Menangkal Teori Konspirasi
Dari mulai soal bentuk Bumi, pendaratan manusia di bulan, tragedi 911, pandemi COVID-19 hingga perang Ukraina dapat dengan mudah dijelaskan lewat teori konspirasi. Dan banyak orang percaya bulat-bulat mengenai berbagai teori konspirasi yang disodorkan. Tak sedikit pula yang kemudian mengembangkan dan menyebarkannya.
Kenapa masih banyak orang suka dan percaya teori konspirasi? Apa bahaya mempercayai teori konspirasi?
Teori konspirasi umumnya dipandang sebagai "keyakinan penjelas" (baik spekulatif atau berbasis bukti) atau pandangan dunia alias world view yang menganggap tatanan politik dan sosial saat ini, atau peristiwa sejarah atau masa depan, sebagai hasil manipulasi oleh sekelompok kecil individu yang kuat (para konspirator), yang bertindak diam-diam untuk keuntungan mereka sendiri (Fenster, 1999; Uscinski & Parent, 2014).
Sementara itu, European Commission dan UNESCO menyebut teori konspirasi sebagai keyakinan bahwa peristiwa atau situasi tertentu diam-diam dimanipulasi di belakang layar oleh kekuatan yang tersembunyi dengan maksud negatif.
Apa pun peristiwa yang dijelaskannya, teori konspirasi umumnya memiliki sekurangnya enam kesamaan berikut ini, yakni [1] adanya dugaan dan rencana rahasia; [2] adanya sekelompok konspirator; [3] adanya 'bukti' yang tampaknya mendukung teori konspirasi; [4] senantiasa menyatakan tidak ada yang terjadi secara kebetulan dan semua peristiwa memiliki kaitan; [5] membagi dunia menjadi baik dan buruk serta [6] mengkambinghitamkan sejumlah orang maupun kelompok.
Teori-teori konspirasi kerap muncul sebagai upaya untuk memberi penjelasan secara logis tentang peristiwa atau situasi yang sulit dipahami. Kebutuhan akan penjelasan logis inilah yang kemudian membuat teori konspirasi dapat berkkembang dengan subur.
Contohnya tatkala dunia dilanda pandemi COVID dan banyak orang yang ingin mengetahui apa sesungguhnya sedang terjadi, sejumlah teori konspirasi muncul terkait COVID.
Beberapa teori konspirasi terkait COVID itu antara lain sebagai berikut.
Pertama, klaim bahwa virus COVID dibuat secara artifisial (misalnya di laboratorium) oleh orang-orang khusus yang memiliki tujuan tertentu (misalnya mengurangi populasi dunia).
Kedua, klaim bahwa bahwa virus COVID disebarkan dengan sengaja, atau penyebaran alaminya diperbesar secara artifisial untuk membahayakan sebanyak mungkin orang (misalnya melalui sinyal 5G).
Ketiga, klaim bahwa vaksin dan obat COVID sengaja dirahasiakan agar tidak mengganggu penyebaran dan merugikan sebanyak mungkin orang.
Keempat, klaim bahwa tindakan sanitasi tertentu untuk melawan penyebaran virus COVID digunakan untuk secara sengaja membahayakan atau mengendalikan masyarakat (misalnya vaksinasi, masker).
Selama ini, teori-teori konspirasi sering dimulai dengan sebuah kecurigaan. Para pengembang teori konspirasi biasanya bertanya siapa yang diuntungkan dari peristiwa atau situasi tersebut dan dengan demikian mengidentifikasi para konspirator. Setiap 'bukti' kemudian dipaksa agar sesuai dengan teori konspirasi yang dikembangkannya.
Lazimnya pula, para pengembang teori konspirasi sering menargetkan atau mendiskriminasi seluruh kelompok yang dianggap berseberangan dengan teori yang mereka kembangkan. Mereka kemudian mempolarisasi masyarakat dan memicu ekstremisme kekerasan. Pada saat yang sama, mereka yang meyakini bulat-bulat teori konspirasi yang terkait kejadian/peristiwa tertentu biasanya menyebarkan teori itu secara masif.
Berdasarkan kajian European Commission dan UNESCO, teori konspirasi cenderung destruktif. Pasalnya, ia selalu mengembangkan adanya musuh dan plot rahasia yang konon mengancam kehidupan atau keyakinan orang, yang ujungnya dapat memicu diskriminasi, membenarkan kejahatan rasial dan dapat dieksploitasi oleh kelompok-kelompok ekstremis yang mengedepankan kekerasan.
Selain itu, European Commission dan UNESCO menunjukkan bahwa teori konspirasi menyebarkan ketidakpercayaan pada institusi publik, yang dapat menyebabkan sikap apatis atau radikalisasi politik. Ia juga menyebabkan ketidakpercayaan pada informasi ilmiah dan medis, yang dapat menimbulkan konsekuensi serius di masyarakat.
Menangkal konspirasi
Sumber-sumber informasi yang andal sangat penting untuk menangkal penyebaran teori konspirasi dan disinformasi. Pada titik inilah, jurnalis perlu mengambil peran. Jangan sampai para jurnalis justru malah mengamplifikasi teori konspirasi. Karena itu, para jurnalis dituntut selalu bertanggung jawab dalam melakukan peliputan atas sebuah peristiwa dengan selalu menggunakan sumber yang diverifikasi.
Pada tataran masyarakat, membangun budaya berpikir kritis, skeptis dan analitis adalah langkah penting dalam menangkal teori-teori konspirasi. Institusi keluarga dan institusi pendidikan memiliki peran sangat krusial dalam membangun dan mengembangkan budaya berpikir kritis, skeptis dan analitis tiap anggotanya.
Orangtua maupun guru perlu terus mengupayakan agar anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini, memiliki kemampuan berpikir kritis, skeptis serta analitis yang prima sehingga mereka tidak mudah menjadi korban empuk teori-teori konspirasi yang masih terus bertebaran hingga kini.
Lahan subur bagi teori-teori konspirasi bakal musnah dengan sendirinya apabila masyarakat mampu selalu berpikir kritis, skeptis dan analitis, yang dibarengi dengan keberadaan kanal-kanal media yang sanggup senantiasa menyajikan informasi-informasi yang akurat, berimbang, objektif dan berkualitas, yang mampu dijadikan rujukan andal bagi publik.***