“Apa Makna Hari Tani, Sedang Pak Tani Tidak Ingin Generasi Pelanjutnya Jadi Petani”

profile picture Nur Amalia

Pada tanggal 24 September 2022 lalu kembali diperingati sebagai hari tani nasional. Feed Instagram presiden Republik Indonesia, yakni bapak Jokowi ikut merayakan hari istimewa para petani di seluruh Indonesia ini. Postingan beliaupun ditambahkan gambar ilustrasi keadaan yang tengah viral di Indonesia, ditambah dengan nuansa desa yang ramai dengan berbagai permasalahan ajaib, seperti perubahan ekosistem kucing, angsa yang jungkir balik, ladang pertanian yang sempit, perubahan dimensi moral cinta anak-anak, hingga romantisme yang dianggap wajar yaitu laki-laki melamar laki-laki dengan gerobak baksonya, para warga desa yang menonton video intan menyanyikan lagu terlalu syulit, dan banyak hal ganjil lainnya yang ditambahkan kedalamnya. 

Hal ini cukup menarik untuk diperbincangkan di kolom komentar oleh para netizen apalagi ditambah dengan adanya ilustrasi yang katakan saja mencengangkan. Tak hanya itu postingan ini dilengkapi dengan harapan dan doa dari pak Jokowi untuk masyarakat Indonesia utamanya para petani. Ditengah ketidakpastian dan ancaman krisis pangan dunia, sektor pertanian Indonesia bertahan dengan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian. Karena itulah, pemerintah mendukung sektor ini sepenuhnya dengan pembangunan infrastruktur pertanian seperti bendungan, embung, dan jaringan irigasi di seluruh tanah air, pendampingan dalam pemanfaatan teknologi, membuka akses permodalan, dan sebagainya.  Semua ikhtiar di lakukan untuk demi mendorong produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani-petani Indonesia. Ungkap Pak Jokowi di postingan akun instagram pribadi beliau.

Apakah statement ini sudah sesuai dilapangan? atau hanya sekedar opini belaka ungkapan penenang ditengah krisis perekonomian bangsa yang sebenarnya. Sejatinya pertanian Indonesia belum di remajakan secara nyata. Sebab sampai saat ini citra pertanian kurang bergengsi dan belum bisa memberikan imbalan yang memadai. Sebagai bukti walaupun pemerintah gempar mensosialisasikan petani milenial, namun cukup disayangkan jika kita melihat secara empiris milenial sekarang justru tidak ingin menjadi petani.

Hal ini juga di dukung bahwa sudah menjadi pengetahuan umum di wilayah perdesaan petani umumnya adalah orang-orang desa yang berusia di atas 50 tahun, yang saat ini kebingungan memikirkan bagaimana keberlanjutan usaha tani mereka, karena nyaris tidak ada anak-anaknya yang mau meneruskan pekerjaan yang sudah mereka tekuni dan warisi dari generasi ke generasi. Ironisnya pula, sebagian besar orang tua di perdesaan juga tidak menginginkan anak-anak mereka bekerja di desa sebagai petani sebagaimana pekerjaan mereka saat ini. Hasil kajian BI (2014) menyatakan hasil dari suatu survei di Cina, dari seluruh contoh survei, tidak ada satu pun orang tua sebagai petani yang mengharapkan anaknya menjadi petani seperti mereka. Ditambahkan pula tenaga kerja yang bermigrasi ke kota sebagian besar adalah pemuda, dan sekitar 84,5% belum pernah terlibat kegiatan di sektor pertanian, serta sekitar 93,6% berniat tinggal di kota. (Susilowati,2016).

Masalah yang melatarbelakangi hal ini adalah lahan yang semakin sulit sebab banyak dialih fungsikan menjadi jalanan, harga pupuk dan benih yang mahal, subsidi pun menjadi langka, sedangkan harga jual panen yang murah. Petani kecil bisa apa, selain berjudi secara nekat dengan mengandalkan benih, dan pupuk alami seadanya, dengan harapan menang lotre yaitu panen yang melimpah, padahal plot twistnya hasilnya akan sama saja. Petani kecil macam ayah dan ibu saya tentu saja tidak akan menginginkan anaknya bekerja 7 hari dalam hitungan hari lengkap. Mereka berpanas-panasan dengan hasil seadanya. Inilah yang dikatakan pemerintah mendukung penuh sektor pertanian Indonesia? Sedangkan banyak petani yang tidak tersentuh oleh bantuan yang dikatakan pendukung secara menyeluruh tersebut.

Saya paham betul, bagaimana pedihnya air mata seorang pak tani mengalir karena gagal panen, hama dan kekeringan. Sedangkan anak-anaknya harus segera membayar sekolah, bantuan tidak akan selalu merata. Apalagi bagi kami yang hitungannya terpencil. Pak tani menelan keringatnya sendiri, mengayuh pelan sepedanya sembari membawa sayuran ke kota dengan harapan harga jual akan ia dapatkan lebih banyak. Tapi, ironisnya pak tani hanya dapat harga murah. Modal dan usaha tidak sesuai dengan hasil. Beda bapak ibu, petani desa dengan petani yang sokongannya di utamakan oleh pemerintah dan punya cukup modal usaha. Beda bapak ibu, antara petani yang punya banyak bantuan, pelatihan ini dan itu, dengan petani yang hanya mengandalkan kebun kecil itupun bersengketa karena ingin dibangun jalan raya oleh pemerintah. Beda bapak ibu, kami hanya petani kecil yang hak-haknya hanya di suarakan lewat nyanyian mahasiswa yaitu buruh tani.

Ayah kami adalah petani terhormat, menanam benih dengan keringat dan kerja keras tanpa henti. Ayah kami adalah petani terhormat, mencangkul tanah lewat air mata dan harga diri. Ayah kami adalah petani yang mencintai tanah air dan menjaga baktinya menyokong perekonomian Indonesia sampai menuju masa keemasan. Ayah kami adalah petani kuat, yang menopang biaya hidup dan pendidikan kami agar hidup sejahtera dengan tidak hidup sebagai petani kecil sepertinya.

Selamat Hari Tani, Untuk Para Petani Yang Berdedikasi Untuk Negeri.

Sumber: 

1.Instagram @Jokowi 

2. Sri Hery Susilowati, 2016. Farmers Aging Phenomenon and Reduction in Young Labor: Its Implication for Agricultural Developmen. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 1

3. Opini Pribadi

17 Agree 4 opinions
0 Disagree 0 opinions
17
0
profile picture

Written By Nur Amalia

This statement referred from