Massifnya Influencer Tiktok di Tengah Masyarakat One dimensional
TikTok merupakan platform hiburan yang tengah digandrungi oleh Masyarakat, meski sempat dilabeli sebagai
media sosial “norak” dan “alay” oleh sebagian orang. Kini Tik-Tok justru hadir sebagai aplikasi yang naik kelas
karena mampu mempengaruhi prilaku, selera dan gaya hiburan dari masyarakat Indonesia. Saking
berpengaruhnya, perhatikan saja bagiamana masiffnya fenomena para artis dan selebgram yang dahulu sangat
eksis di Televise, Youtube, Instagram kini mulai banyak beralih menggunakan Tiktok, untuk menjadi influencer yang
mengendors beragam produk mulai dari kecantikan, fashion, alat kesehatan, kuliner, alat masak, dan lain
sebagainya melalui kreografer, video music, dan berbagai challenge. Tapi dalam realitasnya lewat Aplikasi ini justru
banyak terlahir influencer baru yang datang dari kalang orang biasa. Kepopuleran TikTok melesat tajam dan telah
diunduh oleh 2 miliar pada tahun 2020 tepatnya saat pandemi berlangsung (Annur, 2020). Dalam hal ini kita tidak
bisa menutup mata bahwa faktanya mayoritas pengguna TikTok sejauh ini memang didominasi oleh masyarakat
yang berada di jenjang usia muda atau generasi Z (Rakhmayanti, 2020). Pertambahan jumlah pengguna aplikasi
ini, tentu tidak lepas dari situasi pandemi yang mengharuskan pembatasan sosial, sehingga memaksa masyarakat
untuk menjadi lebih sering berada dan beraktivitas rumah. Hal inilah yang pada akhirnya memicu fenomena fear of
missing out atau disingkat dengan istilah FOMO (Hayran, dan Anik, 2021). FOMO adalah satu bentuk dari
kecemasan yang ditandai dengan adanya keinginan untuk selalu mengetahui apa yang orang lain lakukan terutama
melalui media sosial (Putri, dkk, 2019). Namun terlepas dari itu semua ledakan angka pengguna TikTok ini dapat
dilihat sebagai peluang yang menandakan bahwa aplikasi ini bukan hanya dapat difungsikan sebagai sarana
hiburan semata tetapi juga dapat dimanfaatkan menjadi media komersil (iklan) yang sangat evektif dan efisien.
Dalam kajian sosiologi kebudayaan Tiktok dan segala kepopulernya merupakan representasi dari baru dari apa
yang disebut sebagai budaya massa atau budaya populer. Secara konseptual budaya massa sendiri adalah
budaya yang sengaja diciptakan untuk meraih keuntungan ekonomi maupun politik. Massifnya kemunculan para
influencer baru melalui TikTok, krisis pandemi, dan adanya ledakan jumlah pengguna TikTok telah mendorong
masyarakat dari berbagai kalangan untuk berlomba-lomba menjadi paling eksis, agar eksistensinya di ruang
tersebut mejadi populer. Kepopuleran ini akan sangat menguntungkan secara pribadi karena semakin banyak
followers atau pengikut maka akan semakin besar dirinya dilirik sebagai influencer bagi suatu produk melalui sistem
endorsmen. Pengaruh influencer Tiktok akan sangat berdampak terhadap pembentukan selera pasar masyarakat,
itulah mengapa fenomena Influencer Tiktok ditengah pandemi menggeliat dengan luar biasa. Sebelum melangkah
lebih jauh, penulis ingin menyoroti penggunaan influencer TikTok yang dilakukan oleh perusahaan besar atau
kapitalis. Jika dianalisis menggunakan kacamata sosiologi kritis ada satu tokoh bernama Herbert Marcuse yang
merupakan anggota generasi pertama Mazhab Frankfrut yang membahas tentang one dimentional society atau
masyarakat satu dimensi.
Menurut Marcuse kehidupan modern ini memasuki suatu era yang dinamakan dengan Kapitalisme tingkat lanjut,
dimana pada masa ini masyarakat kelas bawah dikondisikan sedemikian rupa melalui sistem besar agar berpindah
menjadi masyarakat kelas menengah yang diberikan kebebebasan ruang untuk berekspresi layaknya masyarakat
kelas atas. Mereka yang berasal dari lapisan kelas bawah diperkenankan untuk memakai dan mengonsumsi simbol
yang juga dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat kelas atas. Kondisi ini seolah menyiratkan adanya kebebasan
semu yang berfungsi untuk meredakkan jiwa kritis masyarakat lapisan bawah untuk tidak melawan sistem Capital
yang sebenernya menindas mereka. Mayarakat kelas bawah yang mengikuti logika dari kapitalisme tingkat lanjut
inilah yang dimaksud oleh masrcuse sebagai masyarakat one dementional society. One dementional society ini
membuat kesadaran masyarakat dikostruksikan oleh media sehingga daya kritisnya cenderung tumpul. Selera
mereka sangat ditentukan dari bagaimana cara media menyebarkan dan mempromosikan sesuatu melalui media.
Contoh kasusunya mungkin releted dengan fenomena di TikTok sendiri belakangan ini dimana hampir semua
influencer TikTok diendrose untuk mempromosikan produk sosis Kanzl** melalui kontennya, maka masyarakat
yang terhubung dengan TikTok dan menyaksikan iklan tersebut setiap saat di berbagai postingan para influencer
TikTok.
Lewat bahasa ala iklan yang berlebihan, dimana iklan menyebutkan segala keunggulan dari produk tersebut sangat
luar biasa dan seolah tiada cela, pada akhirnya akan membuat masyarakat secara massif mengamini dan
memepercayai hal tersebut begitu saja, dengan ikut-ikutan membeli produk tersebut tanpa berfikir panjang terlebih
dahulu. Hal ini berhubungan dengan apa yang disampaikan oleh Jean Baudrillard bahwa di era modern yang segala
sesuatunya hidup di dalam ruang digital yang maya telah membuat kita terjebak dalam kehidupan masyarakat
tontonan atau spectale society. Lewat media sosial semacam TikTok inilah kita secara tidak sadar dikondisikan
untuk hidup di dalam pameran virtual kebahagian simbolik milik orang lain. Para Influencer TikTok yang memiliki
pengaruh besar di masyarakat digital memanfaatkan kepopularitasannnya untuk memamerkan apa yang dia
kenakan, apa yang dilakukan, apa yang dia sukai sehingga membuat kita mau tidak mau suka tidak suka memonton
hal tersebut. Sehingga lama-kelamaan hal tersebut akan masuk kealam bawah sadar dan perlahan-lahan
mempengaruhi selera, juga cara berfikir kita. Di dalam ruang pertukaran simbol seperti itu secara tidak sadar kita
akan selalu meluaskan tonton kepada orang lain dengan mengonsumsi simbol yang sama dengan para Influencer
TikTok. Berawal dari membeli produk yang diiklankan, lalu mengonsumsinya dan menyebarluaskannya dengan
mengabadikan produk tersebut melalui foto atau video yang diunggah ke ruang digital miliknya agar tidak kalah
eksis, yang nantinya postingan tersebut akan disaksikan lagi oleh orang lain. Semua itu berjalan seperti sebuah
siklus yang panjang dan tiada henti. Kita memiliki kuasa untuk memutus dan mengubahnya dengan kesadaran
untuk memilih konten dan influencer yang secara konsisten selalu mencoba menyeimbangkan isi kontennya dengan
iklan, hiburan dan pengetahuan yang bermanfaat. Tidak selalu dan tidak melulu mengiklankan produk.
DAFTAR PUSTAKA
Putri, dkk. 2019. “Gaya Hidup Mahasiswa Pengguna Media Sosial Di Kota Palembang (Studi Pada Mahasiswa
FOMO di Universitas Sriwijaya dan Universitas Muhammadiyah Palembang)”. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 129-
148.
Rakhmayanti, I. 2020. “Pengguna TikTok di Indonesia Didominasi Generasi Z dan Y”.
https://tekno.sindonews.com/berita/1523692/207/pengguna-tiktok-di-indonesia-didominasi-generasi-z-dan-y, diakses
pada 30 Juni 2021.
Annur, C.2020. “TikTok Telah Diunduh Lebih dari 2 Miliar Kali di Dunia”.
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/09/21/TikTok-telah-diunduh-lebih-dari-2-miliar-kali-di-dunia,
diakses pada 30 Juni 2021.
Storey, John. 2009. “Cultural T =?UTF-8?Q