#TepokBulu2022: Menelisik Potensi Influencer sebagai Health Promoter
Pertengahan tahun 2022, Indonesia kembali heboh oleh sajian hiburan terbaru dari sepasang komedian Vincent dan Desta, yakni Tepok Bulu 2022. Tepok Bulu 2022 merupakan pertandingan bulutangkis yang dibagi menjadi pertandingan ganda putri sebagai partai pembuka dan pertandingan tunggal putra. Pesertanya pun melibatkan beberapa artis dan influencer kenamaan Indonesia. Alhasil, laga tersebut menjadi trending topic di Twitter dan Youtube.
Trending topic bermakna banyak dibicarakan, begitu pula viralnya laga Tepok Bulu di kalangan netizen. #TepokBulu2022 bisa melonjak ke tangga puncak trending minggu ini karena didukung antusiasme para netizen terhadap pasangan Raisa Andriana-Anya Geraldine melawan pasangan Erika Carlina-Hesti Purwadinata pada pertandingan ganda putri.
Eits, tahukah kalian?
Nyatanya, Tepok Bulu yang juga rangkaian ketiga dari ‘Vindes Sport’ bukan sekadar hiburan semata. Terselip kampanye sosial berupa #ArenaWarga yang mendorong masyarakat Indonesia untuk menggunakan lapangan sekitar pemukiman warga sebagai sarana berolahraga—salah satunya melalui olahraga bulutangkis. Melalui diadakannya laga itu, diharapkan bulutangkis semakin populer dimainkan masyarakat sekaligus menunjang perilaku hidup sehat.
Bisakah Influencer Memengaruhi Masyarakat Berperilaku Hidup Sehat?
Per tanggal 05 Juli 2022, sejumlah 6.000.000 orang sudah menyaksikan siaran langsung pertandingan Tepok Bulu 2022. Bulutangkis yang notabene cabang olahraga kebanggaan Indonesia di kancah internasional dipadukan dengan para influencer populer yang berkesempatan menjadi atlet. Kombinasi nan menarik tersebut berhasil memikat jutaan orang agar terfokus pada berlangsungnya pertandingan dengan intensi utama, yakni bulutangkis dan influencer.
Bagaimana hubungan antar kedua hal tersebut?
Berolahraga bulutangkis adalah upaya melakukan aktivitas fisik. Jika sering bermain bulutangkis, kita telah mewujudkan salah satu perilaku hidup sehat! Dikutip dari Pedoman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (Pedoman PHBS) tahun 2018, PHBS adalah kumpulan perilaku yang dipraktikkan berdasarkan kesadaran dari hasil pembelajaran. Hasil pembelajaran tersebut mampu mendorong seseorang, keluarga, kelompok, atau masyarakat berkemampuan menolong dirinya sendiri secara mandiri di bidang kesehatan serta berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.
Kesehatan masyarakat terbentuk dari kebiasaan individu. Nah untuk menumbuhkan ‘good behaviour’ dalam masyarakat, kita harus ‘memantik’ kesadaran individu memiliki kesadaran untuk mengikuti pola hidup sehat.
Salah satunya, keinginan tersebut bisa ditumbuhkan melalui upaya promosi kesehatan. Usaha ini menyokong perubahan perilaku seseorang agar tahu, mau, dan mampu memelihara kondisi fisik serta mentalnya agar tetap prima. Hal ini relevan dengan pelaksanaan ajang Tepok Bulu 2022 yang telah memercikkan gelora aksi hidup sehat di tengah era new normal.
Lho, bukannya Indonesia sudah punya petugas kesehatan dari puskesmas dan kader-kader untuk promosi kesehatan?
Perlu diingat, petugas dan kader memiliki batas jangkauan sasaran. Namun, pengecualian bagi figur-figur populer yang bisa menjangkau audiens dari segala kalangan, asalkan tergolong pengguna media sosial dan mengikuti akunnya.
Figur terkenal alias influencer yang identik dengan update rutinnya di media sosial memiliki potensi memengaruhi pengikutnya. Pernyataan ini diperkuat data GetCRAFT Indonesia tahun 2018, analisis statistik tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 124 juta pengguna aktif internet seluler dengan platform media sosial yang paling sering digunakan adalah Youtube dengan presentase 49%, Instagram 39%, dan Twitter 38%. Angka-angka nan besar tersebut mengukuhkan potensi keberadaan influencer yang dapat memperluas dampak promosi kesehatan.
“Hmm .... kemungkinan bisa, sih.”
“Kalau bisa, Bagaimana Jadinya kalau Influencer Malah Blunder?
Sebelum kini mencapai era adaptasi baru, kita berjuang untuk bisa bertahan di masa pandemi COVID-19. Segala informasi dan tips ditelusuri demi menjaga kesehatan, tetapi ada saja oknum yang malah menyebarkan trik menjaga kesehatan tidak valid.
Masihkah ingat influencer yang memberikan tutorial membasmi virus corona dengan menuang cairan antiseptik Dettol pada diffuser?
Kasus tersebut merupakan tantangan. Terkait risiko influencer yang seharusnya menjadi health promoter, malah melakukan kelalaian dalam memberikan informasi. Berujung blunder.
Influencer yang memiliki pengaruh besar di sosial media nyatanya bak pisau bermata dua, maka dari itu peran pemerintah di sini sangatlah diperlukan. Promosi kesehatan dengan melibatkan influencer tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada figur populer itu. Sinergi antar pemangku kepentingan, yakni pemerintah dan jajaran kementerian kesehatan sangat diperlukan agar bisa memaksimalkan kekuatan pemengaruh influencer.
Pada perspektif ini, influencer blunder sesungguhnya dapat dicegah melalui upaya-upaya perencanaan pesan promosi kesehatan oleh pemerintah dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
1. Pesan Kesehatan Haruslah SMART!
SMART yang dimaksud adalah ‘Specific, Measureable, Accurate, Relevant, Time frame’.
Contoh yang dapat diberikan adalah menyesuaikan dengan influencer Indonesia yang seringkali berkunjung ke Bali saat pandemi. Bentuk pesan kesehatan dapat disajikan dengan anjuran seperti, “Untuk mencegah lonjakan jumlah pengidap COVID-19, para turis lokal diharapkan mematuhi prosedur kesehatan 3M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun) ketika berkunjung ke Bali saat liburan akhir tahun 2020."
2. Identifikasi Khalayak Sasaran
Promosi kesehatan melalui sebuah pesan harus memiliki sasaran spesifik. Pemerintah bisa mempertimbangkan influencer yang ditunjuk sebagai health promotor bukan berdasarkan banyaknya pengikut. Akan tetapi, pertimbangkan demografi audiens serta gaya hidup, opini, sikap, dan kepercayaan sang influencer.
3. Media Sosial sebagai Penyaluran Pesan
Pemilihan saluran yang tepat untuk pesan promkes disesuaikan dengan tujuan, khalayak sasaran, jenis pesan, dan mitra pelaksana. Konteks terkini, influencer terlibat sebagai mitra. Oleh karena itu, pilihan saluran komunikasi yang bisa digunakan adalah shared media berupa Twitter, Instagram, Youtube, dan lainnya.
Demikianlah pemaparan potensi influencer sebagai health promoter yang ditelisik dari pelaksanaan ajang #TepokBulu2022 pada hari Minggu, 03 Juli 2022. Semoga tulisan perdana saya ini bisa memberikan manfaat atau keterbukaan bagi para pembaca. Tentunya jika ada kritik dan saran terkait penulisan ini, saya sangat terbuka!