Penipuan dalam Industri Makanan: Konspirasi Gula yang Berbahaya
Kita sering mendengar kata konspirasi dan teori-teori yang bersangkutan dengan kata tersebut, seperti teori bumi datar, teori asal-usul covid-19, atau bahkan teori tatanan dunia baru. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri kata konspirasi memiliki arti “Komplotan; persekongkolan”. Sedangkan menurut Oxford Learner’s Dictionary, konspirasi yang dalam bahasa Inggrisnya adalah conspiracy memiliki arti “A secret plan by a group of people to do something harmful or illegal”. Definisi ini jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah “Sebuah rencana rahasia yang dibuat oleh sekelompok orang untuk melakukan suatu hal yang berbahaya dan ilegal”. Dari dua pengertian di atas, jelaslah bahwa sebenarnya konspirasi itu bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Hal ini pula yang berlaku di dalam industri makanan dan secara tidak sadar kita telah terjebak ke dalam sebuah konspirasi yang membahayakan. Kita seakan diarahkan untuk mengonsumsi zat yang menjadi salah satu penyebab terbesar dari penyakit-penyakit mengerikan. Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyakit yang dapat ditimbulkan oleh berlebihnya zat ini, tetapi berkat perbuatan kotor sekelompok orang zat ini tidak diberi perhatian lebih bahkan mereka menjadikan zat makanan lainnya sebagai kambing hitam untuk mengalihkan perhatian kita dari zat yang lebih berbahaya ini. Kita sering mengonsumsinya. Bahkan, mungkin kita tidak pernah lepas darinya sehari pun. Zat mengerikan ini sering kita sebut dengan gula dan inilah bahaya serta konspirasi yang mengitarinya.
Konspirasi ini bermula pada tahun 1950. Angka kematian yang disebabkan penyakit jantung koroner meningkat pesat sehingga mendorong penelitian nutrisionis mengenai penyebabnya. Pada tahun 1960, penelitian ini mengerucut kepada dua tersangka utama penyebab penyakit jantung koroner, yaitu penelitian John Yudkin yang menunjuk gula sebagai pelaku utama dan penelitian Ancel Keys yang menjadikan makanan berkolestrol serta lemak jenuh sebagai biang keladinya. Keanehan terjadi di tahun 1965-1967 ketika Sugar Research Foundation (SRF) mendanai tiga ilmuwan Harvard, yaitu Hegsted dan McGandy sebagai peneliti serta Stare sebagai pengawas dengan nominal $50.000 untuk membuat tulisan di “New England Journal of Medicine” yang menyimpulkan bahwa orang bisa mencegah penyakit jantung koroner dengan mengurangi makanan berkolesterol dan mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh. Tujuannya adalah agar penggunaan gula yang begitu menguntungkan dalam industry makanan tidak mendapatkan hambatan yang besar. Tahun 1980, terdapat beberapa ilmuwan yang masih meyakini gula sebagai salah satu penyebab utama terjadinya penyakit jantung koroner, tetapi pada akhirnya seperti yang tertulis dalam Dietary Guidelines for Americans atau Pedoman Diet untuk orang Amerika , yaitu lemak dan kolesterol harus dikurangi jika seseorang ingin terhindar dari penyakit jantung koroner. Padahal, yang merancang panduan makan ini adalah Hegsted sendiri yang telah naik menjadi kepala bagian nutrisi di Departemen Pertanian Amerika Serikat pada 1977. Yang mengerikan adalah kondisi yang terjadi di Amerika Serikat ini adalah gambaran mengenai hal-hal yang akan terjadi di sebagian besar negara di dunia dikarenakan Amerika Serikat adalah kiblat dari perkembangan budaya di dunia saat ini. Ini artinya, pergulatan antara lemak dan gula sebagai penyebab utama dari penyakit jantung koroner ini dimenangkan oleh lemak sebagai penyebab utama dan peran gula yang dibuat seakan-akan menjadi kecil berkat campur tangan SRF agar dapat terus menggunakan gula dalam industri makanan tanpa adanya perlawanan yang berarti dan seluruh dunia pastinya akan mendaptakan dampak negatif yang ditimbulkan perbuatan kotor mereka.
Gula memang menjadi salah satu zat yang diperlukan oleh tubuh dan berfungsi untuk menjadi sumber energi bagi tubuh. Namun, gula yang berlebih akan berbalik merusak tubuh. Mulai dari diabetes, obesitas, bahkan hingga penyakit jantung kroner yang disebabkan oleh penumpukan lemak di lapisan dinding nadi pembuluh koroner dan merupakan salah satu penyakit dengan kematian tertinggi di dunia. Yang lebih mengerikan, menurut dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr. Arti Indira, M.Gz, Sp.Gk, FINEM di Jakarta, gula yang berlebih mengakibatkan reward response atau dengan kata lain memberikan efek kesenangan yang mirip dengan adiksi obat terlarang dikarenakan gula memicu produksi hormon serotonin dan endorphin yang memiliki efek neurological reward sehingga menyebabkan orang yang mengonsumsi gula merasa tenang dan senang. Karena hal inilah penggunaan gula dalam industry makanan sangatlah menguntungkan agar konsumen terus-menerus mengonsumsi produk yang mereka hasilkan. Jika kita meneliti lebih dalam, batas konsumsi gula per hari yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Indonesia adalah 50 gram gula yang setara dengan 4 sendok makan atau setara dengan 12 sendok teh. Namun, industri makanan dan minuman khususnya makanan dan minuman kemasan seakan tidak menghiraukan hal tersebut. Ambil contoh saja dalam satu kemasan minuman ringan atau soft drink yang memiliki kandungan gula yang mencapai 39-99 gram, dan dalam satu batang granola seberat 100 gram yang diklaim sebagai makanan menyehatkan yang rendah lemak bahkan bisa mengandung hingga 400 – 500 kalori dan 7 sendok teh gula. Terlebih, pastinya kita tidak hanya mengonsumsi makan dan minuman ini saja dalam sehari. Nasi, lontong, atau bahkan bubur adalah sebagian kecil contoh dari makanan yang mengandung gula di dalamnya dan sering kita konsumsi atau bahkan telah menjadi makanan pokok sehari-hari. Berkat manipluasi penelitian yang dilakukan SRF, kita pastinya akan mengonsumsi gula melebihi batas aman dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Dengan potensi penyakit mematikan yang dapat disebabkan gula, ditambah dengan kecenderungan untuk terjadinya adiksi atau kecanduan terhadap konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula, maka kemungkinan besar kerusakan pada tubuh yang disebabkan oleh gula akan semakin nyata dan sulit untuk menghindarinya.
Jika kita memerhatikan keadaan saat ini dengan lebih jeli, maka kita akan menyadari bahwa kita sudah terjerat dalam permainan kotor dari sekelompok orang yang hanya mementingkan keuntungan mereka. Memang kita yang saat ini tidak memiliki kuasa untuk sepenuhnya melepaskan diri dari permaianan mereka, tetapi terjerat bukan berarti kita tidak bisa melawan. Langkah kecil seperti memerhatikan kembali hal yang akan kita konsumsi dan berusaha agar kita selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang benar-benar sehat adalah Langkah awal yang bagus. Tidak hanya sebatas agar kita terhindar penyakit, tetapi langkah kecil ini adalah sebuah bukti bahwa kita menolak untuk dipermainkan lebih lanjut oleh sekelompok orang yang mengambil keuntungan dari penderitaan kita.
Sumber:
- Gambar:
- Gambar 1. Ilustrasi Gula (Sumer: www.pexels.com/Mali Maeder
- Referensi:
- Handayani, Maulida Sri. “Kongkalikong Industri Gula dengan Ilmuwan”. Tirto.id, 21 September 2016, https://tirto.id/kongkalikong-industri-gula-dengan-ilmuwan-bLJ8
- Pratiwi, Rizki. “ Tak Disangka, Rupanya 9 Makanan Ini Mengandung Gula”. Hellosehat.com, 27 Oktober 2022, https://hellosehat.com/nutrisi/fakta-gizi/makanan-yang-mengandung-gula/
- Prihatini, Astrid. “Ini Alasan Makanan dan Minuman Manis Bikin Ketagihan”. Solopos.com, 8 November 2022, https://www.solopos.com/ini-alasan-makanan-dan-minuman-manis-bikin-ketagihan-1467104