Childfree Menjadi Salah Satu Cara Mengurangi Overpopulasi
Indonesia telah lama dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki banyak penduduk. Berdasarkan laporan Worldometers 2020, Indonesia berada di peringkat keempat sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat (AS). Pada tahun 2021, penduduk Indonesia mencapai angka 272.229.372 jiwa. Tingginya jumlah penduduk tersebut membuktikan bahwa Indonesia sedang mengalami overpopulasi.
Fenomena overpopulasi ini menimbulkan berbagai dampak baik maupun buruk. Dampak baik dari overpopulasi yakni Indonesia memiliki jumlah tenaga kerja yang banyak untuk membangkitkan perekonomian. Akan tetapi, kondisi ini dapat menjadi bom waktu apabila tidak dimanfaatkan dengan baik.
Bom waktu tersebut dapat meledak sewaktu-waktu dan menimbulkan berbagai masalah kependudukan. Seperti yang disampaikan oleh Paul Ehrlich dalam bukunya yang berjudul The Population Explotion yang menyebutkan bahwa tingginya jumlah penduduk dapat menyebabkan bahan makanan terbatas dan rusaknya lingkungan akibat ulah manusia.
Overpopulasi ini dapat timbul karena banyak masyarakat Indonesia yang masih berpikir ‘banyak anak banyak rezeki’. Anak dianggap mampu menjadi investasi di hari tua. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kelahiran bayi sebanyak 4,8 juta bayi setiap tahunnya.
Akibat dari kondisi tersebut, dibutuhkan gerakan yang tepat untuk mengatasi fenomena overpopulasi ini. Thomas Robert Malthus dalam teorinya menyebutkan faktor pencegah tingginya jumlah penduduk melalui preventive checks yang terdiri dari penundaan perkawinan, mengendalikan hawa nafsu, dan pantangan untuk kawin.
Pengendalian hawa nafsu ini dapat diimplikasikan dari kebijakan atau anjuran beberapa negara mengenai jumlah anak seperti Cina yang membatasi pasangan untuk memiliki tiga anak dalam Undang-Undang Kependudukan dan Keluarga Berencana.
Sedangkan di Indonesia, meskipun tidak diatur secara resmi dalam Undang-Undang. Pemerintah menyarankan setiap pasangan menjalankan Keluarga Bencana yang memiliki slogan Dua Anak Lebih Sehat. Sayangnya baik Cina maupun Indonesia masih tidak dapat menghindari adanya overpopulasi.
Oleh karena itu, cara lainnya yang dapat mengatasi overpopulasi adalah childfree. Meskipun childfree mendapatkan banyak pro kontra bahkan respon yang negatif dari masyarakat, namun childfree dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah penduduk yang semakin meningkat.
Pro kontra dari childfree ini dikarenakan Indonesia masih menganut budaya ketimuran, kontruksi sosial, dan stigma bahwa memiliki anak dalam sebuah keluarga adalah bentuk keutuhan keluarga yang bahagia.
Mayoritas masyarakat masih menganggap tidak memiliki keturunan adalah keputusan yang kurang bijak dan seringkali dipergunjingkan. Bahkan beberapa orang tua merasa tidak setuju jika anaknya memilih childfree.
Selain itu, Indonesia juga masih memegang teguh budaya patriarki yang berpikiran bahwa perempuan menikah harus mampu memenuhi kewajibannya untuk memberikan keturunan saat menikah.
Polemik ini cukup besar mengingat artis Cinta Laura dan influencer Gita Savitri yang secara terang-terangan menyampaikan keinginannya untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan.
Sontak pernyataan tersebut mendapatkan banyak respon baik pro maupun kontra dari netizen. Bahkan karena pernyataan tersebut, nama Cinta Laura dan Gita Savitri menjadi trending di jagat maya. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia masih cukup asing dengan budaya ini.
Meskipun begitu, ternyata dalam penelitian sosiologis menunjukkan bahwa childfree memungkinkan seseorang mendapatkan banyak waktu dan moivasi untuk berkontribusi terhadap masyarakat melalui kegiatan sosial dan amal.
Tak sedikit pasangan yang memilih childfree justru melakukan kegiatan amal dan sukarelawan seperti mengadopsi anak-anak dan membiayai pendidikannya. Tindakan ini juga berdampak terhadap pengendalian populasi dan menjadi sarana pemerataan pendidikan dan kehidupan yang layak.
Selain itu, dilansir dari News Media, menurut Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suryanto, kesuksesan perempuan tidak lagi diukur dari ranah domestik seperti seberapa banyak ia dapat melahirkan anak tapi berdasarkan sektor publik seperti prestasi, karir dan indikator lainnya.
Farraas A. Muhdiar, seorang Psikolog Anak yang diwawancari oleh HerStory.co.id menuturkan bahwa pasangan yang memilih untuk childfree akan lebih fokus mengembangkan diri dan memiliki kebebasan dalam menjalani hidup dengan pasangan.
Oleh karena itu, pilihan childfree dapat menjadi kesempatan bagi pasangan untuk berkarir dan mengembangkan diri. Pasangan yang memilih untuk childfree juga dapat memasang target untuk meraih sesuatu yang
Prof. Bagong Suryanto juga mengungkapkan bahwa pilihan untuk memiliki anak atau tidak merupakan kebebasan bagi perempuan dan pasangannya sebagai sebuah keluarga yang bersifat personal
Jadi meskipun tidak menjadikan childfree sebagai anjuran, setidaknya childfree dapat diterima sebagai kebebasan individu dalam menentukan kehidupan berkeluarganya. Dengan demikian, tidak ada lagi perilaku judgemental dan guncingan untuk setiap perempuan yang memilih childfree.