Benarkah Kelangkaan Minyak Goreng Jadi Momentum Menuju Pola Hidup Sehat?

profile picture vnisayunita

Minyak goreng, salah satu kebutuhan rumah tangga masyarakat di Indonesia yang sejak beberapa pekan terakhir menuai polemik. Dilaporkan dari berbagai sumber, minyak goreng sulit diperoleh membuat warga di berbagai daerah panik. Tidak hanya itu, harganya menjadi mahal sehingga menuai protes dari kalangan masyarakat. Kondisi ini semakin runyam dengan munculnya pernyataan dari beberapa pakar dan pejabat yang menyikapi permasalahan ini sebagai momentum untuk menuju pola hidup sehat. Apakah benar demikian?

Sebelum membahas kebenaran apakah kelangkaan minyak goreng dapat mengubah pola hidup sehat, pertama-tama kita usut dulu awal mula naiknya harga minyak goreng yang berujung pada kelangkaan. Menurut laporan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), ada tiga jenis minyak goreng yang mengalami kenaikan harga, yaitu minyak goreng curah, minyak goreng kemasan, dan minyak goreng kemasan premium (Ailesh Power, 2022).

Ketiga jenis minyak goreng ini mengalami kenaikan harga yang salah satunya disebabkan oleh Crude Palm Oil (CPO). Hal ini disampaikan oleh Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD (Kominfo Jatim, 2022). Perlu diketahui, kalau CPO adalah minyak kelapa sawit yang berfungsi sebagai bahan baku utama pembuatan minyak goreng. Jika harga CPO naik, maka otomatis harga minyak goreng juga ikutan naik.

Berdasarkan laporan Institute for Development Economics and Finance (INDEF), harga CPO dunia mengalami kenaikan selama 2021 hingga 36,30%. Dengan adanya kenaikan CPO ini, mengakibatkan harga minyak goreng menjadi mahal dan langka. Lebih lanjut, Rossanto Dwi menyampaikan penyebab lainnya adalah ada kenaikan dari sisi permintaan (demanddan penurunan dari sisi penawaran (supply). Kondisi ini masih berhubungan dengan kenaikan harga CPO (Kominfo Jatim, 2022).

Saat ini, harga CPO di pasar dunia sedang mengalami kenaikan harga dari US$ 1100 menjadi US$ 1340 (Kominfo Jatim, 2022). Akibat kenaikan CPO, produsen minyak goreng lebih memilih menjual minyak goreng ke luar negeri dibandingkan ke dalam negeri (Lararenjana, 2022). Apalagi terjadi penurunan produksi CPO di negara-negara produsen, termasuk Indonesia yang mengalami penurunan yang signifikan yakni sebesar 47,04 juta ton di tahun 2020 dan 46,88 juta ton di tahun 2021 (Ailesh Power, 2022).

Faktor ketiga selanjutnya adalah pencanangan program B30 dari pemerintah. Program B30 adalah program peralihan menuju ke produksi biodiesel yang mewajibkan pencampuran 30% biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis solar (Lararenjana, 2022). Akibatnya, konsumsi yang seharusnya digunakan untuk minyak goreng digunakan untuk produksi biodiesel (Kominfo Jatim, 2022).

Di sisi lain, kenaikan harga CPO ini juga disebabkan oleh perkembangan biofuel sebagai alternatif energi baru. Menurut penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengutip dari The Conversation (2022), memaparkan bagaimana pengembangan biofuel secara besar-besaran berdampak pada peningkatan harga komoditas pertanian, utamanya komoditas pangan pokok. Persaingan antara penggunaan kelapa sawit sebagai bahan pangan dan sebagai material biofuel dapat menyebabkan tarik menarik harga (Lubis, 2022). Semakin besar jumlah minyak kelapa sawit yang digunakan untuk pengembangan biofuel, maka semakin besar pula kenaikan harga komoditas tersebut untuk bahan pangan (Lubis, 2022). Dalam analisis Ailesh Power juga menyebutkan demikian. Tercatat, konsumsi CPO di tahun 2022 untuk biodiesel diprediksi akan naik hingga 15%. Berbanding terbalik dengan konsumsi CPO untuk industri pangan diprediksi hanya naik 13% (Ailesh Power, 2022). Dapat dinilai bahwa porsi CPO untuk biodiesel di Indonesia lebih besar daripada CPO untuk pangan.

Maka dari itu, diperlukan suatu solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Saat ini, banyak pakar dan pejabat yang menawarkan solusi mengganti kebiasaan memasak masyarakat yang awalnya terbiasa memasak dengan cara digoreng menjadi direbus atau dikukus. Upaya ini dilakukan dengan dalih mengubah kebiasaan masyarakat untuk hidup lebih sehat (Manggalla, 2022). Banyak upaya yang dilakukan agar masyarakat setuju mengubah kebiasaannya itu. Mulai dari melakukan demo memasak tanpa minyak sampai mengadakan “Festival Rebus” massal.

Sayangnya, upaya tersebut tidaklah cukup efektif. Memang benar memasak dengan cara dikukus atau direbus itu bagus untuk kesehatan. Namun, seharusnya persoalan kelangkaan atau mahalnya minyak goreng dapat diselesaikan dengan mencari solusi bagaimana caranya agar minyak goreng tidak langka dan tidak mahal. Mengingat masyarakat Indonesia masih bergantung pada minyak goreng, dan minyak goreng tergolong dalam Sembilan Bahan Pokok (Sembako) sebagaimana diatur dalam Kepmenperindag Nomor 115 tahun 1998. Melansir dari food.detik.com, masyarakat Indonesia sudah lama menggunakan teknik menggoreng sejak abad 2500 SM. Bisa dikatakan bahwa menggoreng telah menjadi kebiasaan yang telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat sehingga sulit untuk dihilangkan secara penuh. Selain itu, teknik mengolah makanan dengan cara direbus merupakan hal yang biasa dan lumrah dilakukan masyarakat sebelum terjadinya kelangkaan minyak goreng. Berbagai kalangan masyarakat telah menerapkan prinsip hidup sehat selama beberapa dekade. Bahkan, ada yang memiliki komunitas sehatnya sendiri yang tersebar di penjuru provinsi.

Daripada mengadakan festival atau demo memasak, alangkah baiknya anggaran kegiatan tersebut dialihkan untuk membantu perekonomian masyarakat. Pemerintah bisa berfokus menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan CPO sekaligus memastikan ketersediaan pasokan minyak goreng di pasaran, serta mengontrol harga minyak agar tidak membebani masyarakat.

Pemerintah bisa melibatkan aktor non-negara seperti perusahaan dalam hal melakukan diversifikasi industri dalam hal pengembangan research and development terkait bahan baku alternatif lainnya. Pihak universitas dan civitas akademika juga bisa dilibatkan dalam melakukan penelitian serupa. Saat ini, hal yang paling penting untuk dilakukan adalah mengajak semua aktor baik negara dan non-negara sama-sama bergandengan tangan untuk mengatasi permasalahan minyak goreng ini. Jadi, kelangkaan minyak goreng belum bisa menjadi momentum spesial menuju pola hidup sehat karena sebelum minyak goreng langka, sudah banyak masyarakat Indonesia yang melaksanakan pola hidup sehat.

Bagaimana menurutmu dengan persoalan ini? Bagikan pendapatmu juga ya.

Daftar Pustaka

Ailesh Power. (2022). Minyak Goreng, Mahal dan Langka, apa yang sebenarnya terjadi? Diambil kembali dari https://www.instagram.com/p/CbeWEfbvrn8/

Food Detik.com. (2022). Teknik Menggoreng Makanan di Indonesia Dikenal Sejak 2500 SM, Ini Faktanya.  Dipetik Maret 30, 2022, dari https://food.detik.com/info-kuliner/d-6007572/teknik-menggoreng-makanan-di-indonesia-dikenal-sejak-2500-sm-ini-faktanya.

Kominfo Jatim. (2022, Maret). Ekonom Unair Paparkan Penyebab Kelangkaan Minyak Goreng di Indonesia. Dipetik Maret 30, 2022, dari http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/ekonom-unair-paparkan-penyebab-kelangkaan-minyak-goreng-di-indonesia

Lararenjana, E. (2022, Maret). Faktor Penyebab Kelangkaan Minyak Goreng saat Ini, Berikut Ulasannya. Dipetik Maret 30, 2022, dari https://www.merdeka.com/sumut/faktor-penyebab-kelangkaan-minyak-goreng-saat-ini-berikut-ulasannya-kln.html

Lubis, A. M. (2022, Januari). Harga minyak goreng melonjak di negara produsen kelapa sawit terbesar. Ada apa? Dipetik Maret 30, 2022, dari The Conversation: https://theconversation.com/harga-minyak-goreng-melonjak-di-negara-produsen-kelapa-sawit-terbesar-ada-apa-174791

Manggalla, T. (2022, Maret 7). Rare Cooking Oil, Momentum to Switch to a Healthy Lifestyle. Dipetik Maret 30, 2022, dari https://www.world-today-news.com/rare-cooking-oil-momentum-to-switch-to-a-healthy-lifestyle/

Undang-undang

Kepmenperindag Nomor 115 tahun 1998

2 Agree 1 opinion
0 Disagree 0 opinions
2
0
profile picture

Written By vnisayunita

This statement referred from