Tips Masak Mie Instan ala Nabi Muhammad SAW

profile picture Alifah Zahra

Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain.” [Q.S Al-Insyirah: 7]

Konsisten, menurut penulis kata ini menjadi satu daun kecil yang dapat mendefinisikan potongan ayat diatas.

Konsisten sendiri memiliki arti ketika seseorang dapat menjalani suatu hal secara terus-menerus, fokus dan berkesinambungan.

Banyak ulasan yang mengatakan bahwasanya tidak dapat dikatakan produktif jika hanya melakukan banyak hal tanpa tujuan yang jelas atau biasa disebut dengan sibuk. Jadi sudah jelas produktif dan sibuk tentu memiliki marga yang sangat berbeda.

Melirik latar belakang Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih, utusan dan seorang yang paling mulia disisi Allah SWT. Dalam hal ini kita dapat mengaitkan konsistensi dalam proses memasak mie instan dengan produktivitas Rasulullah.

Produktif bukan berarti sibuk

Setiap orang pasti ingin memiliki tujuan yang jelas dari setiap aktivitas yang mereka lakukan, banyak orang yang melabeli bahwasanya jika mengerjakan banyak hal dalam satu waktu maka ia sudah pantas disebut si paling produktif. Meski tanpa tujuan yang mereka susun secara jelas dan tidak berminat sama sekali untuk bersilaturahmi dengan konsisten.

Mungkin ada juga orang yang sibuk karena memang proses dari produktivitasnya, akan tetapi dalam hal ini yang menjadi main cast nya adalah kualitas.

Orang produktif pasti akan lebih cenderung pada jalan prosesnya sampai ia dapat bersanding dengan tujuannya, alhasil tujuan yang ia dapatkan pun akan memiliki nilai dengan eksistensi kualitas yang dapat diperhitungkan.

Berbeda dengan seorang yang sekedar sibuk tanpa latar belakang produktif, tujuan hanya menjadi hubungan tanpa kepastian. Kualitas sudah tidak ada harganya di sini, jadi nilai sibuknya ya ketika ia mencari jalan pintas untuk mencapai tujuan saja.

Produktivitas bagi Rasulullah itu seperti apa sih?

Seperti sebaris kalimat pembuka di atas, Rasulullah SAW adalah panutan bagi seluruh makhluk-Nya terutama umat Islam.

Jadi Allah pun hadirkan Nabi Muhammad SAW menjadi seorang yang penuh akan pelajaran-pelajaran berharga dalam kehidupan beliau.

Salah satunya produktif, tak ayal jika Rasulullah menjadi seorang yang sangat bersih dari dosa. Beliau selalu dapat menjalani hari-hari sesuai prosedur yang telah Allah SWT tentukan, jadi produktif pastinya akan selalu terlaksana di setiap kondisinya.

Cara Nabi Muhammad menghandle soal produktivitas ini salah satunya yaitu dimulai dari menjadikan ibadah sebagai patokan utama untuk melanjutkan hal-hal yang lainnya, jadi di sini beliau memposisikan ibadah yang akan diikuti urusan dunia bukan urusan dunia yang mendikte ibadah.

Kemudian selanjutnya Rasulullah juga selalu menjadikan waktu sebagai anugerah terindah yang Allah berikan, beliau akan memaksimalkan penggunaan waktu dengan sebaik mungkin tanpa ingin bersahabat dengan rasa malas serta berbesan dengan keluarga tunda menunda.

Juga selalu menggunakan kesempatan sebaik mungkin dan selalu ramah dengan proses muhasabah diri, sehingga kehidupan ini menjadi terasa sangat berarti.

Mie instan juga punya jiwa konsisten

Singkatnya memetik makna dari idiom di atas, bahwa segala nya tidak ada yang instan. Sekalipun itu mie yang sudah mendapatkan label instan, ada prosedur dalam memasak nya dan pula dibutuhkan konsisten dalam setiap proses nya.

Jadi semua butuh waktu ada prosesnya, ada ujiannya, ada pengorbanannya. Begitu pula dengan menjalani hidup secara produktif kita tidak akan mendapat kualitas yang baik tanpa konsisten yang mau setia menemani produktivitas kita. Kualitas adalah suatu hal yang tidak akan pernah bisa didapatkan secara main-main, ingin serapat apapun suatu celah itu ditutup jika tanpa tujuan dan keseriusan yang jelas maka hanya akan menghasilkan mie yang tersaji setengah matang dengan bumbu yang lengkap.

Wallahua'lam

Pict by
psikologid.com

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By Alifah Zahra

This statement referred from