Biofuel sebagai Resolution of Energi 5.0 Bahan Bakar Minyak Sawit dalam Upaya Penurunan Emisi Karbon di Wilayah DKI Jakarta
Kamu warga Ibukota? Atau pendatang baru yang menetap di Ibukota? Pasti sudah tidak heran dengan permasalahan utama yakni polusi udara. Sepanjang tahun 2022 menurut data air quality index bahwa Jakarta masih menjadi pemeran utama dalam kualitas udara yang buruk. Padahal tahun 2020 saat penerapan PPKM masih dijalankan, kualitas udara Jakarta menurun sebanyak 80% karena sebagaian besar aktivitas berada pada work from home. Kelonjakan grafik penaikan polusi banyak disebabkan beberapa hal sebagai contoh emisi yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat yang telah menuju new normal seperti transportasi atau residensial maupun sumber dari kawasan industri. Sangat menyebalkan, bukan?
Presiden Joko Widodo dalam telekonferensi pers di Istana Merdeka (24/6/21) memaparkan tentang kebijakan green economy atau ekonomi hijau sebagai upaya pengembangan perekonomian dan perlindungan terhadap lingkungan di masa depan. Hal ini bukan tanpa sebab, konsep green economy sendiri dinilai sebagai catur utama yang menunjang terhadap pengembangan dari sustainable development. Pembangunan berkelanjutan yang berkonsep pada lingkungan hidup mayoritas sudah diterapkan pada negara-negara barat baik maju maupun yang sedang tahap berkembang.
Sejatinya konsep ini sudah dijalankan oleh pemerintah Indonesia tetapi untuk implementasinya masih harus ditingkatkan kembali dalam hal sistem dan pengoperasian. Dalam konteks cakupan Perubahan climate change dan green economy, Bappenas telah meluncurkan sebuah kebijakan yakni,"Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap (ICCSR)" yang memuat pilar unggulan dari sembilan sektor, yakni transportasi, limbah, energi, kehutanan, industri, kelautan dan perikanan, pertanian, sumber daya dari air serta kesehatan sebagai tiang dalam menghadapi perubahan iklim yang signifikan ataupun keadaan geografi hingga 2040 mendatang.
Melihat krusialnya menjaga lingkungan hidup demi kesejahteraan umat manusia serta makhluk hidup di dalamnya, baik untuk generasi sekarang maupun generasi selanjutnya, kegiatan ekonomi diimbau tidak boleh mengganggu kestabilan dari ekosistem alam. Salah satunya adalah polusi akibat tingginya jumlah karbon khususnya di DKI Jakarta. Emisi karbon dioksida (CO2) yang terjadi di wilayah DKI Jakarta bahkan mencapai 206 juta ton per tahun. Sumbangan angka terbanyak yakni berasal dari armada transportasi baik yang bersifat pribadi atau umum yang mencapai 182,5 ton per tahun, sedangkan untuk sektor rumah tangga dan industri masing-masing menyumbang 23,9 juta dan 350,3 ribu ton per tahun.
Dosen Fakultas Perikanan Universitas Airlangga (Unair), Wahyu Isroni, menyatakan bahwa terjadinya pemanasan global dimana akibat dari efek rumah kaca tidak lepas akan peningkatan karbon karena aktivitas manusia. Deforestasi hutan menambah angka tingginya emisi karena disinyalir menurunkan resapan karbon akibat kerusakan mangrove serta tidak lepas dari moda transportasi yang paling banyak menyumbang emisi. Tetapi setelah adanya pemberlakuan PPKM di tengah pandemi Covid-19, Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa wilayahnya berhasil menurunkan tingkat emisi GRK sebesar 1,9 hingga 3 juta ton. Ini dibuktikan dengan menurunnya angka moda transportasi dan aktivitas masyarakat yang mana cenderung work form home.
Penanganan dalam perubahan iklim sudah dilakukan beberapa tahun ke belakang. Jakarta juga telah melakukan berbagai macam aksi dan insiatif sebagai cara regulasi dalam pegembangan sistem serta berupaya membuka jalan menuju tahap nol emisi karbon yakni pemasangan panel surya di setiap atap gedung milik pemerintah, sekolah, pelayanan kesehatan, rumah sakit, dan olahraga serta gedung-gedung swasta. Dalam hal mengurangi emisi dari moda transportasi, langkah andalan yang diambil pemerintah yakni penggunaan bahan bakar nabati (biofuel). Secara umum, Biofuel didefinisikan sebagai bahan bakar yang berasal dari tumbuhan ataupun hewan, tetapi pada penerapannya cenderung dari tumbuhan.
Biofuel terbagi ke dalam bioetanol, biodiesel, dan biogas. Bioetanol yakni alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti gandum, tebu, jagung, singkong, ubi, buah-buahan, hingga limbah sayuran. Agar mendapatkan alkohol yang diinginkan, bahan baku tumbuhan harus dilakukan fermentasi dahulu.
Biofuel sendiri disinyalir alternatif bahan bakar yang dapat berasal dari materi tumbuhan maupun kotoran binatang yang energinya dapat digunakan sebagai penggerak mesin atau pemanas serta kelistrikan. Hal ini dianggap sebagai terobosan dalam energi terbarukan pengganti dari bahan bakar fosil seperti bensin dan solar. Biofuel dapat diproduksi relatif cepat dengan melepaskan sedikit banyak gas rumah kaca. Indonesia sendiri memproduksi biofuel dari tanaman dimana pemeran utamanya minyak sawit ini pula berdampak pada pembukaan lahan yang lebih besar.
Secara konsep biofuel sebagai pengurang emisi dibanding penghasil bahan bakar. Ketika tanaman utama ini dibudidayakan secara langsung akan menyerap karbon dari atmosfer lalu setelah selesai pembakaran, karbon akan dilepas kembali ke atmosfer dimana artinya tak ada peningkatan emisi. Pemerintah berupaya menerapkan langkah pelestarian lahan untuk mengurangi potensi kehilangan hutan.bahwa biofuel merupakan sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil, karena biofuel secara signifikan mengurangi kadar emisi gas rumah kaca daripada bahan bakar fosil konvensional.
Beberapa peneliti menyatakan biofuel bersifat karbon netral, tapi data ini masih perlu diteliti karena untuk mengubah menjadi bahan bakar diperlukan energi besar saat menghasilkan bahan baku dan bahan bakar. Namun, secara keseluruhan biofuel cenderung lebih ramah daripada bahan bakar konvensional. Generasi kedua biofuel secara signifikan lebih ramah lingkungan daripada yang pertama, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa biofuel generasi pertama dapat mengurangi sampai 60% emisi karbon dibandingkan bahan bakar fosil, dan pada generasi kedua naik menjadi 80%.
Keuntungan lain dari biofuel adalah keamanan pasokan. Grafik permintaan untuk minyak bumi meningkat yang berpengaruh pada lonjakan harga minyak bumi selain itu permasalahan geopolitik menjadi ancaman lainnya. Biofuel memastikan bahwa pasokan akan tetap terpenuhi karena bahan bakunya yang dapat diperbaharui. Produksi biofuel dinilai menjanjikan karena mengurangi biaya impor minyak khususnya bagi negara berkembang. Di negara berkembang biofuel dapat membantu memecahkan permasalahan ekonomi dimana sebagia besar energinya beralih pada batu bara. Batu bara sebagai sumber energi yang paling murah tetapi juga sumber energi paling kotor, dan produksi biofuel di negara berkembang artinya menurunkan tingkat polusi pembangkit listrik batu bara dan mengurangi dampaknya terhadap perubahan iklim.