Diam Kamu!! Masih muda tau apa?

profile picture Yani

sumber ilustrasi: hukumonline.com

Pemuda pemegang label sebagai Agent of Change (agen perubahan) yang selayaknya berhak menyuarakan, mengaktulisasikan argumentasi dan aksi namun kontradiktif yang ada terus memaksa untuk bungkam dan diam. 

Pemuda pada saat ini tentu menjadi penentu nasib dan masa depan suatu bangsa. Karena tidak bisa dipungkiri pemuda yang akan menerima estafet perjuangan dari generasi-generasi sebelumnya. Bahkan pemuda dilabeli sebagai Agent of Change (agen perubahan). Pemuda akan mengantongi banyak amanah untuk menentukan arah dan nasib bangsanya. Perubahan yang terjadi dimasa yang akan mendatang tentunya berkaitan erat dengan pemuda dan aksi nyatanya. 

Tidak diragukan, sebagian pemuda saat ini telah mempunyai kepekaan terhadap kondisi bangsanya. Mengkritisi, mengawasi dan bahkan mencegah terjadinya suatu hal yang dirasa buruk untuk masa depan bangsa. Bahkan pemuda berani menyuarakan pendapat dan memprotes penyimpangan yang terjadi dalam sistem negara. Ibarat bom waktu yang siap meledak, pemuda menyimpan banyak energi yang siap dibakar kapan saja. Pemuda mempunyai pengaruh yang besar. Contoh salah satu aksi nyata pergerakan pemuda Indonesia adalah ketika ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) berunjuk rasa di sekitar Istana Merdeka dan Gedung DPR, Senin, 11 April 2022.  Mereka menuntut dan menolak kebijakan baru pemilu, kebijakan masa jabatan 3 periode saat itu yang tentunya menyimpang dari konstitusi yang ada sebelumnya. Ini adalah salah satu bentuk nyata upaya pemuda untuk merubah nasib bangsanya. 

Contoh lain bentuk kontribusi pemuda seperti kiprah-kiprah pemuda Indonesia dalam memerdekakan Negara ini. Bung Tomo, Bung Hatta, Ir. Soekarno, Sutan Syahrir, dan lain-lain rela mengorbankan harta, bahkan mempertaruhkan nyawa mereka untuk kepentingan bersama, demi kemerdekaan Indonesia.

Namun tak ayal, seringkali pemuda masa kini hanya dianggap remeh temeh. Hanya sebatas manusia-manusia yang  berlabel “belajar”. Bahkan seringkali pemuda diposisikan sebagai manusia yang terus diajari. Apakah harus demikian?. Mungkin memang benar pemuda layaknya seorang pembelajar. Namun lebih tepat lagi bahwa semua orang harus terus belajar, tanpa kecuali. Dari yang tua, muda, berpengalaman atau tidak, seharusnya semua punya hak sama. Hak untuk bersuara maupun hak untuk didengar suaranya. Namun mengapa sekarang banyak orang berkata “pemuda tau apa?” atau “lebih baik diam saja, kamu masih muda!”, seolah-olah pemuda selalu dituntut untuk menyerah dengan apa yang menjadi kehendak orang yang lebih tua yang (katanya) lebih dalam hal pengalaman maupun keilmuan. Namun apakah bekal pengalaman saja bisa dijadikan jaminan. Tentu tidak, tidak selalu hal yang dirasa benar adalah yang terbaik.  Manusia harus saling berkaca. 

Lantas suatu tanda tanya besar ketika pemuda yang memegang mandat untuk menjadi agen perubahan, namun harus dipaksa diam dan pendapatnya lebih banyak diacuhkan. Ada yang salah dengan hal ini. Atau mungkin inilah yang membuat pemuda-pemuda tidak memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Terlalu banyak anggapan bahwa pendapatnya tidak akan mampu menyamai orang-orang yang mempunyai kiprah lebih lama. Lalu apa yang harus dilakukan?

Ini juga terkait mentalitas pemuda dan bagaimana seharusnya semua orang memperhatikanya. Mari kita bertolok kepada kisah Usamah Bin Zaid. Ketika beliau berumur 18 tahun sudah ditunjuk oleh Rasulullah untuk menjadi panglima perang, bahkan memimpin barisan yang didalamnya terdapat tokoh-tokoh senior seperti Umar Bin Khattab, Abu Bakar, dan Ali bin Abi Thalib. Usamah mendapat keistimewaan yang sangat luar biasa, bahkan dia mendapat kepercayaan penuh dari Rasulullah pada waktu itu. Salah satu poin keteladanan yang seharusnya mampu kita contoh dari Rasulullah seperti kepercayaan. Jika Rasulullah saja tidak pernah meragukan pemuda lalu bagaimana dengan kita?  

Mungkin kita beralih dari sejarah, ada ungkapan yang diucapkan Sang Proklamator Ir. Soekarno, “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia.” Dari kata-kata itu menunjukkan harapan bahwa masa depan sebuah peradaban atau bangsa itu ditentukan oleh para pemuda sebagai generasi penerus bangsa. Jika kita mau berpikir dan merefleksikan Bung Karno hanya membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang menurutnya memiliki potensi yang besar untuk mampu membuat wajah baru untuk Indonesia. Pemuda begitu diandalkan karena memiliki karakteristik semangat yang berapi-api dan kuat. Ibarat waktu pemuda adalah panasnya matahari jam 12 siang. Cahanya paling terang, paling panas dan paling berapi-api. 

Tidaklah peradaban dipikul oleh generasi muda. Jangan buat pemuda lemah dengan segala keraguan. Jangan pernah kita mengabaikan pemuda-pemuda dan menganggap bahwa mereka tak mampu mengahasilkan karya-karya terbaik untuk bangsa. Angka usia bukanlah sebuah kelemahan. Pemuda harus selalu didukung dan dibersamai langkahnya. Potensi besar pemuda perlu dikembangkan dan dibangkitkan kesadarannya, maka pemuda dapat berperan secara maksimal dalam kontribusi dan aksi  untuk menggerakkan potensi-potensi dan sumber daya yang ada dalam masyarakat serta untuk kemajuan bangsa.

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By Yani

This statement referred from