Perlakuan Ageism Sama Dengan Rasis?
Baru-baru ini beredar video salah seorang mantan penyiar berita senior yang menjadi host acaranya sendiri, di duga melakukan ageism pada seorang anak muda, cucu dari seorang yang ternama dan terpandang di Indonesia. Istilah ini kemudian menjadi tren. Banyak orang mulai mencari tahu apa itu ageism, dan beragam komentar pun membanjiri video tersebut.
Secara singkat, ageism adalah salah satu pola perilaku yang memandang rendah, atau menganggap remeh segala perkataan atau tindakan seseorang yang berada pada kelompok umur tertentu. Bisa dilakukan oleh orang berumur produktif kepada orang yang berumur non produktif, atau bisa juga oleh seseorang yang merasa gap umurnya terlalu jauh.
Sebagai contoh dari video yang beredar tersebut, seorang anak muda memberikan pendapat atau pemikirannya melalui sambungan telepon kepada host dan sekumpulan orang yang berada di acara itu. Beberapa perilaku ageism yang dilakukan host adalah
- Saat anak muda mengatakan umurnya yang masih 20-an, host langsung memutus pembicaraan dengan sebutan, “oh anda kaum milenial ya”
- Ditengah penyampaian pendapat anak muda tersebut, lagi-lagi host menyela dengan perkataan, “ini murni pikiran kamu sendiri?”. Dari kata-katanya, seperti tersirat seolah-olah umur 20-an tidak memiliki pendapat yang original.
- Setelah itu menjawab bahwa itu murni pemikiran dia sendiri, kembali host menyela sambil berkata, “udah dimarahin mama belum?” disertai gelak tawa seluruh bintang tamu, yang umurnya sederajat dengan host. Tentunya perkataan tersebut terlihat meremehkan.
Dan masih banyak lagi tindakan host lainnya, yang diduga adalah bentuk dari ageism. Dalam video itu, host berulang kali menyela perkataan anak muda tersebut dan memberikan tanggapan yang tidak serius, bahkan dijadikan bahan candaan. Padahal, jika kita lihat, pemikiran yang disampaikan sangat masuk akal dan bagus.
Dari contoh diatas, dapat disimpulkan ageism sebagai tindakan “rasis” yang berdasarkan umur. Kelompok umur tertentu sering kali menganggap kelompok umur lainnya tidak sehebat mereka dalam segala hal. Misalkan, kelompok umur yang lebih tua menganggap anak muda tidak berpengalaman, tidak seperti mereka yang sudah merasakan pahit manis kehidupan, sehingga seringkali pendapatnya tidak dihargai. Sebaliknya ada juga kelompok umur muda yang menganggap orang lebih tua itu terlalu kuno dan apa yang dilakukannya pasti tambah rumit.
Gap umur yang terlalu jauh seringkali menimbulkan ageism. Seringkali justru ageism ini membuat seseorang merasa tidak dihargai, tidak berhak menyampaikan pendapat, dan merasa tidak mampu. Akibatnya, hal ini bisa berdampak besar, baik bagi individu tersebut hingga bagi Negara.
Semisal pada contoh diatas, jika seorang anak muda menjadi malas menyampaikan pikiran mereka, dan memutuskan stop menyampaikan pendapatnya, tentunya akan dapat membuat dunia berhenti pada satu titik, tidak akan ada perubahan.
Adakah ageism disekitar kita? Tentu ada. Seorang anak yang menyampaikan kritik dan saran kepada orang tuanya, lalu hanya dijawab “kamu tuh belum pengalaman, gak usah banyak omong, kita lebih tau”, “baru disekolahin sudah sombong, menggurui orang tua, gak sopan” dan masih banyak lagi. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang menanggapi opini orang tuanya seperti, “Ah pikirannya terlalu kuno” dan kemudian meminta untuk stop berbicara.
Lantas bagaimana menghindari ageism? Pertama, belajarlah untuk saling menghargai satu sama lain. Berapapun umur seseorang, mereka berhak untuk menyampaikan pendapat dan pantas untuk di dengar serta dipertimbangkan. Kedua, mencoba menjadi pendengar yang baik dan memberikan tanggapan yang serius kepada setiap opini yang disampaikan. Berdiskusilah yang sehat. Dan terakhir, yang perlu diingat adalah umur bukanlah penentu kebenaran dan kebijakan, tetapi perkataan dan perbuatan masing-masing individu.
Jadi, bagaimana tanggapan kalian tentang ageism? Apakah termasuk perlakuan yang wajar? atau termasuk dalam kategori merendahkan seseorang?