Mengkaji Ulang Gagasan Kelanjutan Peradaban Manusia : Planet Yang Bersalah Atau Manusia Yang Minim Kesadaran?

profile picture Fatina Rizka Sahila

Banyaknya bencana alam yang tumpah tindih dan silih berganti memang cukup merisaukan tak hanya di kalangan ahli geologi tetapi juga penduduk sipil yang menetap diatas permukaan bumi. Pasalnya, kondisi bumi yang tidak lagi sehat membuat siapapun dengan mudah mengasumsikan bahwasanya usia planet ini akan berakhir dalam waktu dekat.
Berdasarkan informasi terkini, sudah hampir lebih dari 10 peniliti mengatakan jika usia bumi mengalami perubahan menjadi semakin muda, yakni diperkirakan 70 tahun lebih muda dari prediksi sebelumnya yaitu 4,5 miliar tahun.
Hal ini disebabkan oleh penelitian ilmuwan terhadap proses pembentukan bumi dan unsur-unsurnya lalu mereka membandingkan sejumlah elemen yang terdapat dalam lapisan bumi dengan meteorit yang diperkirakan usianya sama dengan sistem tata surya. Hasil penilitian ini kemudian ditulis dalam jurnal Nature Geosciences.
Kesimpulan penelitian ini mendasar pada hasil mengkaji pengamatan terhadap seberapa lama bumi tumbuh dan berkembang seperti sebuah “embrio planet”. Dari sini peneliti juga melihat bagaimana tabrakan dengan bagian planet lain dapat membentuk planet bumi seperti yang sekarang terjadi. 
Menghadapi pendapat ini kemudian timbul berbagai kontroversi mengenai solusi memindahkan manusia dan makhluk hidup lainnya ke planet mars umtuk menghindari kemungkinan bumi akan segera tutup usia dan hancur. 

Pada akhir Matahari akan mengembang dan menelan Bumi. Manusia harus pergi ke Mars. Ini pasti akan terjadi tetapi tidak dalam waktu dekat," kata Elon musk dikutip dari Daily pada tanggal (21/09/2021). 

Melihat segala aspek kemungkinan pemindahan makhluk hidup ini membuat kita terlupa untuk sekedar mengkaji perilaku manusia terhadap bumi itu sendiri.  Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pendeknya usia bumi sekarang ini, yang tak lain adalah kerusakan yang diciptakan oleh manusia itu sendiri.
Sekitar tiga penelitian sains mengenai dampak buruk dari emisi roket terhadap atmosfer bumi, temperatur dan keadaan lapisan ozon yang telah di publikasikan tahun 2022 ini. 
Para ilmuwan ikut merasa khawatir mengenai partikel karbon yang dapat bertindak seperti sebuah rekayasa-geo yang dapat menyerap energi panas.

Kini, jika kita melihat industri penerbangan luar angkasa, dan proposal dari berbagai pemerintah, maka kita dapat melihat peningkatan peluncuran roket dan emisi hingga 10 kali lipat dalam satu hingga dua dekade ke depan”. ujar Christopher Maloney, peneliti di NOAA Chemical Sciences Laboratory, yang merupakan penulis dari salah satu penelitian. 

Penggunaan sampah galon sekali pakai  yang merebak dan hampir tempat pembuangan akhir (TPA) tampaknya juga berpengaruh buruk pada lingkungan yang berpotensi merusak ekosistem diatas permukaan bumi.

Jika satu galon berisi 20 liter, lanjutnya, maka akan ada 1 miliar galon sekali pakai yang terbuang dan jika dikalikan berat kemasan kosong AMDK galon seberat 799 gram, maka akan ada tambahan 70 ribu ton sampah plastik per tahun dari galon sekali pakai”. Ujar Rachmat Hidayat, Lektor Kepala Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB. 

Menarik sebuah kesimpulan dari berbagai kondisi kerusakan alam, maka pemindahan makhluk hidup tidak lagi menjadi solusi akhir untuk menghindari kehancuran bumi. 
Evaluasi dan gerakan guna mencegah kerusakan terhadap bumi adalah jalan keluar terbaik dalam memperpanjang usia bumi agar bertahan untuk terus menghidupi semua generasi yang sedang berkembang.
Sudahkah kita intropeksi terhadap diri sendiri? mengenai perilaku makhluk hidup yang tidak bertanggung jawab untuk mencegah kerusakan yang menyebabkan dekatnya kehancuran bumi.
Oleh sebab itu tak hanya solusi yang diberikan oleh ilmuwan untuk pemindahan makhluk hidup menuju planet baru, tetapi juga setiap manusia yang tinggal turut membenahi perilaku nya dalam upaya mempertahankan sumber daya alam yang ada di bumi yang saat ini kita tinggali.

35 Agree 0 opinions
1 Disagree 0 opinions
35
1
profile picture

Written By Fatina Rizka Sahila

This statement referred from