Validasi Diri untuk Membangun Kepercayaan Diri

profile picture arunada89

Manusia sebagai makhluk sosial akan selalu terlibat dalam interaksi sosial dengan manusia lainnya, karena pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup sendiri, sehingga dalam perjalanan kehidupannya manusia saling membutuhkan keberadaan satu sama lain.

Interaksi sosial tidak terbatas pada saling` berbicara, berdiskusi atau berseteru. Lebih dari itu, terdapat banyak interaksi sosial yang bersifat lebih kompleks yang turut melibatkan hal-hal yang abstrak; seperti rasa empati, saling menyayangi, perasaan marah, iri, kompetitif, hingga rasa bangga. Berbicara mengenai rasa bangga yang dapat timbul dalam diri sendiri tentunya sangatlah menarik. Rasa bangga erat kaitannya dengan adanya rasa puas atas sebuah pencapaian. Rasa puas ini akan terus berkembang terutama jika mendapatkan respon dari orang lain, yang paling sering kita temui adalah dalam bentuk pujian.

Hingga batas tertentu, semua orang menyukai pujian. Apalagi jika berkaitan dengan hal atau bidang yang menonjol darinya. Menurut Boothby dan Bohns (2020) melalui penelitian yang mereka lakukan, memberikan dan menerima pujian sama-sama memberikan perasaan bahagia. Akan tetapi, studi tersebut juga menekankan bahwa sang penerima pujian cenderung merasa lebih senang dan tersanjung ketimbang si pemberi pujian. 

Perasaan senang dan bahagia ketika dipuji ini tidak jarang mengandung candu bagi sang penerima dan menjadi sebuah adiksi untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal tersebut jika diterapkan pada takaran yang pas. Hanya saja, apabila dibiarkan berlangsung terus-menerus tanpa adanya kontrol dan intervensi diri yang baik, dikhawatirkan segala tindakan yang kita lakukan mengandung tujuan untuk memancing pujian dan pengakuan dari orang lain, di mana pujian dan pengakuan tersebut nantinya hanya akan kita manfaatkan untuk memenuhi ego kita semata. Bukan tidak mungkin jika lama kelamaan pada akhirnya kita juga akan menggantungkan rasa percaya diri dan kebahagiaan kita kepada orang lain dan saat kita melakukan sesuatu yang tidak menimbulkan pujian atau ungkapan sebagai bentuk pengakuan, kita cenderung merasa kurang puas dengan diri kita sendiri sehingga kita lupa untuk mensyukuri hal-hal baik lainnya. Bayangkan betapa melelahkannya jika semua hal yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari memiliki agenda tersembunyi dengan tujuan untuk mencari perhatian dan memancing kekaguman dari orang lain. 

Sesuai dengan namanya, sifat percaya diri dalah meyakini kemampuan sendiri dalam kondisi apapun. Meyakini di sini tidak dapat tercipta tanpa proses mengenali dan mengakui kualitas dan tantangan diri sendiri. Maka, alih-alih menggantungkan rasa bahagia dan percaya diri kita kepada orang lain, sebaiknya kita mengasah kemampuan untuk memberdayakan diri kita, memupuk rasa cinta pada diri sendiri dan belajar menghargai diri kita sendiri sebagai seorang individu lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan terasahnya kemampuan tersebut, maka akan timbul rasa percaya diri, bahagia, dan penerimaan terhadap diri kita sendiri. Sehingga, kita tidak lagi terlalu membutuhkan pengakuan orang lain dan menggantungkan kebahagiaan kita kepada mereka. 

Salah satu cara yang efektif adalah melatih kita untuk meyakini dan menerapkan validasi terhadap diri sendiri. Secara harafiah, validasi diri mengacu pada kemampuan untuk mempercayai bahwa diri kita adalah valid. Segala yang kita lakukan adalah valid. Perasaan yang kita miliki adalah valid. Respon pikiran dan hati kita dalam menanggapi sesuatu adalah valid. Intinya semua yang kita rasakan, pikirkan, putuskan dan persepsikan adalah valid atau sah. Di sini kita belajar untuk menerima dan mengakui diri kita secara utuh serta berhenti menyalahkan diri sendiri, namun selalu menyisakan ruang dalam diri kita untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik. 

Validasi diri bukanlah bentuk dari keegoisan manusia, melainkan sebuah cara untuk memanusiakan manusia. Lalu apa yang keunggulan validasi diri dibandingkan dengan validasi eksternal atau pengakuan dari orang lain? Menurut Simon (2018), validasi diri mencakup proses meninggalkan peran eksternal dalam memberikan kenyamanan terhadap diri kita. Misalnya, sebagai individu yang kerap berbagi pengalaman dengan para sahabat, momen berkumpul dan bertukar pikiran dinilai sangat mengasyikan dan menenangkan, karena saat kita berada bersama teman-teman, kita cenderung merasa diterima, didengarkan, dan dipahami sepenuhnya. Pun ketika kita bersedih dan menemui orang yang selalu bisa kita andalkan, kita akan merasa sangat dimengerti. Namun ketika kita telah menguasai validasi diri, kita akan terlatih untuk memproses dan menangani seluruh tindakan dan pengalaman kita itu sendiri tanpa harus mengandalkan keberadaan orang lain, hal ini tentunya akan menurunkan reaktivitas emosional kita. 

Lebih lanjut, validasi diri menuntut kita untuk mengakui sepenuhnya tentang apapun yang kita rasa atau pikirkan. Saat kita merasa sedih atau kecewa, tentu akan sangat sulit bagi kita untuk menyemangati diri sendiri. Melalui validasi diri, pertama-tama, kita harus mengijinkan diri kita untuk mengakui bahwa kita sedang mengalami perasaan sedih dan kecewa, bukan dengan langsung menghakimi serta menyalahkan diri sendiri dan berujung pada menyemangati dengan semangat positif yang fana. Ingat, semua yang kita rasakan adalah valid atau sah. Berikan ruang bagi diri kita untuk mengenali perasaan sedih dan kecewa yang hinggap dalam diri, kemudian kemukakan perasaan tersebut kepada diri sendiri. Self-validation atau validasi diri tentunya juga mencakup self-talk atau berbicara diri sendiri. Misalnya saja ketika mengalami perasaan gugup saat akan masuk ke lingkungan baru, alih-alih memilih untuk berpikir “Sudah tenang saja, hapus semua pikiran negatif itu! Masa begini saja aku tidak mampu?” sebaiknya kita memilih untuk berkata pada diri sendiri, “Aku tahu aku sedang gugup. Sangat wajar untuk merasa gugup di lingkungan yang belum aku kenali”. Dari ilustrasi tersebut, kedua perkataan yang bisa kita layangkan kepada diri kita sendiri itu sekilas terdengar mirip, namun kalimat kedua mengandung unsur welas asih, kelembutan, dan keterbukaan terhadap diri sendiri. Ada perasaan pasrah mengakui apapun yang sedang kita alami secara apa adanya, tanpa harus memaksakan diri sendiri untuk selalu merasa positif. Hanya dengan jujur terbuka sepenuhnya kepada diri kita sendiri, kita dapat mengalami validasi diri yang lebih luas lagi. 

Validasi diri merupakan tindakan yang perlu dilatih dan dilakukan berulang-berulang akan terbentuk menjadi sebuah kebiasaan baik. Validasi diri yang sudah tertanam dalam pikiran kita akan secara otomatis bekerja secara efektif kapanpun dan bagaimanapun keadaannya. Dengan begitu, kita akan memahami bahwa diri kita sendiri memiliki kapasitas yang luar biasa dan sangat bisa diandalkan dalam situasi apapun. Sehingga perlahan-lahan kita tidak lagi memerlukan pengakuan dari orang lain untuk membangkitkan perasaan bahagia dan percaya diri, karena kita sendiri dapat memenuhi peran itu, bahkan dengan dampak positif yang lebih besar lagi.

Referensi: 

Boothby, EJ, Bohns, VK 2020, ‘Why a simple act of kindness is not as simple as it seems: underestimating positive impacts’, Personality and Social Psychology Bulletin, vol. 47, no. 5. 

Simon, JM 2018, When Food is Comfort: Nurture Yourself Mindfully, Rewire Your Brain, and End Emotional Eating, New World Library, California.

1 Agree 0 opinions
0 Disagree 0 opinions
1
0
profile picture

Written By arunada89

This statement referred from