Motherhood: Antara Karier dan Anak, Haruskah Wanita Memilih?

profile picture arunada89

Saat kita hidup pada era di mana perempuan memiliki hak yang sama dengan para pria dalam hal kesempatan belajar dan berkarya, apakah semua masalah gender sudah teratasi semuanya? Masihkah para wanita harus berjuang untuk pemenuhan hak lainnya agar persamaan itu tetap terjaga pada titik yang seimbang?

Suatu hari saya bertandang ke kediaman Nenek saya di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ada sebuah foto yang terpajang dan menarik mata serta hati saya untuk sejenak memperhatikan. Pada foto itu terlihat Nenek saya sedang berpose dengan Kakek dan Ibu saya yang saat itu saya taksir usianya masih di bawah tiga tahun. Di foto itu terlihat jelas sekali Kakek saya dengan gagah menggunakan sebuah seragam yang mengindikasikan bahwa ia bekerja untuk negara. Senyum simpulnya lepas, ada sorot rasa bangga di sana. Nenek saya yang bersanding di sebelah kirinya tidak kalah bahagia. Namun alih-alih mengenakan seragam sebagai identitas, Nenek saya menggunakan baju setelan kebaya sederhana sembari memangku Ibu saya. 

“Nek, mengapa Nenek tidak menggunakan seragam apa-apa di foto ini? Memangnya dulu Nenek bekerja sebagai apa? Atau tidak bekerja?” tanyaku polos. Di luar perkiraan saya, Nenek tertawa mendengar pertanyaan itu. 

“Bekerja? Nenek langsung berhenti bekerja sebagai guru selepas menikah dengan Kakekmu,” jawab Nenek tanpa mengurangi rasa bahagianya. Ia lalu menatap foto yang sedang saya perhatikan itu. Raut wajahnya menunjukkan rasa rindu terhadap almarhum Kakek.

“Mengapa begitu, Nek?” tanya saya penasaran.

“Dulu Nenek ditanamkan pemikiran bahwa sudah kodrat seorang wanita untuk mengurus rumah tangganya. Dulu jarang sekali ada wanita bersekolah tinggi-tinggi, tidak bagus. Bukan tugas kita untuk bersaing dengan lelaki. Biarlah mereka yang mencari rejeki di luar sana. Saat Nenek masih muda, yang Nenek tahu ya wanita itu memang tugasnya di rumah, mengurus anak, dapur, dan sumur. Sukur-sukur kalau bisa mengelola keuangan rumah tangga,” ujar nenek.

“Tapi Nenek tahu, kan, kalau sekarang banyak wanita yang mengungguli pria, dalam aspek apapun? Bagaimana pendapat Nenek?”

“Nenek selalu berusaha menerima kemajuan jaman dengan terbuka. Almarhum Kakekmu menitip pesan untuk merawat, membesarkan, dan mendidik anak-anak sesuai pada jaman mereka agar pikiran mereka terbuka. Mendidik anak-anak juga berarti memberdayakan diri Nenek sendiri, lho! Maka dari itu, akhirnya Nenek menyadari bahwa untuk menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pilihan, bukan keharusan. Nenek bahagia menjadi ibu rumah tangga. Tetapi Nenek pernah berkata kepada ibumu, jika kelak ia ingin berkarier di kota, Nenek tetap menghormati pilihannya. Kalau dia memilih menjadi ibu rumah tangga dan merawat kamu di rumah, Nenek juga bahagia. Pesan Nenek, apapun peran yang diambil, hendaknya dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan dibicarakan dengan suami,” jawab Nenek sembari tersenyum dan berlalu meninggalkan saya yang masih terpaku menatap foto itu. 

Dari percakapan itu, sebenarnya ada rasa bangga di dalam hati mengetahui bahwa sebagai “orang dulu”, Nenek saya merupakan salah satu yang mempunyai pemikiran terbuka. Entah bagaimana dinamika dan kondisi saat itu hingga ia memiliki perspektif yang luas, yang jelas ia mengorbankan kariernya di bidang pendidikan untuk sepenuhnya mengurus rumah tangga dan membesarkan enam orang anak seorang diri. Semuanya ia lakukan dengan senang hati tanpa keterpaksaan atau tuntutan Kakek. Banyak yang memujinya sebagai sosok wanita sempurna karena mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk keluarga. 

Dinamika seperti itu sarat dengan cerminan kehidupan rumah tangga pada beberapa dekade lalu. Dahulu tugas wanita seolah hanya terbatas pada ranah domestik yang sering dijuluki dengan sebutan “dapur, sumur, kasur”. 

Pada dasarnya, kesadaran atas ketidaksetaraan gender bermula dari adanya konstruksi sosial di masyarakat di mana terbentuklah pembagian tugas yang semata-mata berdasarkan pada aspek biologis, misalnya mempercayai bahwa tugas perempuan secara alamiah ialah melahirkan dan menyusui anaknya dengan keterbatasan mobilitas dan perkembangan kemampuan di aspek lainnya, belum lagi kemampuan yang dinilai alamiah tersebut sering kurang mendapatkan apresiasi secara ekonomi (SDG Academy, 2019). Parahnya, pada konteks masyarakat yang masih menganut patriarki, keadaan seperti itu justru menjadi sumber diskriminasi terhadap perempuan di segala bidang yang pada akhirnya jelas mempengaruhi perkembangan serta kesejahteraan kaum perempuan.

Hal ini mau tidak mau juga terbawa pada diri seorang perempuan ketika ia menjalankan perannya sebagai Ibu. Tentu tidak asing lagi di telinga dan mata kita, bahwa ada begitu banyak kepercayaan di masyarakat tentang bagaimana dan seperti apa seorang perempuan harus mengambil peran sebagai Ibu. Misalnya, banyak yang begitu saja meyakini bahwa tidak ada cara lain untuk seorang Ibu memenuhi nutrisi anaknya selain melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI), tanpa mengetahui bahwa ada banyak kondisi medis dan psikis yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas ASI yang tidak jarang berakibat pada pemberian susu formula sebagai alternatif pemberian ASI. Akibatnya banyak Ibu merasa terdiskriminasi oleh hinaan dan cacian dari mereka yang menganut paham yang keliru. 

Tidak hanya berhenti di situ saja, banyak terjadi di sekitar kita seorang asisten rumah tangga menyiksa anak majikan di bawah umur, lagi-lagi Ibu dari anak itu yang biasanya menanggung penghakiman dan tuduhan kurang memperhatikan anak di rumah. Padahal bisa saja sang Ibu terpaksa bekerja di kantor untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dan hingga saat inipun, jika diperhatikan lebih seksama, perihal Ibu yang bekerja ataupun memilih mengurus rumah tangga juga masih banyak diperdebatkan di masyarakat. 

It takes a village to raise a child. Ungkapan ini datang bukan tanpa sebab. Dalam membesarkan seorang anak saja, ada banyak sosok yang berperan. Dalam kehidupan keluarga inti, sosok Ayah juga berkontribusi besar dalam pengasuhan anak. Semakin besar konteksnya, akan semakin banyak pula sosok yang terlibat dalam hal pengasuhan anak. Misalnya, di keluarga besar, peran serta saudara kandung, kakek dan nenek, mertua, maupun saudara sepupu dalam membantu proses pengasuhan dan perkembangan seorang anak juga tidak dapat dipungkiri begitu saja. Bagi yang menggunakan jasa babysitter, peran mereka dalam membantu seorang Ibu dalam mengasuh anak tentu juga signifikan. 

Kesimpulan yang dapat diambil dari refleksi ini adalah, kebutuhan akan support system bagi seorang Ibu sangatlah besar. Karena pentingnya sistem ini, bahkan dapat mempengaruhi berbagai keputusan yang seorang Ibu ambil. Tidak jarang banyak Ibu yang jatuh depresi karena kurang kuatnya support system yang ia miliki, sehingga dirinya merasa lelah berjuang seorang diri. Hal ini juga salah satu faktor yang mendasari keputusan apakah seorang Ibu ingin melanjutkan cita-cita pribadinya, baik dari segi karier, studi, maupun pencapaian personal lainnya; atau mengambil peran sebagai ibu rumah tangga purna waktu. 

Tidak ada yang salah dari memilih di antara begitu banyak pilihan. Sudah selayaknya perempuan, sebagai sumber kehidupan yang memiliki fungsi alamiah melahirkan, menyusui, serta mengasuh diberikan kesempatan untuk memilih dan menentukan masa depannya, tentunya dengan dukungan penuh dari lingkungan sekitarnya. 

Dengan semangat dan kegigihan, sangat mungkin bagi seorang perempuan untuk tetap memperhatikan perkembangan anaknya sembari meniti karier atau melanjutkan studinya. Ibu yang bekerja dan berkaya demi mewujudkan pencapaian dirinya sama sekali tidak menyalahi kodratnya. Bahkan jika Indonesia mendukung perempuan untuk 25% lebih berpartisipasi dalam angkatan kerja sebelum tahun 2025 saja, PDB Indonesia dapat menunjukkan peningkatan hingga 2.9% (The World Bank, 2021). Dan dengan semangat serta kerja keras yang sama, seorang perempuan juga harus dimuliakan saat ia memutuskan untuk tinggal di rumah dan dengan secara langsung mengurus anak-anak serta rumah tangganya. Ingat, nilai ekonomi dari pekerjaan domestik itu sungguh besar dan amat layak diperhitungkan, apalagi jika dikaitkan dengan kemiskinan sebagai masalah sosial yang laten (Budlender, 2011). Maka jangan sekalipun memandang sebelah mata pekerjaan domestik ibu rumah tangga. Setiap pilihan pasti ada tantangan serta manfaatnya sendiri. 

Menyerukan semangat agar perempuan bebas memilih masa depannya sendiri tanpa harus melihat status Ibu sebagai penghalang, jelas akan sia-sia tanpa terbentuknya support system yang memadai, baik dalam lingkungan profesional, keluarga, pertemanan, keagamaan, dan sebagainya. Diharapkan akan semakin banyak diskusi yang secara khusus membahas pemberdayaan dan dukungan bagi para perempuan yang ditujukan tidak hanya untuk sesama perempuan, namun juga untuk seluruh lapisan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar tercipta lingkungan yang lebih kondusif bagi perempuan agar mereka memiliki keleluasaan dalam memilih masa depan mereka, yang tentunya harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Karena, semakin banyak peran yang diambil, semakin tinggi pula tanggung jawab yang diemban.

Dalam kancah perkantoran misalnya, lingkungan yang kondusif dapat berupa peraturan dan regulasi yang ramah perempuan atau dapat pula berupa peningkatan prosentase pegawai perempuan, serta kebijakan remote working. Lain halnya dalam lingkup keagamaan, para pemuka agama hendaknya turut mengedukasi masyarakat melalui penyampaian atau kajian keagamaan tentang pentingnya kesehatan lahir batin seorang perempuan pada umumnya, dan terkhusus seorang Ibu. Lingkungan bertetangga dan pertemanan juga harus menjadi lingkaran penopang yang dapat diandalkan oleh Ibu. 

Pada akhirnya, pertanyaan mengenai apakah seorang Ibu harus menentukan antara anak dan karier, terjawab sudah. Ya, Ibu harus diberikan ruang untuk memilih dan menentukan berdasarkan kesadaran dan kemauannya sendiri, serta penuh dengan tanggung jawab. Melalui pemberdayaan diri dan support system yang terdidik dengan baik, seharusnya Ibu bebas memilih salah satu di antara keduanya atau bahkan memilih untuk mengambil dua peran tersebut tanpa mengurangi nilai dalam dirinya. 

Referensi

Budlender, D 2011, Domestic Work Policy Brief 3: Measuring the economic and social value of domestic work, ILO, Luxembourg, diakses pada 29 Maret 2022,  <https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---ed_protect/---protrav/---travail/documents/publication/wcms_156071.pdf>

SDG Academy, 2019, Roots of Gender Inequality, diakses pada 29 Maret 2022,    <https://sdgacademylibrary.mediaspace.kaltura.com/media/Roots+of+Gender+Inequality/1_fuz30ht4/112832001>

The World Bank, 2021, Why women matter for Indonesia’s economic recovery, diakses pada 29 Maret 2022, <https://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/why-women-matter-indonesias-economic-recovery>

0 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
0
0
profile picture

Written By arunada89

This statement referred from