Fenomena Victim Blaming Pada Kekerasan Seksual

profile picture disttsr

 “Kenapa kamu baru lapor sekarang?”
 “Kenapa kamu pulang malam?”
 “Kamu saat kejadian kenapa hanya diam?”

Beberapa pertanyaan seperti di atas kerap kali kita dengar terlontar untuk para korban atau penyintas kekerasan seksual. Boleh jadi pertanyaan itu hanya sebatas “ke-kepoan” dari orang di sekitarnya atau malah pertanyaan dari petugas berwenang. Terlepas dari siapapun yang bertanya dan apapun maksudnya, secara tidak langsung, pertanyaan itulah yang membuat korban merasa disudutkan dan berakhir tidak berani untuk berbicara. Inilah yang dinamakan fenomena victim blaming

Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang fenomena victim blaming, mari kita ketahui terlebih dahulu apa itu kekerasan seksual. Kekerasan seksual pada hakikatnya tidak hanya sebatas pada tindakan pemerkosaan. Menurut Kemendikbud kekerasan seksual merupakan perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan atau menyerang fungsi reproduksi seseorang karena adanya ketimpangan relasi kuasa dan atau gender. Jadi, dapat diketahui bahwa tindakan fisik, non fisik verbal maupun non verbal yang bersifat asusila atau seksual dapat termasuk kekerasan seksual. 

Fenomena victim blaming ini seringkali terjadi pada korban atau penyintas kekerasan seksual, tidak jarang pula membuat para korban menyalahkan dirinya sendiri, seakan-akan berani untuk mengungkap kasus sama dengan mencemarkan nama baik pribadi atau bahkan membongkar aib sendiri. 

Sebenarnya, apakah benar, berani melaporkan kasus kekerasan seksual bagi korban berarti mengungkap aibnya sendiri? Bagaimana menurut anda, setuju atau tidak setuju?

Menurut saya jawabannya tentu tidak. Tapi tak jarang jawaban dari korban justru adalah iya, karena seperti yang kita lihat dari beberapa kasus yang ada, melaporkan kasus justru sering membuat korban semakin tertekan dan menerima banyak penghakiman. Pada akhirnya banyak korban memilih bungkam dan banyak kasus yang berakhir tanpa penyelesaian. Maka tak heran apabila kasus ini sering diibaratkan dengan gunung es. Kasus yang hanya nampak sedikit di permukaan, padahal kenyataannya terdapat banyak kasus serupa yang tidak terungkap. 

Adanya victim blaming juga membuat banyak pelaku kekerasan seksual tidak mendapat hukuman yang seharusnya mereka dapatkan. Bukannya merasa jera pelaku justru akan terus memakan korban lain atau bahkan bertindak semakin berbahaya. Apabila terus menerus dibiarkan, hal ini akan menjadi normalisasi bagi pelaku kekerasan seksual dan tentunya ketidakadilan bagi korban. 

Mengapa victim blaming dapat terjadi? 

Maraknya budaya rape culture dapat menjadi pemicu terjadinya victim blaming. Rape culture ini merupakan situasi dimana pemerkosaan atau pelecehan seksual dianggap wajar dan normal. Victim blaming adalah salah satu contoh tindakan rape culture. Sadar ataupun tidak rape culture ini sudah berkembang di sekitar kita. 

Contoh paling sederhana selain dari maraknya victim blaming adalah pemakluman adanya catcalling. Perlu diketahui bahwa catcalling juga merupakan tindakan pelecehan seksual. Catcalling yang sering berisi ujaran merendahkan atau panggilan serta siulan untuk menggoda wanita, kini sering dianggap wajar. 


“Hai cantik, hai seksi.”
“Sendirian aja nih?”

Kalimat-kalimat catcalling seperti di atas sering dibenarkan dengan alasan bahwa itu hanyalah sebuah bentuk pujian atau candaan. Tapi catcalling bukanlah pujian ataupun candaan, kebanyakan dari catcalling bersifat menggoda dan mengintimidasi wanita. Selain itu, pujian juga dapat diberikan dengan cara-cara yang lebih sopan. Jadi, stop bersembunyi dibalik kalimat “It’s just a compliment” hanya untuk mencari pembenaran. 

Dapat kita lihat di zaman sekarang dimana budaya catcalling banyak bertebaran dan terus dilakukan pemakluman. Hal ini merupakan salah satu contoh nyata adanya rape culture

Adanya rape culture ini juga didukung dengan budaya patriarki. Sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai otoritas tertinggi atau utama. Ketimpangan gender atau kuasa inilah yang mendukung adanya rape culture serta sering menjadi penyebab maraknya kekerasan seksual. 

Alasan lain terjadinya victim blaming yaitu tertanamnya pemikiran bahwa penyebab kekerasan seksual adalah korban. Sehingga, alih-alih menilik pelaku dan mencari apa alasannya, kebanyakan masyarakat lebih memilih menilik korban dan melihat apa pemicunya serta melupakan kondisi yang sebenarnya. Seperti mengomentari bagaimana cara mereka berpakaian atau apakah mereka tidak mencoba membela diri.

Lagi-lagi normalisasi pelaku kejahatan, era new normal yang sangat memprihatin⁠⁠⁠⁠⁠⁠kan.


Lalu, bagaimana cara menghindari dan mencegah victim blaming?

Stop pertanyaan yang menyudutkan korban. Korban sudah cukup mendapatkan trauma psikis dari adanya kekerasan seksual. Apakah perlu menambah beban korban dengan melakukan victim blaming?

  • Cukup dengarkan korban
    Dengarkan korban tanpa ujaran menyudutkan. Sehingga, ketimbang membuat korban menjadi self-blaming kita justru dapat membantu korban untuk berani berbicara.
  • Ajak korban menemui tenaga profesional. 
    Bila diperlukan ajak korban menemui tenaga profesional untuk menghilangkan trauma psikis yang dimiliki korban. 
  • Stop pernyataan bahwa kekerasan seksual terjadi karena salah korban.
    Stop berpikir bahwa korban adalah pelaku kekerasan seksual tanpa mengetahui kondisi sebenarnya. Jika bisa, justru bantulah korban melaporkan pelaku. 
  • Last but not least, mulai lakukan dari diri sendiri. 
    Hal yang tidak kalah penting yaitu mulailah untuk tidak melakukan victim blaming dari diri sendiri. Hindari menghakimi secara sepihak tanpa tahu kondisi yang terjadi.

Victim blaming dapat dikatakan sebagai tindakan yang mendukung pelecehan seksual, hal tersebut tentunya harus kita hindari. Jangan biarkan victim blaming berujung self blaming pada korban. Mari dukung korban agar korban berani untuk berbicara.

Stop pelecehan seksual, hindari victim blaming sebagai bentuk penegakan keadilan.

Referensi : 
Ristek, Kemendikbud. (2020). Apa itu Kekerasan Seksual? diakses dari  kemendikbud.go.id:https://merdekadarikekerasanseksual.kemendikbud.go.id

2 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By disttsr

This statement referred from