Mental Health Matters, Tameng Sempurna Bagi Kaum “Baperan”

profile picture titania_sih

Mental health atau kesehatan mental menjadi topik yang hangat diperbincangkan baru - baru ini. Masyarakat di era sekarang menaruh perhatian besar terhadap kesehatan mental. Hal tersebut memang selayaknya dilakukan mengingat betapa bahayanya mental yang tidak sehat bagi hajat hidup seseorang. Ada berbagai penyakit mental yang umum diderita. Diantaranya, gangguan kecemasan, depresi, gangguan kepribadian, psikosomatis, PTSD (Stress Pasca Trauma), disosiatif, kontrol impuls, dan masih banyak lagi.

Penyakit gangguan mental tidak kalah berbahaya dari penyakit fisik kronis seperti jantung, gagal ginjal, tumor, kanker, dan lain sebagainya. Apabila tidak diatasi, gangguan mental dapat menyebabkan komplikasi serius, baik pada fisik, emosi, maupun perilaku. Beberapa komplikasi yang bisa muncul dari tidak teratasinya gangguan mental adalah lenyapnya perasaan bahagia, timbulnya konflik dalam keluarga, kesulitan  menjalin hubungan dengan orang lain, terasing dari kehidupan sosial, dan yang terparah adalah terpicunya seseorang untuk melakukan bunuh diri (Pittara, 2022).

Bunuh diri sendiri merupakan epik yang mengerikan dari akhir kesehatan mental. Kasus bunuh diri layak mendapat perhatian, sebab telah menduduki peringkat ke - 18 dunia dari penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Berdasarkan WHO Health Estimates, estimasi jumlah kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia adalah 793.000 pada tahun 2016 atau 10,6 kematian per 100.000 penduduk atau 1 kematian tiap 40 detik (Ismandaria, 2019). Angka fantastis tersebut tentunya harus segera didegradasi sebelum berpotensi menurunkan jumlah populasi. 

Mengingat berbagai dampak mengerikan dari gangguan mental, tidaklah berlebihan jikan mental health matters mendapatkan banyak perhatian. Perhatian ini tentunya memiliki banyak dampak baik, seperti meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan mental, segera teridentifikasinya gangguan mental yang diderita seseorang, tergaungnya slogan love yourself dan self respect demi menjaga kesehatan mental pribadi, dan tumbuhnya rasa empati demi menjaga kesehatan mental orang di sekitar. 

Disamping memiliki dampak baik, perhatian besar terhadap mental health matters juga memiliki efek buruk. Diantaranya adalah menjelmanya isu tersebut menjadi tameng pelindung bagi situasi tidak menguntungkan. Situasi yang dimaksud, misalnya menjadi pihak yang kalah dalam perdebatan, dimarahi atasan, mendapat kritikan atas kesalahan, dan lain sebagainya. Mental health matters sering dijadikan alat untuk memaksa lawan debat mengalah dan atasan memakhlumi kesalahan. Bahkan, dengan berlindung pada istilah tersebut, orang lain akan menjadi segan untuk menyampaikan kritikan.

Tradisi memakai mental health matters sebagai tameng, justru akan membahayakan kesehatan mental pemakainya. Mental pemakainya akan rapuh, sehingga sulit mengatasi situasi - situasi sepele yang semestinya tidak harus sampai mengusik ketenangan batin. Orang yang selalu bersembunyi di balik istilah mental health matters lama - lama akan overthingking terhadap segala sesuatu. Sehingga, candaaan dianggap cemoohan, teguran lembut serasa bentakan, dan kritikan membangun dianggap ujaran kebencian. Pada akhirnya, terlahirlah sosok yang sensitif, baperan (mudah terbawa perasaan), dan selalu menuntuk pemakhluman.

Kita tidak dapat mengukur dan memastikan ketahanan mental seseorang. Bisa jadi mereka yang terlihat tegar sebetulnya tengah depresi. Atau mereka yang terlihat depresi hanya sedang mendepresikan diri. Sikap apatis terhadap kesehatan mental memang suatu kejahatan. Namun, memanfaatkan empati orang lain justru lebih kriminal. Menjaga kesehatan mental pribadi tidak selayaknya dilakukan dengan sikap oportunis terhadap istilah mental health matters. Sebab, sikap tersebut justru dapat melemahkan mental dan mengganggu kenyamanan orang - orang di sekitar. Untuk menjaga kesehatan mental kita cukup menjadi pribadi yang peduli dan positif. Peduli terhadap kesehatan mental orang - orang di sekitar, dan positif dalam memandang segala kepelikan hingga tidak mengganggu ketenangan mental pribadi.

2 Agree 1 opinion
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By titania_sih

This statement referred from