Pro Kontra Harga Tiket Masuk Kawasan Wisata
Semasa kecil pasti kita sering diajak wisata oleh kedua orang tua kita, entah itu di Kebun Binatang atau ke tempag wisata lainnya. Kesan wisata semasa kecil memang susah dihilangkan dari ingatan. Tentang pembelajaran baru, wawasan baru, dan keindahan Negeri tercinta ini tentunya. Semasa kecil kita memang tidak perlu memikirkan biaya untuk wisata apalagi untuk Harga Tiket Masuk. Namun bagaimana jika kita sudah menjadi orang tua dan ingin mengajak anak kita melakukan wisata, ternyata Harga Tiket Masuk sudah mengalami kenaikan yang membuat kita berfikir ulang untuk berwisata ke tempag itu. Yuk kita bahas.
Kenaikan Harga Tiket Masuk Kawasan Wisata
Beberapa waktu yang lalu kita mendengar berita bahwa adanya kenaikan Harga Tiket Masuk (HTM) di kawasan Candi Borobudur yang bertempat di daerah Magelang Jawa Tengah. Selang satu bulan kemudian tepatnya pada akhir Juli 2022, pemerintah kembali mengumumkan kenaikan HTM untuk Kawasan Wisata Pulau Komodo. Lalu bagaimana sih kita menanggapai hal ini? Apakah ini sesuatu yang menguntungkan atau justru memberatkan para wisatawan?
Pendapat Dari Masyarakat
Sebenarnya pada kasus kenaikan HTM ini banyak terjadi pro kontra. Untuk kawasan Candi Borobudur diberlakukan HTM sebesar Rp.750.000 untuk wisatawan lokal, selain pelajar. Hal ini tentu sangat memberatkan bagi para masyarakat setempat, khusunya masyarakat yang beragama Budha dan ingin melaksanakan ibadah disana. Padahal sudah ada tradisi untuk warga setempat untuk mendaki ke atas candi sebagai salah satu bentuk ibadah mereka. Mereka menganggap, kenaikan tarif ini hanya menguntungkan orang-orang kaya karena mereka tentu saja bisa membangun bisnis di kawasan ini. Tapi untuk masyarakat setempat hal ini sangatlah berat. Ibarat hanya ingin beribadah harus membayar sebesar itu.
Begitupun untuk Kawasan Wisata Pulau Komodo, HTM tetapkan kisaran Rp.3,5 juta. Namun ini tidak terlalu bermasalah karena memang yang datang berkunjung adalah orang orang yang bertujuan untuk berwisata. Banyak turis yang berwisata ke Pulau Komodo karena sudah terkenal di dunia. Sedikit berbeda dengan Candi Borobudur. Walaupun Candi Borobudur juga sudah mendunia, tetapi banyak masyarakat yang masih menggunakan Kawasan Candi Borobudur sebagai tempat untuk beribadah.
Pendapat Dari Pemerintah
Dari segi pemerintah , sebenarnya hal ini dilakukan untuk meningkatkan pariwisata Indonesia. Agar wisatawan asing lebih menghargai dan mengenal tempat-tempat wisata di indonesia. Dengan menaikan HTM tentu perawatan Kawasan Wisata ini juga akan ditingkatan. Ini juga salah satu upaya pemerintah dalam menjaga dan melindungi kawasan wisata dan cagar alam Indonesia.
Dalam hal ini pemerintah tentu tidak serta merta menaikkan HTM tanpa adanya pertimbangan yang baik. Namun jika kurangnya komunikasindengan masyarakat apalagi bersinggungan langsung dengan masyarakat sekitar pasti akan terjadi Pro dan Kontra.
Kesimpulan
Dengan adanya penjelasan yang lebih baik dari pemerintah, mungkin masyarakat akan lebih mengerti tentang tujuan dari dinaikannya Harga Tiket Masuk Kawasan Wisata ini. Sehingga masyarakat tidak serta merta berpikiran buruk tentang kebijakan ini.
Seharusnya pemerintah juga memberi kelonggaran untuk masyarakat yang ingin melakukan ibadah. Karena mereka berkunjung bukan sebagai wisatawan tentunya. Dan mereka sudah melakukan tradisi itu turun temurun. Jadi agak mengejutkan juga kalau sekarang ibadah harus membayar HTM.
Kalau menurut kalian gimana dengan kebijakan ini?