HARGA BARANG DAN JASA TURUN DRASTIS TAPI MALAH MEMBUAT HIDUP JADI LEBIH MIRIS? KOK BISA?

profile picture Muhclis

Bayangkan jika harga daging sapi yang hari ini mecapai Rp135.000,00/Kg turun 60% menjadi Rp54.000,00/Kg atau bayangkan jika harga cabe rawit yang kini mecapai Rp100.000,00/Kg turun 50% menjadi Rp50.000,00/Kg. Dan bayangkan lagi jika harga komoditas lainnya seperti mobil, baju, smartphone turun drastis dari harga wajarnya. Tentunya anda akan merasa sangat senang bukan? Apalagi jika anda termasuk orang yang konsumtif. Kalau harga komoditas menjadi murah meriah, maka kita bisa menyisihkan pendapatan kita lebih banyak dan/atau kita bisa lebih mampu membeli lebih banyak barang ataupun jasa. Karena harga-harga komoditas sudah mulai turun, apakah ini berarti kondisi ekonomi kita lagi bagus?belum tentu, bahkan ini berarti ekonomi kita itu lagi turun drastis dalam sudut pandang ekonomi makro.

Fenomena penurunan harga disebut deflasi atau bisa juga disebut dengan inflasi negatif. deflasi itu kebalikan dari inflasi kalau inflasi adalah fenomena kenaikan harga, maka deflasi ini adalah fenomena penurunan harga. inflasi dan deflasi itu bisa berbahaya secara ekonomi kalau kadarnya sudah berlebihan. Keduanya dapat sama-sama menyebabkan krisis ekonomi walaupun gejalanya bertolak belakang, contohnya kita bisa lihat krisis ekonomi akibat hiperinflasi di Venezuela sejak tahun 2016 dan krisis ekonomi akibat deflasi parah di Amerika di tahun 1930-an. Kenapa ya deflasi bisa menyebabkan krisis ekonomi? Kalau dipikir-pikir bukannya seharunya malah bagus kalau harga barang-barang itu jadi murah? Sebenarnya tidak salah. Tetapi dalam menilai ekonomi makro kita itu harus memahami bahwa ekonomi itu tidak bisa dilihat dari sudut pandang konsumen saja tapi dari sudut pandang produsen juga. Ingat! setiap uang yang kita belanjakan adalah penghasilan bagi orang lain, artinya apa? Fenomena ini adalah tanda bahwa penghasilan masyarakat semakin menurun dan kalau hal ini tidak segera ditanggulangi maka dapat berpotensi menjadi deflasi spiral yang sangat berbahaya. 

Sebelum kita bahas lebih jauh tentang dampak dan bahaya deflasi yang berlebihan. Kita perlu mengetahui dulu akar permasalahannya. Hal pertama yang perlu kita tahu adalah kenapa ya harga barang dan jasa itu bisa turun? Apa sih yang bikin para pedagang itu terpaksa menurunkan harga barang dagangannya? penyebabnya itu bisa jadi dua faktor yang pertama adalah ketersediaan barang itu berlebih atau biasa disebut dengan over supply dan faktor kedua adalah permintaan terhadap barang atau jasa itu menurun atau biasa disebut dengan low demand. Yang jelas berbahaya itu adalah faktor yang kedua yaitu menurunnya permintaan dari konsumen. Penyebabnya itu bisa karena berbagai faktor tapi umumnya disebabkan karena daya beli konsumen yang semakin menurun. Penurunan daya beli konsumen bisa dipicu oleh berbagai hal. Ini bisa terjadi karena peredaran uang yang macet gara-gara ada kredit utang macet yang skalanya sangat besar seperti yang terjadi di Amerika tahun 2008, bisa juga karena kondisi setelah perang seperti yang terjadi di Eropa tahun 1920-an atau bisa juga gara-gara wabah pandemi seperti di tahun 2020.

Terlepas dari apapun penyebab turunnya daya beli konsumen, deflasi itu bisa jadi semakin berbahaya kalau sudah berubah menjadi deflasi spiral. Di mana turunya daya beli konsumen memicu menurunya transaksi perdagangan. Aktifitas perdagangan yang menurun ini membuat para pengusaha terpaksa menurunkan harga. Dan harga yang turun ini memicu kerugian bagi pemilik usaha. Lalu, kerugian usaha tersebut akhirnya memicu PHK massal, dan PHK massal ini memicu pengangguran dan banyaknya pengangguran itu akan kembali memicu daya beli konsumen yang semakin menurun dan seterusnya. Rantai sebab-akibat ini bisa terus berputar semakin parah, sehingga disebut dengan deflasi spiral. Lebih parah lagi kalau penurunan ekonomi itu memicu kredit macet, baik dalam skala individu, skala perusahaan ataupun sampai skala negara. Karena tentu saja penurunan transaksi itu efeknya bisa ke mana-mana dari penurunan penghasilan sebuah keluarga, penurunan pemasukan di perusahaan, sampai pada penurunan pendapatan pajak di sebuah negara. 

Dan kalau kondisi itu terus berlarut-larut, maka secara teknis sebuah negara bisa mengalami yang namanya resesi. Di mana resesi itu ditandai dengan penurunan pertumbuhan GDP atau Pendapatan Domestik Bruto sampai ke level negatif selama 2 Kuartal berturut-turut. Ironisnya efek psikologis yang ditimbulkan juga bisa semakin memperparah deflasi spiral yang terjadi, di mana masyarakat cenderung menunda belanja dan para pengusaha tidak mau mengambil keputusan keuangan untuk menghindari risiko bisnis. 

deflasi spiral yang terjadi bisa makin parah. puncak dari skenario terburuk deflasi spiral adalah kalau penurunan harga-harga ini sudah sampai ke industry kebutuhan makanan pokok. Bayangkan bagaimana susahnya para petani, peternak dan nelayan yang terus merugi karena harga jual produk mereka menjadi sangat murah. Sampai-sampai mereka memutuskan untuk tidak bekerja lagi. Dalam beberapa kasus bahkan terdapat para petani yang mengambil hasil pertanian seadanya buat kebutuhan mereka sendiri dan sisa hasil panen lainnya dibakar atau dibiarkan membusuk begitu saja karena ongkos panen dan transportasinya bisa jadi lebih mahal daripada harga jual yang sudah terlalu murah. Jika tidak ada hasil pangan yang diproduksi, maka dapat memicu wabah kelaparan di berbagai tempat seperti yang sempat terjadi ketika great depression melanda Amerika tahun 1930-an.

Jadi, sekarang pertanyaannya apa solusi yang bisa dilakuin untuk mencegah atau meredam dampak dari deflasi spiral ini? kuncinya sebetulnya cuma satu yaitu transaksi perdagangan harus digenjot lagi supaya ekonomi bisa bangkit. Kalau transaksi perdagangan dapat ditingkatin secara signifikan, maka dapat memutus rantai deflasi spiral, para pengusaha bisa kembali aktif berbisnis, para pengangguran bisa kembali mendapatkan pekerjaan, daya beli konsumen naik, dan transaksi perdagangan juga bisa pulih lagi.

Beberapa hal yang biasanya diupayakan oleh pemerintah untuk membangkitkan kembali gairah ekonomi yaitu :

  1. Meningkatkan suku bunga acuan sampai ke level yang sangat rendah, nol atau bahkan negatif. Apa tujuannya? supaya para pengusaha berani untuk meminjam uang ke bank untuk modal usaha dan akhirnya menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. 
  2. Menyetak uang dan uangnya disalurkan ke sektor-sektor produktif yang menyerap tenaga kerja. Cara ini adalah kebijakan yang dilakukan pemerintahan Franklin D Roosevelt di Amerika tahun 1930-an untuk memerangi great depression. Dalam sejarah ekonomi, kebijakan Roosevelt ini dikenal dengan nama The New Deal.
  3. Bank Sentral melakukan pembelian terhadap surat-surat berharga di pasar uang seperti obligasi, surat Bank Indonesia, dan surat berharga pasar uang. Dengan membeli surat-surat berharga tersebut, maka jumlah uang yang beredar di perekonomian akan semakin banyak. Di Indonesia, kebijakan ini dikenal dengan nama Operasi Pasar Terbuka. Sedangkan kalau di luar negeri biasa dikenal dengan istilah quantitative easing. 
  4. Melakukan penetapan cadangan minimum atau reserve requirement policy, yaitu dengan menurunkan cadangan minimum kas yang harus dipenuhi oleh bank. Dengan turunnya cadangan minimum kas harus dipenuhi oleh bank umum. Jadi bank umum dapat menyalurkan lebih banyak uang kepada para peminjam buat modal usaha. 
  5. Meringankan tarif pajak penurunan tarif pajaknya membuat masyarakat punya lebih banyak uang. Dengan lebih banyaknya uang yang dimiliki masyarakat, diharapkan hal tersebut bisa meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat.

selain kelima point yang telah disebutkan di atas, sebenarnya masih banyak kebijakan lain yang bisa dilakuin seperti meningkatkan aktivitas belanja negara, menaikan upah minimum, dll. Dan sebenarnya semua tujuannya itu sama yaitu untuk membangkitkan kembali transaksi ekonomi, meningkatkan lapangan kerja, dan meningkatkan produktivitas yang sebelumnya menurun. 

Tetapi, tentu aja hal ini tidaklah mudah. Kalau salah mengambil kebijakan atau salah ukur takaran bisa-bisa malah timbul masalah baru seperti inflasi yang tinggi atau bisa juga terjadi korupsi anggaran secara besar-besaran. Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat juga harus punya pengetahuan ekonomi yang baik supaya kita bisa lebih cermat dalam membuat keputusan keuangan sekaligus bisa mengawal pemerintah secara demokratis dalam membuat keputusan ekonomi yang tepat sasaran untuk bisa menanggulangi masalah ini.

Jadi kesimpulannya adalah kita tidak bisa menilai fenomena naik atau turunya harga barang dan jasa dari satu sisi saja. Karena suatu fenomena dapat mendatangkan keuntungan kepada pihak yang satu dan dapat mendatangkan kerugian kepada pihak lainnya. Dan sebenarnya fenomena ini tidak dapat menjadi suatu masalah serius jika perubahannya tidak berlebihan.

72 Agree 4 opinions
2 Disagree 0 opinions
72
2
profile picture

Written By Muhclis

This statement referred from