Polemik BBM yang Tak Kunjung Usai
Demonstrasi akan kenaikan Bahan Bakar Minyak atau yang dikenal dengan BBM kerap menjadi pemandangan dari masa ke masa. Mulai dari kaum buruh, “emak-emak” dan juga mahasiswa tak hentinya turun ke jalan. Mereka seolah menyuarakan kegelisahan yang dirasakan masyarakat golongan menengah ke bawah. Abaikan saja kaum elit yang menunggangi kondisi tersebut demi kepentingan pribadi. Para demonstran tentu berharap agar upaya mereka membuahkan hasil. Aspirasi mereka didengar dan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah tatkala memutuskan kenaikan harga BBM.
Bukan tanpa alasan rakyat kerap menjerit saat desas desus harga BBM akan naik. Karena kenaikan BBM akan “mengajak” kenaikan harga lainnya. Mulai dari biaya transportasi, bahan pangan dan lainnya. Sementara gaji yang diterima belum tentu naik seiring dengan kenaikan harga-harga tersebut. Bayangkan saja jika tanpa kenaikan BBM sudah banyak rakyat yang hidup pas-pas an setiap harinya, maka setelah kenaikan tersebut, akan lebih banyak rakyat yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Jeritan rakyat Indonesia semakin keras saat ini mengingat kondisi perekonomian di Indonesia baru saja merangkak pulih imbas pandemic yang melanda hampir seluruh dunia. Banyak orang yang terkena pemutusan hubungan kerja, pengusaha menengah hingga bawah banyak yang harus gulung tikar. Tak ketinggalan pengusaha besar pun mengalami penurunan pendapatan. Tentu kenaikan BBM saat ini banyak dinilai kurang tepat oleh masyarakat dan juga pengamat politik.
Kenaikkan harga BBM akan membuat inflasi melejit. Analis Makroekonomi Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan, inflasi pada akhir tahun ini akan melejit. Bahkan, peningkatan inflasi tidak akan berhenti sampai setidaknya paruh pertama tahun 2023. “Akhir tahun 2022 inflasi umum bisa ke 6,1% YoY. Kemudian inflasi aka terus meningkat dan puncaknya pada kuartal II-2022, kami perkirakan inflasi bisa mencapai 7,4% YoY,” tutur Faiz kepada Kontan.co.id Tak hanya inflasi umum yang melejit, Faiz pun memperkirakan inflasi inti atau inflasi secara fundamental bisa terkerek. Menurut perkiraannya, inflasi inti pada tahun 2022 akan berada di level 5% YoY.( https://nasional.kontan.co.id/news/harga-bbm-naik-inflasi-tahun-2022-bisa-tembus-6).
Namun, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara berpendapat bahwa hanya dalam waktu satu hingga dua bulan, inflasi dapat teratasi dan kembali pada pola semula. Hal tersebut membuat Suahasil memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi pasca kenaikan harga BBM tidak membuat pemerintah menjadi pesimis akan pertumbuhan perekonomian di Indonesia. (https://www.liputan6.com/bisnis/read/5060813/harga-bbm-naik-siap-siap-inflasi-september-oktober-2022-meroket). Karena saat ini pemerintah menilai jika harga BBM tidak dinaikkan maka beban subsidi akan semakin memberatkan.Tidak hanya itu, pemberian subsidi pun dinilai tidak tepat sasaran. Mereka yang seharusnya tidak memeroleh subsidi justru memerolehnya, sementara rakyat yang memerlukan tidak mendapatkan subsidi tersebut.
Memang saat ini pemerintah pun mengalami polemik dalam memutuskan kenaikan harga BBM. Pemerintah menimbang banyak hal sebelum memutuskan hal tersebut. Namun memang pemerintah tidak mungkin mampu memuaskan seluruh lapisan masyakarat. Harus ada yang mau menerima dengan lapang dada keputusan tersebut. Sayangnya, lagi-lagi kaum kecil yang harus mengalah dan menerima keputusan pemerintah. Demonstrasi yang dilakukan para demonstran seolah tidak ada gunanya. Jerik lelah dan teriakan rakyat seolah dianggap angin lalu belaka.
Saat ini sebagai seorang pelajar, mungkin saya belum merasakan terlalu dalam dampak kenaikan harga BM, tetapi orang tua saya yang bekerja sebagai supir ojek online merasakan dampak yang cukup signifikan. Selain pemasukan yang relatif sama bahkan cenderung menurun, pengeluaran untuk membeli bahan bakan semakin tinggi. Itu baru dari segi pembelian bahan bakan. Belum lagi dapur yang harus mengebul setiap harinya. Sebut saja beberapa bahan dasar makanan pokok seperti beras, telur dan bawang-bawangan. Tak ketinggalan ukuran tahu dan tempe yang semakin mengecil setiap waktunya. Itu semua sudah cukup membuat para orang tua memutar otak lebih dan lebih lagi.
Itulah realita yang harus diterima sebagai warga negara Indonesia. Jika kita tidak terima dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, carilah negara lain yang sejalan dengan pemikiran kita. Namun tentu pilihan tersebut bukanlah pilihan yang tepat. Justru ditengah kenaikan harga BBM ini kita dituntut untuk lebih kreatif dan mampu memberikan pemikiran yang inovatif bagi keberlangsungan hidup bersama. Tidak melulu mengeluh dan menyalahkan sana-sini, tetapi bagaimana kita mampu bangkit dan bertahan dalam situasi sesulit apapun.
Terlebih kita sebagai generasi muda penerus bangsa. Melakukan protes dan merasa tidak puas akan kinerja pemerintah sah-sah saja. Namun apa upaya kita selanjutnya? Kita tentu perlu memberikan masukan-masukan yang bijaksana bagi pemerintah. Bersyukur kita hidup di Indonesia karena rakyat masih diberi kebebasan berpendapat. Asas demokrasi masih dijalankan dengan baik di Indonesia. Maka pakailah itu sebagai sarana untuk bersama-sama memikirkan langkah terbaik. Bagi rakyat, dan juga bagi pemerintah.