POLISI MENGHIMBAU TIDAK MENGGUNAKAN SANDAL, EFEKTIFITASNYA DIMANA?

profile picture Grace Anabel

Akhir akhir ini kita sudah mendengar tentang imbauan polisi bagi pengendara motor untuk tidak menggunakan sandal jepit. Alasan semata bahaya mungkin belum bisa menjadi alasan yang membuat masyarakat sadar. Apalagi pemakain sandal jepit saat mengendarai motor sudah menjadi kebiasaan bahkan budaya bagi kita masyarakat indonesia. Lantas apakah kita harus memakai sepatu untuk sekadar berkendara jarak dekat? Menurut saya, asal muasal mengapa polisi melarang unrtuk menggunakan sandal jepit harus diketahui dan dipahami terlebih dahulu oleh masyarakat, yaitu untuk meminimalisir fatalitas. Apabila terjatuh saat menggunakan sandal, kulit akan bergesekan dengan aspal, mesin, dan kendaraan. Oleh sebab itu pentingnya menggunakan sepatu daripada sandal jepit.

Lantas apakah imbauan ini akan berjalan efektif? Saya rasa tidak.

Bukannya saya berfikiran negatif dan provokator terhadap jalannya pemerintahan. Akan tetapi mari kita lihat imbauan yang paling penting saat menggendarai motor, yaitu menggunakan helm. Namun sayangnya masih banyak pengguna sepeda motor yang tidak menggunakan helm, padahal helm sangat penting bagi keamanan kepala manusia. Jika helm saja masih banyak masyarakat yang tidak gunakan, lalu bagaimana bisa imbauan untuk memakai sepatu saat mengendarai sepeda motor dapat diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat?

Salah satu pendapat saya yang mungkin bisa diterapkan di kepolisian adalah agar kepolisian Indonesia lebih mementingkan kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan sepeda motor. Baik itu dalam aspek umur pengguna, atribut yang paling sederhana yaitu helm, dan taat lambu lalu lintas. Saya pikir untuk meminimalisir fatalits tadi, lebih baik untuk mengetatkan yang sudah ada. Dengan mengawasi pengguna motor, sehingga tak banyak lagi anak di bawah umur yang belum mempunyai SIM dapat berkendara bebas di lalu lintas. Ataupun penilangan helm yang harusnya lebih diperketat. Penjagaan polisi pada lalu lintas juga harus ditingkatkan lagi, apakah masyarakat sudah menaati rambu lalu lintas dengan baik? Karena sampai sekarang masih sangat banyak di luar sana yang melanggar lampu merah, ini bukan rahasia umum lagi di Indonesia.

Atau apakah bukan hanya masyarakatnya yang perlu ditelaah, melainkan polisinya?

Usut punya usut polisi Indonesia pernah dikenal sebagai polisi mata duitan, saya tidak membual tetapi sebutan ini sudah banyak di media sosial tidak hanya WNI yang menyebutnya namun WNA demikian. Mungkin yang kita lihat diberita adalah “sebagian” dari mereka yang mata duitan, tetapi saya paham betul bahwa di setiap daerah pasti mempunyai polisi yang demikian. Mari saya ceritakan kisah yang sering sekali saya dengar. Seorang pria pernah dahulu ingin melaporkan pada petugas polisi, tetapi sayang… tidak ditanggapi. Saat diberi beberapa lembar uang merah baru langsung siap bergerak. Tidak hanya itu banyak orang yang ditilang bukannya membayar denda tetapi membayar tutup mulut.Akan tetapi Saya harap tidak semua polisi demikian. Saya masih berharap adanya polisi pada masa depan yang akan lebih baik lagi membangun kedisiplinan masyarakat berlalu lintas.

Baik masyarakat dan polisi adalah sama sama makhluk sosial yag hidup berlandaskan Pancasila. Apabila salah satu pihak saja yang memahami hidup berlandaskan pancasila, kapan Indonesia mencapai masa keemasannya? Masa jayanya Indonesia bukanlah ditentukan oleh pada masa pemerintahan presiden siapa? Bukan juga kabinet menteri apa? Melainkan dari jati diri masyarakat itu sendiri.

Banyak bukti yang sudah kita lihat secara nyata. Mari kita melihat Jepang, negara dengan Angka literasi tertinggi di dunia serta kedisipinan yang sangat tinggi oleh masyarakatnya. Negara tersebut menjadi negara yang kaya akan orang orang yang cerdas, berkarakter dan cepat tanggap dalam perkembangan tegnologi. Mari kita lihat Singapura, negara yang sangat kecil, SDA yang minim, tetapi bisa menjadi satu satunya negara maju di Asia Tenggara. Baik Singapura dan Jepang adalah negara yang sangat jarang terjadi macet, bukan berati masyarakatnya tidak bertambah sehingga kebutuhan kendaraan berkurang, namun karena kedisiplinan dan kesadaran masyarakat itu sendiri. Ini membuktikan bahwa masyarakat adalah kunci negara dapat mencapai masa keemasannya.

Itulah sebabnya saya merasa imbauan polisi ini sebenarnya sangat baik namun mempunyai nilai kurang dari 20% dapat dilaksakan oleh semua bahkan setengah penduduk Indonesia. Namun sebelum itu sebaiknya kita makin menegakkan fondasi fondasi yang sudah ada hingga suatu saat nanti, saat pemakaian helm adalah kesadaran bagi masyrakat bukan ketakutan karena tilang, sehingga kita bisa menetapkan imbauan yang membujuk masyrakat. Besar harapan saya jika seluruh masyrakat Indonesia mempunyai kesadarn ini untuk mewujudkan Indonesia emas 2045. Sehingga generasi pada masa depan adalah generasi yang tidak lagi mementingkan kepentingannya sendiri di jalan, yang memperhatikan keselamatan berkendara dan menjadi pemerintahan yang terbuka kepada masyarakat. Dan tugas ini adalah tugas milik kita bersama, seluruh Warga Negara Indonesia. Pada masa depan saya menanti untuk menulis balasan essai ini dan memberi tahu banyak orang bahwa masyarakat telah berubah! Saya menantikan hal ini.

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By Grace Anabel

This statement referred from