Memang Kenapa Sih Tak Boleh Percaya Teori Konspirasi? Terserah Saya Dong
Sampai detik ini saya masih menegaskan diri sebagai bagian dari orang-orang yang masih percaya beberapa teori konspirasi. Namun dengan segala kesadaran diri, saya pun tetap memilah mana yang kira-kira masuk akal dan mana teori konspirasi liar yang mengarah ke genre lelucon bin ngawur.
Terus terang, saya sedikit tersinggung dengan seseorang yang dengan mudahnya menertawakan sebuah teori konspirasi tanpa terlebih dahulu memahami isinya. Untuk perkara yang satu ini, saya punya pengalaman buruk di sebuah tongkrongan gara-gara debat kusir soal teori konspirasi. Belakangan saya menyadari, sungguh bodohnya kami malam itu.
Begini, awalnya saya hanya berniat menghabiskan malam minggu bersama rekan-rekan kantor di sebuah tongkrongan semacam mini kafe langganan kami. Obrolan berjalan normal, hanya seputar keluh kesah selama sepekan runititas pekerjaan yang sangat membosankan. Maklum, kami marketing yang isi kepalanya setiap saat hanya soal pencapaian target penjualan. Itu saja, enggak ada yang lain.
Sampai satu jam kami berbicara santai, muncul sosok sok idealis yang memancing perhatian. Saya tebak, pasti mahasiswa yang ikutan organisasi di kampusnya, dan kalau diajak demo sama senior paling bersemangat teriak-teriak di jalanan. Huft.
Sebenarnya saya cuek saja. Entah kenapa dia ikut bergabung di tongkrongan kami. Setelah perkenalan, barulah saya tahu bahwa ia adalah tetangga teman kantor saya.
Obrolan makin berat, setelah si mahasiswa ini dengan entengnya nyinyir sambil menghisap rokoknya, menyebut orang yang percaya teori konspirasi adalah salah satu kebodohan berintelektual. “Bang, macam orang bodoh tak berintelektual saja orang yang percaya teori konspirasi itu,”
Dan seketika telinga saya menjadi gerah. Ungkapannya seakan menjadi trigger bagi saya untuk membela diri sebagai salah satu orang yang mendeklarasikan percaya sebuah teori konspirasi.
Saya ingatkan kepadanya agar tak sembarang anggap remeh orang lain yang meyakini sesuatu. Saya juga berikan nasihat, agar ia membiasakan diri menghargai pandangan orang lain. Saya kira soal nasihat, pasti tidak akan dia terima dengan mudah. Mahasiswa mengaku memiliki idealis, biasanya begitu.
Perdebatan kami sengit malam itu. Tak ada ujungnya, hanya mempertahan argumentasi masing-masing. Sangat membosankan bagi yang menyimak.
Perdebatan akhirnya terhenti, ketika penjaga kafe memberi kode akan segera tutup. Mungkin lelah juga menunggu kami yang tak kunjung pergi. Padahal kami pesan makanan dan minuman cukup banyak malam itu.
Malam itu cukup menguras energi volume suara saya.Ya sudahlah, tak penting juga mengingat perdebatan kecil itu yang ternyata saya sadari enggak produktif-produktif amat.
**
Bicara soal percaya atau tidaknya kita pada teori konspirasi, saya anggap itu bukan titik masalah yang begitu dahsyat untuk diperdebatkan. Sekali lagi terlalu naif kalau kita hanya terjebak dalam dua hal yang bertentangan itu.
Justru saya punya penilaian sendiri yang sebetulnya jika kita mau membaca sebuah teori konspirasi, atau menonton tayangan dengan konten teori konspirasi, akan banyak menguntungkan kita.
Pertama, mempelajari sebuah teori konspirasi tentu sangat baik untuk menambah referensi dan meningkatkan literasi pembaca, terlepas benar atau tidaknya sebuah teori konspirasi tersebut. Saya kira itu dua hal yang berbeda.
Kedua, mencerna sebuah tulisan atau tayangan sebetulnya secara tak sadar akan melatih kita untuk mempu menganalisis sebuah masalah. Nalar kita menjadi kritis, dan terlatih untuk membuat sebuah kesimpulan. Gampangnya, kita jadi terlatih bernarasi dalam memahami sebuah teori atau tulisan.
Dari kedua penilaian saya di atas, saya berani menyebut bahwa para haters teori konspirasi adalah mereka-mereka yang tak bisa menikmati sebuah alur tulisan, menjiwainya dengan khusyuk, dan mungkin saja minim literasi. Maaf ini lho.
Lalu para pengolok teori konspirasi itu seakan ingin membungkam nalar kritis, memasung para pencari teori kebenaran. Soal ini saya kira tidak baik untuk budaya intelektual kita.
Sehingga pada kesimpulan: tak perlu anda repot mengukur cara berpikir kami para pencinta teori konspirasi. Anda tak kan pernah mengerti jika belum mempelajarinya. Dan jika anda tetap menertawai kami, itu terserah anda. Kami pun tak peduli.
Hingga tulisan ini berakhir, saya bergumam dalam hati, “Emang kenapa sih enggak boleh percaya teori konspirasi? Terserah saya dong. Kok situ yang repot!”