FENOMENA SPIRIT DOLL: KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD

profile picture イルマ

FENOMENA SPIRIT DOLL: KAJIAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
Irma Nurherawati
[email protected]

ABSTRAK
Artikel ilmiah ini memuat kajian tentang fenomena Spirit doll menurut psikoanalisis Sigmund Freud, yang bertujuan untuk mengkaji fenomena ini dalam dunia psikologi. Isi global dari artikel ini adalah pemahaman dasar psikoanalisis, persepsi umum tentang fenomena Spirit Doll itu sendiri, serta mengenal kepribadian manusia menurut psikoanalisis. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah metode studi literature dengan  cara membaca serta mempelajari berbagai buku maupun jurnal-jurnal ilmiah yang relevan dan utama yang berkaitan dengan kajian. Dan hasil penelitian dari artikel ini yaitu, menurut Sigmund Freud (1856-1939) dan putranya Anna Freud (1895-1982), perilaku negatif ini disebut mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) yang dikenal dalam dunia psikologi. Spirit Doll yang banyak dianggap menakutkan ini adalah faktor yang mengklasifikasikannya sebagai Das es (bawaan dari aspek biologis). Dengan munculnya era informasi ini, sebaiknya manusia lebih mengutamakan rasionalitas, kecerdasannya, atau menggunakan akal sehatnya. Alih-alih menyempurnakan logika lebih jauh, kita malah selalu menyangkalnya dengan mengingkari atau melindungi diri dengan menghilangkan realitas yang ada. Sebagai jalan keluar dari mentalitas kita yang sensitive, maka tak heran jika berita hoax mudah diterima.

Kata kunci: Spirit Doll; Psikoanalisis

ABSTRACT
This scientific article contains a study of the Spirit doll phenomenon according to Sigmund Freud's psychoanalysis, which aims to examine this phenomenon in the world of psychology. The global content of this article is a basic understanding of psychoanalysis, general perceptions of the Spirit Doll phenomenon itself, and knowing human personality according to psychoanalysis. The method used in writing this article is a literature study method by reading and studying various books and scientific journals that are relevant and major related to the study. And the research results from this article are, according to Sigmund Freud (1856-1939) and his son Anna Freud (1895-1982), this negative behavior is called a self-defense mechanism, which is known in the world of psychology. This Spirit Doll which many consider scary is the factor that classifies it as Das es (innate from the biological aspect). With the advent of this information age, humans should prioritize rationality, intelligence, or use their common sense. Instead of refining logic further, we always deny it by denying or protecting ourselves by eliminating the existing reality. As a way out of our sensitive mentality, it is not surprising that hoax news is easily accepted.

Keyword: Spirit Doll; Psychoanalyst


PENDAHULUAN
Pada akhir 2021 muncul sebuah tren mengadopsi Spirit Doll atau boneka arwah yangpopular di kalangan artis Indonesia. Berbeda dengan boneka pada umumnya, boneka ini lebih mirip seperti bayi juga diisi dengan arwah anak kecil yang sudah meninggal. Meskipun baru popular di Indonesia tetapi di Thailand fenomena ini sudah ada sejak 2016 yaitu tren adopsi Luuk Thep (boneka malaikat anak) yang dipelopori oleh artis Thailand yang bernama Bookko . Ia memberi nama bonekanya dengan nama Wan Sai yang memiliki arti “hari yang baik”
Sama seperti boneka arwah di Indonesia, karena Luuk Thep juga diisi oleh arwah anak-anak. Kehadiran roh anak ini yang menajadi keberuntungan bagi pemiliknya. Hal ini yang membuat fenomena Luuk Thep menyebar bukan hanya di kalangan selebritis melainkan menyebar ke kalangan masyarakat. Menurut penduduk di Thailand, seseorang yang mengadopsi Luuk Thep baik bonekanya atau pemiliknya akan diberkati oleh biksu dalam sebuah ritual suci. Setelah diberkati, boneka tersebut akan diberi tanda lahir, kemudian diberi nama dan diasuh layaknya naka manusia sungguhan. 
Seiring berjalannya waktu, fenomena Luuk Thep menurun karena dan yang mengklain bahwa sebagian dari boneka arwah ada yang memiliki ilmu hitam, ada sebagian pemilik Luuk Thep yang memiliki niat jahat untuk mengutuk orang lain dengan menggunakan boneka itu. Selain itu, mulai muncul keraguan dari masyarakat yang mengadopsi boneka arwah, karena ketika mereka merawat boneka arwah maka selamanya juga mereka harus melakuakan perawatan layaknya anak sungguhan. Tak banyak dari mereka kemudian menelantarkan dan meninggalkan boneka mereka di kuil.
Ternyata tidak hanya di Asia, fenomena Spirit Doll juga terjadi di beberapa Barat seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Di Barat fenomena ini dikenal dengan sebutan Reborn Doll, boneka ini terbuat dari silikon, dan memiliki tampilan sama persis seperti manusia. Fenomena ini bahkan sudah terjadi pada akhir 1980. Berbeda dengan Spirit Doll dan Luuk Thep, Rebon Doll tidak diisi oleh arwah anak, namun boneka ini dibentuk dengan kemiripan yang sangat sama dengan anak manusia sehingga sering disebut boneka asli tapi paslu. Boneka ini tidak hanya banyak koleksi, tetapi juga jadi media tempat penyembuhan atau terapi bagi seseorang yang tidak dapt memilki anak, kehilangan anak, atau seseorang tidak memiliki keberanian dalam mengadopsi anak. 
Di Barat Reborn Doll bahkan dijadikan media berlatih bagi calon orangtua. Menurut sebagian masyarakat di sana, kehadiran Reborn membuat pemiliknya merasa nyaman dan damai, orang yang awalnya merasa kesepian pun terobati dengan adanya kehadiran sang boneka. 
Dilakukannya penelitian ini karena masih banyak orang yang mengadopsi Spirit Doll maupun orang tidak mengadopsinya itu belum memahami bahwa fenomena ini dapat berkaitan dengan ilmu psikologi atau psikoanalisis. Dengan demikian, permasalahan yang akan dituntaskan dalam penelitian ini yaitu, menggali lebih dalam lagi mengenai fenomena Spirit Doll, mencari informasi untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai ahli psikoanalisis Sigmund Freud, dan mengenali berbagai struktur kepribadian manusia menurut psikoanalisis Sigmund Freud, serta dapat memahami fenomena Spirit Doll ini sendiri menurut kajian psikoanalisis Sigmund Freud.

METODE PENELITIAN 
Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah studi literatur. Studi literature merupakan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data data serta untuk mengungkapkan bahan pembahasan dalam penulisan artikel ini. Studi literatur dilakukan dengan cara membaca serta mempelajari berbagai buku maupun jurnal-jurnal ilmiah yang relevan dan utama yang berkaitan dengan kajian sehingga kemudian dilakukan analisis untuk menghasilkan ide atau gagasan penulis.

PEMBAHASAN 
Spirit Doll
Spirit Doll adalah boneka yang digunakan berkaitan dengan hal-hal spiritual atau mistis seperti meditasi. Boneka ini biasanya dipajang di altar gereja atau menjadi objek pengabdian. Belakangan ini Spirit Doll  digunakan sebagai media penyembuhan atau healing, proses ini dilakukan dengan membuat sendiri boneka tersebut sesuai dengan keinginan, dengan merawat boneka ini diyakini dapat menyembuhkan batin seseorang. Sementara itu, psikolog Stephani Raihana menjelaskan bahwa fenomena ini muncul karena mereka memiliki hasrat ingin merawat dan memelihara sesuatu. Sedangkan menurut para ulama menegaskan jangan merawat boneka dengan memperlakukannya seperti anak. Apabila boneka tersebut diyakini menjadi tempat arwah, hukumnya tidak boleh memlihara makhluk halus, jika disembah musyrik dan jika berteman pun sama saja berteman dengan jin.
Fenomena Spirit Doll atau mengadopsi boneka arwah tengah sangat ramai dibicarakan oleh kalangan atas khusunya oleh selebritis Indonesia. Spirit Doll merupakan boneka yang menyerupai bayi serta dirawat layaknya seorang anak. Spirit Doll ini sangat mirip dengan fenomena Luuk Thep di Thailand, hanya saja boneka Luuk Thep ini tidak hanya digunakan unuk media penyembuhan atau healing melainkan dipercaya bahwa boneka ini telah dirasuki oleh arwah anak kecil yang dapat membawa keberuntungan, sehingga peminatnya bukan hanya dari kalangan selebritis melainkan dari masyarakat setempat juga banyak yang mengadopsi dan merawat boneka ini. 
Menurut Sindung (Dosen Filsafat UGM) mengatakan bahwa Spirit Doll ini memiliki dua kategori, yaitu: 
Digunakan untuk penyembuhan atau healing bagi seseorang yang sulit mendapatkan anak.
Digunakan untuk kejahatan seperti santet.
Namun, fenomena Spirit Doll zaman sekarang jauh berbeda dengan dulu, baik dari segi wujud, makna, dan fungsi. Namun hal ini tak bisa terlepas dari kontroversi yang melekat pada boneka itu sendri atas popularitas boneka arwah di Indonesia. Isu yang kerap disorot adalah dari boneka arwah itu sendiri karena berisi roh anak kecil yang sudah meninggal, maka imbasnya yaitu pemilik boneka dicap sebagai penyembah setan, pemuja dajal, klenik, dan musyrik. Masyarakat pun banyak yang beraganggapan negatif karena hal ini tidak wajar, lebih baik mengadopsi anak yang terlantar daripada merawat boneka selayaknya manusia. Di sisi lain, sikap yang menggap benda mati seolah menjadi nyata itu sama aja dengan upaya menghilangkan batas anatara permainan dan realita.
Namun tidak dapat dipungkiri, di sisi lain hobi mngoleksi boneka juga memiliki dampak positif bagi pemiliknya. Menurut psikolog Inggris Lee Chambers mengatakan bahwa boneka dapar memberikan kenyamanan, ketenangan, kedamaian, dan stabilitasi pertama ketika pemiliknya sedang menghadapi masa sulit (Hains, 2021). Kehadiran boneka pun dapat membantu seseorang untuk tidak merasa terisolasi dan kesepian. Hobi didorong oleh imajinasi supaya membangun realita hidup baru bersama boneka setelah menghadapi masa sulit bagi seseoarang. Interaksi pemilik dengan boneka secara potensal dapat menjadi media terapi. Di Kanada, mengoleksi boneka dilakukan secara intens, karena bukan hanya sebagai hiburan melainkan juga menambah relasi pertemanan.
Bagi orang dewasa memiliki banyak boneka merupakan wujud dari eskapisme dan nostalgia masa kecil (Yano, 2013). Selain memebrikan kenyamanan dalam mengontrol emosi, mengoleksi boneka juga dapat menjadi pereda stress dan hiburan saat diri merasa kesepian. Serta disebutkan bahwa orang dewasa tidak hanya sedang menikmati masa pubernya, melainkan mereka juga sedang berusaha mencari tahua apa tujuan hidupnya dengan mengenang peristiwa yang pernah mereka alami, salah satu caar yang dapat dilakukan yaitu melalui permainaan masa kanak-kanak seperti boneka (Ignacio dan Cupchik, 2021).

Psikoanalisis Sigmud Freud
Psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya sebagai studi tentang fungsi dan perilaku psikologis manusia. Awalnya, istilah psikoanalisis hanya digunakan sehubungan dengan Freud, sehingga "psikoanalisis" dan "psikoanalisis Freud" memiliki arti yang sama. Kemudian, ketika pengikut Freud menyimpang dari ajarannya dan mengambil jalan mereka sendiri, mereka meninggalkan istilah psikoanalisis dan memilih nama baru untuk ajaran mereka. Contoh terkenal adalah Carl Gustav Jung dan Alfred Adler, yang masing-masing menamakan ajaran mereka mengenai "Psikologi Analitik" dan "Psikologi Individu". 
Psikoanalisis memiliki tiga kegunaan, yaitu: 
1. Cara mempelajari pikiran manusia.
2. Ilmu yang sistematis tentang perilaku manusia. 
3. Cara merawat kondisi mental atau emosional manusia 
Teori psikoanalisis dikembangkan oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis dapat dianggap sebagai sekolah teknik terapeutik dan psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara tentang kepribadian, terutama dalam kaitannya dengan struktur, dinamika, dan perkembangannya.

Fenomena Spirit Doll Menurut Kajian Psikoanalisis Sigmund Freud
Dalam psikoanalisis ada berbagai struktur kepribadian. Struktur ini terdiri dari tiga elemen yaitu:
Das es yang berasal dari pembawaan dan beraspek pada biologis.
Das ich yang berasal dari hasil interaksi lingkungan dan beraspek pada psikologis
Das ueber ich berasal dari internaliasi nilai-nilai dari gambaran yang berpengaruh dan beraspek pada sosiologis

Spirit Doll sendiri sangat berkaitan dengan salah satu dari tiga struktur tersebut, yaitu Das es. Spirit Doll yang banyak dianggap menakutkan ini adalah faktor yang mengklasifikasikannya sebagai Das es. Dengan munculnya era informasi ini, sebaiknya manusia lebih mengutamakan rasionalitas, kecerdasannya, atau menggunakan akal sehatnya. Alih-alih menyempurnakan logika lebih jauh, kita malah selalu menyangkalnya dengan mengingkari atau melindungi diri dengan menghilangkan realitas yang ada. Sebagai jalan keluar dari mentalitas kita yang sensitif. Maka tak heran jika berita hoax mudah diterima. 
Perilaku negatif ini disebut mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) dalam dunia psikologi, teori ini diperkenalkan oleh psikolog Sigmund Freud (1856-1939) dan putranya Anna Freud (1895-1982). Menurutnya, ketika kita menghadapi situasi yang sulit atau tidak menyenangkan (entah itu karena kondisi sosial, politik atau ekonomi), maka yang ada dalam pikiran kita adalah cara untuk melarikan diri dari kenyataan yang ada. Pada dasarnya, manusia selalu secara naluriah menghindari emosi dan hal-hal negatif. Misalnya sedih, malu, kecewa, takut, marah. 
Pada masa ini, manusia membentuk mekanisme pertahanan diri. Namun mekanisme ini bukanlah cara untuk menyelesaikan masalah, melainkan reaksi alami jiwa terhadap masalah yang dihadapi. Perasaan sedih, malu, dan sebagainya tidak sepenuhnya hilang dari ingatan kita. Namun, itu hanya ditekan atau didorong untuk menghindar dari perasaan itu. Justru jika kita menganggap metode ini sebagai sikap pemecahan masalah, itu menjadi masalah. 
Ada tujuh mekanisme pertahanan diri manusia, yaitu:
Denial, reaksi ini terjadi dalam upaya untuk melindungi dirinya sendiri, meskipun dia tahu apa yang dia lakukan salah. Misalnya, dia mengaku menggunakan zat adiktif hanya di bawah tekanan. 
Represi, reaksi ini terjadi karena situasi di depan kita tidak terkendali. Jadi dia mencoba untuk melupakannya atau tidak mau mengakuinya sama sekali. Misalnya, seseorang yang tidak sengaja dirugikan. 
Regresi, reaksi ini ditandai dengan mundurnya keadaan mental seseorang dengan perilaku kekanak-kanakan. Seperti terisak-isak setelah dimarahi atau memeluk boneka seharian hanya karena putus. 
Prediksi, reaksi ini muncul dari kenyataan yang tidak dapat diterima dan menyalahkan orang lain. Misalnya, seseorang yang membenci rekan kerja ketika mereka harus bekerja sama di tempat kerja. Kemudian dia menuduh bahwa rekannya tidak menyukainya. 
Dirasionalkan, reaksi ini meminta maaf seolah-olah apa yang dilakukannya tidak salah dan mencari pembenaran dengan nama lain. Misalnya, dia selalu terlambat ke kantor dengan alasan rumahnya jauh dan kemacetan terus berlanjut. 
Sublimasi, reaksi di mana emosi negatif diubah menjadi positif. Misalnya, setelah bertengkar dengan istri, kamu lebih memilih untuk mencuci mobil untuk meredakan amarah Anda. 
Pengalihan, reaksi ini kebalikan dari perpindahan dan sublimasi. Karena mereka mencari objek lain yang bisa menjadi sasaran ledakan emosi. Misalnya, memukul tembok dan frustrasi lalu pergi ke luar yang membuatnya lebih rileks

Jadi apa hubungan tujuh mekanisme ini dengan fenomena Spirit Doll? Memang, kecenderungan terhadap keadaan mental yang "sensitif" di beberapa bagian masyarakat kita mengungkapkan bahwa ada perasaan pikiran bawah sadar kita bahwa kita tidak dapat menerima kenyataan ketika datang untuk mencapai kemajuan orang lain. Akibatnya, beberapa anak di negara ini menderita inferiority complex. 
Mental yang belum siap bersaing untuk menghindari persaingan menjadi "lebih sensitif" ketika dikritik, akhirnya selalu menyangkal, menyalahkan orang lain, mengecewakan orang lain, membenarkan diri, atau berperilaku seperti anak kecil. Bukan dengan mengambil sisi positif atau sublimasi, apalagi menggunakan akal sehat. 
Maka tak heran jika selalu ada penganut fenomena “halusinasi”, seperti munculnya kerajaan asing, investasi bodong yang distimulasi oleh istilah agama, samapai adanya  keberadaan Spirit Doll ini dan selalu saja banyak peminatnya. Karena "mereka" membutuhkan pujian, perhatian, validasi, dan persetujuan dari orang lain sebagai dorongan dari mentalitas inferiority complex.

KESIMPULAN
Fenomena Spirit Doll atau mengadopsi boneka arwah tengah sangat ramai dibicarakan oleh kalangan atas khusunya oleh selebritis Indonesia. Spirit Doll merupakan boneka yang menyerupai bayi serta dirawat layaknya seorang anak. Namun hal ini tak bisa terlepas dari kontroversi yang melekat pada boneka itu sendri atas popularitas boneka arwah di Indonesia.
Psikoanalisis adalah disiplin ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya sebagai studi tentang fungsi dan perilaku psikologis manusia. Psikoanalisis dapat dianggap sebagai sekolah teknik terapeutik dan psikologi. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara tentang kepribadian, terutama dalam kaitannya dengan struktur, dinamika, dan perkembangannya. 
Spirit Doll sendiri sangat berkaitan dengan kajian psikoanalisis ini. Spirit Doll yang banyak dianggap menakutkan ini adalah faktor yang mengklasifikasikannya sebagai aspek biologis. Perilaku negatif ini disebut mekanisme pertahanan diri. Pada dasarnya, manusia selalu secara naluriah menghindari emosi dan hal-hal negatif. Perasaan sedih, malu, dan sebagainya tidak sepenuhnya hilang dari ingatan kita. Justru jika kita menganggap metode ini sebagai sikap pemecahan masalah, itu menjadi masalah. Mental yang belum siap bersaing untuk menghindari persaingan menjadi "lebih sensitif" ketika dikritik, akhirnya selalu menyangkal, menyalahkan orang lain, mengecewakan orang lain, membenarkan diri, atau berperilaku seperti anak kecil. Bukan dengan mengambil sisi positif atau sublimasi, apalagi menggunakan akal sehat. Maka tak heran jika selalu ada penganut fenomena “halusinasi”, adanya keberadaan Spirit Doll, karena "mereka" membutuhkan pujian, perhatian, validasi, dan persetujuan dari orang lain sebagai dorongan dari mentalitas inferiority complex.

DAFTAR PUSTAKA
https://pmb.brin.go.id/tren-adopsi-boneka-era-modern-dari-mistis-hingga-terapeutik/
Bertens, K. 2016. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: Gramedia 
Ja’far, H. 2015. Struktur Kepribadian Manusia Perspektif Psikologi dan Filsafat. Psymathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(2), 209-221.
 

2 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By イルマ

This statement referred from