Bijakkah Keputusan Amerika Untuk Keluar Dari Afganistan?

profile picture sofanmax

Di tahun 2021 ini, kita dikejutkan dengan berita tentang penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan. Peristiwa ini telah menimbulkan efek domino yang mengakibatkan krisis kemanusiaan berskala besar. Hanya dalam waktu beberapa minggu setelah tentara dari Negeri Paman Sam pulang kampung, Taliban dengan mudahnya merebut kembali kekuasaan. 

Krisis kemanusiaan

Puluhan ribu warga Afganistan pun memadati bandara Kabul untuk mencari tempat pengungsian di luar negeri. Banyak warga sipil Afganistan yang dulu pernah bekerja sama dengan pihak amerika merasa terancam keselamatannya. Mereka takut dianggap sebagai pengkhiat oleh rezim Taliban.

Kembalinya kekuasaan Taliban juga membuat para wanita di Afganistan kehilangan hak-haknya. Kebebasan yang mereka sempat nikmati terenggut begitu saja setelah pasukan Amerika meninggalkan Afghanistan. Nyatanya, Taliban dikabarkan sempat melarang wanita untuk bersekolah dan memiliki jabatan. Bahkan, rezim ekstrimis tersebut telah juga diberitakan telah mengeksekusi salah satu anggota tim voli wanita.

Selain itu, perginya Amerika Serikat dari Afganistan juga diikuti dengan evakuasi besar-besaran untuk warga negara sipil dan petugas diplomatik dari negara-negara lain. Indonesia sendiri pun juga terkena imbasnya dan turut mengevakuasi sejumlah warga sipil dan petugas KBRI.

Sisi politik internasional

Dari sudut pandang geopolitik, keluarnya Amerika dari Afghanistan bisa dibilang merupakan hal yang positif untuk Tiongkok. Pengaruh Amerika di Timur Tengah memudar dan Tiongkok siap menjadi stakeholder penggantinya. Telah diberitakan bahwa Tiongkok sudah menyiapkan budget khusus untuk berinvestasi di Afganistan yang kaya akan sumber daya alamnya.

Tidak hanya Tiongkok, Rusia dan bahkan Korea Utara juga berpotensi menjadi partner baru Afganistan. Taliban dipastikan akan berusaha untuk mencari dukungan dari negara-negara yang tidak sependapat dengan Amerika Serikat. Tiongkok, Rusia, dan Korea Utara tentunya akan bersenang hati untuk memberikan support kepada pihak-pihak yang melawan supremasi Amerika Serikat di kancah perpolitikan global.

Respon Lokal

Selain itu, banyak veteran perang Afganistan yang merasa bahwa perjuangan mereka sia-sia. Tentara Amerika telah berperang dengan Taliban selama 20 tahun. Peperangan tersebut dimulai setelah Al-Qaida meruntuhkan Twin Tower. Taliban telah dituduh ikut bertanggung jawab terhadap peristiwa tragis tersebut. 

Para veteran perang berpendapat bahwa usaha mereka untuk menciptakan keamanan dan kestabilan di Afganistan telah gagal dengan ditariknya pasukan. Dalam hitungan minggu, perjuangan tentara Amerika selama 20 tahun pun terhenti.

Namun, apakah keluarnya pasukan Amerika dari Afghanistan semata-mata merupakan hal yang buruk? Setiap keputusan tentu pasti akan menimbulkan pro dan kontra, apalagi kalau keputusan tersebut menyangkut masalah pelik seperti isu Afganistan.

Sudah Saatnya Amerika Pulang

Jika dilihat dari sisi militer, Amerika Serikat bisa dikatakan telah berhasil mencapai tujuan awalnya. Sebelum perang Afganistan dimulai, banyak konspirasi terorisme yang didalangi dan dibiayai oleh kelompok ekstrimis di negara tersebut. Saat ini, kasus terorisme di Amerika Serikat jauh menurun. 

Selanjutnya, tujuan utama dari perang Afganistan adalah menghancurkan Al-Qaeda, dalang utama peristiwa Serangan 9/11. Dengan terbunuhnya Osama bin Laden dan para petinggi organisasi tersebut, kemampuan Al-Qaeda untuk menyerang Amerika lagi telah diminimalisir.

Jadi, memang sudah saatnya tentara Amerika untuk keluar dari Afganistan. Konflik antara pro dan kontra Taliban bisa dianggap sebagai perang sipil. Tentara Amerika tidak perlu lagi ikut campur tangan langsung. Jika ingin menghancurkan Taliban, hanya warga negara Afganistan dengan support dunia internasional yang akan mampu melakukannya.

Perang tidak harus mengangkat senjata langsung 

Veteran perang Afganistan pun tidak perlu merasa terlalu sedih. Walaupun pada akhirnya Taliban kembali berkuasa, para tentara telah berhasil memberikan kesempatan bagi generasi muda Afganistan untuk mengenal kebebasan dan hal-hal positif lainnya selama 20 tahun. Generasi penerus Afganistan ini nantinya bisa menjadi sebuah awal dari perlawanan baru terhadap rezim ekstremis Taliban.

Peperangan juga tidak harus dilakukan dengan kekuatan militer. Embargo ekonomi bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi rezim Taliban. Ketika perekonomian suatu negara terganggu, maka revolusi pun akan lebih mudah terjadi dan penduduk lokal akan tergerak untuk melawan. Sebagai contohnya, peristiwa Reformasi di Indonesia yang mampu menjatuhkan rezim Soeharto dipicu oleh krisis moneter.

Fokus dalam negeri

Di sisi lain, warga negara Amerika Serikat sendiri juga sudah lelah dengan perang Afganistan yang tidak kunjung usai. Dana untuk perang yang dibiayai dari penerimaan pajak bisa digunakan untuk kesejahteraan warga Amerika Serikat itu sendiri.

Menurut berbagai sumber, perang di Afghanistan telah menelan biaya kurang lebih sebesar 2 triliun dollar amerika, atau sebesar Rp 28 ribu triliun. Jumlah tersebut kurang lebih setara dengan APBN Indonesia selama 28 tahun.

Dengan mundurnya tentara Amerika dari Afghanistan, budget tersebut bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan hal-hal lain yang lebih mendesak. Selain itu, tentara Amerika juga bisa mengalokasikan dana tersebut untuk memerangi terorisme di negara-negara lain, tidak lagi terkonsentrasi di Afganistan.

Jadi, sebuah peristiwa, baik maupun buruk, harus selalu dipandang dari berbagai sisi. Bagaimanakah pendapat kalian sendiri mengenai mundurnya tentara Amerika dari Afghanistan? Apakah kebijakan tersebut sudah tepat?

4 Agree 0 opinions
0 Disagree 1 opinion
4
0
profile picture

Written By sofanmax

This statement referred from