiruan. Pemandangan fisik bumi secara demikian yang dilihat dengan mata telanjang dari jarak dekat membuat kita berpikir bahwa jika kita terus berjalan tanpa henti, maka suatu saat kita akan menemukan ujung dari suatu sisi bumi. Kendati demikian, benarkah planet yang kita huni sebagai sumber dari kehidupan ini cocok disebut sebagai flat earth?


Dengan diameter 12.742 km, adalah sangat memungkinkan bagi kita untuk melihat garis cakrawala yang berbentuk seperti garis datar yang memanjang luas mulai dari satu ujung ke ujung lainnya dan bukannya berbentuk lengkungan seperti bayangan kita mengenai bentuk bumi yang elips. Jikalau bumi memang benar-benar datar, maka segala dataran tertinggi yang salah satunya seperti dataran tinggi Tibet yang mempunyai ketinggian rata-rata 4.500 m di atas permukaan laut dan mendapat julukan ‘atap dunia’ akan terlihat meski hanya dalam bentuk tanda baca titik karena jaraknya yang sangat jauh dari Indonesia. Karena berevolusi mengelilingi matahari, segala benda yang terkena sinar matahari akan mempunyai bayangan. Di bumi datar, segala bayangan akan mempunyai panjang yang sama dalam setiap detiknya bagian bumi yang satu disinari oleh sinar matahari dan panjang bayangan diakibatkan matahari akan relatif sama. Berbeda halnya dengan bayangan di bumi bulat yang akan menampakkan dirinya menjadi berubah panjang dan jarak di setiap waktu yang terhitung dalam 24 jam penuh. Hal tersebut juga didukung oleh seorang ahli matematika asal Yunani bernama Erastothener yang membuktikan bahwa di setiap siang hari dalam musim panas di wilayah bernama Aswan, matahari akan tepat jatuh di atas kepala dan tidak ada bayangan, sedangkan di siang hari dalam musim panas yang sama dengan wilayah yang berbeda bernama Alexandria, ia melihat bahwa sebatang tongkat di atas tanah membuat bayangan.


Salah satu cerita dari sejarah yang terkenal mengenai pembuktian bahwa bumi itu tidaklah rata juga bisa kita lihat dan baca dari seorang penjelajah dan ahli navigasi asal Italia bernama Christopher Columbus. Kisahnya yang tak sengaja membuktikan bahwa bumi itu benarlah bulat menjadi kontroversial dan banyak yang menganggap bahwa ia memang benar-benar sedang melakukan kegiatan pelayaran untuk membuktikan bahwa bumi itu bulat padahal tidak demikian. Diketahui pelayaran itu dilakukan untuk mengeksplorasi wilayah baru dan dengan tujuan untuk pengukuran luas samudra. Ia memulai pelayaran di tanggal 3 Agustus 1492 untuk mencari kekayaan yang bersifat material, rempah-rempah, dan barang dagangan dari tempat lain. Berangkat dari Spanyol dan bertolak ke arah barat serta memperkirakan Asia (Jepang) hanya berjarak 3.700 km dari Cannary yang sebenarnya berjarak 19.600 km, dalam waktu dua bulan setengah ia beserta kru kapalnya mendarat di San Salvador, salah satu pulau Bahama, dan bukan Hindia Timur seperti yang diperkirakan dan direncanakannya. Beliau pun melanjutkan perjalanan dan mengunjungi pulau yang ia duga sebagai Cina (sekarang pulau Kuba), Hispaniola (sekarang Haiti), dan Jepang (sekarang Republik Dominika).


Teori bumi datar dan bumi bulat sering diperdebatkan, namun nyatanya teori bumi datar telah lama dipatahkan dan itu membuat teori bumi bulat menjadi satu-satunya teori yang kredibel dan dirumuskan berdasarkan fakta yang empiris. Hal demikian bisa membuat kita berpikir matang dan jernih terlebih dahulu sebelum mendebatkan apakah benar bahwa bumi itu datar atau tidak. Terlepas dari keberadaan teorinya yang membuat orang-orang terbagi ke dalam dua kubu, yaitu pro dan kontra, teori bumi datar membuat lebih banyak orang belajar, menelusuri, dan mempelajari sendiri bukti-bukti manakah yang bisa dihubungkan satu sama lain dan darinya menghasilkan satu teori yang relevan dan tepat.

2 Agree 1 opinion
1 Disagree 1 opinion
2
1
profile picture

Written By Nirvana Liona

This statement referred from