Maraknya Buku Bajakan dalam Mempengaruhi Kesejahteraan Bangsa

profile picture Racia_Ily

Di Negara ini, semakin maraknya barang-barang bajakan, termasuk buku bajakan. Rasa-rasanya buku bajakan sudah seperti hal 'biasa' dalam kehidupan. Akankah kita akan terus menganggap enteng masalah buku bajakan ini?

Anehnya nih yaa, buku bajakan justru banyak pendukungnya. Lho? Emangnya kalo rumah kalian kemalingan atau mobil dibegal kalian diam aja atau malah kalian semangatin?

"Ayoooo, Pakkk! Semangat nyolongnya! Ambil aja seiisi rumah saya, ayooo, semangattt, Bestieee!"

Gitu, heh? Lucu dehh, jangan ngelawak, please. Pasti kalian marah bahkan kalian laporkan. Lho, kok giliran buku yang dibajak kalian diam aja bahkan mendukung? Waras?

Maraknya buku bajakan tentunya akan memengaruhi kesejahteraan bangsa. Mengapa demikian?

Karena dengan begitu semakin banyak pengedar buku bajakan yang membuat penulis dan penerbit menjadi malas untuk menerbitkan suatu buku lagi. Buku bajakan dicetak dan diedarkan secara ilegal demi keuntungan pribadi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.


Hal seperti ini melanggar UU nomor 28/2014 tentang hak cipta juga pasal 113 ayat 4 UU hak cipta mengatur bahwa setiap orang melakukan pembajakan akan dikenai hukum pidana penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak 4 miliar.

Sayangnya pemerintah/marketplace online sendiri seolah 'tutup mata' seperti kita oleh kasus ini. Hanya tinggal menarik upeti, rampung deh. Apa dihukum? Dipenjarakan? Didenda? Tentu tidak. Buktinya, masih banyak buku-buku bajakan yang dijual di toko online atau di toko buku.

Mencetak dan mengedarkan buku bajakan sama saja mengambil hak penulis dan mencuri royalti penulis. Lantas, jika ditegur hanya menjawab, "Menulis kok ngga ikhlas, atau "Salah mereka menulis bagus-bagus. Kalo jelek juga ngga bakal dibajak". Aduh, lucu bukan? Coba kita bayangkan, penulis dan penerbit berhenti menerbitkan buku. Kita membaca dengan apa? Mereka--para pengedar buku bajakan, disuruh menulis? Yakin? Padahal, tingkat literasi di Indonesia sangat rendah, lho.

Masa iya udah tingkat literasi di Indonesia rendah ditambah nanti penulis menurun. Duh, mau jadi apa Negeri ini? Salah besar kalo menganggap literasi itu tidak penting. Padahal, ilmu literasi merupakan pokok segala ilmu. Terus kalo penulis dan penerbit kompak malas menerbitkan buku lagi karna selalu dibajak, tingkat literasi di Indonesia semakin anjlok.

Katadata Insight Center (KIC) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melakukan survei tentang literasi digital Indonesia pada 2021. Hasilnya, indeks literasi digital Indonesia berada di level 3,49 pada 2021.

Angka tersebut menempatkan indeks literasi digital Indonesia masih berada dalam kategori sedang dengan skala skor indeks 0-5.Terdapat empat pilar yang menjadi komponen dalam penghitugan indeks literasi digital tersebut. Digital Culture memperoleh skor tertinggi, yakni sebesar 3,9. Diikuti Digital Ethics dengan skor 3,55, kemudian Digital Skills dengan skor 3,44, dan terendah, Digital Safety dengan skor 3,1.Survei Indeks Literasi Digital Indonesia tersebut dilaksanakan pada 4-24 Oktober 2021.

Nah, oke, kembali ke permasalahan buku bajakan.

Buku bajakan juga sebenarnya banyak ruginya walaupun harga relatif bisa setengah harga buku asli. Buku bajakan mempunyai cover buruk, kertas fotocopy-an yang buram, bau tinta menyengat, mudah rusak, dan beberapa kata bisa saja tidak jelas.

Apalagi beberapa penulis sudah sengaja menulis menggunakan tinta putih di kertas hitam. Kalo dipaksa fotocopy, pasti engga bisa dibaca. Jika, dilihat perbedaannya pun akan sangat jelas jika buku asli dan bajakan dilihat secara seksama.

Meskipun demikian, banyak kalangan yang berpendapat bahwa tak masalah apabila membeli buku bajakan karena harganya yang relatif lebih murah daripada buku original. Mereka tentu tak memikirkan kerugiannya, karena sebenarnya isinya pun sama saja.  Walaupun, fisiknya tidak bagus.

Apalagi sekarang buku bajakan pun ada versi digital-nya. Itu tentu lebih sangat memudahkan. Tinggal minta teman share di whatsApp, atau bahkan di website-website seperti pdfcoffee, Scribd, dan lain-lain. Hanya download, tunggu beberapa menit, sudah dapat. Mudah 'kan? Rasa-rasanya ngga sebanding dengan penulis dan penerbit yang harus susah payah.


Intinya, buku bajakan ramai diminati karena hemat di dompet, isinya pun sama saja. Jika, beli buku original-nya bisa dapat dua buku bajakan. Tentu saja murah. Hanya tinggal fotocopy, kok.

Begitu pun dengan penjual buku bajakan atau pengedar. mereka cukup beli satu buku fisik original, lalu difotokopi dan buat banyak buku bajakan. Sehingga mereka mendapatkan keuntungan yang lebih banyak daripada penerbit ataupun menulisnya. Karena mereka tidak perlu membayar  karyawan untuk editing, layout, membuat cover, promosi, dan sebagainya.

Itu lah mengapa kesejahteraan Bangsa Indonesia ini bisa menurun akibat kasus ini. Semakin banyaknya pengedar buku bajakan, sama saja semakin banyak pencuri di Negeri ini, para penulis menurun karena malas tidak mendapat royalti yang 'seharusnya', dan tingkat literasi akan rendah. Sama pula dengan pembaca buku bajakan. Mereka seolah tidak menghargai usaha penulis yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menamatkan isi buku. Tidak menghargai penerbit yang sudah membayar karyawan untuk segala rentetan proses penerbitan.

Walau buku bajakan lebih murah dan mudah didapatkan alangkah baiknya kita sebagai pembaca, tetap menghargai karya penulis serta penerbit. Ngakunya pembaca setia, fans berat, masa belinya buku bajakan? 

Banyak kok buku original yang ramah di dompet. Jika, penerbit/penulis sedang  besar-besaran. Membeli dari situs atau toko resmi akan menambah rating dan penghasilan bagi penulis/penerbit atau dalam kata lain memberikan dampak positif kepada penulis maupun penerbit. Selain itu, membaca buku bajakan telah tercantum dalam UU tentang hak cipta.

Yuk, mulai dari diri sendiri aja! Agar tingkat literasi di Indonesia meningkat dan pembajakan buku menurun.

Say No to Buku Bajakan!

3 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
3
0
profile picture

Written By Racia_Ily

This statement referred from