Mengapa Kita Mudah Percaya dengan Ramalan Zodiak?

profile picture Almi Sayyidatul Q

Kalian tentu tidak asing dengan ramalan zodiak bukan? Ya ramalan zodiak menyajikan prediksi di berbagai aspek kehidupan manusia seperti sifat, persoalan asmara, finansial, sampai pada nasib baik ataupun buruk yang akan menimpa di beberapa waktu kedepan. Ramalan zodiak ini bisa kita temui di berbagai media massa contohnya koran, majalah, bahkan telah merambah ke radio dan televisi pada masa itu. Namum pada saat ini bisa dengan mudah kita jumpai di berbagai jenis media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Youtube, dan yang lainnya. Anehnya hal-hal yang disampaikan dalam ramalan zodiak terkesan relevan dengan kita, sehingga selepas membaca ramalan zodiak tak jarang orang langsung percaya dan mengaitkan dengan kondisi dirinya saat itu. Tingginya minat orang Indonesia dalam hal ramalan zodiak dan sejenisnya dijelaskan, terbukti dalam penelitian Nasution & Hakim (2021) sebanyak 51% orang setidaknya membaca horoskop tiga kali dalam sebulan.

Zodiak sendiri berasal dari kata zoodiacos cyclos dalam bahasa Yunani yang berarti lingkaran hewan, sebab sebagian dari nama-nama zodiak di simbolkan dengan hewan (Nasution & Hakim, 2021). Melansir tempo (2021) Semua bintang yang posisinya berdekatan dengan piringan datar imajiner dilewati oleh garis semu. Pandangan itu yang menjadi awal mulanya zodiak, selanjutnya agar mudah diingat diberi lambang yang sebagian besarnya menyerupai hewan. Itulah mengapa lambang zodiak yang kini kita kenal kebanyakan terlihat menyerupai bentuk beberapa hewan seperti singa untuk zodiak leo, kepiting untuk zodiak cancer, kalajengking untuk zodiac scorpio dan lain sebagainya. Zodiak berjumlah 12 buah dengan pembagian waktu tanggal dan bulan tertentu yang biasanya dijadikan sebagai identitas kelahiran seseorang.

Berbicara mengenai zodiak, mengapa anak muda dinilai lebih gampang percaya dengan ramalan zodiak? penelitian Nasution & Hakim (2021) membuktikan sebanyak 35% respondennya yaitu pelajar SMP dan SMA  mempercayai ramalan karena hal tersebut pernah tepat dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Di sisi lain karena sebenarnya masa remaja adalah masa yang berapi-api, cenderung menanggapi sesuatu secara emosional, dan penuh dengan konflik serta perubahan suasana hati yang tak menentu (Santrock, 2002). Menurut data dari American Psychological Association, milenial jadi generasi yang paling mudah mengalami kecemasan dan stres ketimbang generasi lainnya sejak 2014 (Anastasia, 2020). Kondisi stres cenderung mendorong orang untuk mempercayai astrologi atau ilmu perbintangan, astrologi membuat mereka mampu membayangkan masa depan yang lebih baik dan lebih jelas (Theatlantic.com, 2018). Meski banyak orang yang percaya dengan ramalan zodiak dan sejenisnya, nyatanya hal tersebut belum bisa dibuktikan 100% keakuratannya secara ilmiah. Dalam penelitian Nasution & Hakim (2021) disebutkan bawah horoskop atau ramalan zodiak tidak memengaruhi optimisme saat ramalannya bersifat negatif dan hanya akan berpengaruh pada keyakinan individu jika ramalannya bersifat positif. Itulah mengapa kita akan cenderung menampik pernyataan yang bersifat negatif pada ramalan dan cenderung sangat percaya dengan pernyataan yang bersifat positif seoalah itu menjadi sebuah harapan yang akan terjadi di masa depan.

Terlepas dari akurat atau tidak ramalan zodiak yang biasa kita jumpai, psikologi mampu menjelaskan mengapa ramalan zodiak terasa relevan dengan kehidupan kita. Hal itu terjadi karena adanya barnum effect. Istilah ini ditemukan pertama kali oleh Bertram Forer pada tahun 1949 sehingga seringkali disebut juga sebagai Forer Effect (Faradiba et al., 2021). Barnum effect ini sebenarnya adalah bentuk manipulasi psikologis, sebuah fenomena ketika satu variabel ditujukan spesifik untuk mendiskripsikan seseorang padahal variabel tersebut sebenarnya adalah hal yang umum dan bisa ditujukan ke semua orang atau bisa juga disebut dengan istilah barnum statements. Menurut Psikolog Barry Beyerstein harapan dan ketidakpastian membangunkan intuisi psikologis pada manusia. Hal tersebut lalu dimanfaatkan oleh banyak pebisnis untuk melancarkan usahanya dalam upaya meralam masa depan seseorang. "Otak manusia memiliki kecenderungan untuk mengaitkan hal yang umum menjadi sesuatu yang personal, bukan hanya itu, otak manusia juga secara sadar membuang banyak informasi yang dirasa tidak cocok," tulis Barry dalam penelitiannya (Nursastri, 2019).

Sumber Referensi

Anastasia, Tamara. (2020). Bahaya Terlalu Percaya Zodiak bagi Kesehatan. Diakses pada 4 Januari 2022 dari https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3644130/bahaya-terlalu-percaya-zodiak-bagi-kesehatan

Faradiba, A. T., Kistyanti, N. M. R., Mualidina, F., & Indriani, R. (2021). Barnum Effect pada kepribadian Lima Faktor. Jurnal Ilmiah Psikologi Mind Set, 1(1), 96–104. https://doi.org/https://doi.org/10.35814/mindset.v1i01.2587

Nasution, S. A. F., & Hakim, Y. P. (2021). Percaya Diri atau Percaya Horoskop? Menguak Pengaruh Horoskop terhadap Optimisme Generasi Y. Indonesian Fun Science Journal, 3(1), 60–73. https://proceedings.sgu.ac.id/ifsj/index.php/ifsj/article/view/63

Nursastri, S. A. (2019). Percaya Ramalan Zodiak? Teori Psikologi Beberkan Faktanya. Diakses pada 6 Januari 2022 dari https://sains.kompas.com/read/2019/12/12/190212023/percaya-ramalan-zodiak-teori-psikologi-beberkan-faktanya

Santrock. J. W. (2002). Adolescence: Perkembangan Remaja. (edisi keenam) Jakarta: Erlangga

Tekno.tempo.co (2021). Menilik Kaitan Zodiak dan Astrologi. Diakses pada 6 Januari 2022 dari https://tekno.tempo.co/read/1545023/menilik-kaitan-zodiak-dan-astrologi

Theatlantic.com. (2018). The New Age of Astrology. Diakses pada 4 Januari 2022 dari https://www.theatlantic.com/health/archive/2018/01/the-new-age-of-astrology/550034/

2 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By Almi Sayyidatul Q

This statement referred from