Bahasa Jaksel: Cerdas atau Lebay?

profile picture dzikritsabitimani

Basically, peradaban manusia always berubah dan mengalami improvement tiap masanya. Lima tahun terakhir telah menjadi evidence yang kuat mengenai perubahan ini, and probably akan terus eksis hingga beberapa tahun kedepan. Peradaban kuno yang berpusat di Mesir, Romawi, Yunani, Lembah Sungai Kuning, era mereka sudah sirna dan diganti dengan peradaban modern. Dan suatu hari, sebuah peradaban muncul di sebelah selatan Kota Jakarta, as known asBahasa Jaksel’. Just kidding, guys.

Jujur, penulis khawatir karena di ketentuan artikel, tertera bahwa artikel mesti ditulis dalam bahasa Indonesia. Dan karena kekhawatirannya tersebut, ada baiknya penulis menulis paragraf-paragraf selanjutnya dengan bahasa Indonesia, bukan dengan bahasa Jaksel

Melansir dari kompasiana.com, bahasa Jaksel berawal dari suatu trend yang muncul beberapa tahun akhir ini. Saking melimpahnya kebudayaan khas Indonesia, beragam macam bahasa daerah pun menjadi identitas budaya yang tak tergantikan. Kiranya anak muda Indonesia yang kreatif dan inovatif, berkehendak membuat satu bahasa lagi untuk melengkapi kebhinekaan. Bahasa gaul, yang tidak baku, yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Satu hal lagi yang terpenting, bahasa ini memiliki ciri khas, yaitu mencampuradukan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Lebih tepatnya, mencampurkan bahasa gaul dengan bahasa Inggris. Lalu dikarenakan pusat kemunculannya berada di Jakarta Selatan, maka para haters menyebutnya ‘Bahasa Jaksel’.

Sebenarnya trend mencampuradukan bahasa pada awalnya disebut dengan ‘bahasa gado-gado’ dikarenakan konsepnya yang mirip dengan gado-gado, yaitu makanan yang bahannya merupakan berbagai sayur yang dicampuraduk dan ditambahkan dengan bumbu kacang. Namun penulis beropini bahwasanya bahasa gado-gado dan bahasa Jaksel memiliki perbedaan yang cukup fundamental.

Agoes Noer Che dalam bukunya, Menyingkap rahasia asah otak ala orang Yahudi, menyatakan dalam salah satu poinnya, bahwasanya orang Yahudi sering menggunakan bahasa gado-gado alias mencampuradukan bahasa dalam kesehariannya. Hal itu merupakan kebiasaan mereka yang secara tidak langsung mengasah otak dan daya ingat mereka. Selain itu, khazanah kosa kata yang mereka miliki pun relatif luas dengan membiasakan bahasa gado-gado tersebut. Penulis buku tentu menyatakan hal tersebut disertai dengan fakta, argumen, dan penelitian yang relevan, sehingga saat mendengar opini di atas, tentunya menggiring pembaca untuk menyimpulkan bahwasanya bahasa Jaksel itu bermanfaat jika digunakan sehari-hari.

Namun sesuai judul artikel ini, beberapa lapisan masyarakat merasa bahwa percakapan dengan bahasa Jaksel adalah hal yang lebay. Dan ya, sesuai kata penulis di atas, penulis merasa bahwasanya ada perbedaan yang fundamental antara bahasa gado-gado dengan bahasa Jaksel. Perbedaan itu terletak pada trend. Bahasa gado-gado merupakan campuran berbagai bahasa resmi yang dipadukan dengan penyampaian yang baik. Sedangkan bahasa Jaksel, adalah campuran dari bahasa Indonesia gaul dengan beberapa kosa kata inggris pilihan, sehingga membuatnya menjadi trend. Masyarakat yang cerdas mendapatkan manfaat dari trend tersebut, sedangkan masyarakat yang lebay kemungkinan hanya mendapatkan lebaynya saja. Coba perhatikan dua kutipan di bawah ini.

Gue tuh ga suka banget sama dia. Dia tuh literally nyebelin, bossy, dan toxic banget orangnya. Segala mistake kek cuman ngomong 'anjay' aja dimarahin gitu guys, which is, kan dia bisa ngomong baik-baik gituh. Gue mau healing aja lah, males banget deket-deket orang kek gitu

Dan kutipan yang satu lagi,

Mempelajari programming language tentunya memiliki banyak manfaat dalam mengasah logical thinking juga berpikir sistematis. Beberapa dekade kedepan, pekerjaan akan didominasi oleh AI atau kecerdasan buatan.  Oleh karena itu, kita mesti menginvestasikan diri dalam belajar berbagai digital skill, mulai dari digital marketing, content creating, copy writing, termasuk juga programming, data science, dan cyber security

Terlihat jelas perbedaannya bukan? Betul, faktor yang membuat bahasa Jaksel yang beredar di masyarakat, berbeda dengan bahasa gado-gado, ternyata dari bobot pembicaraannya. Secara tidak langsung, bahasa Jaksel yang dipakai dalam percakapan yang tidak berbobot itulah yang membuat sebagian lapisan masyarakat resah. Maka terbentuklah trend tadi. Saat menjadi trend, masyarakat dari semua kelompok beramai-ramai mengikutinya. Anggapan-anggapan semacam lebay pun menjadi bermuculan di masyarakat dalam memandang kehadiran bahasa Jaksel ini.

Berbeda dengan teknik komunikasi gado-gado yang merupakan pencampuran bahasa secara umum. Saat teknik ini digunakan oleh kaum intelektual, maka bahasan yang disampaikan pun akan berbobot dan bermanfaat. Namun saat teknik ini digunakan oleh mereka yang hanya ikut-ikutan trend, akan berubah menjadi bahasa Jaksel yang dianggap lebay tersebut.

Kesimpulan yang bisa penulis dapat dari fenomena ini, utamanya terletak pada penyikapan kita dalam menghadapi suatu trend yang terjadi di masyarakat. Semakin kita cerdas dan mampu beradaptasi dan mengambil manfaat dari trend tersebut, maka kualitas kita akan semakin baik. Teknik pencampuran bahasa dapat menjadi manfaat yang besar jika kita memang menggunakannya dengan baik. Sebaliknya, teknik itu juga akan menjadi lebay dan dipandang buruk saat kita tidak memfungsikannya dengan semestinya. Semua bergantung pada penyikapan kita.

Which is, literally, basically, even, at least, support system, healing, toxic, FOMO. Apalagi ya? Pengetahuan penulis terbatas… :)

Bagaimana pendapat Anda?

#peace

Referensi: 

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By dzikritsabitimani

This statement referred from